Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Niko berangkat bersama dengan Citra


__ADS_3

Niko semakin terharu mendengar kisah Citra. Dia merasa bahwa perjuangan hidupnya senada dengan Citra, bahkan lebih beruntung dirinya. Niko semakin mengorek kisah tentang kehidupan Citra, hingga tak terasa hampir satu jam telah berlalu Niko berada di rumah Citra. Terdengar ada seseorang yang datang dengan menaiki sepeda di halaman rumah Citra. Lalu, beberapa menit kemudian, masuk seorang perempuan paruh baya dengan membawa sebuah tas di tangannya. Dia adalah Ibunya Citra.


"Selamat sore Bu," sapa Niko sembari hendak mencium tangan Siti, Ibunya Citra. Akan tetapi, Siti berusaha menghindar karena dia merasa tidak layak untuk di beri salam seperti itu oleh tamunya.


"Tangan Ibu kotor dan bau Nak, nanti tangan kamu ikutan kotor dan bau juga," ujar Siti kepada Niko.


"Tidak apa apa Bu, itu bukan masalah." jawab Niko dan masih berusaha meraih tangan Siti. Kali itu Siti tidak bisa mengelak dan akhirnya Niko berhasil meraih punggung tangan Ibunya Citra. Mereka bertiga kemudian bercengkerama hangat untuk sesaat, karena tiga puluh menit kemudian Niko berpamitan untuk pulang.


Setelah tiba di rumah, Niko tidak bisa berhenti memikirkan tentang Citra. Gadis sederhana dengan hati serta kepribadian yang luar biasa bagi Niko. Dia begitu ingin mengenal lebih dekat lagi, bahkan bisa di bilang Niko sudah mulai jatuh cinta kepada perawat baru itu.


Keesokkan harinya, Niko berangkat lebih awal dari biasanya, dan hak itu membuat Tuan Surya bertanya.


"Tumben jam segini sudah berangkat?" tanya Beliau.

__ADS_1


"Iya Pa, Niko mau mampir sebentar ke rumah teman." jawab Niko. Saat itu dia belum menceritakan apapun tentang Citra, dan ketika Niko memberi alasan tentang hal itu, Tuan Surya lekas percaya dan sudah tidak banyak bertanya lagi.


Dengan kecepatan sedikit kencang, Niko melajukan kendaraannya pagi itu. Dia berjalan ke arah yang berlawanan menuju ke Rumah Sakit. Dan rupanya, sebelum pergi bekerja, Niko datang ke rumah Citra terlebih dahulu.


Ketika mendengar ada deru mobil yang berhenti di depan rumahnya, Citra melihat dari balik tirai. Dia begitu terkejut ketika melihat Niko datang ke rumahnya pagi itu.


"Dokter Niko? Ada apa dia datang kesini pagi pagi?" tanyanya dalam hati.


Karena terlalu tercengang, Citra sampai lupa membukakan pintu ketika ada yang mengetuknya. Hingga akhirnya Bu Siti yang lebih dulu membukanya.


"Iya Bu, maaf.." jawab Citra dengan senyum khasnya.


Setelah pintu di buka, Bu Siti sendiri juga terkejut ketika melihat siapa yang tengah datang. Akan tetapi, ada hal lain yang lebih mengejutkan lagi, yakni di saat Niko menawari Citra untuk berangkat ke Rumah Sakit bersamanya.

__ADS_1


"Apa Dok? Berangkat bersama? Apa itu tidak berlebihan Dok? Saya takut jika nanti...." ucapan Citra terputus karena Niko lekas menyelanya.


"Tidak ada yang berlebihan. Justru, jika ada yang tidak suka, maka mereka itulah yang berlebihan." jawab Niko. Citra tidak bisa mengelak lagi. Apalagi ketika Ibunya juga menyuruhnya untuk menerima tawaran Niko. Keduanya akhirnya berangkat ke Rumah Sakit bersama sama.


Selama di perjalanan, hati Citra merasa tidak tenang. Dia bisa bayangkan bagaimana reaksi para pegawai Rumah Sakit jika tahu dia berangkat bersama dengan Dokter Niko, Dokter yang selalu jadi idola. Meski baru satu hari bekerja, tetapi Citra sudah banyak mendengar cerita tentang Niko. Termasuk juga cerita tentang kedekatan Niko dengan Shella. Niko berusaha membuat Citra merasa tenang dan tidak perlu takut jika nanti dilihat banyak orang ketika turun dari mobil.


Setelah tiba di Rumah Sakit, hati Citra semakin gugup. Dia menarik nafas panjang sebelum membuka pintu mobil dan hendak turun. Niko tersenyum melihat sikap Citra, sehingga dia berniat menggodanya.


"Hei, aku cuma mengantarmu, belum melamarmu. Jadi kamu tidak perlu gugup seperti ini."


Glek!


Rasa gugup di hati Citra sejenak menghilang ketika mendengar ucapan Niko.

__ADS_1


"Apa? Melamar?" tanya Citra dalam hati dengan kedua bola mata yang membulat.


__ADS_2