Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Memusnahkan harapan Mila


__ADS_3

Ketika tiba di sebuah restoran, Niko dan beberapa rekannya mulai menduduki kursi yang sudah mereka pesan. Nampak Shella selalu mengambil posisi di sebelah Niko guna mencari perhatiannya. Namun sayangnya, Dokter tampan itu lebih memilih bercanda dengan teman teman yang lain juga.


"Ehemmmmmmm.... acaranya aku mulai ya?" seru Shella sembari memperhatikan sebuah kue ulang tahun dengan diatasnya terdapat lilin angka dua puluh lima.


"Oke, ayo di tiup dan di potong dulu kuenya Dok. Tapi jangan lupa berdoa dulu," sahut salah seorang rekan Shella pada acara tersebut. Sementara Niko hanya menanggapi dengan senyuman tanpa mengucapkan kata kata apapun.


Mereka kemudian mulai melantunkan lagu Happy Birthday yang di tujukan untuk Shella. Dan setelah lagu berhenti, Shella mulai meniup lilin, kemudian memotong kuenya.


Suara tepuk tangan mulai memeriahkan pesta kecil tersebut. Apalagi ketika Shella memberikan potongan kue pertamanya untuk Niko.


"Special for you Dokter Niko," ucap Shella sembari mendekatkan potongan kue tepat di depan bibir Niko.


"For me?" tanya Niko. Dia sedikit enggan menerima suapan kue tersebut, karena takut jika di anggap berlebihan oleh Shella.


"Yes. Ayolah, untuk persahabatan kita," rayu Shella dan kemudian mendapat dukungan dari rekan rekannya.


"Ayo di terima Dok. Demi persahabatan yang siapa tau nanti lanjut ke pernikahan...." celetuk salah seorang rekannya pada acara itu, sehingga membuat rekan yang lain menyoraki.


Shella tersipu malu mendengar celotehan rekan rekannya, dan berbeda dengan Niko yang begitu risih dengan kalimat kalimat itu. Biar bagaimanapun, Niko selalu menjaga batasan karena dirinya bukan lagi laki laki single yang bebas mengekspresikan perasaannya. Meski tidak bisa di pungkiri jika kecantikan, kecerdasan serta finansial Shella jauh di atas Mila. Namun, selama Mila masih menjadi istrinya, Niko tidak akan mengkhianatinya.


Dengan sedikit terpaksa, Niko membuka bibirnya dengan perlahan. Lalu, beberapa detik kemudian Shella berhasil menyuapi Niko. Tak lupa juga, momen bahagia bagi Shella itu terekam dalam video dan foto pada ponselnya dengan bantuan rekan rekannya. Dan setelah berhasil memberikan suapan kepada Niko, Shella membagikan kue tersebut untuk semua rekan rekannya.


"Makasih Dokter Niko, ulang tahun ini begitu berkesan bagiku," ujar Shella kepada Niko.


"Sama sama," jawab Niko sedikit canggung.


Rupanya, momen istimewa bagi Shella tersebut di saksikan dari kejauhan oleh sepasang mata. Dia adalah Mila yang masih terus menyelidiki tentang identitas Niko.


"Awas aja kalau benar terbukti bahwa Dokter itu adalah suamiku, aku nggak rela dia memanjakan wanita lain. Sementara ulang tahunku saja tidak pernah di rayakan seperti itu!" geram Mila di dalam hati.

__ADS_1


Sore itu, Sari dan keluarganya hendak berpamitan untuk pulang, tetapi mereka tidak melihat keberadaan Mila.


"Mila kemana Bude?" tanya keponakan Sari.


"Bude juga nggak tahu. Coba kamu telpon dia," sahut Sari. Keponakan Sari yang merupakan saudara sepupu Mila tersebut mulai menghubungi Mila, dan tak lama kemudian panggilan pun tersambung.


"Mila, kamu dimana? Ini semua udah pada mau pulang. Kamu cepat kemari, nanti ketinggalan!" seru sepupu Mila lewat telpon. Namun, jawaban Mila mencengangkan semua kerabatnya.


"Kalian pulang saja semua. Aku masih ada urusan di sini. Besok aku akan pulang sendiri naik bis," jawab Mila dari seberang telpon. Panggilan yang di aktifkan loud speakernya tersebut terdengar di telinga Sari. Dia pun lekas meraih ponsel itu dengan paksa, lalu menjawab ucapan Mila.


"Jangan konyol kamu! Ayo kita pulang sama sama. Jangan bikin Ibu khawatir!" tegas Sari kepada putrinya.


"Ibu nggak perlu khawatir. Mila bisa jaga diri Bu. Kalau urusan Mila sudah selesai, Mila pasti pulang." jawab Mila dengan enteng.


Meski banyak yang menahan, tetapi tidak ada yang bisa menghentikan keinginan Mila untuk tetap tinggal di kota itu. Karena waktu semakin sore, mereka akhirnya terpaksa meninggalkan Mila di kota itu.


"Anto, Bude titip Mila ya barang kali ketemu dia. Karena cuma kamu yang tinggal di kota ini," pesan Sari kepada Anto sebelum beliau benar benar pulang dan berpisah dengan putrinya.


Usai kepergian mereka, Anto segera menghubungi Mila. Dan setelah panggilan itu di terima, Anto mengajak Mila untuk tinggal di rumahnya.


"Mila, kamu ini dimana sih? Hari sudah mau gelap, kamu nggak tahu daerah sini. Kamu balik aja ke Rumah Sakit, nanti ikut pulang ke rumahku." cakap Anto kepada Mila.


"Iya Mas, terima kasih. Nanti kalau ngantuk aku balik lagi ke Rumah Sakit untuk tidur sekalian bantu jagain Mbak Nia," jawab Mila yang membuat Anto merasa sedikit lega. Dia pun akhirnya kembali bertanya tujuan Mila tetap tinggal di kota itu.


"Sebenarnya apa alasan kamu nggak mau pulang?" tanya Anto.


"Dokter itu Mas. Aku masih yakin jika dia adalah suamiku!" jawab Mila dengan yakin, berharap Anto akan membantu misinya. Namun, yang ada Anto malah menertawakannya.


"Astaga Mila.. Masih saja kamu berpikir begitu? Kan sudah jelas orang tua Dokter itu berbeda dengan mertua kamu. Hak apalagi yang bisa membuat kamu sadar dari halusinasi itu?" sahut Anto dengan tawa, dan hal itu membuat Mila terdiam karena menahan kesal.

__ADS_1


"Awas ya, lihat aja kalau aku berhasil membuktikan jika Dokter Niko adalah benar benar suamiku. Kalian pasti akan menghormati ku karena jabatan yang dimiliki oleh suamiku!" cakap Mila dalam hati. Sifat seperti inilah yang tidak di sukai oleh Niko, sehingga dia lebih memilih menyembunyikan identitasnya. Niko tidak mau menjadikan jabatan serta prestasinya sebagai alat untuk di hargai dan segani.


Ketika sedang menerima telpon dari Anto, Mila melihat Niko dan teman temannya hendak pulang dari restoran tersebut. Mila pun dengan cepat segera mematikan panggilannya dengan Anto, lalu bersiap kembali mengintai Niko dari kejauhan.


Niko berjalan menuju ke dalam mobil, dan dengan cepat Mila segera mencari ojek untuk dia pakai mengejar Niko. Setelah membuntuti mobil Niko, akhirnya Mila tiba di sebuah sebuah mansion di pinggir jalan raya. Mila melihat mobil Niko masuk ke dalamnya, sementara dirinya memilih berhenti agak jauh agar tidak ketahuan keberadaannya.


"Rumah siapa ini?" tanya Mila dalam hati sembari mengagumi rumah besar dan indah milik Tuan Surya tersebut. Perlahan Mila berjalan mendekat ke arah gerbang. Dari celah pagar, dia dapat melihat Niko keluar dari mobil.lalu segera masuk ke dalam rumah. Dan di saat Mila sedang asyik memperhatikan Niko, mendadak ada seseorang yang bertanya kepada Mila.


"Maaf, mau cari siapa Mbak?"


Mila terkejut lalu segera menoleh ke asal suara yang rupanya adalah petugas security yang berjaga di pintu gerbang mansion tersebut. Awalnya Mila gugup dan takut, tetapi kemudian dia berpikir untuk mengorek informasi tentang Niko dari penjaga tersebut.


"Maaf Pak, saya hanya memastikan saja kalau rumah ini benar rumahnya Dokter Niko," jawab Mila dengan asal. Padahal sebelumnya Mila tidak berpikir bahwa rumah itu adalah rumah Niko, karena hal itu sangatlah mustahil.


"Oh, iya benar Mbak. Ini rumah Dokter Niko," jawab penjaga itu, dan berhasil membuat Mila tercengang.


"Apa? Ini rumah Dokter Niko? Besar dan bagus sekali. Jika aku berhasil membuktikan bahwa Dokter itu adalah suamiku, aku pasti akan tinggal di istana ini!" ujar Mila dalam hati sembari tersenyum senyum sendiri.


"Mbak... Mbak tidak apa apa kan? Kenapa senyum senyum sendiri?" tanya penjaga tersebut dan lagi lagi membuat Mila terkejut.


"Emm, iya Pak Maaf. Memangnya, Dokter Niko tinggal sama siapa di rumah sebesar ini Pak?" Tanya Mila kemudian.


"Beliau tinggal bersama Ayahnya, Tuan Surya. Dulunya Tuan Surya juga Dokter seperti Dokter Niko, tapi sekarang sudah pensiun."


Seketika Mila lemas mendengar jawaban itu, karena apa yang di sampaikan oleh penjaga itu sama dengan apa yang di sampaikan oleh perawat di Rumah Sakit.


"Begitu ya Pak?" tanya Mila dengan tidak bersemangat. Dan ketika semangatnya mendadak down, ponselnya bergetar tanda ada satu pesan masuk.


"Begini beratnya mencari nafkah, tetapi dengan mudah kamu selalu merendahkan ku!"

__ADS_1


Satu pesan dari Niko dengan di sertai lokasi pembangunan dimana layaknya seorang kuli bangunan tengah bekerja. Sontak harapan Mila semakin pupus. Ternyata lelaki yang ada di hadapannya itu benar benar bukan suaminya.


Niko memang sengaja mengirimkan foto tersebut untuk memusnahkan harapan Mila. Bukan maksud Niko sengaja mengecewakan istrinya, tetapi Niko hanya ingin istrinya menerimanya bukan karena jabatan yang dia miliki. Dan rupanya, dari dalam rumah, Niko bisa mengetahui kehadiran Mila di depan gerbang berkat rekaman CCTV yang terpasang.


__ADS_2