Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Niko berkunjung ke rumah Citra


__ADS_3

Setelah Citra duduk di kursi depan, Niko mulai mengajaknya berbicara.


"Kamu baru lulus kuliah ya?" tanya Niko memulai percakapan, lalu Citra mengangguk pelan.


"Kamu tadi berangkat naik apa?" Niko kembali bertanya agar obrolan mereka masih berlanjut.


"Naik Bis Dok," jawab Citra tetap dengan pandangan yang tertunduk. Niko tidak menyangka bahwa sikap ramah Citra bukan hanya ketika di ruang kerja saja, melainkan ketiak berada di luar ruangan.


"Kenapa saat bicara kamu selalu menundukkan kepala? Apa kamu takut, atau malu? Jangan bilang karena kamu adalah perawat dan aku adalah Dokter, karena kita sudah tidak di Rumah Sakit lagi. Jadi tidak ada jabatan yang membedakan kita." tegas Niko sebelum Citra menjawab.


"Emmm, maaf Dok. Saya memang terbiasa bicara dengan menundukkan kepala. Saya kurang percaya diri jika harus memandang lawan bicara saya, apalagi laki laki." jawab Citra apa adanya. Rupanya Citra memang golongan perempuan yang pemalu, dan hal itu membuat Niko semakin tertarik. 


"Oh begitu, kamu.... sudah punya pasangan?" tanya Niko dengan ragu. Awalnya Citra sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi dia kemudian memberi jawaban dengan menggelengkan kepala.


Setelah mendapat jawaban dari Citra, entah mengapa Niko merasa lega dan gembira. Niko sendiri tidak tahu alasannya, tetapi sepertinya Niko mulai jatuh cinta sejak pandangan pertama kepada Citra. Obrolan keduanya masih berlanjut hingga keduanya tiba di rumah Citra. 


"Di depan itu rumah saya Dok, yang ada pohon besar." ujar Citra.


"Oh di situ? Apa aku tidak di tawari mampir untuk minum air?" canda Niko. Entah mengapa dia begitu ingin mengenal Citra dengan dekat, gadis yang baru saja dia kenal tadi pagi.


"Mampir? Emmm... maaf Dok, rumah saya kecil dan berantakan. Dokter pasti tidak nyaman berada di sana, " jawab Citra. Niko seketika terharu mendengar jawaban Citra, entah mengapa dia merasa Citra adalah perempuan seperti yang ada dalam pencariannya. Ramah, rendah hati dan sederhana.

__ADS_1


"Siapa bilang saya nggak nyaman? Memang kamu sudah pernah mengundang saya ke rumah kamu sebelumnya?" Niko justru semakin berantusias untuk ke rumah Citra.


"Belum Dok. Saya hanya menebak saja. Karena teman teman saya banyak yang tidak nyaman jika main ke rumah saya, hanya ada satu atau dua orang saja yang betah. Jadi saya berpikir...." 


Ucapan Citra terputus karena Niko tiba tiba menyela. "Kamu pikir saya sama seperti teman teman kamu? Kalau begitu, mari kita buktikan apakah aku seperti teman teman kamu atau tidak!" seru Niko dengan yakin. Citra tidak bisa menahan kemauan Niko, sehingga ketika tiba tepat di depan rumahnya, Niko pun ikut turun.


Dengan ragu dan sedikit gugup, Citra mulai melangkah memasuki area halaman rumahnya dengan di iringi Niko di belakangnya. Setelah tiba di depan pintu, Citra lekas membukanya lalu mempersilahkan Niko untuk masuk.


"Sekali lagi saya minta maaf Dok, jika anda tidak nyaman." tutur Citra sebelum Niko melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Niko tersenyum simpul mendengar ucapan Citra. Dia justru semakin penasaran, sepertinya ada sesuatu yang di rahasiakan di dalam rumah itu. Ketika Niko sudah memasuki rumah Citra, dia di persilahkan untuk duduk. 


"Silahkan duduk Dok, maaf tempat duduknya sudah usang dan keras..." ucap Citra mempersilahkan Niko duduk pada kursi berbahan kayu dan tidak nyaman di kulit jika lama-lama di duduki. 


Belum sempat Citra menjawab, tetapi terdengar ada suara yang memanggilnya.


"Citra...." terdengar ada suara di iringi dengan pukulan benda di meja. Setelah mendengar panggilan itu, Citra lekas berlari ke asal suara. Ada sebuah ruangan yang menyerupai kamar, tetapi tidak ada daun pintunya. Hanya ada tirai yang menutupi ruangan tersebut. 


Sebelum berlari ke kamar itu, Citra terlebih dahulu berkata kepada Niko. "Maaf Dok, saya ke dalam dulu untuk melihat keadaan Bapak." Tanpa menunggu jawaban dari Niko, Citra kemudian berlari menuju ke kamar Bapaknya. 


"Bapak?" Tanya Niko dalam hati. Dia memikirkan sesuatu, " Ada apa dengan Bapaknya?" 


Karena Citra tidak kunjung ke luar, Niko berinisiatif untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Perlahan dia berdiri lalu mendekat kearah kamar tersebut, lalu Niko mendapati Citra tengah membalurkan minyak angin kepada laki laki beruban yang mungkin di panggil Citra dengan sebutan Bapak. Semakin mendekat, Niko mulai mencium bau menyengat seperti aroma keringat dan air kencing. Sebenarnya sejak pertama masuk ke dalam rumah Citra, Niko sudah mencium aroma itu, tetapi Niko tidak begitu memperdulikannya karena memang awalnya baunya hanya samar. Namun, ketika Niko berjalan mendekat ke arah kamar Bapaknya Citra, bau itu semakin tajam tercium. Dan rupanya itu memang bau itu muncul dari kamar Bapaknya Citra.

__ADS_1


"Dokter?" Citra terkejut ketika melihat Niko sudah berdiri di belakangnya. Niko sendiri juga terkejut setelah melihat dengan dekat keadaan Seno, Bapak kandung Citra yang terbaring di ranjang dengan tubuh yang kurus.


"Dia Bapak kamu?" Tanya Niko dengan lirih kepada Citra, lalu Citra mengangguk.


"Maaf Dok, lebih baik Dokter di luar saja. Di sini baunya menyengat sekali," Ujar Citra dengan lirih juga. Sekali lagi dia meminta maaf kepada Niko atas ketidaknyamanannya.


"Sudah ku bilang, berhenti untuk meminta maaf!" tegas Niko. 


Karena mendengar ada orang asing yang datang, Seno menoleh ke arah Citra dan Niko. Tatapan matanya cukup membuat Citra mengerti jika Seno ingin bertanya siapa Niko.


"Pak, ini Dokter Niko. Beliau Dokter di Rumah Sakit tempat Citra bekerja." Tutur Citra memperkenalkan Niko kepada Bapaknya. Seno hanya mengangguk pelan sambil tersenyum untuk memberi tanggapan atas perkenalan Niko tersebut, karena lidah Seno terasa sulit untuk berbicara. Beliau hanya bisa memanggil nama Citra serta istrinya, meski tidak jelas penyebutannya.


Niko memberikan sapaan hangat kepada Seno, dan setelah saling berkenalan, Citra membiarkan Bapaknya untuk kembali beristirahat. Citra mengajak Niko untuk keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu. Setelah keduanya kembali duduk, Niko mulai menanyakan keadaan Seno.


"Sudah berapa lama Bapak kamu sakit?" Tanya Niko dengan raut wajahnya yang serius. Dia merasa begitu iba atas pemandangan yang baru saja dia lihat.


"Sudah dua tahun terakhir Dok, beliau terkena stroke setelah jatuh dari kamar mandi. Sebelumnya memang punya riwayat tekanan darah tinggi." Ungkap Citra dengan nada yang sedih.


"Kamu hanya tinggal berdua dengan beliau?" Tanya Niko lagi untuk mencari tahu lebih detail.


"Tidak Dok, ada Ibu. Tapi Ibu belum pulang. Ibu bekerja di rumah orang sebagai asisten rumah tangga, berangkatnya pagi dan pulangnya sore. Saya punya kakak, tapi kakak sudah menikah dan ikut suaminya. Sebentar lagi Ibu pasti pulang," 

__ADS_1


__ADS_2