
Mila tidak membalas pesan dari Niko. Tubuhnya mendadak lemas tidak berdaya setelah mendapat kepastian jika lelaki yang wajahnya sama persis dengan suaminya ternyata memang orang lain.
Niko masih memperhatikan Mila dari CCTV ketika melangkah pergi dengan rasa kecewanya. Dan ketika dia sedang serius mengamati, tiba tiba ayahnya mendekat.
"Kamu sedang memperhatikan apa?" tanya Tuan Surya, ayah angkat Niko.
"Dia," jawab Niko seraya menunjuk ke arah layar untuk menunjukkan Mila kepada ayahnya.
"Dia siapa?" tanya Tuan Surya. Beliau belum mengenali wajah Mila karena belum pernah bertemu. Niko pernah menunjukkan foto pernikahan mereka, tetapi pada saat itu Mila memakai gaun pengantin serta make up. Berbeda ketika sedang berada di luar pagar tersebut.
"Dia istriku," jawab Niko dengan jujur hingga membuat Tuan Surya terkejut.
"Istrimu? Kenapa kamu biarkan dia berdiri di depan gerbang? Ajak dia masuk, dan bagaimana dia bisa sampai ke sini?" tanya Tuan Surya bertubi tubi.
Niko menarik nafas panjang untuk menjawab pertanyaan dari ayah angkatnya. Dan setelah itu, Niko mulai menjawab satu persatu.
"Dia berada di sana karena dia terobsesi dengan Dokter Niko, bukan karena mencari Niko suaminya yang seorang kuli bangunan," jawab Niko. Dia sejenak menghentikan jawabannya, lalu kembali melanjutkan.
"Dia ke sini karena ada saudaranya yang di rawat di Rumah Sakit tempat aku bekerja, dan kebetulan tadi siang aku yang menangani operasi pada saudaranya. Mungkin sejak tadi dia membuntuti ku, sehingga dia bisa sampai di depan gerbang. Bahkan, ketika di Rumah Sakit, dia terang terangan mengakui jika aku adalah suaminya." lanjut Niko menjelaskan.
"Lalu, apa jawaban kamu?" tanya Tuan Surya, kemudian Niko menggelengkan kepala.
"Aku katakan mungkin dia salah orang."
__ADS_1
Usai mendengar jawaban dari Niko, kini ganti Tuan Surya yang menarik nafas panjang mendengar penjelasan itu. Sedikit bisa garis bawahi jika Mila memanglah seorang istri yang terobsesi pada jabatan dan uang. Padahal baru akhir pekan lalu Mila menyuruh Niko pergi dan tidak usah sering pulang agar bisa mengumpulkan uang banyak, tetapi pada hari itu ketika dia tahu bahwa Niko adalah seorang Dokter, Mila berusaha mengejarnya.
"Sekarang Papa mengerti apa alasan kamu menyembunyikan semua ini. Semua terserah padamu. Jika dia bisa di pertahankan dan bisa berubah, maka pertahankanlah. Jika tidak bisa, maka kamu harus bertindak tegas agar hubungan kalian tidak selamanya begini. Kamu bisa memulai lembaran baru lagi, begitu pula dengan dia. Mungkin jika sudah lepas dari Niko yang seorang kuli bangunan, dia akan berusaha mencari pengganti yang lebih baik menurutnya." pesan Tuan Surya kepada putra angkatnya, sembari menepuk pelan punggungnya.
"Baik Pa, terima kasih atas nasehatnya. Akan aku pertimbangkan lagi masalah ini untuk mencari keputusan yang terbaik." jawab Niko dengan lirih. Meski terlihat tenang dan tidak terpancing emosi, tetapi sebenarnya Niko merasa begitu lelah menghadapi keadaan itu. Malam itu, dia berniat membicarakan kelanjutan hubungan rumah tangganya dengan Mila secara serius.
Hari sudah benar benar gelap dan Mila kembali ke Rumah Sakit untuk bermalam di sana. Dia ikut menemani Anto untuk menjaga istrinya, dan besok pagi dia berniat untuk pulang ke kampung.
"Lihat Mil, apa kamu tidak menginginkan malaikat kecil seperti ini?" tanya Nia kepada Mila sembari menunjukkan bayi mungilnya. Namun sayangnya Mila tidak tertarik akan hal itu, bahkan dia menjawab pertanyaan Nia dengan masam.
"Semua keinginan itu butuh duit Mbak. Kalau duitnya pas pasan, bisa pusing kepala ini buat biayain." sahut Mila dengan enteng.
"Kamu nggak boleh mikir gitu dong Mil. Anak itu pasti ada rejekinya sendiri," ujar Nia berusaha menasehati saudara sepupunya itu. Namun nasehat itu tidaklah di dengar oleh Mila.
"Loh, jadi suami kamu beneran kuli bangunan? Kirain Dokter yang tadi?" goda Anto dengan di iringi tawa, hingga membuat pinggangnya di cubit oleh istrinya. Sementara Mila hanya mencebik mendengar kata kata Anto yang dia rasa hanya sedang menyindirnya saja.
Ketika hati Mila di buat tidak nyaman oleh pembahasan yang di lakukan oleh saudara sepupunya itu, mendadak ponselnya berbunyi. Mila meraih gawai pipih itu dari dalam tasnya, dan setelah dia lihat, ternyata ada satu pesan yang masuk dari Niko.
"Dek, Mas mau bicara hal serius sama kamu tentang masa depan kita."
Usai membaca pesan itu, ekspresi wajah Mila sangatlah malas untuk menanggapinya. Namun, setelah dia sempat mendiamkan pesan tersebut, tiba tiba Mila terpikir untuk membalasnya. Menurut Mila, pertanyaan dari suaminya cukup menjadi peluang baginya untuk menyampaikan semua keinginan dan harapannya.
"Tidak ada yang dibahas tentang masa depan kecuali tabungan yang banyak Mas. Entah itu kamu dapat dari mana, yang penting kita harus punya banyak tabungan, banyak uang untuk merancang masa depan!" balas Mila pada pesan suaminya.
__ADS_1
Di satu ruangan, Niko dan Tuan Surya hanya bisa saling pandang lalu keduanya sama sama menggelengkan kepala usai membaca pesan dari Mila. Setelah itu, Niko meminta pendapat Tuan Surya untuk membalas pesan tersebut.
"Aku harus balas bagaimana ini Pa?" tanya Niko, kemudian Tuan Surya memberi saran kepada putra angkatnya tersebut.
"Coba kamu tanya, jika kamu tidak bisa melakukan semua itu, apa yang akan dia lakukan?"
Tanpa menunggu lama, Niko pun lekas membalas pesan Mila sesuai dengan apa yang di sarankan oleh ayah angkatnya. Lalu, beberapa menit kemudian, Mila membalas pesan tersebut.
"Aku ini udah nggak kuat Mas kalau hidup pas pasan seperti ini terus. Aku itu juga pengen liburan, pengen beli perhiasan, shopping kayak para tetangga dan teman teman. Kamu memang sudah menafkahiku, tapi itu hanya cukup untuk makan. Dan aku nggak mau terus terusan begini! Jika kamu tidak bisa menuruti kemauan ku, mungkin pernikahan kita ini akan sulit untuk bertahan."
Satu balasan dari Mila tersebut cukup menggambarkan bahwa Mila menginginkan perpisahan. Niko segera menunjukkan balasan pesan tersebut kepada Tuan Surya, kemudian satu kata yang beliau ucapkan adalah, "Ceraikan saja dia! Wanita seperti itu tidak bisa di pertahankan!"
Niko sejenak terdiam untuk berpikir dengan tenang, dia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Selama ini orang tua kandung Niko juga sudah sering memberi saran kepada Niko agar berpisah saja dengan Mila jika yang dia mau hanya harta saja, tetapi Niko selalu berusaha untuk bertahan. Dan setelah sejenak berpikir, Niko kemudian menjawab ucapan Tuan Surya.
"Aku masih ingin bertahan Pa. Tidak semudah itu aku mengambil keputusan untuk bercerai." jawab Niko dengan nada lemah.
Tuan Surya tidak bisa melarang kemauan Niko, karena biar bagaimanapun, Niko yang lebih berhak untuk menentukan pilihannya.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." ujar Tuan Surya. Setelah berbicara dengan ayah angkatnya, Niko membalas pesan dari Mila.
"Maafkan Mas Dek, tolonglah kamu lebih bersabar lagi. Aku akan berusaha menuruti semua kemauan kamu. Ayo kita berjuang bersama sama untuk meraih kesuksesan."
Sayangnya, balasan pesan dari Niko tersebut hanya mendapat tanggapan sebelah mata dari Mila. Bahkan dengan sengaja Mila mengabaikan nasehat dari suaminya tersebut.
__ADS_1
"Sabar, sabar terus! Bosan dengarnya!" geram Mila dalam hati. Bukan hanya dia katakan dalam hati, tetapi Mila juga mengungkapkannya langsung pada pesan yang dia kirim untuk Niko.