Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Niko tertarik pada kepribadian Citra


__ADS_3

"Maaf Dok, tidak sopan jika saya menatap wajah Dokter secara langsung karena saya adalah seorang perawat," jawab Citra dengan tetap menundukkan kepala. Niko semakin kagum dengan tata krama yang di tunjukkan oleh perawat baru itu. Karena di antara banyaknya perawat single yang ada di Rumah Sakit tersebut, mereka semua lebih banyak yang suka mencari perhatian Niko. Bahkan tak jarang di antara mereka ada yang sengaja bersikap genit di hadapan Niko. Sangat berbeda sekali dengan Citra.


Setelah sempat melakukan kesalahan pada pasien pertamanya, Citra semakin berhati hati agar tidak melakukan kesalahan lagi pada pasien berikutnya. Dan pastinya dia di bimbing langsung oleh Niko. Jika banyak sekali perawat yang ingin mencari kesempatan untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Niko meski dengan alasan pekerjaan, berbeda sekali dengan Citra. Dia secara langsung di bimbing oleh Niko dalam hal praktik menangani pasien, dan tak jarang tatapan mata serta tangan mereka saling bertemu ketika sedang bersama sama menangani pasien, tetapi Citra tetap saja menjaga batasannya. Dia senantiasa menundukkan pandangan kala tatapan mata keduanya saling bertemu. Dan Citra lekas mengucapkan maaf jika sampai tangannya bersentuhan dengan tangan Niko ketika sedang menangani pasien. Semua tanggapan tanggapan itu membuat Niko semakin tertarik pada kepribadian Citra, karena jarang sekali dia temui wanita bertata krama seperti itu di zaman modern.


Dua jam sudah Citra di buat tegang dengan hari pertamanya bekerja di Rumah Sakit besar bersama dengan Niko, seorang Dokter yang menurut Citra sangat patut untuk di segani bagi perawat pemula seperti dirinya, meski Niko tidak merasa sehebat itu. Di detik detik akhir tugasnya, Citra merapikan semua peralatan karena jadwal kunjung Dokter telah usai. Sementara Niko, saat itu dia tengah sibuk dengan berkas berkasnya yang tertata rapi di atas meja. Sebenarnya itu hanya alasannya saja agar tetap berada di ruangan itu sampai Citra selesai beberes. Padahal biasanya Niko selalu keluar jika sudah tidak ada pasien dan dia tidak pernah menunggu hingga perawat selesai beberes.


Rencananya, setelah keluar dari ruang kerjanya, Niko ingin sedikit lebih mengenal Citra. Itulah sebabnya dia menunggu hingga Citra selesai beberes. Namun sayangnya, rencana Niko berantakan ketika mendadak ada yang datang ke ruangannya tanpa di undang.


"Dokter Niko, rupanya kamu masih di sini? Aku mencari kamu kemana mana, tidak biasanya kamu masih berdiam diri di ruangan setelah tidak ada pasien lagi?" ucap Shella yang main masuk ke ruangan Niko yang memang pintunya tidak di kunci. Dia berjalan ke arah Niko dengan melewati Citra begitu saja. Karena Shella sendiri juga tidak tahu jika Citra adalah perawat baru, dan memang Shella juga tidak mau tahu.

__ADS_1


"Iya, ini aku sedang membaca ulang berkas berkas pasien," jawab Niko mencari alasan yang tepat agar Shella dan Citra tidak berpikir jika dirinya memang tengah menunggu Citra selesai beberes.


"Oh begitu? Kalau begitu ayo kita makan siang Dok, ini sudah kelewat sepuluh menit dari jam istirahat kita." ajak Shella. Semenjak mengetahui status Niko yang sebenarnya, Shella semakin berani mengajak Niko untuk makan berdua. Bahkan waktu pulang kerja, Shella sering ikut di mobil Niko. Bukan kebetulan, tetapi Shella kadang memang sengaja berangkat kerja dengan menaiki taxi online agar pulangnya dia bisa nebeng sama Niko.


"Oh ya? Apa benar sudah lewat? Baiklah, kalau begitu mari kita makan siang bersama sama. Citra, kamu tentu belum tahu letak kantin di area Rumah Sakit ini, jadi mari kita makan siang bersama sama." Satu ajakan dari Niko tersebut begitu mengejutkan Citra dan juga Shella.


"Iya, ada masalah? Dia anak baru di sini, jadi mungkin dia masih kebingungan mengenal area Rumah Sakit sebesar ini. Tidak salah kan jika kita mengajaknya makan siang bersama?" Niko bertanya balik kepada Shella.


"Yaaa memang tidak salah sih Dok, tapi kan dia itu..." ucapan Shella terputus karena mendadak di sela oleh Citra yang merasa tidak enak atas tawaran itu.

__ADS_1


"Emm maaf Dok. Sebelumnya terima kasih atas tawarannya, tetapi lebih baik saya makan siang bareng teman teman perawat lainnya." ujar Citra seraya menundukkan kepala.Sejak berada di ruangan itu, tidak sekalipun Citra dengan lancang mengarahkan pandangannya ke sembarang arah. Apalagi ke arah wajah Niko.


"Tuh kan Dok, dia aja tau diri. Eh, maksudnya dia aja nggak mau kalau makan bareng sama kita. Dia mungkin memang merasa lebih nyaman jika makan siang bersama dengan para perawat perawat yang lain!" Seru Shella. Kali itu ganti dia yang tiba tiba menyela ucapan Citra sebelum Niko menjawabnya.


Jawaban yang di ucapkan oleh Shella membuat Niko tidak nyaman mendengarnya. Lagi lagi Shella menunjukkan sifat aslinya yang arogan dan suka merendahkan orang lain. Tidak jauh berbeda dengan Livia.


Niko tidak bisa memaksa Citra untuk tetap ikut dengan mereka, sebab jika di paksa mungkin Shella akan membuat Citra semakin tidak nyaman dengan sikap dan ucapannya. Karena merasa kurang nyaman jika hanya makan berdua saja dengan Shella, akhirnya Niko memilih makan bersama dengan rekan rekannya yang lain. Meskipun Shella tetap ikut, tetapi setidaknya mereka tidak makan siang berdua.


"Huuh, gara gara perawat ingusan tadi jadinya aku gagal makan siang berdua dengan Dokter Niko!" gerutu Shella dalam hati ketika kini mereka duduk berenam dengan para rekan rekan kerja yang lain. Apalagi saat itu Niko terlihat mengabaikannya dan lebih memilih berbicara dengan teman teman yang lain.

__ADS_1


__ADS_2