Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Niko memberi tumpangan untuk Citra


__ADS_3

Hari telah berganti sore dan para tim medis yang bekerja pada shift pagi itu tengah bersiap untuk pulang. Seperti biasa, sore itu Shella berniat untuk ikut ke mobil Niko lagi.


"Dok, boleh ikut pulang bareng lagi?" tanya Shella sembari mendekat ke arah Niko yang saat itu masih merapikan barang barangnya. Meski sebenarnya Niko keberatan, tetapi dia tidak bisa menolak karena Niko memang tipe orang yang ringan tangan.


"Boleh," jawab Niko dengan singkat.


Setelah selesai membereskan peralatannya, Niko dan Shela berjalan bersama menuju ke area parkir. Sepanjang langkah Niko tak henti menebarkan senyum karena memang dia di kenal sebagai sosok yang ramah. Meskipun nampak jarang bicara tetapi tingkah lakunya selalu sopan dan murah senyum.


"Sore Dok,"


"Hati - hati Dok,"


"Mari Dok,"


"Sampai ketemu besok Dok,"


Begitulah kira kira sapaan yang diterima oleh Niko ketika dia melintas di tempatnya bekerja itu. Banyak yang mengira jika Niko dan Shella adalah sepasang kekasih karena keduanya sering terlihat jalan berdua. Padahal kenyataannya mereka tidak ada hubungan serius meski itu yang sebenarnya di harapkan oleh Shella.


Ketika tiba di tempat parkir, keduanya segera masuk ke dalam mobil dan Niko mulai melajukan kendaraannya. Tepat ketika mereka keluar dari pintu gerbang Rumah Sakit, Niko melihat Citra tengah berdiri di pinggir jalan menunggu bis kota. Mendadak terpikir oleh Niko untuk menawari Citra tumpangan di mobilnya. Shella yang saat itu tengah duduk di kursi depan tidak menyadari jika Niko memperhatikan Citra yang tengah berdiri di pinggir jalan. Sehingga dia tidak bertanya ketika Niko melaju ke arah Citra berdiri. Barulah ketika mobil Niko berhenti, Shella mengetahui Citra berdiri di pinggir jalan tersebut.


"Sial, ada perawat ingusan itu lagi!" gerutu Shella dalam hati sembari mendengus kesal. Tanpa basa basi, Shella memberikan pertanyaan kepada Niko.

__ADS_1


"Kenapa berhenti di sini Dok?" ketus Shella. Nampak sekali dari raut wajahnya jika dia tidak senang jika Niko sering berbaik hati kepada Citra.


"Iya. Maaf berhenti mendadak, aku hanya ingin menawari dia tumpangan," jawab Niko apa adanya. Kali itu dia sengaja membuat Shella merasa tidak nyaman, karena jika tidak nyaman, mungkin dia akan meminta turun dari mobilnya, bahkan tidak akan meminta tumpangan lagi.


"Buat apa sih Dok menawari tumpangan? Dia aja tidak meminta bantuan sama Dokter?" sahut Shella.


"Tidak apa apa, apa salahnya menawari?" jawab Niko. Tanpa menunggu persetujuan dari Shella, Niko lekas membuka kaca jendela yang ada di sebelah Shella, lalu memanggil Citra dengan ramah.


"Citra? Kamu nungguin apa? Apa sudah ada yang jemput?" tanya Niko sembari melemparkan senyum.


Citra awalnya tidak mengira jika itu adalah mobil Niko, sehingga dia lumayan terkejut ketika mengetahuinya.


"Oh, ternyata Dokter Niko? Saya sedang menunggu bis kota Dok," jawab Citra seraya menundukkan kepala. Sementara Shella dari tadi memalingkan wajah dari Citra. Dia mendadak sibuk dengan ponselnya agar tidak perlu melihat perawat yang dia anggap selalu menghalangi kedekatannya dengan Niko.


"Dok, bukannya jam segini banyak bis kota yang beroperasi? Kenapa Dokter bilang jam segini bis kota susah?" sahut Shella yang tiba tiba ikut bersuara karena dia merasa janggal atas ucapan Niko.


"Iya, memang beroperasi. Tetapi jalanan sore terlalu macet, pasti bis itu datangnya lambat. Lagian aku sengaja berkata begitu agar Citra mau di ajak pulang bareng."


Jawaban dari Niko seketika membuat Shella berpikir bahwa sepertinya ada rasa yang di sembunyikan oleh Niko. Sontak hal itu semakin membuat suasana hati Shella begitu tidak nyaman. Apalagi, Niko berhasil membujuk Citra untuk ikut pulang bersama mereka.


"Ayo naiklah, jangan sungkan sungkan." ajak Niko dan perlahan Citra mulai mendekat ke arah pintu bagian belakang. Citra bisa mengerti jika Shella tidak menyukai kehadirannya di mobil tersebut, berbeda dengan Niko yang begitu antusias menyambutnya.

__ADS_1


"Rumah kamu di sebelah mana?" tanya Niko, kemudian Citra menunjukkan arah tempat tinggalnya. Dan ketika Niko sudah tahu tentang arah rumah Citra, dia memilih untuk mengantar Shella terlebih dahulu meski sebenarnya dia berlawan arah jika harus mengantar Citra pulang.


"Baiklah, kita antar Dokter Shella dulu, setelah itu baru saya antar kamu." tukas Niko.


Sontak Shella tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Niko, karena dia tidak ingin membiarkan Niko dan Citra berdua saja di mobilnya. Dengan cepat Shella berusaha berkelit agar dirinya tidak di turunkan lebih dulu. Tapi sayangnya Niko tidak peduli dengan alasan Shella, dan rupanya Niko sudah mempersiapkan satu kalimat agar dia bisa menurunkan Shella lebih dulu.


"Loh, kenapa malah mengantar aku duluan Dok? Dokter antar saja dia, kan lebih mudah menurunkan dia lebih dulu dari pada Dokter harus lebih dulu menuju ke rumahku?" sangkal Shella.


"Tidak apa apa. Rencananya aku mau beli sesuatu di toko yang letaknya searah dengan rumah Citra. Jadi lebih baik aku antar Dokter Shella aja duluan!" seru Niko tanpa bisa di ganggu gugat. Shella semakin geram mendengarnya, sementara Citra hanya bisa tunduk terdiam tanpa suara. Dia tidak berani ikut bicara karena sepertinya Shella memang sangat tidak menyukainya.


Saat tiba di depan rumah Shella, Shella lekas turun dan menutup kembali pintu mobil Niko dengan sangat kasar. Bahkan dia enggan berpamitan kepada Niko, apalagi berpamitan kepada Citra. Niko yang menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul, karena dalam hatinya dia lega telah berhasil membuat Shella keluar dari mobilnya dan berharap tidak akan sengaja meminta tumpangan lagi. Bukan karena Niko tega dan jahat, tetapi Niko memang tidak suka pada wanita yang suka membeda bedakan orang lain dari harta atau jabatannya. Niko juga tidak ingin membuat Shella berlebihan berharap kepadanya, karena nyatanya dia tidak suka kepada Shella. Jadi menurut Niko, dari pada membuat Shella semakin berharap dan ujungnya kecewa, lebih baik dari awal Niko tunjukkan jika dirinya memang tidak suka dan hanya menganggap Shella hanya sebatas rekan kerja.


Setelah bangku di sebelahnya kosong, Niko meminta agar Citra berpindah tempat duduk.


"Turunlah, lalu pindah duduk di depan sini!" titah Niko seraya menoleh ke arah Citra yang duduk di kursi belakang. Tentu Citra terkejut dengan tawaran yang di anggapnya berlebihan itu.


"Emm, tidak usah Dok. Saya duduk di sini saja." tolak Citra dengan pelan, tetapi Niko punya kalimat untuk menjawabnya.


"Apa kamu mau ada yang mengira jika saya adalah supir kamu karena saya duduk di kursi kemudi, sementara kamu duduk di kursi belakang?"


Glek!

__ADS_1


Citra semakin tercengang mendengar jawaban itu. Karena tidak ada pilihan lain, dia akhirnya menuruti perintah Niko. Perlahan Citra membuka pintu mobil lalu pindah ke depan. Dan pemandangan itu tertangkap oleh kedua mata Shella dari balik tirai jendelanya, karena memang ketika Citra pindah ke kursi depan, saat mobil Niko masih berhenti di depan rumah Shella.


"Kurang a-jar! Aku nggak terima jika di saingkan dengan seorang perawat ingusan seperti itu!" geram Shella dalam hati sembari meremaaaas kain tirai di hadapannya.


__ADS_2