
Niko pergi begitu saja meninggalkan Shella yang masih mematung karena jawabannya. Shella mengepalkan tangan dengan mata terpejam tanda dia memendam amarah di hatinya. Niko mencari Citra di ruang perawat, tetapi di sana tidak ada. Dia bertanya kepada para perawat lainnya, tetapi mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan Citra.
Niko berjalan menuju ke kantin, barang kali Citra ada di sana. Tetapi sayangnya dia tidak menemukan Citra. Dia juga sempat bertanya kepada beberapa perawat yang dia kenal, tetapi mereka juga tidak mengetahui dimana Citra berada.
"Dimana dia?" gerutu Niko sembari mengusap kasar wajahnya. Niko pergi ke ruangan lain untuk mencari Citra, tapi tetap saja tidak ada. Citra seakan menghilang dan sengaja menghindar dari Niko.
"Eh lihat itu, Dokter Niko lagi nyariin perawat baru itu kesana kemari. Hebat sekali ya itu perempuan sampai membuat Dokter Niko mengejarnya!" ucap salah seorang perawat yang sedang berkerumun dan memperhatikan gerak gerik Niko dari kejauhan. Namun sayangnya, kalimat itu segera mendapat tanggapan sinis dari seseorang yang tanpa sengaja mendengarnya.
"Hebat apanya? Yang ada hebat itu dukunnya!" sahut Shella yang sempat mendengar pembicaraan perawat tersebut.
"Astaga, ada Dokter Shella!" lirih mereka saling berbisik. Salah satu diantara mereka kemudian lekas meminta maaf.
__ADS_1
"Ma-maaf Dok. Bukan maksud kami memuji dia, tetapi kita hanya heran saja melihatnya," ucap mereka sembari menundukkan kepala.
"Awalnya saya juga heran, dan memang terlihat sekali kejanggalannya. Tapi lama lama saya yakin kalau Dokter Niko itu sudah kena guna guna!" seru Shella seraya melipat kedua tangannya.
Para perawat itu mulai saling berbisik karena tidak menyangka jika Citra telah mengguna guna Niko. Meski di antara mereka ada yang tidak percaya pada hal semacam itu, tetapi kejanggalan tersebut membuat mereka mempercayainya.
"Benar juga, masak iya Dokter Niko langsung mengejar perawat yang baru saja bekerja dua hari di sini? Kan aneh sekali ya?" celetuk salah seorang perawat sehingga mampu memprovokasi teman temannya.
"Sebenarnya aku tidak percaya pada hal begituan? Apalagi di zaman modern begini, tapi kalau melihat keanehan itu secara langsung, membuat aku bisa mempercayainya." teman yang lain pun ikut membenarkan.
Hingga waktu telah berganti sore, Niko belum juga bisa menjumpai Citra. Bahkan Niko sengaja keluar lebih awal untuk menunggu Citra keluar dari pintu gerbang. Rencananya Niko hendak mengajak Citra pulang bersama lagi, tetapi sayangnya Niko tidak juga melihat sosok Citra hingga para pekerja shift pagi sudah pulang semua.
__ADS_1
"Kemana dia?" tanya Niko dalam hati. Dia terlihat begitu kesal.
"Bodoh, kenapa kemaren aku tidak minta nomor hpnya? Tau begini kan aku bisa nelpon dia!" ujar Niko sembari menghembuskan nafas dengan kasar.
Ketika dia sedang gelisah memikirkan kemana perginya Citra, mendadak dia terpikir untuk mencari Citra ke rumahnya.
"Oh iya, betul. Mungkin aku harus kembali datang ke rumahnya karena dia pasti pulang. Nanti aku akan meminta nomor hpnya agar bisa berkomunikasi." ucap Niko dengan senyum lebar. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya begitu terobsesi pada Citra, perempuan yang baru saja dua hari dia kenal.
Tak lama kemudian, Niko segera melajukan mobilnya. Dengan begitu yakin dia akan kembali mendatangi rumah Citra, dan dia juga yakin jika Citra pasti ada di rumahnya.
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa waktu, Niko akhirnya tiba di rumah Citra. Dia memarkir mobil di pinggir jalan depan rumah Citra. Setelah itu dia lekas keluar dari mobil dan perlahan berjalan masuk ke halaman rumah sederhana milik wanita pujaannya itu.
__ADS_1
Ketika tiba di depan pintu, Niko segera mengetuknya. Setelah mengetuknya berkali kali, pintu itu belum juga terbuka. Dan rupanya di balik pintu tersebut, Citra sedang kebingungan karena Niko datang lagi ke rumahnya. Citra melihat dari balik tirai jendela rumahnya bahwa lelaki yang baru saja dia kenal sejak dua hari yang lalu itu nampak sedang mencarinya.
"Duh, ngapain sih Dokter Niko kesini lagi? Kalau begini kan aku nanti bakal kena masalah lagi? Padahal susah payah aku menghindar dari dia!" gerutu Citra dalam hati dengan raut wajah yang begitu kebingungan.