
Citra masih terdiam di balik pintu mendengar Niko yang terus mengetuk pintu rumahnya. Dia tidak berani membukanya karena dia takut bertemu dengan Niko lalu menyebabkan masalah baru. Namun, upaya Citra menghindar gagal karena Ibunya datang setelah pulang bekerja.
"Eh, ada Pak Dokter," sapa Siti kepada Niko.
"Oh ada Ibu? Iya Bu, saya mau main sebentar. Ibu baru pulang kerja?" sahut Niko sembari meraih tangan Siti untuk dia cium, tetapi Siti selalu berusaha menghindar karena dia merasa tidak pantas jika tangannya di cium oleh seorang Dokter seperti Niko.
"Iya, Ibu baru pulang kerja. Jangan cium tangan Ibu Dok, tangan Ibu kotor."
"Tidak apa apa Bu, Niko tidak berpikir seperti itu." jawab Niko. Dia teringat pada Ibunya di kampung ketika pulang dari sawah, sehingga Niko sama sekali tidak merasa risih ketika hendak mencium tangan Siti.
"Jangan, pokoknya jangan. Ibu meras tidak enak dan tidak pantas. Oh ya, apa Citra belum pulang Dok, kok pintunya masih tertutup?" tanya Siti mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Saya juga tidak tau Bu, tadi waktu pulang saya nggak lihat Citra. Makanya saya datang ke sini, mau memastikan apakah Citra sudah pulang atau belum?" jawab Niko apa adanya. Jawaban itu sontak membuat hati Siti terharu dan kagum pada Niko. Suatu hal yang langka pada zaman sekarang karena ada seorang bangsawan yang mau dekat dan peduli dengan rakyat miskin seperti keluarga Citra.
Jika di luar rumah Citra sedang ada obrolan hangat antara Siti dan Niko, lain halnya yang terjadi di dalam rumah di balik pintu tersebut. Citra masih terlihat cemas karena pada akhirnya dia harus kembali menemukan Niko. Dia tidak mungkin menjelaskan jika dirinya di ancam Shella untuk menjauhi Niko, karena hal itu akan membuat masalah baru baginya.
Tidak lama kemudian, pintu kembali di ketuk. Akan tetapi, kali ini bukan Niko yang mengetuknya, melainkan Siti.
"Citra, Citra. Buka pintunya, ini ada Pak Dokter datang!" seru Siti dari balik pintu sembari terus mengetuk benda segi empat yang terbuat dari kayu itu. Karena tidak bisa menghindar lagi, akhirnya Citra lekas memberi jawaban lalu membukakan pintunya. Dia tidak mungkin membiarkan Ibunya lama lama berdiri di luar rumah.
"Iya Bu, sebentar." teriak Citra. Dia memberi sedikit jeda agar dia terlihat sedang sibuk di dalam rumah. Padahal dia hanya sedang mempersiapkan diri untuk menemui Niko. Lima menit kemudian, Citra perlahan membuka daun pintu itu hingga terbuka lebar dan menampakkan sosok Ibunya serta Niko dengan jelas.
Citra di buat tak berkutik mendengar pertanyaan dari Ibunya, karena pertanyaan itu mewakili pertanyaan yang harusnya di ucapkan oleh Niko. Citra semakin menundukkan kepala, dia tidak berani menatap ke arah Niko, dan hal itu semakin membuat Niko gemas.
__ADS_1
"Maaf Bu, tadi aku di kamar mandi terus masih mengambilkan Bapak minum." jawab Citra mencoba berkilah. Sebelum Niko datang, Citra memang benar sedang mengambilkan Bapaknya minum. Tetapi kalau sedang di kamar mandi, itu hanya alasan yang sengaja di buat oleh Citra agar Ibunya percaya.
Melihat ekspresi Citra yang nampak tegang dan takut, Niko pun ikut angkat bicara guna mencairkan suasana.
"Tidak apa apa Bu. Lagian saya tadi belum lama kok berdiri di sini. Justru saya yang merasa nggak enak karena sudah mengganggu Citra yang masih repot mengurus Bapak."
Citra sedikit mengangkat dagunya ketika mendengar ucapan Niko, sehingga tatapan keduanya sempat bertemu. Tetapi dengan cepat Citra kembali menunduk.
"Tidak Dok, tidak. Dokter tidak mengganggu. Justru kami senang karena Dokter berkenan mampir ke gubuk reot kami. Benar begitu kan Citra?" Siti justru melemparkan sebuah pertanyaan kepada Citra, hingga akhirnya Citra tidak punya pilihan lain selain mengiyakan pertanyaan itu.
"Ii--iiya Bu." jawab Citra dengan terbata bata dan hal itu sempat membuat Niko tersenyum simpul. Ekspresi wajah Citra yang tegang dan terlihat tunduk kepada Ibunya membuat Niko semakin menyukai kepribadian Citra. Jelas sekali Citra begitu tertekan dengan ucapan Ibunya, tapi tidak sedikitpun Citra menjawab dengan nada yang tinggi atau tidak sopan sekalipun sebenarnya dia terpaksa menjawabnya.
__ADS_1
"Ya sudah, Ibu masuk dulu mau mandi dan lihat Bapak di kamar. Kamu ajak Pak Dokter masuk ke dalam dan bikinin minum." ujar Siti kepada Citra, dan lagi lagi Citra tidak punya banyak pilihan selain mengiyakan. Sementara Niko, dia tidak berhenti menahan senyum karena merasa mendapat kesempatan.
"Mari Dok, silahkan masuk." cakap Citra seraya mengarahkan Niko untuk masuk ke rumahnya.