
"Astaga Ibu, Bapak kenapa?" tanya Citra dengan panik juga.
"Kita harus bawa Bapak kamu ke Rumah Sakit. Kondisinya kritis, dan detak jantungnya melemah." Niko ikut menyela sambil memeriksa pergelangan tangan Seno.
"Apa? Ke Rumah Sakit?" tanya Siti.
"Iya Bu, mari kita angkat bareng bareng tubuh Bapak Seno." jawab Niko.
"Jangan, jangan di bawa ke Rumah Sakit. Kita tidak punya biaya untuk pengobatan di rumah sakit," tolak Siti. Sejak lama Citra tidak membawa Bapaknya ke Rumah Sakit karena terkendala masalah biaya, sehingga Seno hanya mendapat perawatan seadanya di rumahnya.
"Jangan pikirkan hal itu Bu, yang penting kita tolong dulu nyawa Bapak Seno. Ibu dan Citra tidak perlu memikirkan tentang biaya." ucap Niko sembari mulai mengangkat bagian kaki Seno. Dia memaksa Citra dan Ibunya untuk membawa Seno ke Rumah Sakit. Dan akhirnya Seno berhasil di bawa ke Rumah Sakit.
Dalam waktu tiga puluh menit, mereka sudah tiba di ruang IGD. Para tim medis segera memberi pertolongan kepada Seno. Karena kondisinya kritis, dia harus di rawat di ruang ICU.
"Citra, ruangannya sangat lengkap dan banyak peralatan kesehatan di pasang di tubuh Bapak kamu. Pasti biayanya mahal Citra, bagaimana cara kita membayarnya?" lirih Siti ketika berada di depan rang ICU sambil memperhatikan Seno dari arah jendela yang sedang di tangani oleh tim medis.
"Citra juga nggak tahu Bu, Citra ada tabungan sedikit di rumah. Nanti biar Citra ambil, tapi mungkin cuma cukup kita gunakan untuk makan selama tinggal di Rumah Sakit. Kalau untuk biaya, tentu saja tidak cukup. Mungkin aku akan meminta bantuan pihak Rumah Sakit agar memotong gajiku tiap bulan untuk biaya pengobatan Bapak," ujar Citra.
__ADS_1
"Memangnya bisa seperti itu Citra?" tanya Siti lagi.
"Aku juga tidak yakin Bu, tapi apa salahnya kita mencoba? Atau mungkin Citra akan meminta keringanan biaya untuk pengobatan Bapak karena kita orang yang tidak mampu," sahut Citra kemudian.
"Tidak bisa dan tidak perlu!"
Ketika Citra dan Ibunya sedang membicarakan tentang pengobatan Seno, mendadak ada suara yang menyela.
Citra dan Ibunya menoleh ke arah asal suara, dan rupanya Niko yang berbicara.
"Ibu, sudah Niko katakan berkali kali agar Ibu jangan memikirkan soal biaya. Semua Niko yang tanggung."
Meski Citra dan Ibunya merasa begitu sungkan, tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa menolak bantuan dari Niko. Sejak hari itu Seno di rawat di Rumah Sakit.
Keesokkan harinya, Citra bekerja seperti biasa. Pagi hari sebelum matahari terbit, Citra lebih dulu pulang untuk mengambil seragam serta peralatan kerjanya.
Pada hari itu, Citra tidak bisa menghindari Niko. Jika biasanya dia berusaha untuk menghindar, tetapi kali itu Citra tidak bisa menghindar karena memang dia sedang membutuhkan bantuan Niko. Bahkan sepertinya dia akan berhutang budi kepada Dokter yang ingin dekat dengannya itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Bapak kamu? Aku belum bisa mengunjunginya. Mungkin nanti siang setelah melakukan jadwal operasi." tanya Niko sembari mendekat ke arah Citra yang sedang melakukan tugasnya di ruang perawat.
Beberapa perawat lain terlihat memperhatikan keduanya yang sedang berbincang bincang. Ada yang merasa tidak suka, ada yang iri hati, tetapi ada juga yang tidak peduli.
"Eh, tuh lihat! Perawat baru itu emang bandel! Udah di suruh menjauh tapi tetap aja kegatelan, ntar kalau di labrak lagi sama Dokter Shella baru tahu rasa!"
"Iya ya, padahal kemaren udah di peringatin. Tapi ngomong ngomong kalau misal yang di dekati sama Dokter Niko itu aku, aku juga nggak akan nolak kok!"
"Hssttt.... Sudah sudah! Kita nggak usah ngurusin urusan orang. Mau dia bandel, mau dia nurut, mau di labrak atau nggak, itu urusan dia. Yang penting kita nggak usah ikut ikut cari masalah!"
Pendapat perawat yang terakhir itu mengakhiri perbincangan sengit pada pagi itu. Citra merasa sedang menjadi bahan perbincangan, sehingga dia mulai beranjak dari sisi Niko dan menuju ke ruangan lain.
"Dokter Niko, ada yang ingin saya tanyakan. Apa benar, Dokter yang menanggung semua biaya pengobatan bapak dari perawat baru itu?" Terdengar suara Shella di telinga Niko. Dokter cantik itu tiba tiba berada di belakang Niko dengan membawa pertanyaan yang menginterogasi. Niko sejenak menoleh ke arah Shella lalu mengiyakan pertanyaan itu. Setelah menjawabnya, Niko kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Dok, Dokter ini sadar nggak sih? Dokter ini kena tipu. Biaya pengobatan ini nggak sedikit. Dokter Niko hanya di manfaatkan oleh perawat baru itu!" seru Shella dengan tatapan yang tajam. Mendengar tudingan yang di berikan kepada Citra, Niko merasa tidak terima.
"Maaf Dokter Shella. Sepertinya anda berlebihan menilai. Saya hanya berniat untuk berbagi. Membantu pengobatan orang yang tidak mampu itu termasuk kewajiban kita jika kita merasa mampu, apalagi kita seorang Dokter!"
__ADS_1