Rahasia Dokter Niko

Rahasia Dokter Niko
Citra mendapat masalah


__ADS_3

Niko semakin tidak kuat menahan tawa melihat ekspresi Citra yang semakin menegang ketika dia menggodanya. Tetapi lama lama Niko merasa tidak tega karena membuat Citra begitu tertekan, sehingga Niko kembali berusaha menenangkan.


"Udah Citra, jangan tegang gitu. Semua akan baik baik saja kok. Kalau masih awal, pasti mereka merasa heran, tapi jika udah sering, mereka pasti udah terbiasa melihatnya."


Citra yang tadinya di buat tegang dengan kata "melamar", kini dia kembali memegang lagi karena Niko berkata bahwa " jika udah sering".


"Jika udah sering Dok? Maksud Dokter, kita akan sering berangkat bersama, begitukah Dok?" tanya Citra dengan ragu, dan dia berharap bahwa dia hanya salah dengar atau mungkin Niko hanya bercanda. Akan tetapi, ternyata Niko mengiyakan pertanyaan Citra. Niko yang awalnya ingin menenangkan hati Citra agar tidak takut, yang ada Niko malah menambah rasa takut Citra menjadi semakin besar.


Belum sempat Citra kembali menjawab, Niko terburu keluar dari mobilnya. Dan satu hal mengejutkan yang semakin membuat syaraf Citra menegang adalah Niko membukakan pintu mobil untuknya.


"Astaga, dia membukakan pintu untukku?" gumam Citra dalam hati sembari memejamkan mata. Dia semakin mengira jika dia dalam masalah yang besar.


Karena tidak bisa banyak mengelak, Citra kemudian lekas keluar dari mobil sebelum banyak orang yang melihatnya. Namun sayang, beberapa pasang mata yang telah menangkap kejadian itu, mampu membuat seisi Rumah Sakit mengetahuinya.


Setelah keduanya keluar, Citra hendak izin kepada Niko untuk lewat jalur lain, tetapi Niko malah menahannya.


"Mau lewat mana? Udah, kita masuknya bareng aja." ujar Niko seraya menunjuk ke arah pintu utama. Citra benar benar di buat tidak berkutik oleh Dokter tampan itu. Sementara Niko sendiri juga merasa heran, kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk ingin dekat dengan Citra, gadis yang baru saja dia kenal.


Sepanjang langkah menuju ke lorong Rumah Sakit, Citra terus saja menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap orang orang di sekitar yang pasti menatapnya dengan tidak biasa karena di sebelahnya ada orang yang paling populer di Rumah Sakit tersebut. Citra mulai mendengar banyak perawat dan pegawai lainnya mulai menyapa Niko dengan ramah, tetapi Citra tetap saja menyembunyikan pandangannya. Setelah tiba di sebuah lorong, mereka berpisah karena ruang kerja mereka berbeda.

__ADS_1


"Kamu lihat kan, semua baik baik saja. Nanti waktu pulang aku tunggu kamu di depan." ujar Niko kepada Citra sebelum dia melangkah menuju ke ruangannya.


Mendengar semua ucapan Niko membuat Citra mematung. Hingga saat itu aliran darah menuju ke otaknya terasa membeku sehingga dia tidak bisa memikirkan apa apa.Lidahnya pun kaku hingga membuatnya sulit untuk berbicara. Pagi itu Citra benar benar merasa seperti berada di dunia lain. Dia sama sekali tidak mengira bahwa dirinya akan mengalami hal itu dan mungkin setiap hari dia akan terus mengalaminya karena Niko mengatakan jika dia akan sering berangkat bersama.


Citra hanya bisa berharap bahwa kedepannya tidak akan menimbulkan masalah apa apa.


Baru saja Citra berusaha menenangkan diri dan hendak masuk ke ruang kerjanya bersama dengan perawat yang lain, mendadak ada yang menghentikan langkahnya.


"Hei tunggu. Tolong berhenti, saya mau bicara!"


Citra menoleh ke asal suara yang tengah memanggilnya. Dan setelah Citra lihat, rupanya orang yang menghentikan langkahnya tersebut adalah Shella.


"Langsung saja ke inti masalah, saya tidak suka melihat kamu dekat dengan Dokter Niko. Saya rasa kamu tau jawabannya, jadi jika kamu memang merasa cukup tau diri, lebih baik kamu jauhi Dokter Niko tanpa di minta. Saya tidak mau reputasi saya sebagai seorang tercoreng hanya karena bersaing tidak seimbang dengan seorang perawat yang masih baru!" gertak Shella kepada Citra. Tanpa menunggu jawaban dari Citra, Shella segera meninggalkan gadis itu dengan sengaja mendorong satu pundaknya hingga Citra mundur beberapa langkah dan tubuhnya mengenai tembok di belakangnya. Citra menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar sambil memejamkan kedua mata. Kejadian yang paling dia takuti akhirnya terjadi. Dia tidak punya daya untuk melawan, sehingga yang ada di pikirannya saat itu adalah menghindar dari Niko agar masalah itu tidak berkepanjangan.


Usai berurusan dengan Shella, Citra lekas masuk ke ruangannya. Rupanya bukan hanya Shella, tetapi para perawat di ruangan itu juga memandang sinis pada Citra. Citra tau akar masalahnya adalah keberangkatannya pagi iri dengan Niko.


"Hei, kamu tadi abis di tegur sama Dokter Shella ya? Makanya, jadi anak baru itu jangan blagu! Kamu tahu kan siapa Dokter Niko dan Dokter Shella?" tukas salah seorang teman seprofesi Citra


Belum sempat Citra memberi jawaban, teman yang lainnya juga ikut menimpali.

__ADS_1


"Emang pakai ilmu pelet apa sih kamu? Kok bisa dalam satu hari Dokter Niko kecantol kamu? Kamu rayu rayu ya Dokter Niko?" tuding yang lainnya, dan hal itu membuat Citra begitu tersinggung.


"Maaf Kak, saya bukan perempuan seperti itu. Saya tidak pernah merayu Dokter Niko, apalagi pakai pelet!" geram Citra menjelaskan fakta yang sebenarnya. Tetapi fakta itu tetap saja di tanggap negatif oleh teman teman dalam satu ruangannya.


"Mana ada maling yang mau ngaku? Lagian aneh nggak sih, orang baru kenal satu hari tapi langsung jalan bareng? Pakai di bukakan pintu segala pas keluar mobil! Semoga saja Dokter Niko lekas sadar dengan kesalahannya!" sahut teman Citra yang lainnya. Citra sama sekali tidak mengira hari keduanya bekerja akan menjadi seburuk ini.


Jadwal kunjung Dokter telah tiba, dan kepala perawat merubah jadwal jaga Citra atas kemauan para perawat yang lain. Citra yang saat itu harusnya berada di ruangan Dokter Niko, tapi kali ini Citra akan di pindah ke ruang lain agar tidak bertemu dengan Niko. Mendengar perubahan jadwal jaga itu, Citra justru merasa lega. Dan hak itu sempat membuat kepala perawat merasa heran


"Kenapa kamu terlihat senang jika saya pindah ruang?" tanya kepala perawat kepada Citra.


"Iya, karena tidak bertemu dengan Dokter Niko."


Kepala perawat mengerutkan kening mendengar jawaban itu. Dari reaksi Citra, sepertinya semua tudingan yang di berikan oleh para perawat yang lain itu tidaklah semua benar. Buktinya Citra malah merasa senang jika tidak bertemu dengan Dokter Niko. Kepala perawat mulai ragu dengan berita yang beredar jika Citra yang lebih dulu menggoda Dokter Niko, sehingga beliau berniat mengenal Citra lebih dekat agar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Meski hal itu sifatnya pribadi dan diluar pekerjaan, tetapi jika terjadi perseteruan di antara para perawat, maka akan mempengaruhi kinerja mereka.


Di lain tempat, Niko sudah duduk rapi di kursi kebesarannya. Selain menunggu pasien masuk, dia juga menunggu kedatangan Citra yang akan menjadi asistennya. Akan tetapi, perawat yang datang bukanlah Citra, melainkan perawat lain.


"Pagi Dok," sapa perawat tersebut dengan senyum ramah.


"Pagi juga. Mana Citra? Bukankah harusnya dia yang berjaga di sini?" tanya Niko tanpa basa basi dan hal itu sempat membuat si perawat merasa kesal.

__ADS_1


"Huuhhh... Citra lagi, Citra lagi. Kan udah ada aku di sini, ngapain sih nyari Citra terus? Lagian aku ini kan lebih profesional dari pada perawat baru itu!" geram si perawat ketika Niko seorang menolak kehadirannya.


__ADS_2