
"Tak ada gunanya kau mengharap selir busuk itu untuk menolong dirimu yang menyedihkan ini, karena sebentar lagi yang mulia selir agung Hiwai juga akan bernasib sama bahkan lebih parah dari keadaanmu sekarang. Anvvcam Ellisya menakut-nakuti."
Ellisya tersenyum semir kepada Selir Hiwai yang sedang berdiri di pojokan sambil menyusun rencana rencana licik yang akan ia perankan sesaat lagi.
"Jangan membuat aku serta seisi istana ini bertanya-tanya Ellisya, cepatlah beritahukan kepada kami!" Seru suara tegas dan familiar yang secara tiba-tiba sudah berada di sebelah permaisuri menghunuskan tatapan tajam kepada Ellisya yang tetap setia memperdalam cengkraman kuku-kuku lentiknya ke dalam pipi Aming dengan santai, ia hanya menganggap suara tersebut sebagai angin lalu, meski darah bercucuran membasahi tangan juga pakaiannya.
Pada hal jantung para manusia di sana hampir meloncat keluar. Setelah suara dingin Kaisar Quanvo menyapa indra pendengaran mereka.
"Salam hormat kami bagi yang mulia Kekaisaran Lingvai! ucap mereka bersamaan seraya memberi hormat.
"Siapa kau? Apa hakmu membuat keributan di dalam Istanaku? Musuh sekalipun akan berpikir dua kali sebelum membuat kekacauan di wilayah kekuasaanku. Ingat, kau hanyalah pelayan rendahhan yang menerima belas kasih dari permaisuriku." Kaisar menunjukkan posisi nya.
"Tentu saja saya mengingat siapa diri saya yang mulia Kaisar. Tapi saya benar-benar tak menyangka bahwa ternyata di istana semegah ini, kau memelihara banyak sekali ular berbisa, sampai-sampai permaisuri mu yang hampir saja bertemu dengan malaikat maut pun, kau sama sekali tak mengetahuinya."
Sahut Ellisya tersenyum remeh mengejek Kaisar.
"Jaga bicaramu dan ingat posisimu." Ucap Kaisar Quanvo marah Kaisar dengan mata memerah.
Suhu di sana semakin memanas, dengan penuh kelembutan permaisuri mengelus lengan Kaisar memintanya untuk meredakan amarah yang jika terus dibiarkan akan dapat menghancurkan segala sesuatunya.
__ADS_1
"Kau sedari awal selalu saja menciptakan banyak masalah, dan tak semestinya pelayan sepertimu bersikap tak sopan kepada yang mulia Kaisar. Selir ini saja yang adalah wanita kedua yang paling dihormati di kekaisaran ini, tak berani berucap merendahkan yang mulia Kaisar. Kata nya memperpanas keadaan.
"Diam, tutup mulut mu! Baik lah, aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian semua." Ucap Ellisya tenang seraya mengambil serbuk berwarna abu-abu dari dalam sakunya lalu diperlihatkan kepada mereka yang sedari tadi penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Ini adalah sejenis racun yang membunuh secara perlahan-lahan, bagi seseorang yang telah mengkonsumsi racun ini tubuhnya akan dipenuhi luka bernanah yang menjijikan. Dan serbuk berwarna coklat ini merupakan racun gabungan dari bisa ular dan racun kalajengking yang sangat mematikan."
"Beberapa hari lalu, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri Aming bertemu seseorang berjubah hitam. Orang tersebut memberinya bungkusan ini lalu aku mengambilnya dari dalam kamar Aming yang mulia Kaisar."
"Yang Mulia selir agung, dirimu sebagai perempuan kedua yang paling berpengaruh setelah permaisuri di kekaisaran Lingvai, tentu yang mulia mengetahui racun ini bukan?" Tanya Ellisya to the point.
"Apa kau juga akan melakukan kepadaku seperti yang telah kau perbuat kepada kaisar? kau pun pasti ingin mempermalukan aku bukan?" Jawab Selir Hiwai malah menyalahkan Ellisya.
"Lihat lah pelayan dari permaisuri ini yang mulia! selama aku hidup di dunia baru kali ini aku menemukan seorang pelayan rendahan seberani itu berbicara lantam kepada anggota keluarga kekaisaran Lingvai."
"Benar yang mulia, dia sudah menginjak-nginjak harga diri kekaisaran kita yang mulia." Ucap Selir Xera membenarkan.
Mendengar perkataan kedua selirnya Kaisar pun terpancing dan mengeluarkan pedang panjangnya dan diarahkan ke leher Ellisya.
"Tak maukah yang mulia Kaisar mendengarkan kelanjutan hal penting dari pelayan rendahan ini?" tanya nya jenuh. Sedikitpun tak terlihat cemas dari wajah ya yang hitam gelap, padahal pedang tajam tersebut telah mengenai kulitnya.
__ADS_1
Menyaksikan bencana yang sebentar lagi akan terjadi seketika permaisuri berteriak histeris, "Tidak suamiku! jangan lakukan ini kepada pelayanku! Dia belum selesai menjelaskan tentang racun itu, alangkah lebih baik jika kita menunggu penjelasan darinya." seru permaisuri yang tangan dan kakinya sudah keringat dingin serta gemetaran ketakutan.
"Yang Mulia Kaisar, ia tidak akan bisa menerangkan tentang racun itu kepada kita semua, tak mungkin iya lebih pintar dari pada Tabib Kekaisaran. gadis ini hanya ingin mencari perhatian saja agar ia mendapat gelar yang terhormat."
karena menerima penghinaan, Kaisar sama sekali tak mempedulikan seruan permaisuri. Yang ingin ia lakukan adalah segera menghabisi manusia di hadapannya, Kaisar menekan pedang itu.
Namun dengan gerakan gesit Ellisya menggenggam ujung pedang itu lalu ia turunkan sambil terkekeh.
"Ternyata Yang kukatakan sangatlah benar bukan? Kaisar dari kekaisaran Lingvai memang bodoh, kau tak pantas disebut sebagai Kaisar."
Ellisya memainkan rambut keritingnya, iya begitu bosan dengan kejadian unfaedah ini lalu kakinya melangkah dengan angkuh meninggalkan mereka yang semakin ingin menelan pelayan itu hidup-hidup.
"Prajurid! segera tangkap orang itu dan bawa ke sel penjara bawah tanah, lalu cambuk sampai iya tak berdaya dan memohon untuk kematiannya!" Titah Kaisar Quanvo berapi-api.
"Tap tap tapi Suamiku? Dia,"
"Kau diam saja! kau pun sama tak bergunanya seperti pelayan mu itu, jadi karena kau sudah lancang dengan mempertanyakan keputusanku, maka kau pun akan ikut bersama pelayan jelek serta tak tahu di untung itu."
"Bawa serta permaisuri juga dan lakukan hal yang sama kepadanya! Ini hal yang akan diterima bagi orang yang mencoba-coba tidak menuruti perintahku." Serunya tanpa belas kasih.Permaisuri Linsya tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang suami.
__ADS_1