Rahasia Putri Mahkota Buruk Rupa.

Rahasia Putri Mahkota Buruk Rupa.
racun.


__ADS_3

Ellisya dengan setia duduk di lantai sembari menunggu permaisurinya itu untuk bercerita. entah hal apa yang akan disampaikan oleh wanita ini kepadanya.


yang jelas gadis cantik itu sangat penasaran setengah mati, iya berharap kali ini iya dapat mengetahui sesuatu walau hanya sekecil biji lada sekalipun, tentu hal tersebut akan menjadi titik terang yang Amad menguntungkan dirinya.


"oh tidak, mengapa kau duduk di lantai dingin itu?"


"tidak masalah yang mulia. bukankah setiap pelayan memang harus seperti ini?"


"sedari dulu aku tidak pernah membiarkan pelayanku untuk bersikap formal seperti itu, jadi tak usah sungkan kepadaku. duduklah di sini!" titah permaisuri Linsya tanpa bisa dibantah.


Ellisya segera menurut dan menatap permaisuri, melalui matanya seolah-olah bertanya. Namun sang permaisuri tetap diam saja dan terus memandangi wajah pelayan di hadapannya dengan tatapan yang sungguh dalam.


dengan ragu-ragu Ellisya a mencoba memberanikan diri untuk bertanya."bolehkah hamba mengetahui apa yang hendak disampaikan permaisuri kepada hamba ?"


"ah sudahlah. bukan masalah yang penting. sebaiknya kau berkeliling di kediaman gold ini, berkenalan lah dengan pelayan-pelayan yang lain dan segera persiapkan keperluan mandiku! Seru wanita cantik itu mengurungkan niatnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sambil menahan kekesalan Ellisya segera keluar dari ruangan permaisuri dengan wajah padam.


Sesampainya di luar ruangan permaisuri Linsya, Ellisya sangat takjub. Iya mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan mewah berwarna emas itu. tentu saja ruangan tersebut begitu mewah karena ruangan yang ditempati oleh permaisuri, adalah kediaman yang paling spesial karena pemiliknya merupakan wanita yang berkuasa di seluruh kekaisaran.


Hmmm, istana yang luar biasa! Tapi di luaran sana rakyat kecil yang sungguh menderita tak ada yang mempedulikannya. Iya hanya tersenyum miris.


Tanpa buang-buang waktu Ellisya segera menyiapkan air mandi dan juga semua keperluan permaisuri Sambil bernyanyi ria.


Senyumanmu  oh kasih hiasi bingkai asmaraku, namamu melintang di hatiku gemilau  bgemintang di hatiku. Senyumanmu oh kasih hiasi bingkai asmaraku, kau menjadi bintang di hatiku gemilau gemintang di hatiku.


Tiba-tiba iya terjatuh membuat Aning seorang pelayan permaisuri yang lainnya menghampiri Ellisya cemas.


Aning mengulurkan tangannya hendak membantu pelayan baru itu.


"Terimakasih sudah menolongku." Ucapnya sopan dan tersenyum manis.


"Perkenalkan namaku Ellisya, siapa namamu?" tanyanya balik. "aku ialah, lihat saja ukiran di pakaianku kau boleh memanggilku dengan sebutan itu jawabnya sopan.


Ellisya mengamati pakaianmnya dan melihat tulisan di sana.


Oh dia bernama Aning dan seorang pelayan juga di kediaman Permaisuri,  ternyata di zaman kuno juga ada sablon ya. Ujarnya dalam hati.


​​​​​​​​​​​​​​​"Perkenalkan juga namaku Aming!" Seru seseorang tiba-tiba yang membuat kedua pelayan itu terkejut.


​ Iya juga adalah pelayan permaisuri, sejak saat itu ketiganya menjadi teman dekat.


..


...

__ADS_1


Tak terasa sudah satu bulan aku menjadi pelayan Permaisuri, dan ia amat menyayangiku.


berbeda dengan pelayan yang lain aku tidak diizinkan bekerja terlalu lelah, aku hanya ditugaskan untuk menghidangkan makanan permaisuri dan mengurus tanaman yang ada di kebun kediaman permaisuri.


tetapi, Pagi ini aku sedang membantu Permaisuri memakai handphunya, karna Aming  yang biasanya memasang pakaian permaisuri Linsya dia mengatakan kalau ayahnya sedang sakit parah.


Aku melihat seluruh tubuh permaisuri dipenuhi luka yang bernanah seperti terkena racun, tapi aku merasa ada yang janggal dari semua luka di tubuh Permaisuri.


Di permukaan wajahn nya, telapak tangan sampai siku, dan telapak kaki hingga ke lutut Yang Mulia Permaisuri Linsya, tidak terdapat luka sedikit pun. Selama ini permaisuri selalu menutup bagian dari tubuhnya yang penuh luka bernanah.


"Sejak kapan Yang Mulia Permaisuri mendapat luka ini?" Aku memberanikan diri untuk bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaan permaisuri.


"Sejak Ibumu tidak lagi menjadi pelayan pribadiku. Zia adalah orang yang bertanggung jawab dan mempunyai belas kasih yang besar, tapi iya entah pergi ke mana Ketika aku bertanya kepadamu pun, kau tidak menjawab pertanyaanku.


Mendengarkan jawaban permaisuri aku hanya terdiam.Sejenak aku berfikir apakah aku harus berteriak menjambak ramutnya dan mengatakan kalau orang tuaku sudah tidak ada lagi di dunia ini?


"Tapi tak apa, Permaisuri ini senang dengan kehadiran Putri nya Zia." Katanya terlihat begitu tulus.


Apakah wanita di hadapanku sedang berbohong? Mengapa Wanita ini seperti tak tahu menahu mengenai sesuatu yang menimpa keluargaku?


Bukankah mereka memfitnah kedua orang tuaku telah mencuri gelang kaca Permaisuri ?


Saat aku melamun bersama ribuan  pertanyaan dan kejanggalan yang aku temukan bahuku mendapat sentuhan lembut."jangan terlalu memikirkan hal itu! Permaisuri ini  Yakin di mana pun orang tuamu kini berada, mereka pasti senang, karna mempunyai Putri yang baik.


Ucap Permaisuri tersenyum lalu memeluku.


Mataku kembali terfokus pada tubuh permaisuri yang penuh dengan luka, sehingga siapa saja yang melihatnya akan merasa jijik.


​​​​​​​​​​"Apa Tabip sudah mengobatinya?" Pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mmulutku.


​​​​​​​​​​"Tentu saja mereka telah memberikan obat terbaik." Jawab permaisuri tampak putus asa.


​​​​​"Luka yang terdapat di tubuh yang mulia permaisuri akibat racun."


Apa! racun?Bagaimana kau tahu kalau aku terkena racun?" Tanya nya tak percaya.


"Iiiitu karna hamba, AyahAnda yang sudah mengajarkan hamba mengenai berbagai jenis racun yang mulia."


Jawabku gugup.. tidak mungkim aku mengatakan kalau Ellisya yang bersamanya kini bukanlah Ellisya, melainkan Elli permata sari dari zaman modren yang terlempar ke jaman kuno , dan berenkarnasi di tubuh Ellisya anak pelayan kepercaiaan nya.


"Ayahmu ternyata hebat ya!" Puji permaisuri.


Yang mulia luka ini harus segera diobati!"


Sudah lah nanti juga lukanya akan membaik." Ia Berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Tapi yang Mulia, racun ini bisa membahayakan nyawa Anda!."


"Sepertinya kau begitu mengkhawatirkan aku ya. Terima kasih banyak, aku melihat sosok ibumu yang baik hati, berada pada dirimu."


"sudah biarkan saja, semua luka yang terdapat di sekujur tubuhku ini, tidak sebanding dengan luka yang ada di dalam hatiku." Ucapnya sedih sembari menahan air mata yang hendak keluar mengucur deras.


Aku semakin bingung saja di buatnya. "Aku memang beruntung punya pelayan baik sepertimu." Ia Tersenyum lembut.


Aku akan mencari tahu siapa dalang di balik semua yang terjadi kepada diri Yang Mulia Permaisuri. Tekat ku.


Entah mengapa aku menjadi khawatir kepada permaisuri, rasa ingin menolongnya menggebu-gebu dalam diriku, setiap kali berada di dekatnya membuat hatiku menjadi begitu tenang dan damai.


Hati nuraniku berkata bahwa wanita ini bukan orang jahat, dan tidak semestinya aku berniat jahat kepada nya. Tapi bagaimana dengan tujuanku?yang ingin membalas dendam atas kematian ayah dan ibu yang tubuhnya kini aku tempatti? Ellisya berpikir keras, iya sangat bimbang saat ini.


"Yang Mulia Permaisuri, ada Yang Mulia Kaisar di luar kediaman anda Yang Mulia Permaisuri. beliau hendak masuk ke dalam ruangan ini Yang Mulia!." Ucap salah seorang prajurit yang menjaga kediaman Permaisuri Linsya.


"Persilahkan Yang Mulia Kaisar masuk!" Wanita itu tampak terburu-buru menutupi seluruh bagian tubuhnya dengan begitu cepar.


Aku berpura-pura mencari kesibukan lain.


Setelah masuk ke ruangan, Kaisar mendekati dan kemudian memeluk permaisurinya serta membelai lembut rambut panjang Ratu kekaisaran Lingvai itu.


"Apa kabar denganmu sayang? Kau cantik sekali, membuat aku jatuh cinta lagi kepada Wanita yang sama berulang-ulang sampai beribu-ribu kali." Puji Kaisar Quanvo.


Mendengar ia dipuji sang suami tercinta, membuat pipi Permaisuri merah merona. "Benarkah begitu? Tanya nya tersenyum sumringah.


"Tentu saja Ratuku. Hanya kau satu-satunya perempuan yang amat ku cintai di kekaisaran ini, bahkan di seluruh dunia sekali pun tak ada yang secantik dan sebaik dirimu sayang."


Lalu bagaimana dengan para selirmu itu suamiku? Apa kau juga amat sangat mencintai mereka sama sepertiku?"Tanya permaisuri Linsya menatap bola mata Kaisar meminta penjelasan.


"Aku juga mencintai mereka semua, tapi cinta yang aku berikan kepada mereka tidak sebesar cinta ku yang telah kuberikan kepadamu." Jawab Kaisar dengan wajah serius.


"Hahahaha. Tidak usah memasang wajah serius seperti itu Yang Mulia! Aku percaya kepadamu, itu tadi hanya bercanda saja. Iya kembali tertawa.


Permaisuri Linsya menghentikan tawanya dan kembali bermuka datar menatap Kaisar Quanvo. "Apa tujuanmu datang kemari? Apakah semuanya baik-baik saja Yang Mulia?"


"Ia Ratuku, semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Hari ini aku sangat bahagia sekali, aku mendapat kabar dari salah seorang prajurit pilihan kita kalau Pangeran Darriian guanvo Putra kita, telah berhasil menaklukkan musuh dan tiga hari lagi ia akan kembali ke istana."


Putraku akan kembali?" Tanyanya memastikan lagi.


Iya anak kita akan tiba di istana 3 hari lagi. Saat itu juga aku akan mengumumkan kepada rakyat, kalau pangeran Darriian guanvo adalah penerus Kaisar berikutnya, artinya aku akan menobatkan dia sebagai Putra Mahkota." Jelas Kaisar panjang lebar.


Permaisuri Linsya khawatir. "Apakah anak-anakmu yang lain serta para Selirmu tidak keberatan dengan keputusanmu ini suamiku?"


"Itu sudah keputusan penguasa kekaisaran Lingvai, Tak bisa di ganggu gugat lagi. Kaisar ini juga membicarakan hal ini bersama para menteri dan penasehat istana, mereka sangat setuju jika pangeran Darriian dinobatkan sebagai Putra Mahkota."

__ADS_1


Sementara dari balik pintu seseorang memasang telinganya baik-baik, dia mendengar semua percakapan kedua orang yang berbincang-bincang itu.


"Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu Yang Mulia, aku ikut senang. Aku akan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyambut kepulangan Pangeran Darriian." Ucapnya bersemangat.


__ADS_2