
"salam hormat saya kepada tuan putri Cimai! Putri, bolehkah hamba yang rendahan ini mencicipi sedikit saja makanan tuan Putri yang sudah tentu lezat ini?"Ellisya berkata sopan dan lembut namun yang tengah diajak berbicara tak berani menegakkan kepalanya untuk bersitatap dengan seseorang yang hanya pelayan.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya pergilah dari sini! Kumohon jangan mengusik aku beserta Ibuku."
"Bagaimana mungkin saya berniat menyakiti tuan Putri? Saya tentu sadar diri tidak ada apa-apanya dibanding denganmu yang seorang Putri Kekaisaran besar."Ucap Ellisya mengangkat dagunya agar melihat wajahnya secara jelas, iya bertambah gugup sampai-sampai kakinya gemetar berhadapan dengan Gadis buruk rupa tersebut.
"Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, supaya kau mempersiapkan segala sesuatu untuk kompetisi hari ini. Semoga kau berhasil ya Putri! Oh iya satu lagi, alangkah baiknya jika bermain secara jujur dan mendapat gelar serta kehormatan dengan usaha juga kerja keras sendiri. Sampai jumpa tuan Putri!" Seru Ellisya mengelus pipinya lembut kemudian berlalu pergi.
Cimai begitu kesal melampiaskan rasa dongkolnya kepada ikan yang iya cincang-cincang hingga berbentuk seperti butiran pasir di Laut. Iya membayangkan yang tengah dia potong-potong saat ini adalah Ellisya. Baru kali ini dia merasa ada batu besar yang sedang menekan dadanya kuat hingga tak bisa bernafas, Cimai begitu tertekan berada di sekitar Ellisya, yang ternyata telah melemparkan fitnah keji kepada kedua orang tua Ellisya pada waktu itu, dan akibat tuduhan keji dan hasutan dari selir Hiwai Ayah juga Ibu Ellisya akhirnya dihukum mati.
Masalah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Putri Cimai akan menyusun rencana baru bersama sang ibu untuk segera menyingkirkan Ellisya yang telah begitu lancang mengusik ketenangan mereka, bagaimanapun caranya Gadis itu harus segera mati. Mereka akan menghalalkan beribu macam cara demi tah tahta.
Seluruh peserta telah siap sedia untuk mengikuti lomba pertama yaitu: memasak. Kali ini Gadis itu akan memperlihatkan diri sebagai Putri Ziaili. Ada yang berbeda dari perlombaan kali ini terdapat dua kategori Khusus bagi para putri bangsawan, dan para pelayan Istana. Kemudian setelah mendapat pemenang dari masing-masing kategori, para pelayan yang terbaik akan diperhadapkan dengan Putri yang telah berhasil mengikuti semua pertandingan dengan baik. Inilah yang unik dari kompetisi tersebut, di mana masing-masing pemenang baik pelayan maupun tuan Putri akan saling berhadapan menunjukkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.
Saat ini para putri yang akan mengikuti lomba. Gong dipukul sebanyak tiga kali menandakan pertandingan sudah dimulai dari sekarang.
Semua tampak begitu sibuk berkutat dengan bahan-bahan, pisau, wajan, dan sendok. Tetapi Putri jiaili malah terlihat sangat santai, iya memperhatikan dengan seksama cara mereka memasak yang menurutnya amat kuno dan lambat.
__ADS_1
Seseorang yang tengah melihat dari atas pohon terheran-heran dibuatnya. "Apa yang sedang kau lakukan Ratuku? Kenapa kau hanya diam saja? Ayo cepat! Kau harus berhasil memenangkan pertandingan ini! Jangan khawatir, aku akan selalu bersamamu." Pria berpakaian pelayan itu memberikan kata-kata penyemangat namun sayang, Ziaili sama sekali tidak mendengarnya.
Sebagian dari mereka mengadah ke atas setelah mendengar ucapan dari seorang pelayan tersebut, mereka tertawa mengejek. Bagaimana mungkin seorang pelayan menyebut seorang putri terpandang sebagai ratunya? Hal itu subuh mustahil terjadi.
Ziyaili meluruskan kedua kakinya bersandar pada tiang meja kayu dan memejamkan mata. Tak lama kemudian Ziaili mengeluarkan benda aneh dari bawah meja tersebut, jika di masa modern orang-orang kerap menyebut benda itu ampia.
Alat itu biasa digunakan untuk menggiling sekaligus meratakan tepung adonan supaya melebar atau memanjang secara merata, tidak cuma sampai di situ saja, alat ini juga bisa memotong sesuai dengan kebutuhan serta keinginan si pembuat makanan. Misalnya: mie pangsit, kue bawang, dan juga sebagai tepung bagian luar molen, pastel, dan pisang coklat.
Di kesempatan langka juga awal mula pertunjukan bakat ini , jiaili akan memasak mie pangsit kuah lengkap dengan bermacam-macam toping supaya terlihat menarik sebagai makanan berat, air kelapa muda yang ditambah gula aren serta perasan jeruk lemon sebagai minuman yang enak di lidah dan baik untuk kesehatan, dan sebagai cemilannya adalah pisang yang digoreng dengan dibaluti adonan tepung terigu atau sering disebut sebagai molen.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa semua nya telah selesai memasak. Jiaili pun membersihkan segala peralatan lalu menata semua hasil kerja kerasnya di di nampan besar yang terdapat mangkuk-mangkuk dari tanah liat di atasnya agar semua hidangan tertata dengan rapi. Segala sesuatunya harus dibuat sesempurna mungkin karena hidangan ini akan dicicipi langsung oleh kaisar serta Putra dan Putri mahkota dari masing-masing perwakilan dari kekaisaran lainnya.
"Putri jiaili! Ini makanan atau sampah? Kurasa rakyat jelatah saja pun akan merasa jijik memakan sajian ini!" Hina Putri Nimai sengaja mengipas-ngipas seakan-akan ia hendak muntah mencium aroma makanan tersebut.
Mendadak ziyaili menjadi kesal karena kedatangan kedua nenek sihir yang tiba-tiba memberi komentar pedas tanpa diminta. Ingin sekali rasanya iya menyiram wajah mereka dengan kuah pangsit yang sudah ditaruh cabai, namun ia harus tetap menahan kemarahannya bersikap seperti putri yang anggun dan feminim demi membuka ke dok busuk mereka.
Iya mengalihkan perhatian untuk tidak terpancing dengan melambaikan tangan memanggil Putri lovely juga Putri Dishan, dan dengan senang hati mereka segera menghampiri meja Ziaili secara sengaja menabrak bahu Putri Cimai agar menyingkir.
__ADS_1
Hampir saja Putri Cimai terjerembab ke belakang membentur mejanya sendiri, untung saja sang adik sigap menahan pinggang nya, walau pada akhirnya Putri Nimai lah yang merasakan sakit karena terjatuh sehingga lututnya berdarah.
"Oh dewa! Maaf, aku tidak sengaja. Lagi gula untuk apa kalian berada di sini? Apakah kalian terpilih menjadi juri? Kurasa tidak, jadi akan lebih baik jika tak perlu mengurusi orang lain." Ucap Dishan menohok dan langsung membelakangi keduanya yang tampak murka.
"Wah jaili! Masakanmu sangat berbeda dari kami semua. Sepertinya ini begitu lezat."
"Yang ini namanya apa? Bolehkah kami mencobanya?" Mohon Putri Disha kepada Zyaili yang mengangguk dan tersenyum manis segera memberikannya kepada dua orang gadis yang tampak sangat penasaran.
"Mereka berdua membulatkan mata saat mie pangsit itu menyentuh lidah mereka. Sumpah demi apapun baru kali ini lah Putri yang statusnya tinggi itu memakan hidangan yang sungguh lezat, tak dapat dijabarkan melalui kata-kata.
"Ini enak sekali! Apa aku boleh mencicipi minumannya juga?" Pinta Putri lovely penuh harap.
"Tentu saja boleh! Aku membuat ini tidak hanya untuk menjadi pemenang untuk tahun ini, tetapi aku membuat menu seperti ini khusus untuk kalian para sahabatku." Sahut ziaili menuangkan minuman ke cawan mereka.
Tiba-tiba seluruh dapur Istana menjadi riuh karena pengakuan Putri lovely mengenai masakan Ziaili yang luar biasa. Mereka berbondong-bondong ingin mencobanya walau hanya sedikit, tetapi tidak masalah yang penting keingintahuan mereka sudah terjawab.
Lagi Dan lagi Putri Cimai beserta Putri Nimai begitu kesal menyaksikan semua orang memuji masakan Putri zaili. Hal ini tidak boleh dianggap remeh, apapun ceritanya ziyaili tidak boleh menjadi pemenang. Bagaimanapun caranya hanya mereka lah yang berhak meraih gelar istimewa itu.
__ADS_1