
Ellisya sehabis menghajar Pria yang menurutnya sangat mesum, iya pun kembali ke kediaman khusus yang disediakan bagi para tamu Kekaisaran. Dengan terpaksa Gadis itu harus mengganti pakaian serta memperbaiki riasan nya yang sudah amburadul, tak mungkin dengan penampilan seperti itu iya menghadiri acara istimewa tersebut.
Berkali-kali Ellisya mengumpat kasar atas tindakan pria brengsek itu, dia tidak akan tinggal diam saja, iya bertekat kuat akan membalas perbuatannya jauh lebih parah suatu hari nanti.
Seusai membenahi diri Ellisya segera bergegas menuju Aula sebagai tuan putri jiaili yang terkenal karena paras cantiknya. Dan benar saja ketika tubuh semampainya menginjakkan kaki di sana , tatapan mata kagum dari semua orang hanya tertuju kepadanya, membuat dua Iblis betina menatap Ellisya tak suka.
"Silakan Nona! Jangan ragu untuk mencicipi hidangan yang ada." Seorang pelayan meletakkan berbagai makanan lezat di atas meja sambil tersenyum ramah.
"Iya, terima kasih." Sahutnya lembut dan menarik kursi berbahan kayu tapi terlihat begitu mewah untuk ia duduki.
"Jiaili! Aku senang sekali dapat melihatmu lagi, sudah sekian lama kita tak bertemu. Ke mana kau selama ini?" Seru dishan menghambur ke pelukan Ellisya yang juga tak menolak. Iya harus bersikap senatural mungkin agar tidak dicurigai, karena ternyata Putri jiaili sering datang ke tempat itu turut serta dalam pertunjukan bakat para Wanita, dia pikir tak perlu mengubah wajahnya tetapi jika ia melakukannya sudah tentu penyamarannya akan terbongkar.
Alhasil Ellisya dalam sekejap masuk ke ruang rahasia miliknya mengambil topeng kulit menyerupai wajah jiaili. Cukup hanya memikirkan sesuatu yang dibutuhkan, apapun keinginan langsung tersedia di depan mata.
"Ibu Suri menyuruhku mengikuti pelatihan khusus bagi seorang Putri bangsawan, itulah sebabnya belakangan ini aku jarang terlihat." Jelasnya santai. Kedua Putri cantik tersebut terus asik mengobrol dan tiba-tiba,
"Aku sungguh tak menyangka, meski berulang kali kalah dariku, kau masih berani menantang Putri Kekaisaran Lingvai dengan datang ke sini." Ejek Putri Nimai anak dari Selir Xera bersama putri Cimai anak Selir Hiwai yang angkuh.
"Tak selamanya seorang pemenang akan selalu menjadi pemenang, dan bukan berarti kekalahan tak bisa berubah menjadi kemenangan. Menang atau kalah dalam suatu pertandingan biasa terjadi, namun aku yakin pada kesempatan kali ini kamilah yang akan menjadi Wanita yang menerima mahkota dan jabatan sudah pasti terhormat." Ucap dishan tak mau tinggal diam.
__ADS_1
Memang kedua anak Selir itu selalu memenangkan semua jenis bermacam-macam kompetisi yang di perebutkan, namun sesungguhnya terdapat kecurangan besar di sana dan hal itu telah diketahui Ellisya yang hanya tenang tak tertarik meladeni perkataan mereka.
Hahaha. "Perempuan tak berguna seperti kalian tidak pantas,"
"Alangkah lebih baik kalau kita bergabung bersama mereka saja! Tempat ini sangat bau, ayo Dishan! Aku tak mau tertular bau mereka yang membuatku mual ingin memuntahkan makanan yang baru ku makan." Potong Ellisya menunjuk ke arah tempat duduk para Pangeran tampan dan mengajak Disan pergi.
"Kau benar jiaili, hanvu yang kukenakan menjadi bau busuk." Dishan terkekeh kecil dan segera berlalu.
Kedua tuan Putri sombong tersebut sangat jengkel hingga menggertakkan gigi berbunyi nyaring. "Sialan! Awas saja, kau akan mendapat balasan setimpal, tunggu saja!"
Perhatian semua orang segera terfokus setelah mendengar seruan Prajurit yang mengatakan Pangeran Darrian akan memasuki ruangan, tirai pun terbuka menampakan sesosok Pria gagah berjalan penuh wibawa melewati orang-orang yang memandangnya kagum, sesekali ia melambaikan tangan dan tersenyum tipis membuat pipi para putri bangsawan merah merona.
Iya mengacuhkan sang Ayah didampingi Selir Agung Hiwai tepat di hadapannya juga tamu yang bertepuk tangan menyerumkan namanya. Pangeran Darrian yang gelisah sedari tadi netranya mencari-cari Ibunda tercinta yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, ada apa gerangan? Apa Permaisuri tak merindukan dia? Tak ingin kah beliau sekedar memeluk memberi ucapan selamat kepadanya?
Begitu banyak tamu dari berbagai Kekaisaran serta Kerajaan-kerajaan kecil, karena selain acara penyambutan Pangeran yang dalam waktu dekat akan segera dinobatkan sebagai Putra Mahkota, sudah lumrahnya pertunjukan bakat diadakan setiap tahun. Pertandingan kali ini khusus kaum Wanita dan untuk para Pria akan dilaksanakan di Kekaisaran lain.
Pesta besar yang sejak lama dipersiapkan benar-benar memuaskan. Tak terdengar sedikitpun bisik-bisik tak mengenakan terucap dari mulut mereka, hanya pujian serta salut yang keluar melalui bibir para undangan.
Sembari menikmati makanan yang tersaji dan Untuk mengisi suasana agar semakin meriah, jiyaili membawakan sebuah lagu berjudul: Bunda from Melly Goeslaw. Lagu tersebut memiliki makna mendalam mengenai cinta tulus seorang ibu, yang rela melakukan apa saja demi buah hati tercinta.
__ADS_1
Seluruh insan yang berada di aula megah itu menitihkan air mata mendengar suara emas dan baik demi baik lagu yang dinyanyikan oleh Putri jiaili, mereka teringat akan perjuangan sang ibu di dalam hidup mereka. Sayangilah ibumu selagi iya masih bersamamu! Sesayang-sayangnya seorang anak kepada sang Ibu, tetap tak sebanding dengan perilaku baik tak terhingga yang dia perbuat bagi dirimu.
Di saat acara telah usai dan hanya menyisakan keluarga inti, pangeran Darrian menanyakan perihal yang cukup mengganggu pikirannya. "Yang mulia! Bolehkah saya bertanya? Apakah yang mulia Permaisuri baik-baik saja? Ananda tak melihatnya ketika kembali menginjakkan kaki di Istana dua hari lalu. Tanya Darrian menyelidik.
Kaisar Quanvo bingung tak tahu harus menjawab apa, iya tak menduga sebelumnya kalau Pangeran akan mencari Wanita yang telah melahirkannya itu.
"Permaisuri sedang pergi berkunjung ke rumah orang tuanya, belakangan ini fisik beliau sedikit lemah dan dan ia meminta supaya dihantarkan ke sana karena permaisuri sangat merindukan mereka." Jawab Selir Hiwai mewakili Kaisar.
"Segeralah beristirahat! Sangat banyak kegiatan yang menyibukkan kita 3 hari ke depan." Perintah Kaisar tegas ketika pangeran hendak bertanya.
Pangeran pun menurut beranjak dan meninggalkan Aula, kaki jenjangnya menyusuri lorong-lorong Istana yang mulai lengang. "Pangeran Darrian adalah makhluk hidup terbodoh di dunia!" " Sarkas Gadis berkulit hitam buruk rupa muncul secara mendadak menghalang langkahnya.
Iya terkejut bukan main, pasalnya di tangan Ellisya terdapat golok kayu panjang yang iya gunakan untuk mengambil buah jambu di pekarangan istana. Iya sempat mengira bahwa Perempuan pemberani tersebut adalah Hantu Nenek sihir yang suka berkeliaran pada malam hari.
"Siapa kau? Apa tujuanmu menyelinap kemari? Cepat katakan!" Tanyanya dingin dan sudah mencekik leher Ellisya yang tersenyum sinis.
"Hei, Pangeran bodoh! Harusnya aku yang bertanya demikian. Kau belum berjumpa dengan Ibundamu tersayang? Sungguh naif dirimu Pangeran." Ellisya tertawa remeh menatap tak kalah dingin.
"Di mana permaisuri kau sembunyikan?" Ellisya semakin tergelap.
__ADS_1
Hmm, besok lagi ya say. ʘ‿ʘ(ㆁωㆁ)