
"Apa yang sedang terjadi di sini? Tanya seseorang yang mengejutkan semua orang yang sedang menonton pertunjukan langka itu.
Baru kali ini seorang pelayan melukai Tuan Putri sampai tersungkur di lantai.
Semua seketika bungkam menundukan kepalanya. "Salam kepada yang Mulia Selir Agung!
Seru semuanya serempak, kecuali Ellisya yang tetap menegakan kepalanya memandang lurus ke depan.
"Ada yang Mulia Selir Kak!" Bisik Winsya. Namun Ellisya hanya acuh.
"Ibu, huhuhu huhuaaaaaa. lihatlah pelayan rendah ini! Adunya dengan wajah semenyedihkan mungkin, sembari menunjuk Ellisya.
"Apa yang kau lakukan kepada Putriku pelayanv sialan!? Sambil mengankat tangan hendak menampar pipi Ellisya.
Namun sebelum tangan Selir Hiway menyentuh pipinya, Ellisya sudah menepis tangan itu dan mundur beberapa langkah.
"Saya hanya membela diri yang Mulia!" Seraya menahan pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan selir Hiway Kepadanya.
"Kau pelayan yang tidak tahu diri! pihak istana masih mengizinkan adikmu bekerja di tempat ini, meskipun kelakuan keluargamu sangat buruk."
"Keluargaku tidak salah, kami telah difitnah oleh manusia ular seperti kalian. Ucap Ellisya menahan marah.
"Ohh. Selir inilah yang sudah salah, Karena mau berbicara dengan pelayan yang tak punya sopan santun, dan berparas celek sepertimu. Bahkan saat Selir Agung Kekaisaran ini masuk ke kediaman ini, kau sama sekali tidak menundukan kepala atau memberi salam."
Putri Cimei melirik Ellisya sambil tertawa mengejek. "Yang ibu katakan memang benar. Ucapnya semakin memanas-manasi keadaan.
"Coba lihat dia! Pelayan sepertinya bahkan tidak menghormati selir Agung kekaisaran Linvay. Ucap salah seorang pelayan selir Hiway.
"Beginikah cara mendidik kedua orang tuamu? Oh ia aku sampai lupa! Jika ayah dan ibunya bersikap buruk, sudah pasti putrinya juga punya sikap yang sama bukan?"
Ucap selir Hiway mengejek dan semakin menyudutkan Ellisya.
Sedari tadi ia berusaha tetap sabar menghadapi kelakuan Ibu dan anaknya yang sungguh menyebalkan itu. Tapi saat dia mendengar kedua orang tuanya dihina, membuat Ellisya naik pitam.
__ADS_1
Bugh bugh bugh bugb. Serek serek srek. Ellisya menyerang dengan membabi buta.
Kediaman tuan Putri seketika menjadi sangat berantakan karena ulah si singa betina yang mengamuk tersebut.
"Prajurit! Tangkap dan bawa pergi pelayan kurang ajar ini ke hadapan yang mulia kaisar!" Perintah selir Hiway.
Di kediaman kaisar, seorang pria bertubuh kekar mata tajam seperti elang, sedang berbincang-bincang bersama permaisuri.
Para prajurit itu menyeret Ellisya dengan paksa, gadis cantik itu terus meronta namun kekuatannya tidak sebanding dengan ketiga prajurit yang sedang menariknya ke ruangan kaisar.
"Salam hormat kami kepada Yang mulia Kaisar serta Yang mulia Permaisuri!."
Xeru tiga orang Prajurit sambil membawa seorang Pelayan yang tangan nya terikat dan wajah nya ditutup.
"Kalian benar-benar sangat mengganggu ku dan permaisuri!" Kaisar Menatap ketiga prajurit itu dengan gram.
"Ampun yang mulia kaisar beserta permaisuri! Pelayan ini telah membuat kekacauan di kediaman tuan putri yang mulia, dia juga melukai tuan putri yang mulia selir agung, dan beberapa pelayan istana.Ucap salah seorang prajurit mewakili kedua temannya Sambil menunduk.
"Tunjukan wajah nya kepadaku! Kaisar ini menjadi begitu penasaran, apakah dia penyusup? Sehingga berani membuat kekacauan di istanaku ini?" Tanya Kaisar waswas .
Setelah melihat si pemilik wajah tersebut, kedua penguasa itu tampak tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
"Selama ini aku terus berusaha untuk mencarimu nak!" Tangis permaisuri Linsya memeluk Ellisya hangat seakan takut kehilangan.
Ellisya tampak bingung melihat sikap Permaisuri. "Mengapa mereka tidak menghukumku?" Tanya Ellisya dalam hati.
Rahang kaisar mengeras ia meremas kuat kain yang sedang ia pakai mencoba untuk menahan amarah, namun ia berusaha tetap bersikap tenang.
"Sebaiknya kau kembali menjadi pelayan permaisuri menggantikan ibumu! Kata kaisar memberitahu keinginannya.
"Aapa yang sedang yang mulia katakan? Tanya Ellisya tak mengerti.
"Aku sudah menganggap ibumu sebagai adikku sendiri, entah mengapa ibumu pergi meninggalkan istana? Orang-orang ku telah berusaha mencarinya, namun hingga sekarang dia tak pernah kembali untuk menemuiku."
__ADS_1
Kata permaisuri sambil menitipkan air mata.
"Kau mendengarnya sendiri bukan? Kalau permaisuriku sangat menyayangi ibumu walau ia hanya pelayan, wajahmu sama persis seperti ibumu, maka permaisuri Linsya menganggap kau adalah ibumu.Kaisar MenJelaskan panjang lebar berusaha untuk membujuk dan tersenyum semanis mungkin.
Ellisya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mencoba memahami situasi dan perkataan kaisar yang mencurigakan menurut Ellisya. "Baik yang Mulia ucapnya tanpa berpikir terlalu panjang.
Toh juga ini adalah kesempatan emas, untuk melaksanakan tujuannya yakni: membalas dendam juga menegakan keadilan.
Meski jalan yang harus dilalui tidak lah mudah, namun ia memutuskan akan menghadapi setiap tantangan yang mehalau tujuannya.
"Terimakasih Suamiku! Kau mengerti keinginanku walau belum kuberi tahu, yang Mulia Kaisar Quanvo adalah Suami terbaik. Puji Permaisuri Linsya bahagia.
Kaisar Quanvo tersenyum kepada Permaisuri lalu memeluknya.
"Kami akan ke kediaman Gold ! Aku sudah sangat lelah."
"Baiklah! istirahat saja dulu jaga dirimu baik baik. Ucap Kaisar lembut seraya mengecup kening Permaisuri sekilas.
"Terus awasi pelayan itu!" Perintah Kaisar Quanvo kepada dua orang Prajurit sambil ia menyeringai.
Permaisuri sungguh bahagia terlihat dari raut wajahnya yang terus tersenyum, karena Ellisya bersedia menjadi pelayannya.
Sepanjang jalan menuju kediaman permaisuri, semua orang menundukkan kepalanya memberi salam, dari raut muka mereka begitu bahagia.
"Baru kali ini aku melihat yang mulia Permaisuri tersenyum seperti itu." Ucap pelayan kepada teman di sebelahnya.
Aku sudah lama sekali tidak melihat senyum permaisuri! Semoga yang mulia kita terus seperti itu. Aku akan berdoa agar permaisuri senantiasa bahagia. Apakah gerangan sehingga yang mulia permaisuri sangat senang hari ini?
Bisik-bisik para prajurit dan pelayan yang menyaksikan permaisuri kekaisaran Lingvai itu.
Ellisya yang melihat dan mendengar nya benar benar kebingungan serta bertanya-tanya, Tapi iya berusaha tetap bersikap santai.
"aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu." ucap permaisuri setelah Ellisya menghidangkan teh beserta cemilannya di atas meja
__ADS_1
"ada apa yang mulia permaisuri? "