
Dengan terseok-seok Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan melewati jalan sempit, dari penampilannya sungguh terlihat kalau ia telah mendapat penyiksaan keras yang luar biasa.
Wajah pucat berlumuran darah yang sudah kering, tungkai lemah gemetaran, kain tipis hitam ia kenakan menutupi pakaian yang sudah di robek sana-sini karena cambukan bertubi-tubi, dan sekujur tubuh kecil tak berdaya penuh luka dia benar-benar seperti seseorang yang sebentar lagi akan segera menemui ajalnya.
Siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu? Kecuali Ellisya. Sebelum Kaisar kwanfo datang ke penjara bawah tanah Ellisya sudah bertukar kostum menggunakan kekuatannya sehingga penampilan pelayan yang baru saja mendapat hukuman berat itu tampak begitu menyedihkan di mata siapapun yang memandangnya.
,Sesungguhnya dari mana kah asal kekuatan yang kini Ellisya miliki? Jawaban nya sudah pasti diberikan oleh Sang Dewi kehidupan yang Agung.
Flashback on.
Ellisya berguling-guling di atas rumput hijau tepatnya di taman belakang kediaman Gold menahan sakit yang tak terjabarkan dengan kata-kata apapun. isi kepala serta perutnya seperti di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum.
"Ahaka ahkh ahkh, Apa yang sedang terjadi padaku? perut serta kepalaku sakit sekali seperti mau mati rasanya."
di tengah rasa sakit yang melanda, Ellisya terdiam sejenak setelah suara lembut seorang wanita menyapa pendengarannya yang berusaha menahan kesakitan, tampak Sang Dewi kehidupan berdiri di tengah-tengah mekarnya bunga-bunga mawar merah yang indah.
"Anaku, aku hendak menyampaikan sesuatu kepada dirimu."
Ellisya berdecap kesal menatap Dewi kehidupan yang melihat dia tersenyum lembut penuh cinta. Ellisya masih jelas mengingat ketika ia bertransmigrasi ke era ini, iya begitu jengkel dibuat oleh Dewi satu ini, yang datang dan pergi sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan Ellisya.
"Untuk Apa kau datang ke sini?" Tanya Ellisya Ketus.
__ADS_1
"Ah, aku merasa jika kau masih marah kepadaku?"
"Nah, kau sendiri pun sadar akan hal itu. kau tak pantas disebut sebagai Dewi kehidupan yang agung, kau tak punya rasa simpatik, bisa-bisanya di saat seseorang memerlukan pertolongan kau malah menghilang entah kemana." Ucap Ellisya melihat ke arah samping enggan menatap Wanita cantik di hadapannya.
"Oh aku mengerti sekarang. Jadi sebentarnya waktuku bersamamu lah yang sudah membuatmu semara ini? Maafkan lah diriku! Ucap Dewi kehidupan merendah, iya tahu jika saja iya tak segera meminta maaf terlebih dahulu Gadis yang sebenarnya berparas cantik ini akan tak berhenti bersikap menyebalkan.
"Aku mohon." Pinta nya lagi memelas.
Baiklah, aku sudah memaafkan kesalahanmu. Tolong ampuni aku juga Dewi! Karena hal kecil aku sampai tidak menghormatimu, Kau boleh menghukum diriku yang tak tahu di untung ini." Ellisya sesungguhnya amat senang sekali dapat bertemu lagi dengan Dewi agung, karena orang yang beruntung saja yang bisa mendapat kesempatan langka ini.
"Tidak apa-apa sayang, aku sama sekali tak mempermasalahkannya."
"Dewi,; aku hanya memiliki sebuah tujuan di kehidupan keduaku ini. Yaitu: membalas dendam kepada orang-orang jahat yang hidup mewah di lingkup istana megah itu."
Tatapan Ellisya seketika berubah dingin, mengingat setiap perlakuan keji dari Kaisar kepada ibunya serta ayahnya yang memang hanya sebagai pelayan Istana.
"Tidak! bukan hanya itu hal yang harus kau lakukan dan kau perjuangkan. begitu banyak umat manusia yang amat terluka karena tak peroleh keadilan serta kehidupan yang layak sebagai yang mestinya mereka terima."
"Tapi Dewi bagaimana aku bisa melaksanakan misi besar itu? Sementara di kehidupan masa sekarang masih menggunakan ilmu spiritual dan itu sama sekali tidak aku miliki." Ucap Ellisya mengacak-acak rambut nya frustasi.
"Tenang saja Ellisya! Aku akan membekali dirimu dengan ilmu-ilmu yang setara dengan para Dewa serta para Dewi, sehingga kau tak akan terkalahkan."
__ADS_1
Sosok cantik itu meletakkan tangannya di atas kepala Ellisya, tiba-tiba tubuhnya menjadi sangat ringan seperti kapas dan setelahnya dada nya merasakan sakit yang teramat sangat bagaikan dihantam batu besar.
"Aaaaaaaa. Dewi hentikan semua ini! Ini sakit sekali. Tetapi rasa sakit itu kemudian memudar perlahan berganti dengan rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Ellisya..
Dewi kehidupan menghapus butiran keringat di dahi Ellisya, dan berkata: "Namun ingat satu hal, gunakan kekuatanmu untuk tujuan yang baik, dan mulai sekarang kau ku angkat sebagai muridku, Terimalah gelang kaca ini! Jika kau berputar beberapa kali kau akan bisa melakukan apa saja yang kau inginkan di dalamnya juga terdapat ruang ajaib. Dewi kehidupan menyodorkan gelang itu dan berujar tegas berharap penuh kepada Ellisya.
Iya segera meletakkan gelang tersebut di telapak tangan Ellisya yang tidak dapat menolak perintah mutlak dari Sang Dewi kehidupan, karena lagi-lagi di saat Ellisya hendak berkata sesuatu Dewi kehidupan pun sudah menghilang dari pandangan netranya.
Flashback of.
ada banyak tanggapan orang-orang yang berlalu-lalang melihat pelayan menyedihkan baru saja dikeluarkan dari penjara bawah tanah, sedang berjalan menuju ruang kecil khusus bagi para pelayan di Istana.
Ada yang melihat penuh rasa iba, ada pula sebagian merasa senang karena pelayan serta permaisuri dihukum, serta ada juga yang beranggapan kalau Ellisya mendapat anugerah besar dari Sang Kuasa karena telah melakukan kesalahan fatal ditambah lagi menghilangnya Permaisuri, namun ia masih di bebaskan oleh Kaisar dan dibiarkan tetap tinggal di istana.
Setibanya di dalam kamarnya, Ellisya tertawa dalam hati karena sudah berhasil menjalankan peranan yang patut diacungi jempol.
"Hmm. Tak kusangka ternyata penghuni istana ini amat mudah dibodohi, padahal mereka memiliki ilmu yang tinggi."
"Yaahh, hari ini cukup melelahkan, Sebaiknya aku langsung tidur aja deh. besok Pangeran Darrian sudah akan tiba di Istana lalu aku akan menampakan diri sebagai tuan Putri Ziaili anak dari Perdana Menteri Kekaisaran tetangga itu."
Setelah memakai waktu sejenak untuk bersih-bersih, Ellisya segera membaringkan badannya yang penat di tempat tidur kayu kecil memejamkan mata berwarna abu miliknya dan dalam sekejap dia sudah menyelami mimpi-mimpi indahnya pada malam sunyi ini.
__ADS_1