Rahasia Putri Mahkota Buruk Rupa.

Rahasia Putri Mahkota Buruk Rupa.
rasa iba.


__ADS_3

"Jangan suamiku! apa maksudnya ini? Bukan niat ku untuk menentang perintahmu yang mulia, aku hanya aku hanya, menginginkan agar kau tidak mendengarkan hasutan dari para selirmu dan mencoba menyimak penjelasan dari pelayanku Ellisya." tangis permaisuri Linsya berderai air mata.


"Pergi lah! Bawa iya menghilang dari pandanganku segera! Cambuk dia bersamaan dengan pelayan bodohnya itu. Aku tidak mau melihat dia di sini. Cepat!" Ucap pria itu tak peduli.


Akhirnya kedua wanita itu di seret tak terhormat ke penjara bawah tanah, ingin melawan pun tak ada gunanya, mereka berdua mau tak mau akan tetap di cambuk juga.


Ctar ctar ctar, ctar ctar ctar ctar ctaaaaaaarrrrrrrrr.


Ruang gelap serta bunyi yang ditimbulkan dari pertemuan antara cambuk dan kulit amat membuat bergidik ngeri jika mendengarnya.


Tubuh kedua wanita malang itu banyak sekali mengeluarkan darah, permaisuri bahkan sampai bersujud di bawah kaki prajurit itu supaya ia menghentikan cambukan yang terus mengenai permukaan kulitnya secara bertubi-tubi.

__ADS_1


"Tolong hentikan semua ini, aku mohon jangan diteruskan lagi."


Pinta permaisuri Linsya memohonTetapi tiga orang prajurit bertubuh besar yang ditugaskan mencambuk permaisuri itu malah semakin gencar untuk melakukannya.


Padahal orang yang kini sedang mereka cambuk adalah permaisuri dari kekaisaran Lingvai Kekaisaran yang besar dan kaya, Bahkan di tempat itulah mereka mendapat perlindungan. Namun entah apa penyebabnya prajurit pun sama sekali tak ada gentar untuk menyakiti permaisuri, seolah setiap ucapan yang keluar dari mulutnya dianggap sebagai angin lalu saja.


Melihat semua yang telah terjadi Ellisya menatap permaisuri penuh rasa iba. Ia sangat heran dengan orang yang satu ini. Entah hal penting apa yang membuat permaisuri tetap bertahan dan menjalani hidup penuh kepura-puraan? Satu hal yang ya ketahui bahwa permaisuri Linsya adalah sesosok baik hati tak seperti para manusia busuk yang berada di istana kekaisaran Lingvai itu.


Pada awalnya dia memang tak percaya dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh permaisuri, tapi lama-kelamaan ketulusan serta kelembutan akhirnya membuat ia luluh dan menyadari kalau permaisuri bukan seperti dugaannya selama ini.


Meski sekujur tubuhnya terus menerima cambukan yang hentakannya bukan lah main-main tetapi Elisya seolah sudah terbiasa, mata tajamnya terus fokus memantau pergerakan para prajurit yang tampak bahagia memukuli mainan barunya, serta permaisuri yang sudah babak belur tak berdaya.

__ADS_1


Di rasa waktunya sudah tepat, tanpa mereka sadari Ellisya dengan gerakan amat gesit merampas cambuk yang berada di tangan salah satu prajurit itu, lalu dengan membabi buta ia mencambuki menendang saraf sensitif ketiga orang tersebut tanpa ampun. Tatapan bengis terpancar dari sorot mata abu-abu miliknya.


Gadis yang kelihatannya jelek bodoh dan lemah itu, sedang menjelma menjadi dewi pencabut nyawa.


Dalam sekejap ia telah berhasil menumbangkan prajurit-prajurit kuat dan gagah tersebut. Mereka tergeletak di lantai penjara dingin itu dalam keadaan terbujur kaku tak bernyawa lagi.


Ellisya menatap bergantian jejeran ketiga mayat itu dan berdecih. "Cih, mengalahkan seorang gadis saja pun kalian tak mampu. Dasar lemah!" Kemudian Ellisya menjulurkan kakinya melangkah melewati para sampah-sampah itu menuju permaisuri yang sudah tak sadarkan diri.


Si pelayan itu dengan penuh kehati-hatian mengangkat majikannya. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa mulai sekarang iya akan selalu melindungi permaisuri menganggapnya sebagai ibu kandung yang sudah melahirkan dia ke dunia kejam ini.


Ellisya menegakkan tubuh mereka agar sejajar, gadis itu memeluk erat permaisuri berputar dan keduanya pun tiba di suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2