
Percikan cahaya sang mentari masuk melalui sela-sela jendela kayu mengusik tidur gadis cantik yang masih meringkuk di bawah gulungan selimut, iya masih enggan bangkit dari peraduannya.
Namun bunyi patahan ranting pohon langsung membuat wanita itu waspada, iya dengan sigap dan hati-hati melangkahkan kaki tanpa suara mengintip dari lubang kecil seperti mengintai mangsa, setelah mengamati cukup lama tak ada sesuatu yang dia temukan namun Ellisya sangat yakin ada seseorang yang tengah mengawasinya. Apa tujuan orang tersebut? Entahlah, Ellisya mengabaikannya lalu bersiap-siap untuk menghadiri acara penyambutan kepulangan pangeran di aula kerajaan lingvai.
Kali ini Ellisya akan mengenakan pakaian elegan berwarna ungu senada dengan high heels juga rambut hitam legam nya di ikat setengah lalu terdapat batu berlian merah di tengahnya mengkilap dan dikelilingi mutiara kecil berwarna putih di atas kepalanya, semakin mempermanis penampilannya. Wajahnya hanya dipoles sedikit menggunakan make up jika dibeli di masa modern pasti harganya amat mahal, ruang khusus yang disediakan sang Dewi kehidupan sungguh berguna sekali baginya.
Memang tampak sederhana, tetapi dapat menggetarkan hati seorang pria yang sedang duduk di atas pohon apel memandang Ellisya melalui jendela. Iya terlihat bak seorang Dewi, sungguh pria tampan bersikap dingin dan memiliki kekuasaan itu sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada gadis anggun yang bersenandung ria sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin itu.
Hari ini Ellisya sangat bersemangat karena selain menyamar dengan memakai identitas Putri menteri yang bernama jiaili, pertunjukan bakat dari semua wanita akan berlangsung pada saat itu juga. Dengan demikian banyak informasi yang akan dia peroleh nantinya, ditambah lagi kesempatan untuk bersenang-senang menunjukkan bakat seni yang dia miliki sudah lama sekali Ellisya tidak tampil di muka umum seperti yang sering iya lakukan di abad 21.
Langkah kakinya elegan serta tatapan mata tegasnya seakan menarik pria itu untuk mengikutinya. Dirasa pria itu cukup dekat darinya, Ellisya secara sengaja menjatuhkan dirinya, dan sesuai perkiraan nya orang yang sedari tadi ingin iya dapatkan sudah benar-benar masuk ke dalam perangkap.
Pria itu dengan sigap menahan pinggul Ellisya agar tidak membentur pohon besar di belakangnya. "Hm, alangkah mudah untuk memancingmu keluar dari persembunyian! Apa yang kau inginkan? Mengapa kau mengutip aku ?" Tanyanya pelan tapi mengintimidasi.
__ADS_1
Pria itu malah diam saja tak menyahut, iya asik menghirup harum semerbak bunga dari tubuh wanita di dalam dekapannya kini.
"Lepaskan aku! Kau jangan memantik amarahku! Jika tidak, kau akan menerima akibat yang buruk nanti." Seru Ellisya mencoba bersabar.
"Coba saja! Aku ingin melihat apa yang bisa kau lakukan."Sahut pria itu dingin sambil mempererat dekapan lengan kekarnya pada tubuh ramping Ellisya.
Seketika iya menjadi begitu jengkel menatap tak suka. Pasalnya Baru kali ini seorang lelaki dengan berani-beraninya bersikap kurang ajar kepadanya, baik di kehidupan kini atau pun sebelumnya tak seorangpun dengan mudah bisa menyentuh dirinya sembarangan.
"Dilihat dari penampilanmu sepertinya kau adalah seorang bangsawan, Tapi aku perhatikan tingkah lakumu tak mencerminkan sedikit saja sikap bangsawan yang terpandang. Apa di tempatmu menerapkan ini? Apa ibumu tak pernah mengajarimu bertahta kerama dan sopan kepada wanita? Sepertinya iya."
Setelah keduanya sulit bernafas, akhirnya ciuman secara paksa itu terlepas. Ellisya menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi rongga dadanya yang sesak akibat ulah pangeran mesum yang tak merasa bersalah, iya mengangkat tangan kanannya menyentuh bibir bidadari di hadapannya lalu mengusap secara lembut, karena bibir seksi Ellisya sampai bengkak karena perbuatannya.
"Kurang ajar! Kau memang brengsek! Kau sudah mengambil ciuman pertamaku, kau tidak akan ku ampuni." Wajahnya menjadi merah padam iya menyerang pria itu dengan brutal tanpa mempedulikan penampilannya yang sudah acak-acakan. Lelaki bernama Zaihan tersebut hanya menghindar tak berminat balik menyerang, iya sengaja berpindah-pindah tempat seperti main kucing-kucingan.
__ADS_1
Menyadari dirinya cuma dipermainkan Ellisya memutuskan untuk mengakhiri pertarungan tak berguna ini. Iya mengeluarkan pistol dari ruang dimensi kemudian dengan cepat menembak kaki putra mahkota Zaihan yang segera tumbang secara mendadak.
Seraya menahan sakit luar biasa, dia amat terheran-heran melihat benda langka dan aneh yang baru kali ini ia lihat tampak seperti malaikat pencabut nyawa berada di genggaman jari-jari lentik Ellisya.
"Bagaimana? Masih mau mencobanya lagi? Sudah katakan sebelumnya bukan, tetapi kau tidak menghiraukan ucapanku." Ejeknya sambil mengambil ranting di sebelahnya dan dipukulkan ke punggung pria itu.
Benda keras itu terus saja mendarat di tubuh kekarnya. "Kau harus merasakan ini! Seumur hidupku belum pernah ada satu lelaki pun yang menciumku seperti tadi karena, aku ingin menyerahkan ciuman pertamaku hanya kepada seseorang yang kelak akan menjadi suamiku. Apa kau mengerti!" Dia menghentikan hantamannya sesudah Zaihan benar-benar tak berdaya, iya amat puas menyaksikan b*******bajingan itu mendapat luka di sekujur tubuh gagahnya.
"Baiklah setelah kupikir-pikir permainannya cukup sampai di sini saja, rawat baik-baik lukamu untuk kenang-kenangan dariku! Kenang-kenangan yang dihasilkan dari kebodohanmu sendiri." Ucap Ellisya tersenyum sinis lalu beranjak dari tempat ia berdiri dan meninggalkan manusia paling menyebalkan di dunia itu.
Dia memandangi sosok cantik tapi buas itu hingga tak terlihat lagi oleh pepohonan rimbun yang menghiasi halaman istana. Zaihan memegang bibirnya dan bertekad akan menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya.
"Kau harus bertanggung jawab dengan luka ini! Seperti yang kau katakan ini pasti menjadi kenang-kenangan untuk kita berdua. Tak ada yang boleh memilikimu kecuali aku! Hanya aku." Ujarnya dalam hati dan segera memanggil prajurit yang diperintahkannya mengawasi dari kejauhan.
__ADS_1
Dia begitu sumringah mengingat kembali ungkapan gadis pujaannya, yang mengatakan dialah orang pertama yang sudah mengambil ciumannya dan tentu saja tak lama lagi akan menjadi suaminya.