
"jangan memancing amarahku! Sebelum hal buruk terjadi kepadamu, alangkah baiknya kau segera menjawab pertanyaanku. Cepat katakan kepadaku! Di mana keberadaan Permaisuri saat ini? Apakah kau sedang mempermainkan kami? Jika iya jangan harap kau masih bernafas besok pagi." Ancam pangeran Darrian menghempaskan tubuh Gadis di hadapannya lalu menginjak perutnya.
Ellisya tampak begitu tenang sambil terkekeh kecil. "Tanyakan hal itu kepada Ayahmu! Kurasa yang mulia Kaisar sepenuhnya mengetahui di mana keberadaan Permaisuri, dia adalah seorang penguasa besar tak mungkin Kaisar sepertinya kurang memahami seluk beluk dan permasalahan di dalam Istana." Sahut Ellisya malah memejamkan matanya karena rasa kantuk yang teramat sangat.
Pangeran menggelengkan kepala tak habis pikir melihat tingkah laku Gadis satu ini, iya benar-benar unik. Biasanya para Gadis muda seperti dirinya akan berteriak minta tolong karena amat ketakutan saat dihadapkan pada situasi menegangkan seperti itu, namun yang kini tengah ia lihat sungguh berbeda, tak ada rasa gentar maupun khawatir terpancar dalam sorot mata abu miliknya. Di saat keadaan genting iya masih sempat-sempatnya menyelami alam mimpi.
"Berhati-hatilah Pangeran! Jangan salah mengira orang yang dekat dengan kita semuanya baik, mereka jauh lebih berbisa dibanding Ular Kobra dari negeri India." Gumam Ellisya menarik dia untuk berbaring tepat di sampingnya kemudian memeluk Pangeran Darian seperti bantal guling empuk.
Sontak Pangeran terkejut bukan kepalang, sedari dulu tak ada seorang Wanita manapun yang berani menyentuh tubuhnya. Jangankan dekat dengannya, melihat sikap dingin serta tatapan tajam penuh intimidasi sudah membuat mereka berpikir dua kali untuk mendekat. Menyaksikan senyum tipisnya saja adalah suatu keberuntungan, mereka hanya bisa memandang juga mengagumi penerus tahta Kekaisaran Lingvai itu dari jarak yang cukup jauh.
"Gadis jelek bangunlah! Perkataanmu sangat ambigu, apa maksud dari semua ini?" Pria itu berusaha menepuk-nepuk pipi hitam gelapnya dan mengguncang tubuh ellisya yang tertidur pulas, tetapi lagi-lagi tak ada jawaban.
__ADS_1
Bukannya marah Pangeran malah asik memandangi wajah damai Ellisya saat tertidur seperti ini, dalam dekapan hangat yang menenangkan itu, Pangeran memikirkan semua ucapan Ellisya yang ada sangkut pautnya dengan sang Ayah, ia memang harus memfokuskan perhatian nya pada masalah ini.
Dengan susah payah Pangeran Darrian berusaha terlepas lalu memindahkan tubuh Ellisya di kamar pelayan, lagi-lagi ketika ia hendak meninggalkan ellisya jari-jari lentik bertenaga itu kembali menariknya untuk berbaring. Pangeran cukup sadar tidaklah sopan masuk ke dalam kamar seorang Perempuan, tapi mau bagaimana lagi dia sudah terjebak dalam dekapan posesif Wanita itu.
Berulang kali terdengar suara tangis memilukan dari bibir Ellisya, iya terus saja menyebut Ayah dan ibunya yang iya duga telah tiada, Pangeran amat tersentuh menyaksikan kerapuhan gadis ini dalam tidurnya yang gelisah mengkhawatirkan sesuatu.
Keesokan harinya Ellisya membuka kelopak matanya perlahan, ada sesuatu yang Tengah membelit pinggangnya. Setelah sadar sepenuhnya wajah yang pertama kali terlihat oleh netra cantiknya adalah wajah tampan seorang Pria yang tadi malam tak henti-hentinya mengusap lembut rambut nya memberikan rasa nyaman.
"Pangeran, kau sudah begitu keterlaluan! Aku sungguh tidak menyangka anak sebaik Permaisuri Linsya ternyata bersikap tidak bermoral sama sekali." Ucapnya menohok.
"Benarkah? Inilah yang dinamakan lempar batu sembunyi tangan. Coba kau ingat-ingat lagi, benarkah aku yang bersikap tidak sopan dan tidak bermoral?"
__ADS_1
"Sudah pasti kau! Jadi maksudmu aku yang melakukannya? Sampai kapanpun hal itu tak akan pernah terjadi. Walaupun aku terlihat jelek di pandangan semua orang dan hanya sebagai pelayan dari yang mulia Permaisuri, aku masih cukup waras dengan tidak mendekati sesosok Pangeran bodoh sepertimu." namun tuduhan Ellisya sungguh tak sesuai fakta, ditambah lagi iya membawa bawa nama sang Ibu membuat Pangeran naik pitam lalu mencengkram pipi Gadis itu kasar.
"Kau Pelayan tak tahu terima kasih! Bukan hanya berbicara kasar saja, tetapi kau juga telah menuduh diriku si penerus Kekaisaran besar ini. Tadi malam kau yang sudah menarik serta memaksaku untuk tidur di sini! Jangan harap kau dapat terlepas setelah kejadian di mana pangeran calon Putra mahkota telah mendapat tuduhan yang tak sama sekali ia lakukan, secepatnya kau pasti menerima hukuman berat." Ungkap Darrian berapi-api menunjukkan kekuasaannya.
"Iya, lakukan saja! Pelayan sepertiku hanya makhluk yang lemah jadi aku tidak akan menghentikan mu Pangeran. Dapat kujamin Ibumu tidak akan pernah kembali ke istana megah ini, untuk sekarang keadaan Permaisuri baik-baik saja, tetapi untuk kedepannya entah hal buruk apa yang akan menimpa Perempuan malang itu. Apa sebagai Putranya kau tidak menyesal?" Sahut Gadis itu lantang balik mengancam.
"Jangan sakiti ibuku! Baiklah, demi keselamatan Permaisuri aku akan mencabut perkataanku barusan." Merendahkan ego.
"Bukan aku pelakunya Yang Mulia Putra Mahkota. Mengapa seolah-olah kau jadikan aku sebagai penjahatnya? Mereka berkeliaran di sekitarmu, cari temukan dan hukum dia lalu aku berjanji akan menunjukkan tempat keberadaan Permaisuri kepada dirimu. Sahut Ellisya tak memperpanjang masalah dan kembali pada tugasnya berlalu pergi.
Seperti pagi biasanya, Ellisya ikut serta masuk ke dapur memasak bermacam-macam hidangan enak khusus bagi para Istri-istri yang mulia Kaisar. Putri Cimai segera terlihat gugup ketika bersitatap dengan Ellisya yang sedang latihan memasak untuk perlombaan nanti malam, iya mencoba menyediakan sarapan untuk di cicipi bersama-sama.
__ADS_1
"Salam tuan putri! Bolehkah hamba yang rendahan ini meminta sedikit hasil masakan tuan putri yang sudah pasti lezat ini?" Mohon Ellisya lembut namun sorot matanya membuat Cimai merinding tak sanggup sekedar mengangkat wajahnya.