
Sang Surya dengan gagah berani menunjukkan keperkasaannya menembus kegelapan malam memancarkan cahaya, menebarkan senyuman ceria sehingga seluruh makhluk hidup di bumi terbangun dari tidurnya, serta menyampaikan pesan bahwa hari ini akan lebih baik dari sebelumnya.
Keceriaan tersebut juga sampai kepada permaisuri Linsya yang terbaring di atas tempat tidur kecil, iya mengerjapkan mata dan merasakan sekujur tubuhnya amat sakit yang luar biasa, Sang permaisuri Kekaisaran besar itu sayup-sayup mendengar suara lembut dari seseorang. Senandung itu sungguh merdu menenangkan kalbu, iya mendapat kedamaian dari suara yang mengalun indah dan sejenak permaisuri melupakan masalah besar di dalam kehidupannya sekarang ini.
Ellisya penuh penghayatan menyanyikan lagu berjudul: indah pada waktunya, from Gisella Anastasia.
Lagu ini adalah salah satu tembang favorit Elli Permata sari, sebelum kematian menghampiri dia dan jiwanya berpindah memasuki tubuh Ellisya.
Hidup ini adalah misteri yang takkan bisa dimengerti, kadang hujan badai datang menakutkan, namun ada kala pelangi hadir memberi harapan.
Tetesan air bening meluncur dari sudut mata permaisuri membasahi pipinya, teringat dengan peristiwa demi peristiwa menyakitkan terputar-putar di dalam kepalanya.
Hanya dia yang bisa menentukan, jalan hidup kau dan aku! Percaya, dan tetap berjuang.
Ia benar-benar tidak tahan lagi, selama ini permaisuri menyimpan suatu rahasia besar seorang diri..
Belajarlah mengikhlaskan sebuah ujian, yang pernah terjadi di dalam hidupmu! Dan yakinlah ada rencana yang indah, tersembunyi di balik setiap doa dan air mata, semua indah pada waktunya. Semua indah pada waktunya.
Gadis itu menyelesaikan lagu tersebut dengan teknik vokal yang sangat bagus seperti penyanyi-penyanyi internasional.
Tak sengaja Ellisya melirik ke arah pembaringan permaisuri. "Wah ternyata yang mulia sudah bangun!" ucapnya sumringah mendekati Permaisuri Linsya.
"Ada di mana kita saat ini?" Tanya nya menatap ke sekeliling yang terasa asing.
__ADS_1
"Yang Mulia Permaisuri, sekarang kita berada di kediaman nenek Yingsi. Sahut Ellisya sambil membantu Permaisuri Linsya untuk duduk.
Awal nya Ellisya sempat khawatir dengan keadaan fisik serta luka di tubuh Permaisuri, karena sepanjang tiga hari berturut-turut Permaisuri enggan untuk membuka matanya. Ia melakukan jenis pengobatan seperti terapi, akupuntur, serta mengoleskan obat herbal yang dia buat sendiri ke sekujur tubuh Permaisuri.
Ellisya begitu senang pada pagi hari ini karena Permaisurinya itu telah bangun dari tidur panjangnya meski masih dalam keadaan fisik lemah, iya sangat bersyukur kepada yang maha esa untuk itu.
"Apa Kais Kaisar tidak mencari kita?" Ucap permaisuri mengharap si Kaisar bodoh itu akan mencarinya.
"Sudah tiga hari yang mulia Permaisuri , kita tinggal di tempat ini dan selama itu pula Permaisuri tidak sadarkan diri, tetapi sampai saat ini belum ada seorang prajurit pun yang mencari keberadaan kita yang mulia." Jawab Ellisya menatap iba ke wajah permaisuri.
"Benar kah?" Ucapnya sedih.Ternyata yang dikatakan para selir itu memang benar adanya.
Dan sesungguhnya selama permaisuri menjalani hidup bersama Kaisar sebagai suami istri, banyak sekali kejanggalan yang iya temukan, bahkan semua perhatian kemewahan dan cinta yang ditunjukkan oleh kaisar memiliki niat tersembunyi. Namun iya selalu mengabaikan segala keanehan tersebut.
Hix hix hix hix. "Aku lah yang patut disalahkan di sini! Aku memang benar-benar wanita bodoh. Maafkanlah aku! Kakak, aku mohon maafkanlah adikmu ini!" Tangis permaisuri Linsya memenuhi ruang kecil itu.
"Hamba ini adalah pelayanmu yang mulia, permaisuri punya hak penuh untuk meminta apa saja kepada hamba, hamba akan dengan senang hati melakukannya. Ucap gadis itu tulus.
"Pergi lah ke Istana besok!"
"Tapi hal apa yang akan hamba lakukan di sana yang mulia?" Ellisya sedikit bingung akan permintaan nyeleneh dari Permaisuri.
"Menurut perkiraanku pangeran Darrian Putraku sudah tiba di Istana. Tolong selamatkan dia dari para manusia licik itu, bawalah iya ke tempat ini untuk menemui ku! Kau boleh bertindak sesukamu asalkan putraku dapat kembali ke pelukanku."
__ADS_1
Linsya memohon berlinang air mata Bahkan ia sampai berlutut di kaki Ellisya.
"Yang mulia, jangan, hama mohon jangan bersikap seperti ini;"
"Untuk kali ini saja, tolonglah ibu yang tak berdaya ini nak! Aku yakin kau pasti bisa."
"Baiklah Yang Mulia. Hamba berjanji kepadamu, akan berjuang untuk mengeluarkan pangeran Darrian dari istana." Jawab nya semangat, karena sejujurnya dia ingin sekali bermain-main dengan manusia manusia ular berwajah manusia itu.
Dan tak ada alasan baginya menolak permohonan dari seorang ibu, karena kini iya pun Tak memiliki sesosok ibu di sisinya. Ellisya telah menganggap permaisuri sebagai ibunya sendiri.
Mendengar pernyataan gadis itu dengan segera wanita rapuh itu memeluk Ellisya dengan sayang. "Terima kasih, hanya kau lah satu-satunya yang bisa kuandalkan nak! Aku tahu terdapat kekuatan tersembunyi di dalam dirimu kau bukan orang biasa." Sambil menatap bola mata Ellisya dalam meminta pembenaran dari nya secara langsung.
Tak dapat mengelak lagi Ellisya hanya bisa mengangguk dan menunjukkan cengiran khasnya memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Mau kah kau menganggapku sebagai ibumu? Serta biarlah aku menyebutmu sebagai putriku." ucapnya penuh cinta keibuan.
Rasa hangat segera menyeruak ke dalam hati Ellisya, iya mengganggu kan kepala tanda setuju. Namun aku tidak akan bisa menyebutmu dengan panggilan itu, karena ibuku hanya satu dan dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Tiada yang dapat menggantikan posisinya di hatiku." Ucapnya tegas.
Tampak permaisuri tersenyum manis tak mempermasalahkan hal itu sama sekali.
Terkadang ucapan di bibir tak sejalan dengan perasaan di dalam hati, lihatlah! Ia ingin menangis sekarang. Tapi untuk menyembunyikan mendung Yang sebentar lagi akan berubah menjadi tetesan hujan, iya segera mengajak permaisuri keluar dan makan bersama.
sembari menikmati hidangan sederhana, kedua wanita beda usia itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tinggal lah di sini bersama adik serta nenek Yingsi yang mulia permaisuri! Besok pagi-pagi sekali aku akan berangkat ke istana, dan membuat seolah-olah aku ditinggal oleh mu Yang mulia, agar tetap satupun yang akan mencurigai aku nanti nya. Kata Ellisya telah menyusun berbagai rencana.
"Ia nak, berhati-hatilah! doaku akan selalu menyertaimu. Cepat cepat kembali ya! Aku sudah tak sabar ingin menceritakan suatu hal yang sangat penting kepadamu."