
Dengan penuh kehati-hatian para pelayan mengantarkan permaisuri untuk duduk di singgasana di sisi yang mulia Kaisar.
permaisuri sungguh cantik, siapapun yang melihatnya sekejap saja pasti pangling karenanya, memang pakaian yang ia kenakan tidak semewah pakaian paraselir, begitu juga riasan yang natural, dan bermacam-macam perhiasan yang melekat pada tubuhnya tidaklah banyak.
namun penampilan nya itu dapat membuat pria paling berkuasa di kekaisaran ini tak bisa berkutik dengan kecantikannya. kaisar menatap Permaisuri Linsya kagum dan penuh rasa cinta disertai senyuman hangat yang bisa membuat wanita manapun meleleh.
kaisar Quanvo mengulurkan tangannya merangkulnya mesra lalu menyodorkan air minum kepada Permaisuri, karena dilihatnya sang pujaan hati menjadi gugup salah tingkah sendiri, ketika pandangan keduanya bertemu dan ditatap lekat oleh yang mulia Kaisar.
pemandangan romantis ini amat sangat membuat para selir panas dingin.
Wanita sialan! dia tidaklah pantas mendampingi yang mulia Kaisar duduk di singgasana, dan menjadi wanita yang paling berkuasa di negeri yang besar ini.
apa yang istimewa darinya? iya tidak bisa melindungi dirinya sendiri, apalagi untuk menjaga kekaisaran ini?
Bahkan ia tidak berbakat sama sekali, setiap kali ada pertunjukan atau kompetisi, aku selalu mengalahkan dia dalam bidang apapun juga.
aku, hanya diriku lah yang pantas menemani yang mulia Kaisar memimpin seluruh kekaisaran Lingvai.
rasa dongkol serta iri sungguh mendominasi di dalam hati mereka.
Kaisar memiliki tiga selir, yaitu: Selir Hiwai, Selir Xera,serta Selir Cymi dan tentunya mereka bukanlah orang biasa atau dari kalangan biasa, pastinya terdapat nilai lebih sehingga mereka bisa menjadi anggota keluarga kekaisaran Lingvai.
__ADS_1
malam itu seluruh keluarga kekaisaran menikmati makanan yang sungguh lezat dengan tentram., karena begitulah orang-orang yang tinggal di dalam Istana .
setelahnya hanya ada bincang-bincang kecil di antara mereka.
terima kasih untuk kehadiran kalian semua, suara tegas seseorang langsung mengheningkan ruangan yang awalnya sedikit riuh kini menjadi hening bahkan jarum jatuh pun sampai kedengaran.
"aku ingin menyampaikan kegiatan-kegiatan yang akan kita adakan untuk menyambut ke Balinya putraku Pangeran Dariian. iya telah berhasil memenangkan wilayah utara, dan kekaisaran ini akan semakin luas berkat kerja keras dari Pangeran serta para prajurit kita yang luar biasa.
"Akan ada kompetisi memasak, beladiri, begitu juga berbagai pertunjukan seni dan bagi siapa yang menjadi pemenangnya, akan mendapat gelar sebagai Wanita berbakat dan akan menerima mahkota berlian dan menduduki posisi menteri di kekaisaran ini."
Apa yang telah disampaikan Kaisar, seketika membangkitkan semangat bagi setiap wanita, karena mendapat kesempatan untuk menunjukkan kreativitas mereka masing-masing. Termasuk pula para selir, istri petinggi kekaisaran, koki, maupun pelayan yang ada di Istana. Kegiatan seperti ini dikhususkan untuk wanita saja.
Namun Permaisuri Linsya terlihat murung amat tak bersemangat, iya berjalan gontai menuju kediamannya setelah Kaisar membubarkan pertemuan tersebut.
Benci, marah, sedih dan kecewa? itu pasti. tapi apalah daya sudah menjadi takdirnya terlahir sebagai seorang yang lemah dan tak memiliki bakat apapun.
"permaisuri, apa yang mulia baik-baik saja?" tanya Ellisya.
"ya. Tidak usah khawatirkan aku, semuanya baik-baik saja. Tolong minta Aming mengantar teh hijau ke kamarku!"
"tubuhku begitu lelah hari ini, kau segeralah tidur ya."
__ADS_1
"baiklah yang mulia permaisuri." sahut gadis itu segera berlalu hendak menjumpai Aming.
"bagus! karena kerjamu cukup memuaskan kau akan mendapat tambahan koin emas lagi. jangan lupa terus bubuhkan racun ini ke dalam makanan perempuan sialan itu! untuk ke depannya perbanyak saja, karena semakin cepat wanita itu tersingkirkan maka semakin cepat pula aku menjadi penguasa selanjutnya."
Senyum licik tercetak jelas di wajahnya, sedari dulu iya sudah berusaha keras menyingkirkan permaisuri Linsya. namun iya cukup gesit dan juga cerdik, rintangan yang sudah lama menghalangi tujuannya telah dibasmi satu persatu. dan kini tinggal satu langkah lagi, iya segera mencapai segala cita-cita nya.
"baik yang mulia selir agung!"
"namun hamba sangat takut yang mulia. Tampaknya pelayan kesayangan Permaisuri mencurigai hamba."
"benarkah? Kau tak perlu gusar seperti itu dan iya hanya seorang pelayan rendahan, aku akan segera mengurusnya, seperti aku telah menghabisi setiap orang yang berani menghalang keinginanku." seru Selir Hiwai sambil terkekeh kecil.
"yang mulia selir agung, mohon izin mengantarkan teh hijau ke pada permaisuri, beliau memang selalu meminum teh buatan hamba sebelum iya tidur."
"baik pergilah! oh ya, hampir saja, aku menjadi berubah pikiran. Alangkah baiknya jika kau menghabisi dia pada malam hari ini juga permaisuri bodoh itu harus tiada, kau tambahkan serbuk ini ke dalam gelas itu!"
hahaha hahahahahaha. munculnya sang surya akan menghadirkan ceria, tapi esok hari adalah hari yang berbeda. di mana satu-satunya penghalangku selama ini akan meninggalkan dunia ini. iya tertawa puas.
"yang mulia permaisuri, hamba sudah menyiapkan teh untuk anda. Ucap Aming seraya membantu Linsya untuk duduk dan ia segera menyodorkan gelas yang berisi teh hijau bercampur racun yang mematikan.
"wah kau begitu cepat membuatnya, padahal aku baru saja menyuruh Ellisya untuk meminta mu membuatkannya, tapi dalam sekejap kau sudah tiba di sini. kau sangat pengertian sekali, terima kasih ya." jawab permaisuri tulus.
__ADS_1
Prang prang prang prang. Seseorang dengan menggebu-gebu memecahkan gelas tersebut secara brutal sampai tak berbentuk.
"berani-beraninya kau! Untung saja aku segera mengetahui siapa kau sebenarnya, Dan kepada siapa kau mengabdi selama ini."