Rajapati

Rajapati
Dimana Semua Dimulai


__ADS_3

Syamsu menerangi kamar Jean dengan terangnya, membuat Jean terbangun mendahului alarmnya. Ia melirik jam dinding yang tergantung, rupanya pukul tujuh pagi. Remaja itu segera beranjak dari tempat tidurnya, membasuh wajahnya dengan air dingin, merapihkan rambutnya yang acak-acakan, lalu menghampiri kucingnya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi.


"Alice, apakah tidurmu lelap?" Tanyanya sembari membelai kucing abu-abu dengan corak gelap itu. Kucing itu hanya mengeong, mengukir senyuman di wajah majikannya. Jean segera memasak sesuatu sebelum waktu berlalu terlalu cepat sehingga Ia terlambat ke sekolah.


Tangannya dengan lihai memecahkan cangkang telur lalu mengorak-ariknya diatas api kecil. Ia kembali melihat isi kulkas, lalu mengambil daging sapi beku dan daun bawang. Sembari menunggu daging sapi melunak dari sebelumnya, Ia meniriskan telur, mengambil potongan roti, lalu menyusun lapisan untuk roti isi yang akan dilahapnya. Ia kembali menuangkan minyak ke wajan, lalu mulai menggoreng potongan daging tadi. Hingga wanginya mulai tercium, Jean menyajikannya diatas telur lalu menutupnya dengan roti.


Kemudian, Jean menyiapkan makanan untuk Alice. Setelah itulah Jean bisa menyantap makanannya. Remaja tujuh belas tahun itu tinggal bersama kucingnya dalam apartemen yang hening dan sepi. Biaya hidup Jean sepenuhnya ditanggung oleh bibinya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, hingga Ia memberikan sebuah apartemen untuk Jean. Mungkin tanpa bibinya, Jean sudah menyerah dalam hidupnya sepuluh tahun lalu. Ah, mengingatnya selalu membuat Jean terbalut dalam kesedihan dan kelamnya masa lalu. Dering telepon membuyarkan lamunan Jean, tak lama Ia menjawab panggilan itu.


"Ah, sudah bangun ya. Pagi Jean, udah siap-siap sekolah?" Rupanya panggilan itu berasal dari bibinya.


"Belum, kenapa bi?" Jawab Jean lalu melahap roti isinya.


"Nanti sore bibi rencananya mau nganterin stok makanan, kamu jangan pulang telat ya," Ucap wanita itu.


"Oke bi, makasih udah mau bantu Jean," Tutur Jean.


"Iya sama-sama. Semoga sekolahmu hari ini lancar."


Jean mengakhiri panggilan itu, lalu segera menghabiskan sarapannya. Ia segera mandi lalu bersiap untuk pergi sekolah. Setengah delapan, Jean sudah siap dan sedang mengikat tali sepatunya.


"Alice jaga rumah ya. Jeje pergi dulu," Monolog Jean lalu mengunci pintu rumahnya dan segera mengayuh sepedanya ke sekolah yang letakknya tidak jauh dari apartemennya. Hari ini cukup dingin, Jean menyesal tidak mengenakan jaket hitamnya yang sempat ingin dia kenakan. Tak lama, akhirnya Jean sampai lalu memarkirkan sepedanya dan melangkah menuju kelasnya.


"Pagi Je! Lesu banget lo," Sapa Samuel yang berjalan dibelakangnya lalu menepuk pundak temannya itu. Jean yang mendengarnya hanya terkekeh sembari tetap melangkah menuju kelas mereka.


"Dingin, Sam. Lo ga ngerasa dingin?" Tanya Jean lalu mencengkram leher belakang Samuel dengan tangannya yang sedingin es akibat terhembus angin saat bersepeda.


"Buset! Lo hipotermia apa gimana? Tapi aing mah kebal bos," Jawab Samuel dibalas dengan tawa Jean ketika mendengar jawabannya.


"Jean! Sam! Tungguin gue!" Teriak seseorang dibelakang Jean dan Samuel, membuat mereka menghentikan langkah sejenak. Rupanya laki-laki seangkatan mereka dengan gaya rambut uppercut dan tinggi badan melebihi mereka sedang terengah-engah menyusul mereka.


"Pagi kapten! Buruan dah yok ke kelas," Ajak Samuel. Akhirnya mereka bertiga melanjutkan langkah menuju kelas.


"Hari ini ngga ada tugas kan?" Tanya lelaki dengan napas yang masih terengah-engah itu.

__ADS_1


"Lah, tugas Bu Anya dikumpul hari ini kan?" Tanya balik Jean memastikan.


"Gawat, gue belum ngerjain! Je, bantu gue please, ya?" Ujar Erwin dibalas anggukan Jean.


"Tumben banget lo lupa Win, ada apa?" Tanya Samuel.


"Urusan basket, dua minggu lagi kejuaraan. Astaga, gue juga belum selesai ngurusin dokumennya.." Keluh Erwin lalu mengusap wajahnya kasar.


"Ketua ekskul emang beda yah," Ucap Samuel. Jean terkikik kecil sementara Erwin hanya tersenyum.


Mereka mengikuti pembelajaran seperti biasa. Bu Anya yang sedang mengajar sama saja sedang me-nina bobok-kan Jean sekarang. Materi ini memang sudah dikuasai Jean sejak SMP saat Ia mengikuti olimpiade matematika dua setengah tahun yang lalu. Jean melirik Theo yang tengah asyik bertanya banyak hal kepada Bu Anya.


Theodorus Lucien, anak kesayangan guru-guru atau bisa dibilang seorang teacher's pet. Nilainya kerap bersaing ketat dengan Jean, hanya saja Jean tidak suka mencari perhatian guru dengan cara seperti itu.


Ah, kini seseorang kini ikut serta dengan persaingan ini. Misaki Ito, seorang gadis dengan rambut berwarna karamel sebahu, juga kulit putih susu, manik mata cokelat tua, dan bibir merah muda merekah. Inteligensi yang kuat membuat namanya meroket dalam ranking kelas. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Jean muak. Ingin rasanya Jean keluar dari daftar tiga besar itu.


Akhirnya bel berbunyi, kantuk Jean menghilang seketika. Setelah Bu Anya meninggalkan kelas, Jean segera melangkahkan dirinya keluar kelas. Namun netranya menangkap gerombolan orang yang tengah mengerubungi sesuatu. Jean mendekati mereka, ternyata itu Victor yang tengah menunjukkan selembaran poster.


"Gue ikut Vic!"


"Gue juga!"


"Ajak aku dong.."


"Vic, gue mau ikut!"


"Oke, udah sebelas orang yang ikut. Satu lagi.. Je! Lo mau ikut ga?" Tawar Victor. Jean membaca poster itu dengan seksama.


"Survival game ya? Gue pikir-pikir dulu deh," Balas Jean menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia meninggalkan Victor begitu saja, kakinya melenggang menuju kantin, disusul oleh Erwin, Samuel, dan Idris. Mereka memesan makanan lalu menempati meja makan yang tersedia di kantin.


"Lo pada ikut ga?" Tanya Jean yang tengah bimbang.


"Gue sih ikut, jugaan udah ujian tengah semester kan. Pasti gaada kegiatan dari sekolah," Jawab Samuel lalu menyesap es tehnya.

__ADS_1


"Lo yakin ngga ikut Je? Kayaknya seru sih, gue gas aja. Jugaan setelah kejuaraan, kebetulan gue bisa," Jawab Erwin.


"Gue belum tanya bibi sih. Dris, lo gimana?" Tanya Jean sembari menatap intens lelaki berdarah Rusia itu.


"Ikut. Pasti papa ngebolehin," Jawab Idris singkat, sesuai kebiasaannya.


"Tapi, gue sedikit ngga suka sih sama Victor. Harus banget dipamerin gitu posternya," Celetuk Erwin dibalas dengan anggukan ketiga temannya.


Jean mengunyah potongan dimsumnya sembari berpikir akan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bibi Saddie sangat protektif terhadap Jean. Itu kenapa Jean harus berpikir beberapa kali akan hal-hal yang melibatkan izin dari bibinya. Akhirnya Jean membulatkan tekadnya untuk bertanya sore nanti, yaitu saat Bibi Saddie mengantarkan bahan makanan.


Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya bel pulang telah berbunyi. Murid-murid mengemas barang mereka dengan cepat, lalu meninggalkan ruangan kelas dengan buru-buru. Berbeda dengan Jean yang gemar termenung mengamati pergerakan awan dari jendela yang terletak di sebelah kiri bangkunya. Ketika kelas sepi, barulah Jean mengemasi barang-barangnya.


Ia mengayuh sepedanya dengan santai, sembari sesekali menikmati jingganya langit sore yang terhampar di atas kepalanya. Jean menarik tuas rem di depan sebuah minimarket. Ia mendorong pintu masuk lalu mulai menyelusuri rak-rak di pojok ruangan. Lelaki itu mengambil beberapa alat kebersihan lalu membayarnya di kasir. Setelah itu dia kembali melanjutkan perjalanan ke apartemennya. Tak disangka, sudah ada Bibi Saddie yang menunggu kehadirannya di depan pintu. Jean memarkirkan sepedanya, lalu tercengir di hadapan bibinya.


"Maaf bi, aku tadi habis beli pembersih lantai sama detergen," Ucap Jean sembari menunjukkan sebuah kantong belanjaan dan tercengir. Bibi Saddie tersenyum ramah lalu mengacak-acak rambut Jean. Tangannya menyerahkan sebuah kardus berisi bahan makanan dan sekantong camilan.


"Camilannya bonus! Uang kamu masih?" Tanya Bibi Saddie. Jean mengangguk yakin.


"Oke, bibi balik dulu yah—"


"Tunggu bi!" Teriak Jean, wanita itu membatalkan langkahnya.


"Aku ada acara bareng temenku lagi tiga minggu, aku boleh ikut ngga?" Tanya Jean. Jantungnya berdetak dengan keras, hingga ia bisa mendengarkannya sendiri.


"Bibi kayaknya terlalu mengekang kamu ya? Sekarang kamu udah SMA, tentu aja bibi ga bisa larang kamu selamanya. Iya, boleh."


"Lah?" Batin Jean.


"Makasi bi! Hati-hati dijalan," Sahut Jean sembari melambaikan tangannya ke arah mobil berwarna putih didepannya. Perlahan mobil itu menghilang dari pandangannya. Jean membuka kunci apartemennya lalu meletakkan kardus itu di dekat kulkas, memindahkannya ke dalam kulkas, lalu menatanya. Setelah selesai, tak lupa ia menyapa Alice yang menyambutnya sedari tadi.


"Sore Alice! Kesepian ya gaada aku?" Monolog Jean sambil mengelus kucing abu-abu itu. Seketika Jean teringat sesuatu. Remaja laki-laki itu segera mengambil telepon genggamnya lalu menelpon seseorang.


"Vic, gue ikut."

__ADS_1


__ADS_2