Rajapati

Rajapati
Memulai Kembali


__ADS_3

Sang Surya kembali menyapa mereka dari ufuk timur. Membangunkan mereka lewat cahaya yang menembus tirai, tidaklah banyak dan lembut. Jean terbangun dari tidurnya lalu menggosok matanya perlahan. Lelaki itu meregangkan badannya lalu beranjak dari tempat tidur. Ia memandang sekitarnya, rupanya Idris masih tertidur.


"Idris, udah pagi," Tutur Jean lembut, perlahan Idris terbangun dan membuka matanya.


"Selamat pagi..." Ucap Idris lalu menguap sembari meregangkan tangannya. Fokusnya belum sepenuhnya terkumpul. Jean tersenyum mendengar responnya.


"Pagi, tidur lo nyenyak?" Tanya Jean memastikan. Idris terdiam sejenak, berusaha mengingat mimpinya beberapa saat lalu.


"Ngga terlalu, lo?" Tanya balik Idris.


"Biasa aja sih," Jawab Jean. Idris mengangguk lalu beranjak dari tempat tidur. Barulah ia menyadari ada sesuatu yang hilang.


"Oh iya, Erwin mana?" Tanya Idris.


"Erwin? Kayaknya udah bangun, pas gue bangun udah gaada," Jawab Jean yang tengah membasuh wajahnya. Idris semakin bertanya-tanya. Samseng itu membuka tirai kamar dan memandang panorama yang disuguhkan di balik kaca ini. Netranya menangkap sosok pria jangkung yang tengah berlari mengelilingi hotel ini.


"Siapa?" Tanya Jean sembari menyeka air dingin yang masih bercucuran dengan handuk kecil.


"Erwin, lagi lari," Jawab Idris yang netranya masih mengamati Erwin dari jendela kamarnya.


"Wajar sih, atlet. Lo ga ikut? Lo kan atlet juga," Tanya Jean lagi. Idris menyengguk.


"Yaudah, gue mau bangunin yang lain dulu. Kalo udah selesai siap-siap, jangan lupa kunci pintunya," Ujar Jean lalu meninggalkan Idris di kamarnya. Idris segera mengganti pakaiannya, lalu ia menyambar sebuah handuk kecil, dan segera menghampiri Erwin.


"Pagi, kapten basket!" Sahut Idris menghampiri Erwin yang tak jauh darinya.


"Pagi juga, petarung internasional!" Balas Erwin, lalu mereka tertawa kecil mendengar sapaan keduanya.


"Lo mau jogging juga?" Tanya Erwin dengan pandangan yang terfokus pada Idris.


"Jogging? Lari secepet itu lo bilang jogging? Ngeri juga ya latihannya anak basket, gajadi ikut dah gue," Jawab Idris menyayung Erwin. Lelaki jangkung itu terkekeh kecil.


"Yaudah ayo balapan!" Ajak Erwin. Idris mengangguk semangat.


"Lima putaran ya? Tiga, Dua,


Satu!"


●●●

__ADS_1


"Selamat pagi kalian, sarapan dulu gih."


Lily yang tengah memasak menyapa mereka ramah di dapur. Dua lelaki itu terhuyung-huyung hendak mengambil sebotol air mineral. Semua murid yang tengah menyantap sarapan menatap mereka bingung.


"Kalian gaapa?" Tanya Bianca khawatir. Erwin mengacungkan jempolnya sembari tersenyum lebar.


"Gila ya lo, cepet banget joggingnya," Sarkas Idris menekankan intonasinya di kata "jogging". Erwin kembali menunjukkan senyumnya di depan Idris.


"Karena gue menang, lo harus ambilin gue kopi di minimarket," Perintah Erwin enteng. Mata Idris membelalak.


"Kita lagi di permainan hidup-mati gini, lo bisa-bisanya jadi jin, minta ini itu. Yaudah iya, untung deket," Keluh Idris lalu segera berlari ke konbini yang tak jauh dari hotel.


Erwin meneguk sebotol air mineral itu hingga tak tersisa setetes-pun lalu mengusap keringatnya. Manik matanya tertuju pada Lily yang tengah memasak omelet dengan potongan daging sebagai pendamping.


"Nih Er, sarapan. Anteng banget lo mandangin gue," Celetuk Lily yang tiba-tiba ada di depan Erwin. Lelaki itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menerima sepiring omelet.


"Eh–Makasi Ly," Balas Erwin yang masih kaget. Erwin duduk di meja makan dan segera menyantap sarapannya.


"Nih, Er!" Sahut Idris terengah-engah sembari memegang sebotol kopi dingin.


"Makasi Dris! Maaf ngerepotin, soalnya kemarin gue ngga bisa tidur," Balas Erwin tercengir kuda. Idris kembali meneguk air mineral untuk menghilangkan rasa hausnya dan menenangkan napasnya.


"Thanks Ly," Balas Idris. Lily mengangguk sembari tersenyum. Mereka duduk di meja makan dan segera melahap masakan Lily.


●●●


"Oke, ngga ada yang ketinggalan 'kan?" Tanya Victor lagi memastikan. Mereka menggeleng dengan kompak.


"Inget jangan sampai pisah sama kelompok masing-masing. Tujuan kita nomaden bukan untuk membahayakan nyawa kita, tapi mencari petunjuk tentang game ini, oke?" Ucap Jean dibalas dengan anggukan yakin dari semua orang. Dengan begitu, mereka memulai kembali pertarungan nyawa mereka.


Ketika Erwin hendak melangkahkan kakinya, ia melirik sekilas ke jendela di kamar yang ia tempati sebelumnya. Samar-samar, seorang perempuan berbaju putih dan bermata merah tengah menatap kearahnya tajam. Iya, perempuan yang kemarin. Seketika Erwin merinding, namun tatapan itu kian meringan. Remaja itu kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika ia mengerjap-ngerjapkan matanya, perempuan itu tak lagi berdiri disana.


"Saya berangkat."


Victor, Jean, Erwin, Bianca, dan Emma bergerak ke arah selatan. Mereka menjelajah ke wilayah selatan hutan. Dalam peta, terdapat sebuah wilayah yang terarsir hitam dan hanya bertuliskan tanda tanya. Itu sebabnya mereka ingin menjelajahi wilayah misterius itu.


Sebelum mereka pergi lebih jauh, mereka singgah sebentar di minimarket untuk sekedar mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk bertahan hidup.


"Je! Vic! Ada senjata!" Lapor Emma ketika melihat dua buah baseball bat dan sebuah karambit.

__ADS_1


"Cuma ada tiga. Kalian jangan sampai salah pilih senjata ya," Himbau Erwin kepada dua teman lelakinya. Mereka mengangguk yakin. Alhasil Victor dan Jean memilih baseball bat dan Erwin menggunakan karambit. Setelah mengambil keperluan mereka, lima orang remaja itu kembali melanjutkan perjalanan mereka ke selatan.


Seiring dengan berjalannya waktu, kini mereka tengah beristirahat di bawah pohon yang rindang sembari menyantap makan siang ketika hari sudah sore. Langit nampak bersemburat jingga, menandakan makan siang mereka bisa juga dibilang makan sore.


"Vic, masih jauh?" Tanya Jean kepada Victor yang tengah melahap roti sambil menatap peta virtualnya. Victor menggeleng.


"Yaudah santai nih gue," Lanjut Jean lalu membuka bungkus onigiri dan mengonsumsinya.


Gemawan bergerak paralel, Erwin merebahkan dirinya di atas tanah, memandangi langit seraya berpikir tentang perempuan itu. Gadis berambut panjang dengan warna hitam pekat yang menatap Erwin sebelum pergi. Gadis dengan permintaan yang Erwin sendiri tidak tahu dimana bisa menemukannya. Perempuan itu sungguh mengusik pikiran Erwin.


"Er, lo gaapa? Lo ga makan siang?" Tanya Emma mengkhawatirkan Erwin. Lamunannya seketika buyar. Erwin menatap Emma dan mengangguk. Remaja lelaki itu segera menyantap makan siangnya.


"Tolong aku..."


Mereka yang tadinya mengobrol serentak tidak berbicara. Seakan ada anak kecil yang berbisik kepada mereka sambil terisak.


"Lo semua denger?" Tanya Bianca dengan volume lemah. Mereka mengangguk kompak. Sudah mereka duga, suara ini tidak hanya menghampiri satu orang saja.


"SESEORANG TOLONG AKU!"


Suara itu kembali terdengar. Isakan dan teriakannya terdengar seperti anak perempuan. Suara itu terus terulang, semakin keras, semakin keras, dan semakin keras.


"Menurut kalian, suara ini dari arah mana?" Tanya Emma dengan volume yang mirip dengan Bianca saat ia bertanya tadi. Empat orang kawannya dengan kompak menunjuk arah selatan.


"Berarti ke arah lokasi misterius yang kita incar dong?" Tanya Emma lagi, mereka mengangguk.


"Tolongin ngga nih?"


"Iyalah, masa mau sampe subuh kita diteror gini?"


"SIAPAPUN, SIAPAPUN, KUMOHON TOLONG AKU!"


Sial, isakannya semakin keras.


"Yaudah, kalian jalan di belakang gue. Kita maju pelan-pelan," Ucap Victor memberitahukan rencananya. Mereka setuju dan segera melaksanakannya.


●●●


"Tolong aku, aku tidak menginginkan ini..."

__ADS_1


__ADS_2