Rajapati

Rajapati
Peristirahatan Terakhir untuk Emma


__ADS_3

Tim dua baru saja kehilangan seorang anggotanya, Emma Winslow. Kesedihan meliputi diri mereka, terutama Bianca. Emma sudah menjadi sahabatnya sejak ia masih kecil hingga saat ini. Bianca masih menangis sambil memandangi mayat Emma.


“Erwin, pendarahannya udah berhenti?” Tanya Jean mencemaskan keadaan Erwin. Kapten basket itu mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.


“Lo memang kuat banget ya, Er. Cocok sih lo jadi ketua ekskul basket,” Puji Victor kepada Erwin. Lelaki itu kembali tersenyum.


“Gue sih gaapa, yang harus kita beresin itu dia,” Balas Erwin sembari menatap Bianca yang masih menangisi kematian Emma. Kedua kawannya itu mengangguk setuju. Setelah berbincang kecil, mereka menghampiri Bianca.


Erwin mencoba menenangkan Bianca, namun air matanya malah mengalir lebih deras.


“Emma udah kayak sahabat gue dari embrio. Kemana-mana kita pasti berdua, dari taman kanak-kanak sampai saat ini. Tiba-tiba Emma udah ngga ada lagi...”


Jean dengan cekatan mengambil tissue dari tasnya dan memberikannya kepada Bianca. Gadis itu mengambil beberapa lembar tissue itu dan menyerbeti air matanya. Seketika, ia teringat sesuatu.


“Je, Vic, Er, gue tau ini agak aneh. Dulu, Emma pernah cerita ke gue kalo dia suka banget liat pemandangan di puncak gunung. Bahkan dia rencananya mau naik gunung bareng gue, tapi waktu itu ngga jadi. Boleh ngga kita buat peristirahatan terakhir Emma di gunung?” Pinta Bianca sembari tersenyum kecil mengingat memorinya bersama Emma. Ketiga lelaki itu menatap satu sama lain dan mengangguk setuju.


“Siapin perlengkapan kalian, ayo berangkat demi Emma!” Sahut Victor dibalas dengan sahutan teman-temannya.


Erwin hendak menyiapkan barang-barangnya, seketika pandangannya tertuju pada liontin dan Boneka Matryoshka milik Sashenka dan ibundanya. Erwin memungut barang-barang yang tergeletak di tanah itu. Dipandanginya Boneka Matryoshka berpakaian merah itu. Matanya berbinar sangat cantik, begitupula senyum yang terukir di boneka itu sangatlah anggun. Pantas saja Sashenka sangat menyayangi boneka ini. Lalu perhatian Erwin teralih pada liontin itu. Erwin berusaha membuka bagian tengah liontin itu. Akhirnya bagian itu terbuka, terdapat sebuah foto.


“Er, buruan!” Teriak Jean. Erwin segera menutup liontin itu, menyimpannya, dan menyusul Jean, Victor, dan Bianca.


●●●


“Capeknya..”


Jean duduk di bawah pohon yang rindang. Syamsu tengah berada di atas kepala mereka. Langit nampak berwarna biru cerah dengan awan-awan yang menghiasinya. Hari yang cukup indah untuk beristirahat di kaki gunung.


Jarak dari peternakan ke gunung cukup jauh. Mereka menempuh perjalanan selama lima jam dengan berjalan kaki. Kini mereka menikmati makan siang di kaki gunung. Berbagai macam pohon tumbuh lebat di gunung ini. Bakhkan tidak banyak cahaya mentari yang berhasil menerangi gunung ini. Hanyalah sinar berwarna yang terbiaskan daun.


“Vic, ini gunung aktif?” Tanya Jean tiba-tiba.


“Engga, tadi gue cek sih ngga,” Jawab Victor lalu menyeruput kuah mie instannya. Jean mengangguk lalu menyantap makan siangnya.


“Oh iya Er, luka lo cukup dalem. Kayaknya harus dijarit, tapi gue ngga bisa jarit luka,” Ucap Bianca.


“Hm, Lily bisa ngga sih? Dia ‘kan asisten ayahnya, si dokter yang sukses itu,” Tutur Victor. Erwin menatap Victor sesaat, lalu berusaha menghubungi Lily lewat ponselnya. Syukurlah Lily membalas pesannya dengan cepat.


“Bisa,” Ujar Erwin sembari mengunci layar ponselnya sehabis menghubungi Lily.


“Intinya, inget jarit luka lo. Kalo infeksi bisa gawat,” Ucap Bianca mengingatkan. Erwin mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.


Setelah menghabiskan makan siang mereka dan beristirahat, Tim dua memulai kembali ekspedisinya menemukan tempat untuk peristirahatan Emma yang terakhir.


Mereka menghabiskan tiga jam mereka untuk mengeksplor gunung ini. Akhirnya, seseorang menemukan tempat untuk Emma.


“Vic! Bi! Er! Sini deh,” Panggil Jean. Tak lama seluruh kawannya menghampirinya dan ternganga atas apa yang telah ditemukan Jean. Sepetak tanah lapang sekaligus pemandangan indah yang disuguhkannya. Dari sini, mereka bahkan bisa melihat hampir seluruh pulau ini. Kota tua yang penuh lumut dan usang, pepohonan di hutan, hingga bianglala yang terdapat di Sirkus. Sungguh indah dan menyejukkan, Emma pasti sangat menyukai pemandangan ini.


“Disini?” Lanjutnya. Kawan-kawannya mengangguk semangat lalu mereka mulai menggali.


“Gue agak iri sama Emma, bagus banget pemandangan disini,” Tutur Victor sembari menggali.


“Tapi lo gamau mati ‘kan?” Balas Jean menanggapi Victor dengan maksud bercanda. Erwin yang mendengarnya tertawa kecil.


“NGGA GITU JE, ASTAGA,” Bentak Victor lalu menjewer telinga Jean.

__ADS_1


“AMPUN BERCANDA,” Balas Jean lagi. Bianca yang menonton perkelahian mereka juga ikut tertawa. Keceriaan tengah menyelimuti mereka bersama dengan hangatnya mentari senja. Mereka memenuhi keinginan terakhir Emma dengan rasa tulus.


Matahari hampir tenggelam, akhirnya mereka sudah menempatkan Emma di peristirahatan terakhirnya. Bianca meletakkan foto mereka saat mereka masih kecil, sekitar saat berumur empat tahun di samping pusara milik Emma. Mereka hendak mendoakan Emma, tetapi Bianca menghentikan mereka.


“Tunggu dulu, gue mau cari bunga. Sebagai hadiah terakhir gue untuk Emma,” Pinta Bianca. Teman-temannya menyetujuinya dan membiarkan Bianca berkelana mencari bunga untuk Emma.


“Em, maaf gue ngga bisa nyelamatin lo yah,” Monolog Emma yang sedang memetik beberapa bunga yang tumbuh disana.


“Maafin gue Em, gue bener-bener minta maaf, maaf gue ngga bisa jadi sahabat yang baik buat lo,” Lanjutnya sambil terisak. Bianca menyeka air matanya sambil tetap memetik bunga-bunga kecil.


SHINK!


Bianca yang tadinya terisak mengheningkan dirinya sejenak. Ia mendengar bunyi yang aneh.


“Mungkin hanya perasaanku saja,” Ucapnya lalu kembali melanjutkan kegiatan memetiknya.


SHINK! SHINK! SHINK!


Suara itu terulang berkali-kali. Bulu kuduk Bianca mulai berdiri, jantung Bianca mulai berdetak tidak sesuai temponya. Ia benar-benar ketakutan setelah insiden yang menimpa Emma.


“Jean? Victor? Erwin?”


“KYAAAAA!!”


Teriakan itu membangunkan tiga remaja yang tak sengaja terlelap karena kelelahan. Mereka terbangun disertai kepanikan.


“Kalian denger?” Tanya Erwin memastikan. Kedua kawannya mengangguk. Sudah diduganya, pasti tidak hanya dia yang mendengar jeritan itu. Erwin menatap sekitarnya, ia baru menyadari sesuatu yang hilang.


“Bianca! Dia belum balik!” Ucap Erwin panik saat ia menyadari kejanggalan itu.


“Kenapa ngga berpencar?”


“Biar ngga ada lagi yang jadi korban,” Jawab Jean lalu mulai berlari mencari Bianca. Victor dan Erwin mengangguk paham lalu mengikuti Jean.


“BIANCAA!”


Mereka berkali-kali meneriakkan nama gadis itu. Erwin tidak menduga kejadian ini terjadi lagi. Insiden kematian milik Adara seakan terputar di kepala Erwin. Sungguh mirip dengan yang terjadi saat ini. Erwin mengamati seluruh pohon disekitarnya, jaga-jaga jikalau ada yang tergantung lagi.


“KYAAAAA!”


Teriakan itu kembali terdengar. Telinga Jean yang tajam segera menghampiri sumber suara itu sembari tetap meneriakkan nama Bianca.


“BIANCA!!!”


“JEAN? TOLONG GUE JE!!”


Suara itu semakin dekat, akhirnya lokasi mereka tidak jauh dari Bianca. Betapa terkejutnya mereka saat tiga laki-laki itu menemukan Bianca tengah didekap oleh seseorang yang tinggi jangkung, bahkan jauh lebih tinggi dari Erwin. Wajahnya datar. Bukan ekspresinya, benar-benar wajahnya.


SHINK!


Seketika lelaki jangkung itu menghilang, seperti terbawa angin. Ternyata dia berdiri dibelakang tiga remaja itu. Sungguh perpindahan yang sangat cepat. Mereka lagi-lagi tidak bisa melihat pergerakannya karena terlalu cepat. Jean menatap Bianca yang pandangannya penuh akan rasa takut.


SHINK!


Bunyi itu terdengar lagi. Orang itu juga menghilang bersamaan dengan bunyi itu. Oh, begitu rupanya. Jean mulai menyadari hal itu.

__ADS_1


“Je, lo udah paham?” Tanya Victor memastikan. Jean mengangguk yakin.


“JEAN! VICTOR! ERWIN! GUE DISINI!’


“Arah barat, ayo!” Komando Jean. Mereka bergegas menuju arah barat sesuai perintah Jean. Dugaan Jean benar, monster itu berada disana.


“Serang secepat yang kalian bisa!” Seru Jean lalu ketiga lelaki itu mulai menyerang monster bermuka datar itu. Sekali lagi hipotesa Jean benar, monster ini tidak bisa membunuh dengan tangannya sendiri, juga tidak bisa bergerak saat ia diserang. Namun sialnya saat itu mereka tidak sengaja mengangkat senjata mereka bersamaan, dan monster itu berhasil kabur lagi.


“JE, GUE DISINI!”


Mendengar panggilan Bianca, Jean segera berlari menuju sumber suara, diikuti oleh Victor dan Erwin dibelakangnya. Namun saat mereka sampai disana, Bianca jatuh ke jurang dengan ketinggian sekitar empat puluh meter. Dia tengah bergantung pada sebuah ranting dan menyerahkan nyawanya pada ranting itu.


“BIANCA BERTAHANLAH!!” Teriak Erwin lalu mengulurkan tangannya pada Bianca.


“Ngga nyampe,” Ujar Bianca. Erwin mulai berpikir keras.


“Kelamaan mikir lo, Er!” Tegur Jean dibelakangnya lalu mengoper baseball bat miliknya. Erwin mengulurkan baseball bat itu. Bianca berusaha menggapainya dan berhasil.


“TARIKK!” Komando Erwin, Jean dan Victor berusaha sekuat tenaga untuk menarik badan Erwin. Bianca tersenyum lega, namun tiba-tiba monster itu berpegangan pada Bianca, seketika beban yang dirasakan tiga remaja itu sangat berat.


“L-licin,” Ucap Bianca ketika tangannya mulai tergelincir dari baseball bat, pasti karena berat dari monster itu yang mengakibatkan Bianca tidak bisa menggenggam tongkat itu dengan erat.


“Er, gue mulai ga kuat! Berat banget,” Keluh Victor.


“AYO SEMANGAT TARIK TERUS!” Komando Erwin lagi, kali ini dia mengerahkan seluruh kekuatannya.


“Er, udah lepasin gue,” Ucap Bianca pasrah.


“BIANCA BERTAHANL—”


“Sampaikan maaf gue ke Emma ya.”


Bianca melepaskan genggamannya lalu jatuh bersama monster itu.


“Semoga lo maafin gue, Em.”


“Telah ditemukan sebuah mayat berlokasi di gunung timur. Bianca Ivanovna tewas setelah terjatuh dari jurang dengan kedalaman sekitar empat puluh meter. Dengan ini peserta berkurang sebanyak satu orang, tersisa delapan orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat sore dan selamat berjuang.”


●●●


“Em, maafin Bianca ya. Dia ngga bisa doain lo sekarang, gue berharap kalian bisa beristirahat dengan tenang.”


Mereka meletakkan beberapa tangkai bunga yang dipetik oleh Bianca. Bunga-bunga kecil itu nampak menghiasi pusara Emma. Tiga orang lelaki itu mendoakan kepergian Emma, sekaligus menyampaikan pesan terakhir Bianca.


“Ayo doain Bianca,” Ajak Erwin. Mereka mengangguk.


“Emma, kita berangkat ya. Lo baik-baik disini.”


Mereka bergegas menuju jurang tempat Bianca mengucapkan pesan terakhirnya dan menghembuskan napas terakhirnya. Victor menjatuhkan beberapa tangkai bunga ke dalam jurang itu dengan lembut. Beberapa tangkai diantaranya terbawa angin. Mereka mendoakan kepergian Bianca.


“Udah gue sampein Bi. Semoga lo beristirahat dengan tenang ya.”


“Bianca, Emma, kita pergi ya.”


●●●

__ADS_1


__ADS_2