
"Pengumuman juara minggu ini, diraih oleh tim basket milik Erwin Pandu dan kawan-kawan!"
Riuhnya tepuk tangan peserta upacara menghujani Erwin, selaku kapten tim dan ketua ekstrakulikuler yang tengah berfoto dengan kepala sekolah dengan piala besar di tangan mereka. Senyuman terlukis di wajah Erwin, mengingat banyak hal yang dipertaruhkannya dalam kejuaraan kali ini. Meskipun Erwin murid yang sporty, Ia tak lupa mengamankan namanya dalam segi akademis, peringkat sepuluh besar. Setelah berfoto, ia kembali ke barisannya.
"Congrats, Win!" Ucap Jean selekas Erwin menempati barisannya.
"Makasi juga Je, udah mau backup gue waktu itu," Balas Erwin, direspon dengan acungan jempol dari Jean.
Setelah upacara selesai, mereka kembali mengikuti pembelajaran seperti biasa. Materi sejarah hari ini tak berhenti membuat Jean menguap dan sesekali memandang pemandangan luar jendela. Seketika terdapat potongan kertas yang melompat ke mejanya. Jean tersentak kaget, lalu membuka kertas itu.
"Habis kelas jangan pulang dulu."
"Dari Victor," Celetuk seseorang yang duduk dibelakangnya. Seorang gadis dengan manik mata berkilauan layaknya boneka, berambut cokelat natural, dan alis yang tebal.
"Lily, jangan mengobrol di kelas saya," Tegur Pak Hussein yang sedang mengajar. Gadis itu terdiam, lalu menundukkan kepalanya. Tak lama, Pak Hussein kembali melanjutkan materinya.
"Maaf Ly," Ucap Jean halus. Lily hanya mengangguk.
Hingga tiba waktunya bel pulang berbunyi. Sesuai dengan apa yang tertulis di surat itu, Jean bersama teman-temannya yang mengikuti permainan itu masih berada di kelas hingga hanya mereka yang tersisa. Akhirnya kelas itu menyisakan tiga belas orang.
"Oke, besok udah mulai libur. Jadi kita berangkat besok ya! Kumpul aja disini, soal transportasi aman," Ucap Victor menjelaskan.
"Vic, perlu bawa barang-barang besok?" Tanya seorang lelaki dibelakang Jean.
"Ngga, gue yakin pihaknya udah nyiapin semua yang kita butuhin," Jawab Victor.
"Oke, besok ngumpul di gerbang jam sepuluh pagi ya!" Ucap Victor lalu meninggalkan kelas, diikuti dengan dua belas murid lainnya. Jean mengayuh sepedanya, sekaligus mengukur staminanya.
"Meningkat!" Monolog Jean saat Ia sampai di apartemennya. Tangannya dengan lihai memarkirkan sepedanya lalu membuka pintu apartemen. Ternyata Alice sudah terduduk manis menunggunya.
"Sore Alice," Sapa Jean, Alice mengeong seolah-olah membalas sapaan Jean.
Jean menggantung tasnya, mengganti pakaiannya, lalu melakukan tes terhadap dirinya sendiri. Nampaknya beberapa minggu lalu Jean ingin meningkatkan kemampuan tubuhnya, sehingga Ia melakukan beberapa macam olahraga yang mampu melatih tubuhnya untuk bertahan hidup.
"Ga rugi gue latihan. Lumayan lah," Monolognya seraya menyentang beberapa hal dalam daftarnya. Nampaknya remaja itu puas dengan hasil yang didapatnya. Sesudah olahraga, tak lupa Ia mendinginkan badannya dan mandi. Setelah itu, barulah Ia menyiapkan makan malamnya.
Jemarinya dengan mahir menyilet-nyiletkan pisaunya pada daging ikan yang kini diolahnya. Daging itu dicucinya hingga darah tak lagi melekat ditangannya. Jean memiringkan sudut pisaunya, lalu kembali menyayat daging ikan tersebut. Disajikannya dalam sebuah piring dengan lobak yang sudah diparut. Tak lupa Ia menuangkan shoyu di wadah lain. Makan malam Jean kali ini adalah sashimi. Dicelupkannya potongan daging itu ke wadah kecil berisi shoyu lalu mulai melahapnya. Setelah makan, tak lupa Jean menyiapkan makanan untuk Alice. Sisa malam Jean dihabiskannya bersama Alice.
"Karena mulai besok aku udah ngga di rumah, hari ini Alice tidur sama aku, oke?" Monolog Jean yang lantas menggendong kucingnya ke tempat tidurnya. Jean meletakkan Alice di sudut tempat tidur, kemudian merebahkan badannya kasar. Jean mulai menutup matanya dan mengantuk.
"Selamat tidur, Alice."
●●●
__ADS_1
"Meow,"
Perlahan Jean membuka matanya, nampaknya hari ini Ia bangun agak pagi. Matahari masih bersinar lembut. Jean mengecek ponselnya, pukul tujuh pagi. Ia sedikit mengantuk, kerap remaja itu menguap dan meregangkan badannya. Jean membasuh wajahnya dan merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Alice, selamat pagi. Aneh juga yah dibangunin kucing sendiri," Monolog Jean lalu meneguk air sebelum Ia melakukan sesuatu. Sesudah mengumpulkan nyawanya, Jean mulai memasak sarapannya hari ini. Jean tidak ingin sesuatu yang ribet, akhirnya ia memasak nasi goreng lalu menyantapnya. Setelah tenaganya cukup terisi, Jean membersihkan apartemennya lalu pergi mandi dan bersiap-siap.
"Ayo kita berangkat, Alice," Ajak Jean lalu meletakkan Alice di ransel khusus kucing yang dimilikinya dan segera mengunci pintu apartemennya. Jean mengayuh sepedanya ke kediaman Bibi Saddie lalu menitipkan sepedanya disana.
"Bibi, tolong jaga Alice. Aku pulang sekitar dua minggu lagi. Tolong ya bi," Tutur Jean. Bibi Saddie mengangguk seraya menggendong Alice. Jean menutup pintu kediaman Bibi Saddie. Sebelum pergi, Jean sempat bermonolog.
"Kalau aku bisa pulang, Bi."
Jean berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak jauh dari kediaman Bibi Saddie, bahkan lebih dekat dari apartemennya. Setelah menempuh waktu sekian menit, akhirnya Jean tiba di gerbang sekolahnya. Rupanya semuanya telah menunggu Jean.
"Ini dia! Lama banget sih lo!" Sahut Bianca dengan wajah kesal.
"Maaf, tadi gue nitipin kucing dulu," Balas Jean membela diri.
"Yaudah, yuk berangkat!"
Waktu tempuh yang mereka jalani yaitu sekitar dua jam. Lalu sekitar dua jam lagi untuk menyebrangi pulau. Dan akhirnya mereka sampai di sebuah pulau yang tidak besar namun memadai. Mereka disambut oleh dua orang wanita yang sepertinya kembar.
"Selamat datang pejuang, dalam permainan bertahan hidup tahun ini. Aku Grisha, dan ini adikku Elisha. Kami adalah panitia permainan ini. Izinkan kami menjelaskan tata cara dan apa saja yang tidak diperbolehkan dalam permainan ini," Ucap Grisha dengan nada bicara yang datar.
"Kedua, dilarang membawa barang apapun dari luar. Barang dari luar bisa dititip setelah kami menjelaskan aturannya. Semua barang disediakan oleh panitia, termasuk telepon genggam. Kami mewajibkan peserta menggunakan telepon genggam yang kami buat. Sudah terdapat peta pulau ini. Segala macam informasi akan kami sampaikan melalui perantara telepon genggam ini," Sambung kembali Grisha. Begitu rupanya, mereka berbicara secara sahut-sahutan.
"Ketiga, pemenang permainan ini ialah peserta yang berhasil bertahan selama enam belas hari di pulau ini, dimana terdapat beberapa arena yang tersedia di peta dalam ponsel. Peserta bebas memilih arenanya dan dapat berpindah-pindah. Peserta diperbolehkan hidup berkelompok, namun hanya akan ada satu pemenang.
"Keempat, peserta yang mengikuti permainan tidak diperbolehkan keluar permainan tiba-tiba."
"Kelima, jika melanggar peraturan, peserta akan dihukum sesuai kehendak raja."
"Apakah ada pertanyaan?" Tanya Elisha memastikan. Rupanya Theo mengacungkan tangannya.
"Apa yang terjadi bila saya ingin keluar saat ini juga?" Tanya Theo dengan raut wajah yang... sedikit ketakutan.
"Game over. Namun cepat atau tidaknya—raja yang menentukan. Tetapi kematian Anda sudah dapat dipastikan," Jawab Grisha santai. Seluruh murid itu terpaku setelah mendengar jawaban itu. Tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan.
"Ada pertanyaan lagi? Jika tidak, kalian bisa menitipkan barang-barang sekarang juga," Tutur Elisha. Tidak ada yang mampu mengatakan sepatah kata-pun setelah jawaban itu. Kelima indra mereka tegang seperti boneka, berjalan kaku menuju Grisha dan Elisha, lalu menyerahkan barang mereka. Tiba-tiba Misaki mengacungkan tangannya.
"Apakah pulau ini terkutuk? Apakah saya sedang berada di neraka?" Tanyanya dengan ekspresi muka yang nampak menyedihkan, seakan dia masih belum bisa menerima kenyataannya.
Grisha tertawa, "Tidak! Ini hanyalah pulau biasa. Kami bisa menjamin tidak ada hantu atau kutukan apapun didalamnya."
__ADS_1
"Sebelum dimulai, kami akan memanggil nama seluruh peserta yang telah hadir.
Jean Davis,
Aruna Kusuma,
Bayu Kusuma, adik dari Aruna Kusuma,
Idris Chernov,
Samuel Xavier,
Victor Jaeger,
Theodorus Lucien,
Misaki Ito,
Adara Fransiska,
Lily Serenia,
Bianca Ivanovna,
dan Emma Winslow,
Selamat datang di permainan hidup dan mati kalian."
Grisha dan Elisha berjalan beriringan menuju sebuah garis.
"Permainannya akan dimulai ketika semuanya sudah melewati garis ini. Maka, silahkan. Semoga beruntung, pejuang," Ucap Grisha dan Elisha bersamaan.
Victor menjadi yang pertama menapakkan kakinya di garis itu dan melampauinya. Diikuti dengan Samuel, Erwin, Jean, Idris, Adara, dan Bianca. Tujuh murid lainnya masih mematung di belakang garis.
"Ar, sebagai kembaran gue, lo mau maju?" Tanya Bayu kepada kakaknya yang hanya terdiam sedari tadi.
"Theo, lo gimana?" Misaki juga bertanya memastikan.
"SEMAKIN CEPAT DIMULAI, SEMAKIN CEPET SELESAI! BURUAN LO SEMUA KESINI!" Teriak Adara, wakil ketua kelas mereka. Rupanya mereka mendengarkan, tujuh murid tadi segera melampaui garis itu.
"Baiklah, selamat bersenang-senang dengan nyawa kalian!" Sahut Grisha dan Elisha bersamaan.
Neraka sesungguhnya baru saja dimulai.
__ADS_1