Rajapati

Rajapati
Lumbung Merah


__ADS_3

"Oke, kita maju."


Mereka berbaris dan melangkah di belakang Victor, mendekati sumber suara yang mengusik istirahat mereka. Lima remaja itu terus bergerak ke selatan, hingga mereka melihat sebuah perternakan dengan tumpukan jerami yang rendah namun banyak. Tiba-tiba serentak ponsel mereka berdenting.


"Location unlocked, Ranch!"


"Oh jadi begitu cara handphone ini bekerja," Tutur Bianca lalu kembali mengantongi ponselnya.


"Suara? APAKAH ADA ORANG?"


Teriakan itu kembali terdengar. Mereka menyiapkan diri mereka untuk menghadapi sesuatu yang mengusik mereka ini.


Namun siapa sangka, seorang anak perempuan dengan atasan putih berenda lengkap dengan rok yang juga berwarna putih. Anak itu menangis sembari terus berlari. Ketika dia melihat Bianca dan Emma, dia berlari ke arah mereka dan memeluk mereka.


"Tolong aku," Ucapnya sambil terisak dan memeluk Bianca dan Emma.


"Kamu kenapa?" Tanya Emma berusaha menenangkan anak itu. Dia melepaskan pelukannya pada Bianca dan mengeratkannya ke Emma.


Anak itu hanya menangis, terus terisak dan terisak. Ia bahkan tidak menceritakan tentang apa yang terjadi. Hingga hari beranjak malam, perlahan-lahan isak tangisnya mulai mereda. Victor menyodorkan anak itu sebotol air mineral agar ia lebih tenang.


"Namamu siapa?" Tanya Jean kepada anak itu.


"Sa—Sashenka, mama biasanya memanggilku Sasha," Jawab gadis itu.


"Ibu? Kalian tinggal disini?" Tanya Jean lagi. Anak kecil itu mengangguk.


"Seingat Sasha belum lama, tetapi Sasha sama mama menetap disini," Jawab Sashenka lagi sembari tersenyum. Lima orang remaja itu sangat bingung saat ini.


"Sasha umurnya berapa?" Tanya Jean lagi. Sashenka menekuk jari jemarinya untuk membantunya menghitung.


"Ehm, sembilan! Kalo Lubov masih enam tahun," Jawab Sashenka semangat seraya menunjukkan boneka kayu khas Rusia, Matryoshka.


"Lubov?" Tanya Erwin menanyakan boneka kayu milik gadis itu.


"Iya, ini Lubov. Mama suka sekali buat boneka Matryoshka! Pas ulang tahun Sashenka, mama ngasih Sashenka boneka ini. Lucu 'kan? Mama memang pinter buatnya! Akhirnya karena ini dari mama, Sasha kasih nama deh!" Jelas Sashenka sambil memeluk boneka Matryoshkanya.


"Oh iya, tadi Sasha kenapa nangis?" Tanya Emma mengulangi pertanyaannya. Sashenka menunduk lemas dan mendekap boneka Matryoshka miliknya.


"Sa-Sasha t-takut sama m-mama," Jawab Sashenka terbata-bata dengan kepala yang masih tertunduk.

__ADS_1


"S-Sasha berusaha kabur dari mama. Tapi mama selalu aja berhasil buat Sasha kembali. Kali ini, Sasha berhasil keluar, habis itu ketemu deh sama kakak-kakak!" Lanjut gadis itu dengan nada bicara yang ceria.


"Loh kenapa? Kok Sashenka takut sama mama?"


"Mama seram. Sasha ngga suka."


Tim dua benar-benar terperangah sekaligus bertanya-tanya akan apa yang barusan dituturkan oleh gadis kecil itu. Raut wajah gadis itu pun berubah, yang tadinya berseri tersenyum kepada Jean dan kawan-kawannya, kini kehilangan ekspresinya dan menatap tanah dengan mata hazelnya yang kosong.


"M-maksud Sasha? Ngga boleh ngomong gitu loh ke mama," Ucap Emma menegur anak itu. Empat temannya hanya memandangi satu sama lain.


"Oh, Kakak ngga percaya sama Sasha? Yaudah, Kakak liat sendiri aja."


Gaya bicara gadis ini berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya menunduk kini menatap tajam ke arah Emma dengan manik mata hazelnutnya. Seketika keheningan menyelimuti mereka.


Ah tidak lagi. Sayup-sayup terdengar tangisan wanita yang datangnya dari sebuah lumbung berwarna merah itu. Tangisan yang menyayat, seperti sedang kehilangan.


"Oh, dia datang."


Remaja-remaja itu langsung panik. Mereka bersembunyi secara terpisah di balik tumpukan jerami. Emma memeluk anak itu, bersembunyi, dan menyekap mulut Sashenka.


DUAGHH!


"***SASHENKA SAYANG, SASHENKA SAYANG,


ANAK MAMA YANG PALING MAMA CINTA,


SASHA DIMANA, SAYANG***?"


Bulu roma mereka bergidik ngeri. Wanita itu berteriak kencang, mencari sosok anak perempuan yang kini dipeluk Emma. Sashenka juga terdiam, tidak melakukan perlawanan sedikitpun


"SASHA SAYANG, BESOK AJA YAH MAIN PETAK UMPETNYA. UDAH MALEM LOH,"


Mereka semakin panik, lantaran teriakan itu seakan mendekat ke arah mereka. Emma yang penasaran akhirnya berusaha mengintip di balik rongga jerami. Ia sangat ketakutan akan apa yang ia lihat saat ini.


Wanita itu mengenakan gaun pernikahan berwarna putih dengan cipratan darah yang mengotori gaunnya. Seluruh badannya berwarna hitam arang. Darah mengalir dari kelenjar air matanya, ia menangis darah. Tak lupa kukunya sangat panjang dan runcing yang tak kalah menyeramkan.


"Sekarang udah percaya sama Sasha?" Tanya gadis itu polos, membuat Emma menyekap mulut gadis itu lebih erat lagi.


"SUARA ITU! SASHENKA KAMU DIMANA?!"

__ADS_1


Wanita itu berjalan mengambil obor lalu mulai mencari Sashenka. Dia berdiri di jerami yang berada paling ujung. Cakarnya yang kuat menebas jerami itu. Melihatnya, jantung remaja-remaja itu berdebar semakin dan semakin keras. Mereka berusaha mengontrol napas mereka agar tidak terdengar oleh wanita gila itu.


"SASHENKA! MAMA BILANG KELUAR YA KELUAR!"


Wanita itu mengoyak jerami-jerami yang tidak jauh dari mereka. Semakin kencang, kencang, dan kencang, bahkan mereka bisa mendengar degup jantung mereka sendiri. Tangan dan kaki Emma bergetar cukup kencang. Dia tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, incaran wanita gila itu ada didekapannya.


"KALO SASHA NGGA MAU KELUAR, MAMA PAKSA!"


"Lepasin Sasha," Bisik Sashenka. Emma menggeleng keras.


"Oke mama kamu serem, tapi bakal lebih serem kalo kita ketangkep," Lirih Emma sembari mengamati wanita itu.


Krak!


Jantung mereka berdetak sangat kencang dan mata mereka membelalak ketika Victor tidak sengaja menginjak dahan kering didekatnya.


Gawat, perempuan berkuku itu berjalan ke arah Victor! Semua anggota tim berusaha memberitahu Victor sehening mungkin dan menahan napas mereka.


"DISINI KAMU RUPANYA!"


Wanita itu berteriak sambil membelah tumpukan jerami berbentuk kotak itu menjadi dua. Tepat waktu, Victor berhasil berpindah ke tumpukan jerami disebelahnya.


"AH ANAK ITU! BERARTI DIA TIDAK ADA DISINI!"


Sayup-sayup langkahnya tidak terdengar lagi. Ketika Emma mengintipnya, rupanya ia memeriksa bagian belakang lumbung. Semua orang menghembuskan napasnya lega dan mengendurkan ketegangan di jantung masing-masing.


"Mama mau Sasha. Semestinya kakak lepasin Sasha tadi," Ucap Sashenka setengah berbisik.


"Sasha mau balik ke mama? Bahaya Sha, mama kamu bener-bener bisa bunuh kamu lho," Balas Emma.


"Tapi kalo Sasha ngga kabur, kakak-kakak pasti ngga diburu sama mama!" Seru Sasha.


"Mama kamu berbahaya! Intinya kita harus pergi dari sini," Sahut Emma.


Keempat temannya itu tengah menyaksikan perdebatan keduanya yang berkebalikan dengan penyataan di awal. Emma yang tadinya menegur Sashenka kini mendukung aksi Sashenka. Dan Sashenka yang tadinya ingin angkat kaki dari pantauan ibundanya kini mengurungkan niatnya.


"SASHENKA SAYANG NGAPAIN DISINI?! DAN KAMU, KAMU SIAPA MELUK-MELUK ANAK SAYA?!"


Sialan.

__ADS_1


●●●


__ADS_2