Rajapati

Rajapati
Kedatangan yang Tak Terduga


__ADS_3

Erwin memeriksa jam digital yang terpampang di layar ponselnya, pukul setengah tujuh pagi. Sinar hangat mentari mulai menyinari bumi lembut. Erwin bersiap-siap untuk berolahraga, namun netranya tidak menangkap sosok Idris yang seharusnya masih terlelap bersama Jean. Erwin meninggalkan pesan kecil untuk Jean lalu segera mencari Idris.


“Je, gue mau olahraga pagi. Idris udah hilang sebelum gue bangun. Bakal sekalian gue cariin.


—Erwin.”


Netra Erwin mulai menelusuri keberadaan Idris. Ia mencarinya di kamar mandi, halaman depan, halaman belakang, bahkan dapur. Hasilnya nihil, Idris tidak ada dimanapun. Erwin pergi ke dapur sejenak untuk minum beberapa teguk air mineral. Ternyata Misaki dan Lily sudah mulai menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


“Selamat pagi, Erwin!” Sapa Lily ramah.


“Pagi,” Balas Erwin dengan nada yang lesu.


“Hm? Ada apa Er?”


“Idris, kalian ada liat dia ngga?” Tanya balik Erwin. Mereka dengan serempak menggeleng. Erwin semakin khawatir akan keberadaannya.


“Ayolah Er, pikir! Kalo gue jadi Idris, gue bakal ke..”


“Makam Bayu?” Sela Misaki memotong monolog Erwin. Lelaki itu menatap Misaki intens sembari merenungi tebakan gadis itu.


“Bisa juga, gue berangkat dulu. Misaki, lo emang the best banget dah!” Seru Erwin lalu bergegas melanjutkan misinya untuk mencari Idris. Misaki hanya tersenyum puas mendengar pujian Erwin.


Angin berhembus lembut membelai rambut Erwin yang acak-acakan. Semakin lama matahari semakin terik, sinarnya juga mulai memanas. Setelah berlari cukup jauh, akhirnya Erwin sampai di tanah lapang, tempat peristirahatan terakhir Adara, Samuel, Aruna, dan Bayu.


Dugaan Misaki lagi-lagi benar, Idris yang menyadari keberadaan Erwin kini tengah memandangi lelaki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Idris tengah berlutut diantara pusara milik Aruna dan adiknya. Lelaki itu menunduk.


“Aku sungguh orang yang tidak bertanggung jawab,” Tuturnya dengan kepala yang masih tertunduk.


“Sudahlah, Idris. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa terus bertahan.”


“Andai saja gue bisa menghentikan kegilaan Aruna,” Sesal Idris.


“Apakah dengan lo mengeluh, waktu bisa kembali mundur? Masalah lo selesai?”


“Idris Chernov yang gue kenal, dia orangnya dingin banget. Dia juga tegas, punya pendirian yang kukuh, disiplin, juga realistis. Tapi di balik sifatnya yang cuek, dia cuma pengen temen-temennya selamat, dia pengen temen-temennya bahagia. Idris yang gue kenal orangnya gaakan gampang menyerah dalam berjuang, karena dia ngga mau mengecewakan siapapun.”


Idris terdiam mendengar perkataan Erwin. Hatinya serasa terketuk, terketuk untuk kembali bangkit dan bertahan. Air mata mulai membasahi pipinya, lelaki itu segera menyekanya, ia tak ingin terlihat lemah. Di pikirannya seakan terdapat layar yang memutarkan kejadian-kejadian yang sudah ia lalui.


Idris akhirnya kembali berdiri. Ia menatap Erwin yakin lalu mengangguk dan menyeka air matanya. Erwin melakukan pose andalannya, yaitu tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.


“Lo udah doain Bayu?” Tanya Erwin. Idris menggeleng.

__ADS_1


“Lah, terus lo daritadi ngapain disini? Yaudah, ayo sama-sama doain mereka,” Ajak Erwin. Idris mengangguk lalu mereka mulai mendoakan teman-teman yang telah gugur.


“Thank you, Erwin.”


●●●


“Erwin, Idris! Sini sarapan dulu!” Sorak Lily ketika dia melihat kedatangan dua lelaki itu. Mereka segera menghampiri Lily dan menyantap sarapan mereka.


“Dris, lo daritadi kemana?” Tanya Jean yang hendak mengunyah rotinya.


“Bukan hal yang penting kok,” Jawab Idris lalu meneguk minumannya.


“Oh, tidak penting?” Sarkas Erwin. Idris menyenggol sikunya perlahan, Erwin hanya tertawa kecil.


“Serius, kalian habis darimana?” Tanya Jean penasaran.


“Cuma doain Bayu kok,” Jawab Erwin santai.


“Bikin khawatir aja lo. Mana ngga ngajak gue lagi,” Protes Jean. Erwin dan Idris tertawa kencang.


“LOH, GRISHA? ELISHA? KALIAN NGAPAIN DISINI?”


Teriakan Victor menggema hingga ke ruang makan. Seketika semua orang yang sedang menyantap sarapan mereka meninggalkan sepiring nasi goreng itu dan bergegas menuju sumber suara, yaitu di pintu depan. Rupanya Victor benar, Grisha dan Elisha tiba-tiba saja sudah berada di depan hotel yang mereka tempati.


“Grisha! Elisha! Senang berjumpa dengan kalian lagi!” Sapa Lily ramah. Saudara kembar itu tersenyum riang membalas sapaan Lily.


“Hai Lily! Aku senang kalian baik-baik saja,” Balas Grisha.


“Kebetulan kami sedang melakukan sarapan. Masuklah, kita ngobrol di dalem,” Ajak Jean. Grisha dan Elisha mengangguk dengan senyum riang lalu masuk ke hotel. Misaki menghidangkan secangkir teh dan kue kering yang iseng dibuatnya dua hari yang lalu.


“Terima kasih Misaki! Kue keringnya sangat enak, tehnya juga. Maaf merepotkanmu,” Tutur Grisha. Misaki menggeleng.


“Tidak apa,” Jawabnya singkat lalu kembali ke dapur.


“Jadi, apa sebenarnya tujuan kalian kemari?” Tanya Victor.


“Baiklah jika kamu bertanya.”


“Kami kesini untuk menyampaikan beberapa informasi mengenai permainan ini. Sebenarnya kami tadi sedang mampir ke minimarket, kebetulan kami sedang melintasi hotel ini. Daripada mengumumkannya lagi lewat broadcast, lebih baik kami beritahukan sekarang saja.”


“Jadi,

__ADS_1


Terdapat peserta ke-empat belas.”


“HAH?” Teriak seluruh siswa bersamaan.


“Iya, peserta ke-empat belas. Saat ini dia sedang berada di luar sana. Namanya Sheila Zoë, dia wanita yang cukup tangguh,” Sambung Elisha.


"Bagaimana bisa dia diterima begitu saja?" Tanya Jean curiga.


"Entahlah, raja menyetujuinya. Kami hanya melaksanakan perintah raja."


“Jadi, jangan lupa mengeliminasi dia ya. Atau,


Kalian yang tereliminasi karenanya.” Ujar Grisha memperingati mereka.


“Oh, buku apa itu?” Tanya Elisha yang sedang menunjuk sebuah buku bersampul merah.


“Buku tahunan sekolah di pulau ini,” Jawab Misaki santai. Grisha dan Elisha membalikkan halaman demi halaman buku itu.


“Jadi, nama pulau ini adalah Pulau Cleisthenes, bukan?” Tanya Jean memastikan.


“Iya dan tidak,” Jawab Grisha.


“Iya, dulunya pulau ini merupakan pulau yang dihuni oleh rakyat-rakyatnya. Pulau ini memang bernama Cleisthenes. Layaknya kota lainnya, peradaban Cleisthenes berkembang cukup pesat. Aku sangat kagum dengan keahlian kalian menemukan informasi.”


“Tetapi banyak hal yang terjadi di pulau ini, hingga rakyat-rakyatnya berniat untuk angkat kaki dari pulau ini. Tempat ini-pun menjadi tidak berpenghuni. Sang Raja membeli pulau ini dan digunakan untuk arena permainan ini. Sekarang, pulau ini bernama The Requiem. Nama itu diusulkan dan ditetapkan oleh raja itu sendiri,” Tutur Elisha menjelaskan.


“Cerita yang panjang ya? Sekali lagi, aku sangat terkesan dengan kemampuan kalian yang tidak bisa kuremehkan. Semoga kalian bisa bertahan hidup hingga hari terakhir. Semakin lama kalian berada disini, rintangannya akan semakin susah. Semangat!” Ujar Grisha menyemangati pesertanya.


“Baiklah, sepertinya kami sudah harus kembali. Terima kasih jamuannya. Ingatlah apa yang aku dan Elisha katakan tadi. Sampai jumpa!” Seru Grisha. Mereka meninggalkan hotel hingga bayangannya tidak lagi terlihat, mereka sudah benar-benar pergi. Lily menutup pintu dan menguncinya.


“Oke gue ke kamar dulu, ngantuk bener,” Ucap Victor yang terlihat mengantuk.


Jean, Erwin, Idris, Lily, dan Misaki duduk melingkar dan berdiskusi kecil agar Victor tidak merasa terganggu.


“Gila, gimana nih? Kita ngga bisa bedain mana yang masih hidup mana yang sudah meninggal, dan sekarang ada peserta ke-empat belas yang kita sendiri ngga tau penampilannya kayak gimana,” Keluh Lily.


“Bagaimana lagi, kita sudah tidak bisa mempercayai siapapun,” Jawab Erwin. Mereka menghela napas dengan kompak.


“Tapi sudah jelas dia cewek ‘kan?” Tanya Erwin memastikan. Misaki mengangguk.


“Kita hanya bisa menunggu dia muncul di hadapan kita. Dan hanya di saat itulah,

__ADS_1


Kita bisa menyerang dan bertahan.”


●●●


__ADS_2