
Disclaimer: terdapat adegan sadis.
“***Kau sangat mau tahu ya? Baiklah, baiklah..
AKAN KUTUNJUKKAN SIAPA DIRIKU***!”
Gadis itu tersenyum sinis lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong roknya. Theo membelalak kaget, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Theo segera berlari dari siswi itu.
“KENAPA? BUKANNYA TADI KAU MEMPERTANYAKAN DIRIKU YANG SEBENARNYA? INI DIA, SAPALAH!”
Gadis itu menghunus-hunuskan pisaunya. Sayangnya Theo tidak bisa berlari secepat Idris maupun Erwin. Dia mungkin pintar, tetapi fisiknya lemah. Theo berusaha melampaui batas kecepatannya. Karena situasi yang mendesak, sepertinya ia berhasil meningkatkan kecepatannya. Setelah Theo berada jauh dari gadis itu, ia segera masuk ke sebuah loker dan bersembunyi.
“RANKING SATU... DIMANAKAH KAMU?”
Theo menahan napasnya, mencegah dirinya ditemukan oleh gadis itu.
“Sudahlah, palingan udah kabur.”
Bunyi tapak kakinya perlahan menghilang, pertanda gadis itu sudah pergi. Theo dengan perlahan keluar dari loker itu agar tidak menimbulkan suara. Ia melihat sekeliling, rupanya gadis itu benar-benar pergi. Theo menghela napasnya lega, barulah ia melanjutkan tugasnya untuk memeriksa ruang guru.
Tangannya memutar gagang pintu lalu mendorong pintu itu dan masuk. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seseorang tengah berdiri di atas salah satu meja guru. Gadis itu tersenyum puas sembari bertepuk tangan seolah menyambut kedatangan Theo.
“GADIS BERPISAU, 1! RANKING SATU, 0!”
Siswi itu meloncat turun dari meja guru itu dan melangkah menuju Theo.
“Sudah kubilang, kau bodoh. Sampai kapanpun akan begitu. Mau kau pamerkan seluruh penghargaanmu padaku, AKU TAHU DIRIMU YANG SEBENARNYA!”
Iris gadis itu seketika berubah warna. Yang tadinya berwarna hijau, sekarang berubah menjadi warna merah darah.
“Oh, sudah aktif? Baiklah, MARI KITA BERSENANG-SENANG!!”
Gadis itu menyerang lebih dahulu, ia mengincar bagian-bagian yang terdapat organ internal milik Theo. Reflek Theo cukup lambat, namun ia berhasil menghindari serangan-serangan yang dibuat oleh siswi itu.
Dia berusaha membaca pergerakan lawannya. Berkat kecerdasan yang Theo punya, dia berhasil membaca pola pergerakan gadis itu. Theo berpikir lagi, dia harus bisa mencari celah untuk setidaknya berlari. Ah, ini dia celahnya!
Theo memutar posisinya dengan cepat, hingga saat ini dia menghadap arah yang sama dengan siswa itu. Theo dengan cekatan memegang pergelangan gadis itu lalu mencoba menjatuhkannya dengan menekan tulang punggung gadis itu ke arah bawah dengan sikunya. Rencana Theo berhasil. Gadis itu berhasil tergeletak dibuatnya. Theo mengarahkan pergelangan itu ke belakang tulang punggungnya. Diambilnya seutas tali untuk mengikat gadis itu. Akhirnya gadis itu terikat pada sebuah tiang, Theo mengambil pisau yang tadi digenggam gadis itu.
“Ranking satu, satu poin,” Ucap Theo membalas perkataan gadis itu sebelumnya. Theo meninggalkan gadis itu lalu mulai menggeledah ruang guru ini. Ia hanya menemukan catatan-catatan siswa, buku pelajaran, dan beberapa barang pribadi guru-guru yang diletakkan di meja kerjanya.
“Tidak ada sesuatu yang penting,” Monolog Theo sambil terus mencari.
“Memangnya apa yang kau cari disini?” Tanya gadis itu. Theo melirik ke arahnya sejenak, memastikan dia masih terikat.
“Entahlah, sesuatu yang kuanggap penting?” Jawab Theo.
“Kau kenapa tidak memberontak?” Tanya Theo balik. Gadis itu menghela napasnya.
__ADS_1
“Aku ini pintar. Aku sudah kalah darimu,” Jawabnya.
“Kalimatmu berlawanan. Kau ini beneran pintar? Orang pintar takkan kalah dari siapapun,” Ujar Theo dengan percaya diri. Gadis itu tersenyum sinis.
“Mau bagaimana lagi,” Jawab gadis itu pasrah.
“Hei, coba kau lihat lukisan yang ada di atas meja guru di pojok,” Pinta siswi itu. Theo melangkah ke meja yang dimaksud olehnya. Theo mengangkat dan memperlihatkan lukisan itu, siswi itu mengangguk.
“Bagaimana menurutmu?” Tanyanya lagi.
“Aku sudah melihatnya di bawah. Pasti pelukis ini menjiplak Si juara satu. Sama persis, aku yakin. Cih, gaada kreativitas banget sampe jiplak. Aku bisa buat yang lebih bagus,"
“TERIMA KASIH ATAS PENDAPATMU!”
Theo melirik siswi itu, ternyata dia berhasil terlepas dari simpul yang dibuat oleh Theo dengan pisau yang digenggamnya. Berapa banyak pisau yang dia punya?
“BAIKLAH, SESI ISTIRAHAT SELESAI! MARI KEMBALI BERMAIN!”
Theo memandangi keadaan sekitarnya. Dia sedikit beruntung karena posisinya saat ini dekat dengan pintu keluar. Setelah tidak menemukan apapun, Theo bergegas keluar dari ruang guru itu dan menguncinya dengan kunci yang sempat diambilnya. Theo sudah menduga hal ini akan terjadi.
Ia berlari secepat mungkin menuju elevator. Saat ia berlari, ia melirik ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Gadis itu mungkin masih terperangkap dalam ruang guru. Theo sedikit lega akan hal itu. Saat ia sampai di depan elevator, Theo segera menekan tombol untuk turun. Tak lama, pintu elevator terbuka. Theo segera masuk dan menekan tombol untuk menutup pintu elevator. Dia langsung menghela napas lega.
“UDAH LARINYA?”
Bulu kuduk Theo serentak merinding ketika mendengar suara itu yang terdengar sangat nyaring. Theo menoleh ke belakang, gadis itu tengah tersenyum sembari menodongkan pisaunya.
Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telinga Theo.
“Kubuat kau merasakan akibat dari kesombonganmu itu.”
Gadis itu berbisik sangat pelan, namun bisikan pelan itu cukup membuat jantung Theo berdetak tidak karuan. Seketika elevator yang dinaikinya berguncang sangat keras. Theo melirik, dia sudah dibawah. Diam-diam ia menekan tombol untuk membuka pintu. Namun pintu elevator tidak kunjung terbuka. Theo semakin panik sembari terus menekan tombol itu.
“KITA BAHKAN BELUM MENGUCAPKAN SELAMAT TINGGAL BUKAN?”
Elevator itu melesat naik dengan kecepatan yang tinggi. Kaki dan tangan Theo bergetar ketakutan. Setelah mencapai lantai teratas, elevator itu terdiam sejenak.
“***HITUNG MUNDUR! TIGA, DUA,
SATU***!”
Elevator itu seperti terhempas, kecepatannya menuruni lantai-lantai sangatlah tinggi. Layaknya roller coaster yang hendak menaiki rel setinggi-tingginya, lalu terjun dari ketinggian tersebut dengan kecepatan yang tinggi.
Elevator itu menghantam tanah, membuat Theo terjatuh dan,
TSSAK!
Lehernya tertancap potongan plat besi yang berada di bagian atas elevator. Tusukannya cukup dalam, lantaran hantaman elevator ini sangatlah kuat. Theo mengerang kesakitan, lalu ia berusaha merangkak kabur sesaat ketika pintu elevator terbuka.
__ADS_1
“HAMPIR SELESAI!”
Gadis itu menekan-tekan tombol elevator yang berfungsi untuk menutup pintu elevator. Kedua sisi pintu berkali-kali menjepit dan menghantam leher Theo.
“BAIKLAH, PENUTUP!”
Siswi itu menekan tombol itu dengan sekuat tenaga, pintu elevator melesat menjepit leher Theo dengan kekuatan yang sama, seakan gadis itulah pengendali elevator ini.
KRTAKKK!
“Kau memang benar, orang pintar takkan kalah dari siapapun. DENGAN BEGINI, GADIS BERPISAU 2, RANKING SATU, 1! YAY AKU MENANG!!”
Gadis itu menyayat punggung Theo dengan pisaunya hingga menggambarkan sesuatu.
“BERES! AYO BALIK!”
GLEDAG!
Pintu elevator itu tertutup.
●●●
“Bayu! Misaki! Akhirnya kalian selesai juga,” Sapa Lily yang menyambut keluarnya mereka dari Sekolah Menengah Pertama itu.
“Theo udah disini?” Tanya Misaki panik. Mereka menggeleng serempak.
“Gawat,” Celetuk Bayu.
“Memangnya kenapa?”
“Kita nemuin informasi tentang kematian siswa yang menjadi semacam urban legend di sekolah ini. Kematian siswi atas nama Hana Sakihara yang meninggal karena kecelakaan elevator. Konon, dia menghantui tempat itu dan sekolah ngga berani nutup wilayahnya. Dan banyak kecelakaan elevator yang serupa setelah kematian Hana. Mereka percaya, Hana-lah yang melakukannya,” Tutur Bayu menceritakan kisah itu.
“Bisa-bisa Theo lagi dalam posisi ngga aman. Dia pake elevator untuk naik ke ruang guru dan sampai sekarang belum kesini. Intinya kita harus periksa keadaan Theo sekarang!” Sambung Misaki. Mereka bergegas menuju elevator, namun semua sudah terlambat.
Kepala milik Theo menggelinding di depan elevator itu. Hanya kepalanya saja. Mereka sangat syok tentang apa yang mereka lihat saat ini.
TING!
Pintu elevator tiba-tiba terbuka. Darah menyeruak keluar dari tempat itu. Idris mendekat, tidak ada siapa-siapa lagi di dalamnya. Sedangkan di punggung Theo terdapat guratan-guratan yang tidak Idris mengerti.
“Misaki, bisa kesini sebentar?” Panggil Idris. Misaki berjalan kearahnya dengan tatapan yang kosong. Idris menunjuk guratan yang ada di punggung Theo. Misaki menatapnya dengan intens. Gadis dengan rambut sebahu itu sangat terkejut.
“H-Hana,” Jawab Misaki gagap setelah membaca tulisan kanji tersebut. Ponsel mereka serentak berdenting.
“Telah ditemukan sebuah mayat berlokasi di sekolah. Theodorus Lucien tewas setelah kepalanya terpenggal dan tertancap kepingan besi serta punggungnya yang tergores-gores. Dengan ini peserta berkurang sebanyak satu orang, tersisa tujuh orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat sore dan selamat berjuang.”
●●●
__ADS_1