Rajapati

Rajapati
The Requiem [END]


__ADS_3

“Selamat, Je. Lo menang.”


Kata-kata itu tengah menggema di pikiran Jean. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Erwin Pandu, sosok lelaki tinggi semampai yang tangguh dan bertanggung jawab, entah dalam organisasinya ataupun ketika sedang bersama teman-temannya, yang menghembuskan napas terakhirnya akibat kandungan arsenik yang memenuhi tubuhnya.


Jean menjambak rambutnya keras, ia tidak menduga akhirnya akan seperti ini. Pemenang hanyalah status, ia tidak merasa menang saat ini. Justru Jean merasakan kekalahan pahit. Rasa bersalah itu menyelimutinya, bagai awan kelam yang memayunginya.


Jean menatap Sheila yang sudah tidak bernyawa. Diambilnya pisau yang digunakan Erwin untuk membunuhnya, lalu Jean ikut serta menusukkan pisau itu sebagai simbolis atas rasa jengkelnya terhadap gadis itu.


Sekali lagi, Jean memandangi wajah perempuan itu. Wajahnya yang menawan berlawanan dengan perilakunya yang egois demi tahta pemenang permainan ini. Pernyataan yang kontradiktif itu membuat Jean semakin jengkel dengan apa yang sudah terjadi.


Jean mengambil pisau yang sempat Erwin gunakan untuk membunuh Sheila. Jean mengantongi benda tajam tersebut dan pergi berkeliling untuk sekedar mencari udara segar setelah mengalami hal yang berat. Tak lupa ia menggendong Erwin dengan niat menempatkannya di peristirahatan terakhirnya.


Jean meninggalkan rumah itu, ia bergegas menuju tanah lapang dimana teman-temannya beristirahat dengan tenang. Jean mulai menggali tempat disamping Samuel. Singkat cerita setelah Jean selesai menggali, ia segera menempatkan Erwin di pusaranya dan menguburnya. Tak lupa dia mencarikan beberapa tangkai bunga dan menaburkannya diatas pusara Erwin. Setelah itu, barulah Jean mendoakan kepergian sahabatnya itu, serta seluruh temannya.


“Sebenarnya gue merasa ga pantas buat dapet gelar pemenang. Tapi karena kalian berkorban demi ini, gue bakal hargain ini. Terima kasih, semua.”


Jean bermonolog seperti orang yang kehilangan akalnya. Perlahan air matanya kembali membasahi pipinya, mengingat perjuangan seluruh temannya tidaklah mudah. Terlintas di pikirannya untuk mengunjungi pusara Emma di gunung. Selagi hari masih pagi, Jean akhirnya berniat mengunjungi pusara Emma di gunung.


Setelah ia menempuh perjalanan enam jam dari pusat kota, akhirnya Jean sampai di gunung. Pemandangannya tidak berubah, pepohonan yang rindang, cahaya hijau muda dari mentari yang terbiaskan daun, lumut yang tumbuh liar di pepohonan, juga tanaman liar yang membalut pegunungan ini. Udaranya yang segar, serta suara ultrasonik tonggeret menenangkan pikirannya dari seluruh tragedi yang telah terjadi.


Jean mendaki gunung itu selama satu jam, dan dia sudah sampai di pusara Emma. Panorama pulau yang menyejukkan menyambutnya dengan lembut. Sebelumnya, Jean sudah membawa bunga yang dia petik di kota. Ia segera menaburkan bunga-bunga itu dan mendoakan Emma.


“Em, pasti lo betah banget disini,” Monolog Jean seraya menyaksikan syamsu yang hendak terbenam juga pemandangan seluruh pulau.


“Em, gue pergi dulu. Makasih ya buat semuanya.”


Jean turun gunung, tak lupa ia mampir ke jurang tempat Bianca meregangkan nyawanya. Ia menaburkan bunga, sedikit diantaranya terbawa angin. Jean juga mendoakan Bianca, lalu ia melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke kota.


Gugusan bintang telah menghiasi gelapnya cakrawala. Sesampainya Jean di kota, ia singgah ke minimarket untuk menghilangkan dahaganya. Namun disaat Jean memilih minuman apa yang hendak ia minum, dia melihat bayangan manusia dibelakangnya. Jean berbalik, dan ia tidak menduga hal ini.


“VICTOR?!!”


Lelaki itu tersenyum kucing, mungkin sudah waktunya bagi Jean untuk mengetahui semua ini.

__ADS_1


“Hai, Je. Gimana rasanya jadi pemenang sehari?” Sapa Victor. Jean mengubah raut wajahnya menjadi serius.


“Tapi maaf, gue pemenang sebenarnya.”


“Maksud lo?” Tanya Jean bingung. Victor tertawa kecil.


“Oh, harus gue banget yang ngungkap semuanya? Oke, baiklah. Dengar baik-baik.”


“Gue agak merasa bersalah sih karena udah ngajak kalian kesini, seharusnya gue bertanggung jawab atas semua ini ‘kan? Iya gue tau, tapi nyawa gue juga terancam. Gue egois banget ya?”


“Engga, gue ngga egois. Gue cuma mengikuti aliran sebab-akibat kehidupan. Babak yang lalu, di babak yang lalu gue juga seperti kalian kok, asal main aja tanpa tau konsekuensi yang bakal gue hadapin. Dan sejak itulah, gue mewarisi tahta itu. Iya Je, tahta yang engga lo pengenin, kemenangan yang rasanya sama seperti kekalahan pahit, dan gue ngga mau nasib gue sama kayak temen-temen kita.”


“Iya, sebenarnya gue tau semua rahasia pulau ini. Nama asli pulau ini, peradaban pulau ini, nama pulau saat ini, gue tau. Bahkan, gue tau semua yang ada disini nampak seperti manusia. Sekarang lo tau ‘kan, kenapa gue berani banget maju duluan waktu nyelamatin Sashenka?” Tutur Victor tertawa kecil.


“Gue bodoh. Seharusnya gue ngga main papan permainan jelek itu waktu kita di hotel. Gue yakin, kalo gue ngga ajak kalian main, pasti kalian ga akan tau satu rahasia-pun di pulau ini.”


“The Requiem, nama yang cantik bukan? Gue memberikannya setelah membaca sebuah buku di salah satu ruangan kelas. Buku itu bersampul merah dan terdapat bercak darah didalamnya. Begitulah gue menemukan nama untuk tempat ini.”


“Mempertahankan tahta sosok raja yang bertangan besi sudah menjadi tugas gue. Walaupun gue harus merasakan kepahitan akibat ditinggalkan orang-orang di hidup gue, setidaknya gue ga mati.”


“Dan itu berarti, lo yang harus pergi.”


Victor mengeluarkan sebilah pisau dari kantong jaketnya, bersiap untuk menyerang Jean. Ia tidak tahu, kalau sebenarnya Jean juga sudah bersiap untuk menyerang Victor. Lelaki itu hanya tersenyum sinis.


“Kenapa lo harus lakuin semua ini?” Tanya Jean.


“Bukannya gue udah bilang, gue ga mau mati.”


Victor memulai serangannya, ia menyerang kaki Jean terlebih dahulu agar Jean terlumpuhkan. Jean yang tidak pandai dalam olahraga sangat kesulitan menghindari serangan dari Victor yang merupakan anggota klub atletik. Gerakannya yang gesit menyerbu Jean hingga lelaki itu kelelahan.


“Lengah!”


Victor memanfaatkan kesempatan itu untuk menusuk kaki Jean.

__ADS_1


“AKH!!”


Rasa sakit itu menjalar dari kaki Jean hingga ke seluruh badannya. Lelaki itu mencoba untuk bangun kembali, namun usahanya gagal. Victor kembali mendekatinya, lalu hendak mengguratkan pisaunya di tangan Jean. Dengan tangkas, Jean menahan laju pisau itu dengan tangannya.


“Asal lo tau, Vic..”


“SEMUA DUKUNGAN YANG MEREKA BERI KE GUE, SEMUA ITU GAAKAN GUE SIA-SIAIN!”


Kemarahannya seakan menjadi bensin yang menguatkannya. Jean berhasil bangkit, dan berusaha mendaratkan serangan pada Victor. Namun karena amarah Jean terlalu berapi-api, ia bergerak secara acak dan tidak beraturan.


“Je gue tau lo marah banget sama gue.”


“Tapi, orang yang tenang-lah yang akan memenangkan semua pertandingan.”


Tanpa sadar Victor sudah berhasil menghunuskan pisaunya tepat di dada kiri Jean. Kesadarannya mulai hilang, Jean mulai merasakan napas-napas terakhirnya. Samar-samar, ia melihat wajah Victor untuk yang terakhir kalinya.


“Teman-teman, maafin gue.”


●●●


“Victor Jaeger, selamat karena sudah memenangkan Permainan Rajapati ronde ini. Dengan ini, Anda telah memegang tahta raja selama dua kali berturut-turut. Selamat atas kemenangan Anda, King Victor.”


Grisha dan Elisha memasangkan sebuah mahkota diatas kepala Victor.


“Sekarang, Anda memiliki dua pilihan. Pilihlah salah satu dari yang kami sebutkan.” Lanjut Grisha.


“***Do you want to continue the game?”


“Or..”


“Game Over***?”


●●●

__ADS_1


__ADS_2