Rajapati

Rajapati
Carousel #2


__ADS_3

"Ada orang?" Monolog Aruna melihat sekelebat bayangan seseorang yang berdiri ditengah hujan. Rupanya orang itu membawa benda bising yang tadi didengar Aruna.


Bayangan itu semakin mendekat, seiring dengan mengerasnya suara bising itu.


Semakin mendekat...


"SURPRISE!!!!"


Aruna membelalak kaget. Seorang badut dengan face painting yang luntur tengah berjalan ke arah mereka sambil memegang gergaji listrik yang penuh darah. Aruna benar-benar terkejut setengah mati, lalu segera membangunkan teman-temannya.


"SAM! IDRIS! BAYU! BANGUN!" Teriak Aruna panik seraya mengguncangkan badan teman-temannya dengan keras. Idris berhasil terbangun, namun tidak dengan Bayu dan Samuel.


"Kenapa Ar? Kok muka lo panik banget?" Tanya Idris kebingungan.


"GRENG GRENG!!!"


Idris menatap ke arah sumber suara. Bulu kuduknya mulai merinding.


"Dris, pisau. Di tas ade gue," Perintah Aruna singkat. Idris paham dan dengan cepat mengambil senjata di tas milik Bayu yang dekat dengan posisinya berdiri saat ini. Idris melemparkan pisau itu, ditangkap dengan sigap oleh Aruna.


"Kita butuh rencana? Sepertinya itu gergaji listrik," Tanya Idris panik.


"Analisa yang bagus. Gue bakal coba ngelawan, lo bangunin aja dua bocah itu. Bayu emang bakal susah dibangunin, kebiasaan dari kecil. Kalo sempat, bantuin gue ngambil gergajinya," Jawab Aruna terburu-buru.


"PENONTON SIRKUS? SELAMAT DATANG DI AREA KAMI!!!"


Kini posisi badut itu tidak jauh dari mereka, hingga wajahnya tersinari lampu karosel. Aruna memantapkan tekadnya, lalu berlari ke arah badut itu.


"ARUNA, HATI-HATI!" Teriak Idris sangat kencang, hingga frekuensinya mampu membangunkan Samuel.


"SURPRISEKU BARU SAJA DIMULAI!!!"


"Apa yang terjadi.." Tanya Samuel dengan kesadarannya yang masih belum terkumpul. Idris melirik keadaan Aruna sekejap. Namun pandangannya terpaku.


"Gawat."


Kini ada puluhan badut yang tengah mengepung Idris dan teman-temannya dengan obor yang menyala di masing-masing genggaman badut itu. Obor itu tetap menyala, kita tidak bisa lupa kalau hujan tengah membasuh langit mereka.


"HAHAHAHAHA"


"HAHAHAHAHAHAHA"


"HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA"

__ADS_1


Badut-badut itu tertawa keras, hingga Idris menutup telinganya. Kakinya melemas, remaja itu tidak bisa berdiri. Ketakutannya tengah menguasai dan memakan dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya keras, lalu berteriak, ternyata ini bukan mimpi.


"IDRIS! JANGAN LENGAH!" Teriak Aruna yang tengah menghindari serangan dari badut bergergaji listrik itu. Idris membuka matanya, berusaha menguatkan dirinya, lalu kembali berdiri. Idris menatap aksi badut bergergaji listrik yang tengah menghunus-hunuskan gergajinya pada Aruna.


"Sam, lo ada bawa senjata?" Tanya Idris. Samuel memeriksa tasnya, lalu menyerahkan sebuah brass knuckle.


"Lo coba bangunin Bayu, gue bakal bantu Aruna," Ujar Idris lalu segera berlari menuju Aruna.


"Emangnya cukup pakai itu, Dris?" Tanya Samuel. Idris menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Samuel.


"Mari kita buktikan pertandingan internasional tiga bulan lalu," Jawab Idris sembari tersenyum lalu melanjutkan larinya. Samuel terdiam sejenak, baru kali ini dia melihat senyuman di wajah lelaki pucat itu.


"MAKAN NIH AP CHAGI!" Teriak Idris sambil menendang perut badut itu selagi dia lengah.


"BERANINYA!"


Badut itu menghunuskan gergajinya ke arah Idris. Dengan reflek yang cepat, Idris segera menghindar dari serangan itu. Diam-diam, Aruna menusuk jantung badut itu dan membiarkan pisaunya tertancap.


"AKHH!"


"Berhasil!" Sahut Idris yang berdiri dekat dengan badut itu.


Sementara, Samuel menggunakan segala cara untuk membangunkan Bayu. Akhirnya Bayu terbangun, dengan keadaan sekelilingnya yang kacau balau.


"Bay, kakak lo butuh bantuan kita! Ayo bangun!" Ajak Samuel terburu-buru lalu membantu Bayu berdiri. Netra Bayu menyusuri sekitarnya. Kumpulan badut tengah mengepung mereka dengan radius yang cukup jauh. Pikiran Bayu kalang-kabut, dia segera mencari keberadaan kakaknya. Saat ia melihat sosok badut dengan cat muka yang luntur dan gergaji listrik, barulah ia terkejut akan apa yang terjadi.


"ARUNAAAAAAA!" Teriak Bayu sembari berlari kencang menuju Aruna.


"Bay, nih pake!" Sahut Samuel melemparkan sebuah baseball bat. Bayu berbalik, menangkap pemukul itu, lalu melanjutkan larinya.


"WHY SO SERIOUS? HAHAHAHAHAHA!!"


Badut itu dengan mudah mencabut pisau yang tertancap di dada kirinya itu. Darahnya memancar dari dalam badannya itu dibiarkan begitu saja layaknya sumur yang bocor. Senyumnya yang menyeringai sukses membuat bulu roma Idris menyangkak. Kemenangannya yang lalu hanyalah ilusi, atau yang dilawannya saat ini bukanlah manusia.


"PISAU INI, PISAUKU!! KALIAN RUPANYA YANG MENCURI BENDAKU!!! KUBUAT KALIAN MERASAKAN AKIBATNYA!"


Badut itu semakin menggila. Tak henti-hentinya ia mengayunkan gergaji itu ke arah Aruna dan Idris. Mereka menghindari serangan bertubi-tubi itu dan berusaha mendaratkan serangan. Idris dengan brass knucklenya menghantam daerah belakang telinga dan ulu hati, namun semua sia-sia. Aruna juga tak segan-segan menyayat bagian leher badut itu.


"HAHAHAHAHAHA!!!"


Mereka putus asa, yang kali ini mereka lawan bukanlah "manusia". Tiba-tiba Idris dan Aruna mendengar suara pukulan yang cukup kencang. Mereka menoleh, ternyata Bayu memukul tulang belakang badut itu dengan baseball bat. Badut itu terdiam sejenak, tak terdengar juga respon candaan seperti tadi terlontar dari mulutnya. Sepertinya kali ini dia benar-benar terluka. Kesempatan itu dipergunakan Aruna untuk merenggut gergaji listrik yang dipegang badut itu.


Saat Aruna menarik gergaji listrik, benda itu rupanya tak lepas dari genggaman badut semudah yang ia bayangkan.

__ADS_1


"KALIAN.. BENAR BENAR.. MEMBUATKU MARAH!!!"


"ARUNA, AWAS!" Teriak Idris. Namun semua terlambat.


Gergaji itu dengan cepat menembus jaringan kulit pada kaki Aruna dan membelah tulangnya. Badut gila itu tetap menekan pergerakan gergajinya, hingga kaki kanan Aruna terpisah dari tubuhnya. Seketika rasa sakit menjejali Aruna. Sial, Aruna tidak bisa menahannya lagi.


"AAAAAKKHHHH!" Erang Aruna ketika melihat darah mengucur dari sumber rasa sakitnya itu. Sakitnya, sungguh bukan main.


"RUNAAAAAAA!!!" Pekik Bayu yang ingin menghampiri Aruna, namun ditahan oleh Idris.


"HAHAHAHAH! RASAKAN ITU PENCURI!" Tawa badut itu sembari menjilati pisau "miliknya" yang penuh darah sebab semburan darah Aruna. Namun ia lengah, kesempatan.


"KENA!" Teriak Samuel yang berhasil menyipratkan


cairan jeruk ke mata badut itu dan menutupnya dengan kain.


"Ayo kabur, cepet!" Ajak Samuel sembari menggendong Aruna.


"KEPUNG MEREKA!"


Kini pasukan badut yang semula hanya mengelilingi mereka merapatkan jaraknya dan mengepung tim satu.


"Bayu, kirim chat SOS ke tim lain," Perintah Aruna disertai rintihan. Namun Bayu tidak melaksanakan apa yang Aruna suruh.


"BAYU BURUAN!" Bentak Samuel. Tetap, Bayu tidak menggubris apapun yang diperintahkan mereka.


"Lo ga egois sekali aja bisa ngga?" Sarkas Idris lalu menyambar ponsel aneh miliknya dan segera mengirim pesan pada tim lain.


"Dris, lo kabur. Bawa Bayu. Gue bakal coba ngelawan lagi," Perintah Aruna lagi. Idris menoleh ke arah Aruna dan menatapnya tak percaya.


"NGGA GITU CARANYA AR!" Bentak Idris. Aruna hanya tersenyum pasrah.


"Gue bersedia jadi kuda lo, Ar," Ujar Samuel yang masih mengendong Aruna.


"GUE NGGA MAU BIARIN KALIAN MATI GITU AJA!" Bentak Idris lagi.


"Dris, lo masih punya tanggung jawab kan? Percaya aja sama kita," Balas Aruna santai. Mereka terlalu banyak berbicara, tanpa sadar kawanan badut itu sudah memangkas jarak mereka dengan tim satu.


"Bayu, mungkin lo ngga nerima gue sebagai kembaran lo. Tapi, lo bakal tetep jadi setengah dari gue," Sambung Aruna. Bayu tidak menanggapi ucapan kakaknya, pandangan matanya sangat kosong. Aruna mengangguk, seakan memberi kode kepada Idris untuk pergi. Idris menggendong Bayu dan segera mengambil tas miliknya dan Bayu yang sebelumnya sudah dirapihkan oleh Samuel sebelum membantu mereka.


"GUE BAKAL MARAH BANGET KALO KALIAN SAMPE KALAH!" Teriak Idris sebelum ia berlari, meloncati bahu salah satu badut itu dan segera menuju hutan.


"Aruna? Kalah? Cuih."

__ADS_1


__ADS_2