
"SASHENKA SAYANG, NGAPAIN DISINI?! DAN KAMU, KAMU SIAPA MELUK-MELUK ANAK SAYA?!"
Wanita itu menatap Emma dengan tatapan yang seakan membara. Rambutnya yang se-pinggang terurai berantakan, gaun pengantin yang dikenakannya terlihat sangat kotor dan lusuh, liontin berwarna putih juga terlihat kotor, kulitnya hitam legam, juga tak lupa kuku merahnya yang sangat panjang dan tajam. Dia mengacungkan kukunya hingga mengangkat dagu Emma dan memandanginya tajam.
"Mama, kakak ini baik!" Sahut Sashenka membela Emma yang dagunya tengah tertusuk kuku ibundanya. Wanita itu menatap anak perempuannya sekilas, lalu memisahkan kukunya dari Emma. Wanita itu mengecek keadaan Sashenka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun ia sangat marah saat melihat bekas-bekas merah di sekeliling mulut Sashenka. Emma kurang beruntung, rupanya remaja perempuan itu menyekap Sashenka terlalu erat.
“TAPI ITU MEMBEKAS, SASHENKA!”
“Ngga sakit kok ma,” Sanggah Sashenka yang berusaha membuktikan kepada ibundanya dengan menekan-tekan bagian sekitar bibirnya.
“KAMU KENAPA NGGA PERNAH NURUT SAMA MAMA?! SELALU SAJA MEMBANGKANG!!”
“MAMA YANG NGGA PERNAH NGERTIIN SASHENKA!”
Seketika ibu dan anak itu terdiam. Tak lama, wanita itu mendelikkan matanya ke arah anaknya.
“Apa kamu bilang...”
SKRRATCH!!
Wanita itu dengan kejamnya mengoyak wajah gadis kecil dibelakangnya menggunakan kuku tajamnya. Gadis itu terdiam syok. Perlahan, jemarinya mulai menyentuh permukaan wajahnya. Betapa terkejutnya anak itu melihat cairan merah gelap yang ada di tangannya setelah ia menyentuh wajahnya. Tidak percaya, Sashenka meraba wajahnya kasar. Yang dilihatnya tetap saja darah, darah, dan darah.
“AAAAAAKKHH!!”
Gadis itu berteriak kencang dan menangis layaknya anak kecil pada umumnya. Namun tidak nampak rasa iba sedikitpun pada lirikan ibundanya yang tengah menonton kepanikan anaknya.
Sementara...
“Gue kira anak kecil itu bohong, ternyata serem juga ya ibunya,” Ucap Jean. Dua kawannya itu mengangguk setuju.
Jean, Victor, Erwin, dan Bianca mengamankan posisi mereka saat perhatian wanita itu teralihkan pada Emma dan Sashenka. Mereka bersembunyi di balik semak-semak yang tidak jauh dari posisi Emma yang saat ini yang bisa dibilang memprihatinkan. Mereka mengawasi Emma di tempat yang tepat, karena semak-semak itu merupakan titik buta dimana wanita itu takkan menyadari keberadaan mereka.
“Kalian bukannya mikirin Emma, malah ngomongin mamanya Sashenka!” Tegur Bianca.
“Maaf, maaf. Lagian kita cuma nunggu kesempatan buat nyerang ‘kan? Kalo salah sedikit aja, bisa-bisa malah kita juga ikut kena tebas,” Ujar Jean realistis. Sesuai yang diharapkan, wanita itu tidak menyadari keberadaan mereka di balik semak-semak itu.
“Lah, mereka lagi debat gitu. Bukannya sekarang kesempatannya?” Tanya Bianca lagi. Victor menggeleng.
“Kalau sekarang, bisa-bisa kita kena tebas karena mencampuri urusan mereka. Kita semua bakal ketahuan, lo mau kita semua meninggal?” Tanya Victor. Bianca yang mendengarnya hanya menggeleng.
__ADS_1
Kembali lagi ke posisi Emma saat ini.
Sashenka dan ibundanya asyik berdebat. Sashenka memperebutkan kebebasannya, sedangkan wanita gila itu membela keegoisannya atas anaknya.
“ITU AKIBATNYA KALAU KAMU NGGA PATUH SAMA MAMA! SASHA SELALU KABUR DARI MAMA! KENAPA SIH?! MAMA CAPEK!”
“SASHENKA UDAH BILANG KAN?! MAMA EGOIS! MAMA NGGA PERNAH HARGAIN PERASAAN SASHENKA!” Teriak gadis itu menyampaikan rasa muaknya kepada ibunya.
“DIAAAM!”
SKRRATCH!!
Wanita gila itu mengguratkan kukunya lagi. Darah yang mengalir dari wajah perempuan kecil itu mengalir semakin deras. Perih amat dirasakan Sashenka saat itu juga. Amarah mulai menyulut gadis kecil itu. Ia menggenggam erat tangan ibundanya itu.
“Ma, berhenti. Tolong berhenti..” Ucapnya masih menggenggam tangan wanita itu erat.
“LEPASIN! KAMU JANGAN ATUR MAMA!!”
“SASHA BILANG BERHENTI!!!!” Seru gadis itu meremas tangan ibundanya dengan segenap kemarahan yang dimilikinya. Sashenka memandang Emma yang ketakutan. Matanya mengisyaratkan Emma untuk segera pergi. Emma mengangguk lalu segera berlari. Melihat semua yang terjadi, wanita itu mencakar lengan Sashenka hingga gadis itu melepaskan tangannya. Sashenka mengerang kesakitan dan kekuatannya melemah. Tangan wanita gila itu akhirnya dilepaskannya. Wanita itu segera mencegat Emma yang hendak pergi.
“MAU KEMANA KAMU?!!!!”
Wanita itu berjalan pelan mengikuti Emma. Namun hanya dalam sekejap mata, wanita itu sudah berdiri di depan Emma. Jantung Emma berdetak sangat cepat, ia sangat takut tentang apa yang akan dilakukan wanita gila itu.
Wanita itu menjengking sambil menyekap mulut Emma dengan tangannya. Ia melakukannya dengan sangat erat, bahkan lebih erat dari yang Emma lakukan kepada Sashenka. Gadis kecil itu ingin membantu, tetapi ia kini terkulai lemah dengan luka robek yang menganga akibat ibundanya itu.
Sekapan itu sangat erat, bahkan Emma tidak sanggup bernapas saat ini. Disaat Emma hampir pingsan karena kurangnya oksigen, wanita itu melepaskannya. Emma terengah-engah, ia menarik napas sebanyak yang ia bisa dan menghembuskannya.
“ITU BARU PERMULAAN!! SEKARANGLAH ACARA UTAMANYA!!”
Wanita itu kembali menjerit. Ia mendekatkan jaraknya ke Emma. Remaja perempuan itu ketakutan, dia melangkahkan kakinya mundur, mundur, dan mundur. Emma berusaha menjaga jarak dengan wanita gila itu. Namun sialnya, Emma terpojok. Dia sudah tidak bisa mundur lagi.
“SUDAH PUAS MUNDURNYA? HAHAHAHAHAHAHAH!!!!!”
“JANGAN MAAA!!”
“SEKARANG, ER!”
Erwin meloncat dari balik semak-semak, dibantu Jean dan Victor sebagai pijakan agar lelaki itu bisa melompat lebih tinggi. Ia mengarahkan mata pisau karambitnya ke kepala bagian belakang dan menyayatnya ke arah bawah hingga leher. Rencana Erwin berhasil, hingga liontin wanita itu terputus.
__ADS_1
“KURANG AJAR!!!”
Wanita itu berteriak dan mengerang kesakitan. Erwin memanfaatkan momentum itu, ia menyelamatkan Emma secepat yang ia bisa. Wanita itu mematung, Erwin dan Emma yang berdiri dibelakangnya menatapnya kebingungan. Seketika Sashenka menyadari sesuatu.
“AWAS, DIA MARAH! LARI!”
Terlambat, kepala wanita itu berputar seratus delapan puluh derajat seperti burung hantu dan kini menatap mereka dengan tatapan marah. Ia menapakkan langkahnya dengan cepat menuju Erwin dan Emma.
“MAJULAH!!!”
Erwin dan Emma berpencar, dengan tujuan membuat bingung wanita itu. Namun perhatian wanita itu tidak terfokus sepenuhnya kepada Erwin, melainkan ia mengejar Emma. Lagi-lagi, Emma terpojok.
“PERSETAN DENGAN LAKI-LAKI SOK HEROIK ITU!! AKU AKAN MENUNTASKANMU TERLEBIH DAHULU!!”
SKRATCH! SKRATCH! SKRATCH!
Wanita gila itu dengan cepat mengoyak wajah Emma, hingga kawan-kawannya tidak bisa lagi melihat gerakannya. Guratan-guratan itu menghujani wajah Emma disertai dengan darah yang mulai memencar dan melumuri wajahnya. Emma berteriak kencang, wanita itu nampak puas.
“BERISIK! KUROBEK SAJA MULUTMU!!”
Dengan entengnya, wanita itu menekan pipi kanan Emma dan mendorongnya sekuat tenaga ke arah kiri. Darah Emma kini menghiasi gaun pengantin yang dikenakannya. Dan sebagai serangan penutup, wanita itu menusuk jantung Emma hanya dengan kukunya saja. Darah keluar dari mulut Emma. Dengan begitu, kesadaran Emma hilang.
“HENTIKAN!!” Teriak Erwin sembari berusaha menyerang wanita itu. Namun Erwin tidak cukup cepat untuk melawan wanita itu. Dengan kecepatan yang sama saat ia menyerang Emma tadi, wanita itu mengoyak wajah Erwin.
“Sebelum aku menyerangmu lebih keras lagi, PERGILAH!!!”
Wanita itu menghiraukan Erwin dan berjalan menuju Sashenka yang masih terkulai lemas. Ia menyeret Sashenka menuju sebuah lumbung merah. Sashenka tidak punya energi yang cukup untuk kembali melawan, ia hanya bisa melibat Lubov yang semakin menjauh darinya.
“Lubov...”
“TIDAK APA! NANTI MAMA BUATIN BONEKA MATRYOSHKA YANG LEBIH BAGUS DARI LUBOV!!”
GLEDAG!
Pintu lumbung itu tertutup. Jean, Victor, dan Bianca segera menghampiri kedua temannya yang terluka.
“JE, PERIKSA EMMA! GUE NGOBATIN ERWIN DULU!” Perintah Bianca panik lalu mengeluarkan obat merah dan perban. Bianca mulai mengobati Erwin, luka yang diguratkan wanita itu rupanya cukup dalam. Setelah selesai membalutkan perban, Bianca beralih pada Emma.
Badannya sudah sangat pucat karena kehabisan darah. Denyut nadinya pun tidak terdeteksi. Bianca menangis di depan jasad Emma sembari membelai rambut Emma yang halus. Serentak ponsel mereka berdenting.
__ADS_1
“Telah ditemukan sebuah mayat berlokasi di peternakan. Emma Winslow tewas dengan banyaknya robekan di wajahnya dan tusukan di jantungnya. Dengan ini, peserta berkurang sebanyak satu orang, tersisa sembilan orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat pagi dan selamat berjuang.”
●●●