Rajapati

Rajapati
Matryoshka


__ADS_3

Genap sepuluh hari sudah mereka jalani di pulau terpencil ini. Sudah setengah jalan, dan sudah enam peserta gugur seiring berjalannya waktu. Seluruh tim kini berkumpul kembali di hotel tua tempat mereka berkumpul sebelumnya. Mereka rasa, semakin mereka menjalani permainan ini, eksekusinya semakin diluar akal sehat. Mereka sepakat untuk mengamankan diri sejenak, dan disinilah mereka sekarang.


Lily tengah memeriksa luka robekan di wajah Erwin. Sepertinya tidak terjadi infeksi, Bianca menutup lukanya dengan baik. Lily mengambil wadah berisi air lalu membersihkan luka itu. Setelah itu ia beranjak dari duduknya lalu pergi ke minimarket.


“Gue ambil benang dulu, lo jangan banyak gerak,” Pesan Lily, Erwin mengangguk.


Sesampainya Lily di minimarket, ia tidak menemukan adanya medical heating set. Bahkan benang catgutnya saja tidak ada. Lily terus mencari namun hasilnya nihil, tetap tidak ada. Lily melihat bayangan orang yang datang, dia segera menyiapkan diri untuk menyerang. Jantungnya berdegup kencang.


“Ah, Lily Serenia bukan? Hai!” Sapa Grisha yang tengah mengangkat sebuah kardus yang terlihat berat. Tunggu, Lily terlihat sangat bingung tentang apa yang sedang terjadi.


“Lily, kamu baik-baik saja?” Tanya Grisha lagi. Lily mengangguk kecil.


“Aku hanya bingung. Grisha, sedang apa kau disini? Sendirian saja? Dimana Elisha?” Lily menghujaninya dengan banyak pertanyaan yang muncul begitu saja di pikirannya.


“Tenanglah Lily, aku sedang mengisi ulang kebutuhan kalian. Kulihat barang-barang minimarket ini selalu berkurang jumlahnya, jadi kupikir kalian selalu mengambilnya disini. Lagipula memang tugas kami untuk menyediakan apapun yang kalian butuhkan.”


“Aku tidak sendirian, Elisha sepertinya sedang mengecek barang-barang. Mungkin sebentar lagi akan kemari,” Jelas Grisha. Tak lama, Elisha datang menghampirinya.


“Sudah semua, tinggal dipindahkan ke rak saja. Oh, hai Lily! Bagaimana kabar teman-temanmu?” Tanya Elisha. Nada bicara gadis kembar itu sungguh berbeda dengan pertemuan pertama mereka.


“Yah, seperti yang kalian tahu. Tidak terlalu baik,” Jawab Lily sembari menunduk.


“Ah iya! Grisha, ada heating kit ngga? Atau benang catgut, ada ngga?” Tanya Lily. Grisha berpikir sejenak, lalu menjentikkan jarinya.


“Ada, barusan aku taruh di rak medis,” Jawab Grisha.


“Oke, makasih ya kalian!” Tutur Lily. Mereka mengangguk riang, lalu melanjutkan pekerjaan mereka yaitu meletakkan barang-barang di raknya. Lily bergegas menuju rak medis dan mengambil segala keperluannya, lalu kembali ke hotel sesegera mungkin.


“Erwin, gue balik!” Teriak Lily menghampiri tempat Erwin duduk.


“Lama banget sih lo,” Protes lelaki itu setelah menghela napasnya.


“Maaf, susah nyarinya disini. Ayo mulai,” Ajak Lily. Erwin mengangguk siap sedangkan Lily mempersiapkan peralatannya. Setelah siap, Erwin merebahkan dirinya agar Lily bisa menjahit lukanya.


“Tahan sedikit ya.”


Tiga puluh menit berlalu, raut wajah Lily yang tadinya serius akhirnya tersenyum. Ia menyeka keringat di dahinya dan menghela napasnya.


“Selesai! Maaf kalo sakit,” Tutur Lily. Erwin berdiri perlahan lalu berjalan menuju cermin untuk melihat jaritan di wajahnya. Lily menjahitnya dengan sangat rapi, tidak salah lagi jika ia adalah asisten yang sangat tepat untuk dokter kelas atas seperti ayahnya.


“Thanks, Ly. Lo gaada niatan jadi dokter?” Tanya Erwin. Lily mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ada sih,” Jawabnya.


“Lo cocok banget jadi dokter. Semangat ya Ly,” Tutur Erwin. Lily mengangguk riang, lalu melambaikan tangannya kepada Erwin sebelum akhirnya Erwin pergi dari kamarnya.


Erwin kembali ke kamar miliknya. Tidak ada Jean maupun Idris disana. Kesempatan bagi Erwin untuk menyerahkan benda yang diminta oleh gadis kamar mandi itu. Erwin mencari keberadaan benda itu dalam tasnya.


“Ah ini dia,” Monolog Erwin lalu mengambil benda itu lalu melangkah menuju pintu kamar mandi.


TOK TOK TOK!


Erwin mengetuk pintu kamar mandi itu sebanyak tiga kali, seperti yang diinstruksikan oleh gadis itu.


“Masuk saja,” Jawab gadis itu. Erwin menelan ludahnya paksa lalu memutar gagang pintu dan segera masuk ke kamar mandi itu. Dilihatnya sosok wanita yang mengagetinya lima hari yang lalu. Namun penampilan gadis itu sungguh berbeda, ia nampak seperti gadis biasa. Iya gadis biasa, gadis yang mengenakan baju putih panjang dengan kulit cerah, rambut yang rapi, dan iris mata berwarna cokelat. Mengingatkannya akan gadis kecil di peternakan, Sashenka.


“Kenapa memandangiku seperti itu?” Tanyanya lagi. Erwin hanya menggeleng.


“Kau hanya terlihat... berbeda,” Jawabnya. Gadis itu terkekeh kecil.


“Maksudmu, wujud yang seperti, INI?” Tuturnya lalu mengubah penampilannya persis seperti lima hari yang lalu hanya dalam sekejap mata.


“Kumohon hentikan, itu menyeramkan,” Pinta Erwin. Gadis itu kembali terkekeh dan mengubah kembali penampilannya.


“Kau membawa apa yang kumau?” Tanyanya. Erwin mengangguk.


“Ah, aku lupa berkenalan. Natascha, senang berjumpa denganmu,” Balas gadis itu lalu mulai melihat kondisi barang yang dibawa Erwin.


“Oh, kau benar-benar senang?” Sindir Erwin, wanita itu hanya tertawa kecil.


“Boneka ini karya terbaikku, aku benar-benar merindukannya,” Ucap Natascha lalu memeluk boneka matryoshka yang dibawa Erwin. Iya, boneka yang sebelumnya dimiliki Sashenka.


“Benarkah? Kukira ibunya yang membuatkannya untuk Sashenka,” Sarkas Erwin lagi. Natascha menaikkan alisnya lalu menghela napasnya.


“Orang itu, sampai kapan ia mau membodohi anaknya..”


“Tunggu, apa yang telah terjadi?” Tanya Erwin kebingungan.


“Ibunya Sashenka, dia adalah saudara kembarku. Namanya Natalia, tentu saja namanya mirip denganku. Kau bertemu dengannya bukan?” Tanya Natascha memastikan. Erwin mengangguk. Lalu Natascha melanjutkan ceritanya.


“Aku dulunya adalah seorang pembuat boneka matryoshka. Sedangkan Natalia, dia mengelola peternakan itu bersama anaknya, Sashenka. Kami tinggal bersama di peternakan itu. Terkadang Sashenka menghampiriku ketika Natalia mendidiknya terlalu keras. Saat itu, di kulit Sashenka sudah pasti terdapat lebam-lebam dari ibunya,” Jelas Natascha.


“Dia memang sekeras itu pada Sashenka?” Tanya Erwin. Natascha mengangguk.

__ADS_1


“Kenapa? Dia menunjukkannya di hadapan kalian semua?” Tanya balik Natascha. Erwin mengangguk.


“Lalu, kulihat kulitmu dan kembaranmu sama-sama seperti terbakar. Apakah itu insiden yang sama? Maaf jika aku salah,” Tanya Erwin ragu-ragu.


“Tidak, kau tidak salah. Seluruh peternakan terbakar, termasuk aku dan Natalia.”


“Sashenka?”


“Dia dibunuh ayahnya.”


Ucapan Natascha berhasil membuat Erwin terpaku ketika mendengarnya.


“Ehm, tentang boneka itu, Natalia benar-benar menipu Sashenka?” Tanya lelaki itu. Natascha mengangguk.


“Bertepatan dengan ulang tahun Sashenka, aku juga mengerjakan boneka matryoshka yang kubuat untuk pelangganku. Namun, saat aku selesai mandi, boneka itu sudah tidak ada. Aku tidak ada waktu untuk mencarinya, jadi aku segera membuat yang baru untuk pelangganku. Saat pesta ulang tahun, aku menghadiahkannya boneka yang berbeda. Namun aku melihat Natalia memberikan anaknya sebuah boneka yang sangat mirip atau bahkan sama dengan bonekaku yang hilang. Sashenka sangat senang dengan boneka itu, dan membuang boneka yang kuberikan. Bahkan dia mengatakan bahwa ibunyalah pembuat boneka matryoshka terindah yang pernah ada.”


“Kau tidak marah pada mereka berdua?”


“Tidak. Aku bersyukur hubungan mereka membaik karena boneka itu. Namun hubungan itu pasti memburuk lagi, sampai-sampai boneka ini bisa ada ditanganku,” Jawab Natascha sembari memandangi boneka yang tengah ditimangnya.


“Baiklah, satu lagi yang ingin kuberikan. Tolong kau jaga baik-baik,” Ucap Erwin lalu menyerahkan sebuah liontin. Natascha menerimanya lalu membuka liontin itu. Wanita itu tersenyum saat melihat foto dirinya, saudarinya, dan Sashenka yang terpampang saat ia membukanya.


“Terima kasih,” Ucapnya. Erwin mengangguk sembari tersenyum, lalu melangkah menuju pintu.


“Tunggu, satu lagi informasi yang penting.”


“Di pulau ini, kau takkan bisa membedakan mana yang sudah meninggal atau belum.”


“Maksudmu?” Tanya Erwin lalu berbalik ke arah Natascha.


“Apakah kau tidak menyadarinya? Mengapa kau bisa melihat kami secara langsung? Kamu bisa melihat kami secara langsung, masih hidup atau sudah meninggal, asalkan pertemuannya alami, kami pasti akan nampak jelas di mata kalian sebagai orang hidup.”


“Bahkan, kau pasti mengira Sashenka adalah gadis kecil yang masih hidup kan?”


Erwin terdiam sejenak, Natascha ada benarnya.


“Tetapi, mengapa saat kami bermain permainan papan itu kami tidak bisa melihatmu?” Tanya Erwin lagi.


“Itulah yang kumaksud pertemuan alami. Kalian memanggilku menggunakan perantara, itulah sebabnya.”


“Jadi, jika kalian melihat seseorang selain kalian,

__ADS_1


Segeralah berlari.”


●●●


__ADS_2