Rajapati

Rajapati
Terekspos


__ADS_3

“Haruskah kita melakukan ekspedisi lagi?” Tanya Victor kepada Jean yang asik menyesap sekotak jus buah.


“Gue juga bingung, Vic.”


“Saran gue jangan dulu. Kondisi kita lagi bahaya banget. Kita ngga tau orang ke-empat belas itu kayak gimana. Ditambah lagi, sekarang jumlah kita udah engga sebanyak dulu,” Saran Misaki.


“Tapi kalau kita ngga bergerak, kita ngga akan dapet informasi apapun,” Sangkal Jean. Mereka sedang berada di kondisi yang sangat tidak diuntungkan.


“Kita bentuk tim tiga orang aja. Rasanya aman,” Saran Erwin. Jean mengangguk setuju, lalu menatap teman-temannya yang lain seakan meminta pendapat. Mereka juga setuju, kecuali Victor yang belum ikut serta mengangguk. Semua pandangan kini tertuju kepada Victor.


“Kenapa lo pada mandangin gue kayak gitu?” Tanyanya garang.


Mereka masih menatap Victor intens, sampai Victor menyetujui rencana itu.


“Baiklah, baiklah. Gue ikut,” Ucap Victor. Teman-temannya tersenyum puas.


“Oke, langsung aja ya. Gue, Erwin, Misaki, satu tim. Victor, Idris, Lily, satu tim. Ada yang mau protes?” Tutur Jean memberitahukan pembagian tim mereka. Lima orang lainnya mengangguk sepakat, lalu segera mengemasi barang-barang mereka dan bersiap untuk kembali berkelana.


“Ah iya sebelum itu, gue ada saran. Sebaiknya kita diskusi dulu mau kemana. Menurut gue kita ngga boleh jauh-jauh, biar kalo mau nolong jadi cepet,” Saran Misaki.


“Oke, nanti kita diskusi setelah di luar hotel. Sekarang pikir-pikir dulu sama team kalian.”


Dengan begitu, mereka segera mempersiapkan diri mereka masing-masing, termasuk Erwin yang sedang memasukkan barang-barang ke tas ranselnya. Setelah selesai, tak lupa ia berpamitan dengan wanita yang telah banyak membantunya.


TOK TOK TOK!


“Erwin, itu kamu? Masuklah.”


Erwin memutar gagang pintu lalu memasuki kamar mandi tempat gadis itu berada.


“Ada apa? Tumben sekali berkunjung, bukannya urusan kita sudah selesai?” Tanya Natascha dengan tatapan penuh heran. Netra Erwin tertuju kepada liontin yang Erwin berikan padanya.


“Kamu benar-benar mengenakan liontin itu yah,” Ujar Erwin basa-basi. Natascha menatap liontin itu lalu tersenyum.


“Habisnya aku merindukan mereka. Bagaimana dengan lukamu? Sudah membaik?” Tanya Natascha menunjuk luka jahitan di wajahnya. Erwin mengangguk.


“Eh, jangan mengalihkan pembicaraan! Apa maumu?!” Teriaknya galak. Erwin malah tertawa kecil melihat reaksinya.


“Kenapa tertawa?!” Tanyanya lagi dengan nada yang melengking.


“Maaf, maaf. Jadi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”


Natascha lagi-lagi menatap Erwin dengan penuh heran.


“Aku akan melanjutkan ekspedisi. Aku tidak tahu aku masih bisa bertahan atau tidak, jadi sebelum aku tidak sempat mengatakannya, aku ingin mengatakannya. Tanpa informasi yang kamu berikan, mungkin aku akan menjadi orang yang sangat ceroboh. Terima kasih, Natascha.”


Seketika air mata membasahi wajah Natascha. Wanita itu menangis, namun tangisannya sangat hening.


“Maaf, apakah aku melakukan hal yang salah?” Tanya Erwin panik. Natascha tersenyum dan menggeleng.


“Tidak, aku hanya mengingat saat kau ketakutan melihat wajahku. Dan sekarang, kamu sudah ingin pergi saja. Erwin, kamu adalah manusia pertama yang pernah kuajak bicara seperti ini dan waktu lalu, berbicara tanpa melibatkan sosok menyeramkanku. Kamu juga sudah mengembalikan bonekaku juga liontin ini. Terima kasih kembali, Erwin,” Jawab Natascha lalu menyunggingkan senyum.


“Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu.”


“Ingatlah semua yang pernah kukatakan padamu. Jika kamu masih selamat, kembalilah kemari. Aku sungguh berharap kau berhasil. Semoga beruntung, Erwin,” Balas Natascha. Erwin melakukan gerakan khasnya, tersenyum riang lalu mengacungkan jempolnya. Akhirnya Erwin meninggalkan Natascha dan segera bertemu dengan teman-temannya.

__ADS_1


“Erwin! Menurut lo, kita harus kemana? Gue sama Misaki sepakat mau ke sekitaran pemukiman warga,” Ucap Jean menuturkan pendapatnya.


“Gue ngikut aja sih, tapi kenapa ke pemukiman?” Tanya Erwin, walaupun dia tahu rencana ini cukup matang oleh karena logika yang dimiliki Misaki. Terlebih lagi semua yang dikatakan Misaki kepada Erwin terjadi begitu saja.


“Logikanya, orang ke-empat belas itu gaakan bisa bertahan hidup tanpa asupan dari Grisha dan Elisha, tepatnya minimarket. Jadi, dia ngga mungkin jauh-jauh dari sana,” Jawab Misaki. Sudah Erwin duga, rencana mereka memang matang.


“Oke, gue ikut kalian.”


●●●


“Oke, kalian rencana pergi kemana?” Tanya Victor menunjuk tim Jean.


Mereka sudah selesai mengemas barang bawaan. Kini mereka sedang berkumpul di depan hotel.


“Pemukiman warga. Kalian?” Tanya Jean balik.


“Maunya ke hutan. Tapi tujuan kita beda jauh ternyata,” Jawab Lily kecewa. Jean mencoba mencari titik terang dari keinginan kedua tim.


“Gimana kalau kita ke pemukiman warga bagian selatan? Disana pemukiman paling deket ke hutan dibandingkan pemukiman bagian lainnya. Tim dua juga harus selidiki hutan bagian selatan sebagai gantinya. Gimana, setuju?” Usul Jean. Mereka mengangguk setuju.


“Oke, ayo berangkat!” Sorak Victor. Dengan itu, mereka memulai perjalanan mereka kembali. Erwin terdiam sembari melirik jendela kamarnya. Gadis itu seperti biasa mengawasi Erwin dari balik kaca jendela itu. Erwin melambaikan tangannya sambil tersenyum. Natascha yang melihatnya membalas dengan lambaian tangan dan senyum yang sangat menyerupai Sashenka. Setelah balasan itu, Erwin segera menyusul teman-temannya yang sudah berjalan terlebih dahulu.


“Semoga berhasil, Erwin.”


Tidak lupa mereka mempersiapkan kebutuhan mereka sebelum memulai perjalanan. Kini kedua tim sedang berada di minimarket untuk memasok barang-barang yang sekiranya mereka butuhkan. Setelah itu mereka segera menuju pemukiman bagian selatan dan hutan bagian selatan.


“Oke kita pisah disini. Kalo ada apa-apa, langsung samperin aja ya. Lebih baik keroyokan, jumlah kita udah ngga sebanyak dulu,” Ucap Jean. Mereka mengangguk paham lalu segera berpencar dengan tim masing-masing.


Tim Jean segera menuju pemukiman dan mulai menggeledah rumah-rumah itu. Mereka berpencar agar pemeriksaan selesai dengan cepat dan mereka bisa berkumpul kembali sesegera mungkin.


“Misaki, Jean! Sini!” Panggilnya. Kawan-kawannya dengan cepat menghampiri Erwin. Lelaki itu menunjuk segelas kopi yang asapnya masih mengepul diatasnya, pertanda kopi itu masih hangat.


“Sheila Zoë, dia ada disini ya?” Tanya Jean yang langsung menyimpulkan. Misaki terdiam, lalu mengeksplor lantai ini lebih lanjut.


“Zoë itu benar-benar pintar? Cih, gue ga percaya,” Tanya Misaki ketus. Erwin menaikkan sebelah alisnya.


“Lo liat aja sendiri,” Sambung gadis itu seraya menunjuk sebuah tulisan yang diguratkan dengan benda tajam. Disana tertulis, “Zoë is here.”


“Jackpot. Kita udah ketemu sarangnya dimana. Sekarang, kita mau nyerang hari ini atau kapan-kapan? Atau, biar dia yang nyerang aja?” Tanya Jean.


“Ngga, jangan gegabah. Inget aja rupa rumah ini. Kapan-kapan kita grebek lagi,” Jawab Misaki.


Misaki membuka roomchatnya dengan Lily, lalu segera mengetik pesan.


“Markasnya Zoë udah ketemu Ly. Suruh team lo balik. Biar ngga kenapa-napa.”


“Je, gue udah chat Lily. Ayo kita keluar, sebelum Zoë sadar.”


Sementara di team milik Victor..


“Vic, gue barusan dichat Misaki,” Celetuk Lily.


“Apa katanya?” Tanya Idris antusias.


“Markasnya Sheila Zoë udah ketemu.”

__ADS_1


“Oh oke, mumpung masih sore kita istirahat aja dulu. Kalian capek ‘kan?” Tanya Victor. Mereka mengangguk sepakat.


“Iya kalian istirahat aja dulu. Gue mau kesana bentar,” Lanjutnya seraya menunjuk sesuatu.


“Iya. Gue jaga Lily disini,” Balas Idris. Victor mengangguk lalu mengacungkan jempolnya dan segera menuju tempat yang ditunjuknya.


“Lily, apa lagi yang dibilang Misaki?” Tanya Idris penasaran. Lily menghela napasnya kasar.


“Dia bilang, kita harus secepatnya ngumpul lagi. Katanya sih biar ngga kenapa-kenapa,” Jawab Lily.


“Menurut lo, Zoë itu kira-kira kayak gimana orangnya?” Tanya Idris sembari memandangi gemawan yang bergerak diatasnya.


“Entah, gatau juga. Mungkin kacamataan, rambutnya dikepang, dan feminim? Gue juga ngga tau sih,” Jawab Lily.


“Ckckck, SALAH!”


Seseorang berteriak di belakang mereka. Idris terkejut dan reflek mendekatkan Lily dengannya. Idris tidak mau lagi kehilangan temannya.


“Lily, lo gaapa?” Tanya Idris khawatir, lantaran perempuan itu sempat menyentuhnya.


UHUK UHUK!


Lily terbatuk, tetesan-tetesan darah keluar dari mulutnya.


“HATI-HATI, ADA SESUATU DI JANTUNGNYA!”


Idris baru menyadarinya, rupanya ia sempat menusukkan pisau di dada sebelah kiri Lily. Idris hendak mencabutnya, namun Lily menepis tangannya.


“Idris, kabur. Lo inget rupanya, kabarin Misaki dan teamnya tentang ciri-cirinya.”


“GUE UDAH DUA KALI LARI DARI TANGGUNG JAWAB LY! GUE GAMAU LARI LAGI!” Teriak Idris panik. Perempuan gila itu tertawa kecil melihat perdebatan Lily dan Idris.


“Gue mohon, Dris. Kalo lo ngga kasih tau mereka, kita ngga bakal berhasil,” Balas Lily lemah.


“NGGA, PASTI ADA CARA LAIN!” Teriak Idris. Lelaki itu menggendong Lily yang sedang sekarat dan segera lari dari perempuan yang diduga Sheila Zoë itu.


SHRAK!


“AKH!” Erang Idris. Rupanya gadis itu melemparkan pisau ke arahnya dan berhasil menancap di tangan kiri Idris.


“Idris, udahlah. Cepet turunin gue,” Pinta Lily lemah. Idris menggeleng sembari tetap berlari. Dengan paksa, Lily melepaskan dirinya dari Idris lalu tergelinding begitu saja.


“LILY!!”


“Lari, Idris.”


●●●


“Telah ditemukan sebuah mayat berlokasi di hutan selatan. Lily Serenia tewas, setelah tertusuk senjata tajam di dada kirinya dan menembus jantungnya. Dengan ini peserta berkurang sebanyak satu orang, tersisa enam orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat sore dan selamat berjuang.”


“Lily, maafin gue.”


●●●


“Kita kehabisan waktu. Mau ngga mau, kita harus ngebantai yang lain.”

__ADS_1


“Oke. Gue ngikut aja.


__ADS_2