
Erwin sangat terkejut saat ia mengetahui fakta yang mengerikan sekaligus sangat membantu itu. Ia lagi dan lagi meninjau informasi yang diberikan Natascha, namun pernyataan itu sangatlah benar. Erwin memutuskan untuk berdiskusi dengan teman-temannya setelah makan malam.
Namun hari masih menjelang sore, Erwin hendak menghampiri Idris dan Jean yang tengah bermain lempar cakram. Erwin segera menyamperi kedua temannya itu.
“Hai Er, lo darimana aja?” Tanya Idris lalu menangkap cakram yang dilempar oleh Jean.
“Jahit luka, kalian berdua aja mainnya?” Tanya Erwin kembali. Jean menggeleng.
“Tadi ada Bayu, sekarang dia lagi ngambil minuman dingin di minimarket,” Jawab Jean. Erwin mengiyakan lalu bermain lempar cakram bersama teman-temannya.
“Maaf lama!”
Bayu berlari sembari membawa beberapa jenis minuman yang berbeda-beda di tangannya. Lelaki itu terhenti dengan napas yang tersengal-sengal, lalu menyerahkan pesanan teman-temannya. Jus buah untuk Jean, susu dengan perisa stroberi untuk Idris, dan minuman dengan elektrolit untuk dirinya sendiri.
“Hai Erwin, maaf gue ngga ngambilin minuman buat lo,” Tutur Bayu.
“Gaapa, gue juga baru kesini kok.”
Setelah menghabiskan minuman mereka masing-masing, empat remaja laki-laki itu melanjutkan permainan mereka hingga matahari bersinar dengan semburat jingga di ufuk barat. Mereka beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya sore hari.
“Jean! Erwin! Idris! Bayu! Lo pada ga makan malem? Malem ini Lily masak loh!” Teriak Misaki. Mereka beranjak dari halaman depan hotel dan segera masuk lalu membersihkan diri. Setelah itu, mereka semua berkumpul di meja makan dan menikmati makan malam mereka.
“Hari ini kita diskusi boleh ngga?” Usul Erwin.
“Boleh kok, kebetulan gue ada informasi baru,” Jawab Bayu, disusul dengan anggukan siswa yang lain.
Sepakat sudah, mereka akan berdiskusi setelah makan malam.
●●●
“Oke kita mulai aja. Yang punya informasi, silahkan mempresentasikan informasi yang sudah didapat.”
Bayu mengacungkan tangannya lalu menunjukkan sebuah buku.
“Gue dan Misaki pergi memeriksa ruang-ruang kelas waktu itu. Awalnya gue engga ketemu informasi apapun. Namun setelah Misaki maksa gue masuk ke kelas yang tanpa papan nama kelasnya, gue nemuin ini.”
__ADS_1
“Bisa kalian lihat sendiri, ini adalah sebuah buku tahunan. Tertulis disini dari sebuah Sekolah Menengah Pertama di pulau yang bernama Pulau Cleisthenes. Sepertinya itu adalah nama pulau ini.”
“Kami bisa menyimpulkan bahwa sebelum kita disini, di pulau ini sudah terdapat kehidupan.” Ucap Bayu menjelaskan.
“Tidak hanya itu, kami juga menemukan sebuah nama, yaitu Hana Sakihara. Dia adalah gadis yang berbakat dalam melukis, namun kecerdasan akademiknya yang tidak kalah hebatnya. Dia tewas dikarenakan sebuah kecelakaan elevator. Kemudian, mereka menganggap Hana sebagai seseorang yang menghantui elevator sekolah.”
“Kami menduga Hana Sakihara-lah pembunuh dari teman kita, Theodorus Lucien. Hal itu dapat dibuktikan dengan tulisan kanji yang bermakna ‘Hana'. Tragedi itu juga terjadi di elevator, jadi sebuah kemungkinan besar bahwa kematian Theo disebabkan olehnya,” Sambung Misaki. Kisah tentang pulau ini terungkap satu per satu, dan seluruh kisah itu tersambung menjadi sebuah kisah utuh yang dapat dimengerti dengan mudah.
“Begitu rupanya, baiklah ada lagi yang ingin disampaikan?” Tanya Jean. Mereka menggeleng lalu kembali ke tempat mereka masing-masing.
“Penyidikan kita cukup efektif juga ya,” Ucap Victor.
“Namun dengan jumlah teman-teman yang sudah berkorban, tentu saja tidak sebanding. Namun setidaknya kita sudah melakukan pergerakan,” Balas Jean realistis.
“Gue ke toilet dulu,” Izin Bayu lalu meninggalkan mereka.
“Oh iya, gue baru inget kalo gue punya informasi.”
Jean menunjukkan layar ponselnya. Layar itu terfokus pada lokasi peternakan.
“Sebelum kami kesini, di peta tidak ada informasi apapun. Hanya tanda tanya dimana-mana. Sebenarnya keingintahuan itulah yang mendorong kami untuk pergi mengunjungi tempat itu. Sesampainya kami disana, ponsel ini berdenting. Gue bukan orang pertama yang nyadar, tetapi Bianca. Waktu itu, cuma Bianca yang memperhatikan notifikasi itu.”
“Oh, ngomong-ngomong gue juga ada informasi singkat. Jadi sebelum gue jahit lukanya Erwin, gue pergi ke minimarket. Disana gue ketemu Grisha dan Elisha.”
“SERIUS LO?!” Teriak Victor kaget. Jean, Erwin, dan Misaki juga terkejut sambil menatap Lily tidak percaya.
“Iya. Mereka lagi mengisi kebutuhan kita di minimarket. Kesimpulannya, kebutuhan kita memang bener-bener dipenuhi oleh mereka. Jadi jangan ragu buat ke minimarket,” Jawab Lily.
“Gue jadi laper, bentar ya,” Sela Victor lalu keluar dari ruangan.
“Sebenarnya ada hal yang mau gue sampaikan ke kalian,” Ucap Erwin ragu-ragu. Teman-temannya menatap Erwin intens.
“Sebenarnya, di pulau ini kita ngga bisa ngebedain yang mana yang sudah mati atau belum.”
Seketika keheningan menyelimuti perbincangan mereka.
__ADS_1
“Kalian ngga sadar? Kenapa kita bisa lihat pembunuh yang hendak membunuh kita atau teman kita? Yang satu tim sama gue, kalian kira Sashenka itu anak yang masih hidup? Kalian salah, sebenarnya dia sudah tiada.”
“Tunggu Erwin, bagaimana kami bisa percaya dengan pernyataanmu?” Tanya Idris skeptis.
“Bukannya masuk akal? Baiklah gue ceritain aja. Sekitar lima hari yang lalu, gue ketemu hantu di kamar mandi kita. Waktu kita main papan itu, inget ngga? Dia marah-marah, katanya belum dipulangkan secara baik-baik. Dia minta sesuatu sebagai tebusan, dan akhirnya gue berhasil memenuhi keinginannya dia. Mungkin sebagai imbalannya, dia beritahu rahasia pulau ini. Tim gue, lo inget ibunya Sashenka? Nah, dia ini saudara kembarnya,” Jawab Erwin.
“Kalau dipikir-pikir bener juga. Tetapi kenapa pas kita main papan dia ngga muncul?” Tanya Jean. Syukurlah Erwin sudah siap menjawab pertanyaan tersebut.
“Itu karena kita manggil dia dengan perantara. Pertemuannya harus alami, katanya,” Jawab Erwin.
“Gue percaya sama lo, Er. Dari semua hal yang lo bilang, semuanya masuk akal di gue. Dan gue yakin lo pasti juga sama kagetnya kayak kita. Dan, saat itu lo mikir gimana cara lo ngeyakinin kita buat percaya sama lo, ‘kan? Jadi lo persiapin jawaban dari semua pertanyaan yang mungkin kami tanyain ke lo, dan lo segera tanyain ke Si Dia,” Ujar Misaki menganalisa tingkah laku Erwin.
“Seratus. Gila ya, logika lo emang mantap betul,” Balas Erwin membenarkan. Misaki hanya tersenyum puas.
“Masuk akal sih. Untuk sementara, gue percaya sama lo, Er,” Tutur Jean. Erwin mengangguk lalu mengacungkan jempolnya. Idris dan Lily juga mengangguk, mereka semua kini percaya kepada Erwin.
DUAGGG!
“Kawan-kawan, gawat!” Teriak Victor setelah ia membanting pintu.
“Bayu, bunuh diri.”
Tubuh mereka kini seperti sedang mengeras. Dengan tatapan tidak percaya, Jean beranjak dari duduknya lalu segera memeriksa Bayu yang berada di kamar miliknya dan Victor, diikuti oleh Lily, Erwin, Misaki, dan Idris. Mereka sungguh tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Bayu tengah tergantung di langit-langit, dengan simpul tali yang mencekik lehernya. Mulutnya ternganga dan matanya sedikit mencuat keluar. Erwin tidak merasa ada yang salah dengan Bayu, hingga ia melakukan hal ini. Bayu yang tadi sore bermain dengannya adalah Bayu yang riang, namun mengapa Bayu yang riang itu bisa berubah drastis menjadi seperti ini?
Idris yang merasa masih bertanggung jawab atas Bayu akhirnya berusaha melepaskan lelaki itu dari jeratan tali yang mengitari lehernya. Idris menggendong mayat Bayu lalu pergi ke tanah lapang dengan cahaya bulan yang menyinari mereka.
“Idris, lo mau kema—”
“Ini tanggung jawab gue. Bukankah begitu, Vic?” Tanya Idris yang tengah menatap tajam Victor, lelaki yang memberi Idris tanggung jawab atas saudara kembar tersebut. Victor hanya diam, tidak menanggapi pertanyaan Idris.
“Maka, biarin gue melaksanakan tanggung jawab terakhir gue.”
“Telah ditemukan sebuah mayat berlokasi di hotel. Bayu Kusuma, tewas setelah membunuh dirinya sendiri di kamarnya. Dengan ini, peserta berkurang sebanyak satu orang, tersisa enam orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat malam dan selamat berjuang.”
__ADS_1
●●●
“Maaf gue gerak duluan.”