Rajapati

Rajapati
Elevator


__ADS_3

Sementara pada tim satu, mereka memutuskan untuk tidak ke hutan, karena Lily yang masih trauma akan tragedi yang menimpa Adara beberapa hari lalu. Mereka mengeksplor area kota. Disana mereka menemukan sebuah bangunan tua, seperti sebuah sekolah.


“Ini bangunan apa?” Tanya Bayu kepada Theo yang tengah mengakses peta virtualnya.


"Sepertinya sekolah," Jawab Theo.


"Iya, tapi sekolah apa? Dasar, menengah pertama, atau menengah atas?" Tanya Bayu lagi. Theo menaikkan kedua bahunya.


“Gaada informasinya di peta,” Lanjutnya. Misaki menghela napasnya kasar.


"Berarti satu-satunya jalan untuk mengetahuinya yaitu masuk dan cari tahu sendiri,” Sambung gadis itu. Tanpa basa-basi, Misaki langsung memijakkan langkahnya ke bangunan yang disebut-sebut sebagai “sekolah" itu. Menyadari hanya dirinya seorang yang maju, Misaki berbalik.


“Kalian takut?” Tanya gadis yang menyabet ranking tiga itu. Ekspresinya sungguh datar saat ia mengatakannya, tetapi ekspresi itu seakan menantang empat orang lainnya. Theo mengepalkan tangannya geram.


“Takut? Gue bakal tunjukin perbedaan keras diantara kita, ranking tiga,” Jawab pemegang dua peringkat di atas Misaki, Theodorus Lucien. Lelaki itu mulai memijakkan langkahnya menyusuli Misaki, disusul dengan Idris, Lily, dan Bayu di belakangnya.


Mereka membuka pintu sekolah itu, lalu melihat sekeliling. Interiornya memang persis seperti sebuah sekolah. Karya-karya murid yang terpajang, foto-foto angkatan yang berwarna hitam putih, hingga poster-poster khas sekolahan seperti poster empat sehat lima sempurna.


Idris mulai berkeliling menjelajah bagian depan sekolah ini. Sesaat, netranya tertuju kepada sebuah hasil lukis salah satu siswa yang terpajang disana.


“Juara I, Hana Sakihara, IX B. 08/01/1988”


“Rupanya ini SMP,” Monolog Idris sembari mengamati lukisan yang dibuat anak itu. Potret suasana di sirkus pada saat itu, mengingatkannya akan tragedi yang menimpa Aruna dan Samuel. Rupanya dahulu sirkus itu sangat ramai, banyak senyuman yang terukir disana. Sayangnya senyuman itu memudar menjadi teror yang mengenaskan.


“Serius lo?” Tanya Bayu. Idris mengangguk dan menunjukkan lukisan yang tadi dipandanginya. Misaki menghampiri Idris dan melihat data siswa yang berada di bawah lukisan.


“Namanya cantik, secantik lukisannya,” Komentar Misaki setelah membaca nama siswi itu. Misaki tersenyum lalu meninggalkan Idris dan lukisan itu.


“Oke, kita eksplor lebih jauh bareng tim aja gimana?” Celetuk Lily memberi saran. Idris mengangguk setuju.


“Biar yang cewek ada yang ngelindungin, berarti gue bakal sama Lily. Bayu, lo bareng Misaki. Terus Theo, lo—”


“Gue sendiri aja,” Potong Theo dengan percaya diri menawarkan dirinya untuk berkelana sendiri.


“Idris, ada peta sekolah ini!” Teriak Lily menemukan sesuatu.

__ADS_1


“Bagus, ini bisa mempermudah pembagian tugas kita. Bayu, Misaki, kalian periksa kelas-kelas. Gue sama Lily bakal periksa ruang ekstrakulikuler. Karena Theo sendiri, lo periksa ruang guru di lantai atas,” Perintah Idris. Semua mengangguk paham.


“Kalau tugas kalian udah selesai, segera keluar dari sini. Jam empat sore, selesai ngga selesai kita kumpul di gerbang ya,” Lanjutnya. Setelah briefing, mereka segera mengerjakan tugas masing-masing.


Mari kita beralih ke subtim pertama, Bayu dan Misaki.


Menurut peta, terdapat enam ruang kelas. Diantaranya, VII A, VII B, VIII A, VIII B, IX A, dan IX B. Mereka memulai pemeriksaan dengan menggeledah kelas tujuh terlebih dahulu. Bayu memutar gagang pintu dan mendorongnya. Kelas itu sangat berdebu, seperti sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Namun susunan bangkunya tertata dengan sangat rapi. Mereka menggeledah kolong bangku, meja guru, hingga rak buku. Namun hasilnya nihil, tidak ada sesuatu yang penting. Hanyalah kertas ulangan, gambaran-gambaran siswa yang tidak jelas, dan semacamnya.


Setelah selesai menggeledah kelas tujuh, mereka melanjutkan kegiatan mereka di kelas delapan dan sembilan. Namun hasilnya juga nihil. Tidak ada sesuatu yang nampak berharga di mata mereka. Mereka hendak beristirahat dahulu sebelum mereka meninggalkan bangunan itu.


“Bayu, gue boleh ngutarain pendapat gue ngga?” Tanya Misaki. Bayu mengangguk.


“Menurut lo, Theo gimana?” Tanyanya lagi. Misaki menatap Bayu intens, menunggu pendapat dari lelaki itu.


“Yah, setelah pernyataannya tadi, dia agak sombong sih menurut gue. Yang bener aja, mentang-mentang peringkat satu langsung bawa-bawa ranking cuma untuk nantangin lo,” Jawab Bayu. Ternyata tidak hanya Misaki yang berpikir seperti itu.


“Tapi gue percaya akan karma. Gue ngeliat karma dengan mata kepala sendiri. Yah bukan ngeliat bener-bener liat, lebih kayak gue udah ngalamin. Dulu gue sering banget ninggalin Aruna karena dia lambat banget. Malah sekarang gue yang ditinggal Aruna.”


Misaki mengelus punggung Bayu untuk memberikannya semangat.


“Gue juga berpikir begitu. Malah menurut gue Jean lebih pantes dapet posisinya Theo. Tapi ya kita tunggu aja hasil kesombongan peringkat satu itu,” Tutur Misaki.


“Bayu, tunggu. Ini kelas apa?” Tanya Misaki menunjuk sebuah kelas yang belum mereka periksa.


“Geledah juga nih?” Tanya balik Bayu. Misaki mengangguk semangat.


●●●


Sementara di subtim dua yang terdiri dari Idris dan Lily...


“Idris, tinggal berapa ruangan lagi?” Tanya Lily ceria, seperti biasanya.


“Tiga,” Jawab Idris dingin.


Subtim dua mengalami sedikit kecanggungan di benak mereka. Lily yang ceria dan periang dipasangkan dengan Idris yang dingin dan tegas. Namun perbedaan karakter itu tidak menjadi masalah bagi mereka, kinerja mereka tidak dapat diragukan lagi.

__ADS_1


Terdapat lima ruang ekstrakulikuler, diantaranya ruang musik, ruang lukis, laboratorium kimia, laboratorium biologi, dan ruang teater. Setelah menggeledah ruangan-ruangan itu, mereka tidak menemukan sesuatu yang penting. Mereka memutuskan untuk langsung meninggalkan bangunan itu.


“Idris, menurut lo kita udah periksa bener-bener? Ngga mau ngulang?” Tanya Lily. Idris menggeleng tegas.


“Kenapa? Lo takut?” Tanya Lily lagi. Idris menghela napasnya.


“Gue gamau lo kenapa-napa,” Jawab Idris. Lily mengangguk paham dan mengikuti semua rencana Idris.


●●●


Setelah meninjau subtim satu dan dua, mari beralih menuju subtim terakhir, atau lebih tepatnya hanya Theodorus Lucien seorang.


Ia menapakkan kakinya menuju ruang guru yang berada di lantai teratas. Sedaritadi ia mencari keberadaan tangga atau semacamnya untuk menuju ke lantai atas. Sayangnya ia tidak menemukan satupun. Hingga, seketika ia melihat sebuah elevator di sudut ruangan. Theo menekan tombol lift itu, dan tak lama pintunya terbuka. Lelaki itu masuk dan menekan tombol untuk menuju lantai teratas.


“Apa yang hendak kau lakukan?”


Seseorang di belakang Theo tiba-tiba berbicara padanya. Theo berbalik, gadis itu ternyata tengah menatapnya. Dia berambut pendek, iris yang berwarna hijau, tinggi yang ideal, dan mengenakan seragam sekolah seperti siswi biasanya.


“Memeriksa ruang guru.”


“Tahu dirilah, bodoh. Ini bukan wilayahmu.”


Theo mengepalkan seluruh jarinya, ia sangat jengkel mendengar kata itu.


“SIAPA YANG KAU PANGGIL BODOH?” Teriak Theo sembari menyudutkan gadis itu.


“Orang yang asyik mengamuk di depanku?”


“HAHAHA! KAU TIDAK MENGENALKU SAMA SEKALI YA? AKU MEMENANGKAN BANYAK OLIMPIADE, HINGGA MENYABET PERINGKAT SATU! TARIKLAH UCAPANMU!”


“Tidak akan, kau terlihat bodoh dimataku.”


“HAH? MEMANGNYA KAU SIAPA?”


“***Kau sangat mau tahu ya? Baiklah, baiklah..”

__ADS_1


“AKAN KUTUNJUKKAN SIAPA DIRIKU***!”


●●●


__ADS_2