
"Ini mimpi?"
Banyak dari mereka yang tidak bisa menerima hal yang baru saja mereka dengarkan. Kini murid-murid itu tengah duduk melingkar, berusaha memikirkan tentang keberlangsungan nyawa mereka.
"Ini mimpi?"
Bayu lagi dan lagi mengulangi kalimatnya sembari mengguncangkan tubuh kakaknya yang beda sepuluh menit itu. Aruna hanya terdiam, Ia tak tahu lagi dimana menaruh harga dirinya jika dia menangis saat ini, walaupun saat ini sukmanya tengah menjerit.
"Tenanglah, Bayu," Balas Aruna yang akhirnya berani angkat bicara. Bayu menatap kakaknya tajam, berjalan ke arah kakaknya, lalu mencekiknya.
"Tenang?! SEBENTAR LAGI GUE MATI DAN LO SURUH GUE TENANG?!" Pekik Bayu dengan cengkraman yang masih melingkar pada leher Aruna. Erwin dan Idris dengan sigap melepaskan cengkraman Bayu dan melerai keduanya. Mata Bayu melotot dan berusaha memberontak, namun tenaganya belum cukup mengalahkan seorang atlet taekwondo kelas internasional, Idris Chernov.
"Udahlah, kita udah ngga bisa apa-apa," Ucap Idris selagi mengunci kedua tangan Bayu dengan segenap tenaganya. Tubuh Bayu melemas, rupanya ia mulai tenang.
"Kita ngga boleh gegabah. Kita ngga tau apa yang direncanakan oleh dalang semua ini," Tutur Jean, direspon dengan anggukan siswa lainnya. Mendengarnya, emosi Bayu menyurut. Kemudian ia terduduk, barulah Idris melepaskan tangannya.
"Kayaknya kita harus terbagi menjadi tim, atau bisa kita sebut kubu. Mungkin empat sampai lima orang," Usul Theo. Rupanya semuanya setuju akan hal itu.
"Oke. Aruna, Bayu, Samuel, Idris, kalian tim satu. Lily, Adara, Theo, Erwin, kalian tim dua. Gue, Jean, Misaki, Bianca, Emma, bakal ada di tim tiga. Kita berpencar. Dris, pastiin lo jaga si kembar," Cakap Victor menjelaskan rencana. Idris mengangguk dengan raut serius yang terukir di wajahnya.
"Oh iya, ini kita apain?" Tanya Emma sambil memegang ponsel yang diberikan oleh Grisha dan Elisha.
"Ah iya benda itu. Tadi gue sempet liat-liat. Bisa akses peta, tapi informasinya kosong. Bisa chat juga. Kayaknya handphone ini offline, soalnya gue pake internetan ternyata ngga bisa," Jawab Misaki.
"Maksudnya? Kalo offline kan udah pasti ngga bisa chatan," Sanggah Theo mengkritisi pernyataan Misaki. Sontak semuanya berpikir keras setelah mendengar sanggahan dari Theo.
"Tapi Misaki ngga salah kok, ini gue nyoba chat Adara, buktinya ini nyampe di hapenya Dara," Ucap Bianca sambil menunjukkan layar ponselnya dan ponsel milik Adara. Mereka semakin dibingungkan dengan fakta itu.
"Tapi ini gue buka browser ngga bisa," Balas Victor yang juga menunjukkan layar ponselnya.
"Yang penting, kita pakai aja apa yang bisa dipakai. Mungkin dari sananya memang gitu," Jawab Jean simpel.
__ADS_1
"Oke, mulai dari sekarang kita berpencar. Kalau kenapa-napa, langsung chat, oke?" Ujar Victor. Mereka mengangguk lalu mulai berkumpul dengan kubu masing-masing.
●●●
Kubu pertama nampaknya sudah memulai perjalanan mereka. Setelah diskusi yang cukup lama, tim yang satu-satunya seluruh anggotanya laki-laki ini memutuskan untuk menjelajahi wilayah kota. Mereka menempuh jalan yang sedikit berbatu, namun akhirnya mereka sampai di sebuah kota tua. Cat dinding yang mengelupas, bebangunan yang retak, patung berlapis lumut hijau, siapapun yang mengunjungi kota ini tentu akan beropini tentang tak terawatnya kota ini.
"Ini bener-bener ngga ada orang?" Tanya Samuel dengan napas yang sedikit terengah-engah.
"Di handphone ngga ada informasi apapun," Jawab Aruna yang tengah membaca peta.
"Apa aja yang ada disini, Ar?" Tanya Idris.
"Hm.. Minimarket, hotel, sekolah, sama sirkus. Sisanya pemukiman warga," Jawab Aruna.
"Gimana kalo kita ke minimarket dulu? Cari bahan makanan sama toilet, gue kebelet nih," Usul Bayu. Nampaknya mereka semua sepakat dan segera bergerak.
Sesampainya disana, mereka terkejut akan minimarket yang terlihat seperti sudah dijarah. Kaca yang mengelilinginya pecah, begitupula rak barang-barangnya berantakan. Mereka memasuki minimarket itu perlahan-lahan agar tidak menginjak potongan kaca. Netra Bayu tertuju pada papan bertuliskan 'toilet' yang tergantung dan menunjuk sebuah ruangan.
"Makanan sama minumannya ngga kedaluarsa. Tapi, kenapa bisa seberantakan ini ya?" Tanya Aruna yang sedang menganalisa barang-barang disekitarnya.
"Ar! Ada tas gendong!" Lapor Idris. Aruna langsung menghampirinya. Sepertinya tas gendong ini memang dijual, Idris menemukannya tergantung rapi dengan label harga.
"Satu orang satu. Nanti barang yang sekiranya diperlukan tinggal dimasukin di tas aja," Ucap Aruna. Dia mengambil salah satu tas itu lalu memasukan berbagai minuman dan makanan serta keperluan lainnya.
"Kak, ini ada senjata. Bayu temuin di toilet," Lapor adiknya sembari menyerahkan sebuah pisau yang cukup tajam. Aruna memberikan tas gendong yang tadi ditemukannya.
"Simpan disini. Sekalian lo simpan semua kebutuhan lo," Tutur Aruna. Bayu mengangguk paham kemudian mulai menelusuri rak-rak barang. Sebuah pertanyaan terbesit di pikiran Aruna, kenapa bisa ada pisau tajam di toilet? Aruna yang curiga berjalan menuju toilet dan memeriksa sekelilingnya. Tidak ada darah setetes pun, atau guratan pisau di dinding. Karena tidak menemukan apapun, Aruna kembali bersama teman-temannya.
"Ar, gue nemuin sleeping bag! Kita bisa tidur malem ini," Lapor Samuel sembari menunjukkan empat unit sleeping bag yang menyesuaikan jumlah mereka. Aruna mengangguk dan tersenyum.
"Kerja bagus. Sekarang tinggal nyari tempat kita tidur," Lanjut Aruna lalu mengakses peta yang terdapat di ponselnya.
__ADS_1
"Hah? Bukannya sudah jelas kita bakal ke hotel?" Tanya Bayu menatap sinis kakaknya.
"Inget kata Jean, jangan gegabah. Bisa aja hotelnya sengaja dibuat untuk mengecoh kita," Jawab Aruna serius.
"Oke, gimana kalau kita ke Sirkus aja? Dugaanku sih, kayaknya ngga bakal ada apa-apa," Usul Samuel. Semua setuju dan mereka menetapkan tujuan mereka yaitu ke Sirkus.
Hingga baskara hendak menuju barat, akhirnya mereka sampai di sebuah sirkus yang juga sama lapuknya seperti kota ini. Besi yang memadati tempat ini juga sudah berkarat. Bangunan ini sudah tidak layak pakai.
Rerumputan liar menyapa pijakan mereka. Kini mereka tengah mencari tempat untuk menyalakan api unggun. Tenda bercorak merah-putih itu seperti akan runtuh, jadi mereka tidak akan berlindung di dalamnya. Netra mereka tetap menyelusuri seluk-beluk tempat itu.
"Semuanya! Disini!" Teriak Aruna kepada teman-temannya. Mendengar teriakan Aruna, mereka segera menghampiri lelaki itu. Pandangan mereka tertuju pada sesuatu di depan Aruna. Sebuah komidi putar yang memiliki kondisi terprima diantara wahana lainnya. Cat yang melapisinya tidak mengelupas dan struktur bangunannya masih kuat.
"Disini. Ayo, udah mulai malem. Buat api unggun, gue nyiapin makanan," Perintah Aruna. Mereka mengangguk, mematuhi perintah Aruna, lalu segera mencari kayu bakar. Sementara Aruna sibuk mengolah daging yang tadi didapatnya.
Hari kian menggelap. Singkat cerita, kini mereka tengah menyantap makan malam di sekitar api unggun. Mereka tidak berbicara banyak. Aruna sibuk menyelusuri fitur handphone aneh itu, Idris tengah menyiapkan sleeping bag untuk mereka tidur, sisanya tengah menikmati hangatnya api unggun.
"Kalian, kenapa kalian mengikuti semua kemauan Aruna?" Tanya Bayu tiba-tiba. Idris yang tadinya santai kini kembali mengeraskan ototnya. Sepertinya akan terjadi sesuatu.
"Hoi, KENAPA KALIAN DIAM SAJA?" Teriak Bayu dengan wajah yang tertunduk, berusaha menyembunyikan kemuakkannya.
"Aruna yang paling tua. Alasan itu cukup mutlak untuk menjawab emosi lo itu," Jawab Idris seperti biasanya, pedas dan singkat. Mendengar jawaban itu, tenggorokan Bayu tercekat.
"Idris, apa-apaan? G-gue ga emosi kok," Sanggah Bayu. Idris menatapnya tajam, lalu mengalihkan pandangannya ke Aruna. Ia tampak tenang dan bijaksana, seperti biasanya.
"Gue bertanggung jawab atas lo berdua. Tenangin diri lo, Bay. Udah, ayo tidur," Ujar Idris lalu meninggalkan Bayu yang terduduk di sekitar api unggun. Sesudahnya, mereka terlelap dalam sleeping bag mereka masing-masing. Kecuali Aruna, yang sedaritadi termenung menatap api unggun. Lamunannya pecah saat melihat api unggunnya yang seperti terbasahi air.
"Ah, rupanya gerimis," Monolog Aruna. Namun Aruna salah, gerimis itu berubah menjadi hujan yang cukup deras. Api unggunnya padam, kini cahaya yang mereka terima hanya berasal dari lampu yang terpasang pada komidi putar.
"GRENG GRENG!!"
Bunyi bising itu mulai terdengar dari kejauhan, namun Aruna tidak bisa melihatnya karena padatnya rintik hujan yang jatuh. Tangan Aruna menyambar senter yang ada di tasnya, lalu mengarahkan cahaya ke daerah sekitarnya.
__ADS_1
"Ada orang?"