Rajapati

Rajapati
Hitam Putih


__ADS_3

Idris segera berlari dengan tangannya yang masih tertancap senjata tajam. Idris tetap meringis namun bayang-bayang Lily seakan terekam di kepalanya. Ia harus menemui Misaki sesegera mungkin.


“ERWIIIN!”


Idris berteriak kencang saat ia melihat sosok Erwin yang berdiri di kejauhan. Erwin menoleh, lalu terkejut melihat idris yang terluka. Lelaki itu segera berlari menuju Idris dan membantunya.


“Dris, bertahanlah! Gue bawa ke Misaki dulu ya, ntar lo bisa cerita. Yang penting lo selamat dulu,” Tutur Erwin panik namun cekatan membopong Idris yang sedang terluka.


“Makasih banyak, Er.”


“Misaki, Idris luka. Tolong bantu,” Pinta Erwin lalu merebahkan Idris perlahan-lahan. Misaki segera menghampiri Idris lalu mengeluarkan perlengkapan medis yang sekiranya ia butuhkan. Lalu perlahan ia mengeluarkan sebilah pisau yang menancap pada kulit Idris.


“Syukurlah ngga dalem amat,” Monolog Misaki lalu menyingkirkan pisau itu dan kembali membersihkan darah di daerah luar luka. Lalu ia mengambil kain steril dan melilitkan dengan niat menekan pendarahannya. Setelah selesai, Misaki mengangguk mengisyaratkan Idris bahwa lukanya sudah diobati. Idris beranjak dari rebahnya lalu..


PLAK!!


“MISAKI, LO APA-APAAN?” Teriak Erwin kaget. Idris memegang pipinya yang hangat akibat tamparan yang baru saja didaratkan padanya.


“Seharusnya lo jaga Lily baik-baik.”


“Tunggu sebentar. Misaki, lo ga boleh gegabah. Lily pasti punya alasan kenapa dia ngirim Idris kesini,” Ucap Jean. Idris mengangguk.


“Iya. Tapi sebelumnya, gue akuin gue memang pantas dapet tamparan dari lo. Jadi gue dan Lily tadi ketemu Sheila Zoë. Dia bener-bener gesit banget. Waktu gue liat dia, Lily udah langsung ditusuk. Jadi Lily nyuruh gue buat ngasitau kalian ciri-cirinya,” Jawab Idris.


“Jadi, gimana ciri-cirinya?” Tanya Erwin.


“Tingginya sekitar se-Misaki. Rambutnya cokelat tua, iris matanya merah pekat. Rambutnya dikepang satu, mengenakan baju yang sudah robek-robek.


“Victor mana? Dia juga harus tanggung jawab,” Tanya Misaki tidak terima.


“Sebelum Sheila dateng, Victor udah pergi,” Jawab Idris. Misaki berdecak kesal, lalu segera mengirim pesan kepada Victor.


“Lo cepetan balik. Lo dimana?”


“Kita ngga boleh diem disini, nanti Sheila tau. Ayo pindah ke pemukiman sebelah,” Ajak Jean. Mereka mengangguk lalu segera beranjak dari markas milik Sheila.


Mereka berpindah ke dua rumah sebelah markas Sheila. Mereka lalu menyiapkan barang-barang mereka untuk menginap, mengingat hari menjelang malam. Erwin menyiapkan tempat tidur dibantu dengan Idris. Sedangkan Jean dan Misaki sedang memasak makan malam mereka.


Akhirnya sepiring sarden dengan saus tomat berhasil mereka masak. Erwin, Jean, Misaki, dan Idris menikmati makan malam mereka dengan cahaya yang minim, mencegah timbulnya kecurigaan Sheila atas keberadaan mereka.


“Sudah hari ke-berapa ya?” Tanya Jean iseng. Misaki terlihat menghitung jawaban pertanyaan itu dengan jarinya.


“Hari ke-lima belas,” Jawab Misaki setelah menghitungnya.

__ADS_1


“Tunggu, berarti besok sudah hari terakhir?” Tanya Erwin memastikan.


“Seharusnya iya,” Jawab Misaki ragu-ragu.


“Victor gimana nih, kita tinggal tidur apa gimana?” Tanya Erwin.


“Bagi aja lokasi kita. Biar dia yang dateng,” Jawab Jean enteng. Misaki mengangguk paham lalu melakukan apa yang Jean suruh.


“Bahkan chat gue tadi sore masih belum dibaca,” Ujar Misaki sembari membagikan lokasinya kepada Victor.


“Kalau kita cari dia, terlalu beresiko. Besok pagi aja kita cari, gimana?” Tanya Jean. Mereka mengangguk setuju.


[***Location Sent!]


“Kita disini. Lo cepetan nyusul. Kalo lo ga nyusul juga, besok pagi kita cari***.”


●●●


“Nngh—”


Misaki terbangun dari tidurnya. Seketika ia berada di ruangan yang tidak ia kenal. Seluruh ruangan itu bermotif kotak-kotak, hitam dan putih. Gadis itu hendak menggerakkan tangannya, namun ternyata kedua tangannya sudah terikat pada sebuah tiang. Dilihatnya seorang lelaki yang masih tidak sadarkan diri.


“Idris, bangun!” Bisik Misaki sembari menyenggol Idris dengan kakinya. Perlahan mata Idris terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah Misaki dengan raut muka yang kebingungan.


“Kita dimana?” Tanya Idris lemah. Misaki mengangkat kedua bahunya.


“OH, KALIAN UDAH SADAR?”


“Tamatlah kita.”


Seorang gadis dengan rambut dikepang satu muncul dari bayang-bayang gelap. Gadis itu tersenyum sinis sembari sesekali memainkan rambutnya. Iris matanya yang merah pekat itu tertuju pada Idris.


“Ah, lo cowok yang tadi kan? Kita bertemu lagi.”


“Dan kali ini, gue janji deh. Gue bakal ngabisin lo tanpa sisa,” Ancam gadis itu sembari mengeluarkan pisau dari tangannya.


Gadis itu berjalan ke arah Idris terlebih dahulu. Dia menyentuh luka Idris yang masih terbalut kain.


“Langsung diobatin ya,” Monolog gadis itu masih dengan tangan yang meraba kain steril yang mengelilingi tangan Idris. Gadis itu menusuk kain itu dan merobeknya dengan pisaunya. Terlihat luka Idris yang masih belum teregenerasi dengan sempurna.


“Waktu kita masih banyak, bukan?”


Gadis itu pergi menjauhi mereka sejenak, lalu kembali dengan sebungkus garam dan sebuah jeruk nipis.

__ADS_1


“Bermain sedikit tidak apa bukan?” Tanya gadis itu polos.


Tangannya dengan lihai memotong jeruk nipis itu menjadi dua, lalu bersiap untuk meneteskannya di atas luka Idris. Namun tangannya terhenti sejenak.


“Eh, kayaknya lukanya kurang banyak. Ga seru,” Monolognya lalu memegang pisaunya dan bersiap untuk memahat tangan Idris. Lelaki itu menatap Misaki ketakutan, namun Misaki terlihat memiliki rencana. Misaki melirik jeruk nipis itu dan kembali melirik Idris, seakan mengisyaratkan jika dia akan menggunakan buah asam itu. Idris mengangguk percaya kepada Misaki.


Gadis itu menyayat tangan Idris dengan pisaunya. Tidak hanya satu sayatan, namun banyak sayatan. Ia melakukannya dengan wajah yang sangat polos, seakan hal itu tidak ada salahnya. Sesekali ia merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan.


“Kamu siap?” Tanya gadis itu menatap Idris lekat. Gadis itu tersenyum sinis, lalu bergerak sesuai kemauannya bahkan Idris belum menjawab pertanyaannya. Ia kembali memotong jeruk nipis itu dan bersiap untuk memerasnya. Dengan kakinya, Misaki berusaha meraih jeruk nipis itu dengan mulutnya.


“Dapet,” Batin Misaki.


Gadis itu sepertinya hanya mengiraukan pergerakan Misaki. Dan dengan yakin ia memeras jeruk nipis itu dengan mulutnya. Sedikit cairannya mengenai mata gadis itu.


“Misaki, cepet!” Seru Idris yang tangannya sudah terlepas dari ikatan perempuan itu menggunakan pisaunya. Misaki menghadapkan tangannya pada Idris, dan dengan cepat Idris memotong tali yang mengikatnya, selagi gadis itu belum membuka matanya.


“Lo beneran gamau bantu gue nih?” Tanya gadis itu. Misaki dan Idris kebingungan. Setahu mereka, hanya ada tiga orang di ruangan ini.


“Hm? Bagaimana lagi.”


Mereka sangat panik ketika mendengar suara bariton yang membalas perkataan gadis itu. Tak lama lelaki itu keluar dari bayang-bayang gelap dan tersenyum sinis kepada mereka.


“LO?”


“Ssshh. Ayo selesaikan ini segera.”


Lelaki itu bergerak sangat gesit dan cepat. Hingga tak sadar, mereka sudah memegang kedua leher mereka dengan kuat.


“Ini gue yang habisin apa lo?” Tanya lelaki itu. Gadis itu terkekeh.


“Yang cowo kasih gue,” Jawab perempuan itu seraya menunjuk Idris.


“Oh Idris? Yaudah terserah.”


Lelaki itu tanpa basa-basi langsung menusuk Misaki dengan pisaunya. Mulai dari paha, perut, hingga ia mengakhirinya dengan tusukan tepat di jantung. Misaki mulai kehilangan kesadarannya.


“MISAKI!!”


Ternyata gadis itu masih bisa tersenyum.


“Maaf gue nampar lo kemarin,” Ucap Misaki lalu ia tak sadarkan diri.


“Oke, sekarang giliran lo.”

__ADS_1


●●●


“Tinggal dua orang lagi. Ayo, bergegas, sebelum mereka bangun


__ADS_2