Rajapati

Rajapati
The Last Hope


__ADS_3

“Buruan lo pilih mau pake yang mana.”


Gadis itu sedaritadi menyelusuri rak berisi botol dengan cairan aneh. Ia sedang memilih botol manakah yang akan dia ambil. Netranya tertuju kepada botol berwarna kuning gading dengan cairan yang juga berwarna sedikit kekuningan didalamnya.


“Ini!” Sorak gadis itu sembari mengambil botol yang berwarna krem itu.


“Itu perlu maksimal empat jam, 'kan?” Tanya lelaki yang mendampinginya. Gadis itu mengangguk.


“Hari udah semakin pagi, seharusnya ga lama lagi mereka bangun.”


Lelaki itu tersenyum puas.


“Good job.”


Mereka segera menuju lokasi target mereka selanjutnya. Gadis itu sesekali memeriksa ponselnya, pukul empat dini hari. Sebentar lagi matahari akan terbit, mereka harus bergegas. Akhirnya mereka sampai di lokasi target mereka.


“Cepet lo bawa. Gue siapin ini dulu,” Bisik gadis itu sembari menunjukkan botol kekuningan itu. Partner lelakinya mengangguk, lalu mereka segera menjalankan rencana mereka.


●●●


Jean tersadar dari tidurnya, dia mendapati dirinya tengah berada di ruangan yang berbeda dengan tempat ia tidur kemarin malam. Netranya memandang sekeliling, sebuah ruangan dengan warna cat merah darah dengan Erwin yang masih tertidur disampingnya.


Tunggu, Erwin?


“Er, bangun.”


Erwin membuka matanya perlahan, lalu ia meregangkan badannya santai. Pandangannya tertuju kepada Jean yang tengah menatapnya serius. Erwin merasa ada yang salah, dan pantas saja.


“Kita dimana?” Tanya Erwin panik.


“Ngga tau. Gue kira lo tau,” Jawab Jean dibalas dengan gelengan kencang dari Erwin.


“Oh iya, Misaki sama Idris dimana?” Tanya Erwin lagi, ia beranjak dari duduknya lalu segera mencari ke sekeliling ruangan. Namun ia tidak menemukan apapun.


“Gatau, Er. Apa yang terjadi aja gue bener-bener ngga tau,” Jawab Jean pasrah.


Jean merasa aneh, seakan ada hal yang tidak beres. Atau ruangan merah ini yang membuatnya sedikit tidak enak badan. Erwin berusaha membantunya berdiri untuk sekedar mencari jalan keluar dari ruangan ini. Namun ketika Erwin membuka pintunya, nampak seseorang tersenyum lebar didepannya.


“SELAMAT PAGI!”


Erwin berjalan mundur, selagi tetap membopong Jean yang sedang tidak enak badan.

__ADS_1


“Lepas aja Er, gue udah mendingan,” Tutur Jean. Erwin dengan lembut mencoba melepaskan Jean dan membiarkannya berdiri sendiri.


“Kamu, siapa?” Tanya Jean dengan nada yang terkesan ragu-ragu.


“KALIAN MASIH BELUM MENGENALIKU SETELAH KALIAN MENEMUKAN RUMAHKU?”


Deg. Seketika bulu kuduk mereka berdiri. Erwin mencoba mengingat apa yang dikatakan Idris tempo hari, lalu ia mencocokkan ciri-ciri itu dengan gadis yang tengah menatapnya. Analisanya bisa dipastikan benar, gadis ini sangat mirip dengan apa yang diberitahukan Idris kemarin.


“Jean, lo berpikir apa yang gue pikirin ngga?” Tanya Erwin pelan. Jean mengangguk kecil.


“SERATUS! IYA, INI GUE. SHEILA ZOË, PESERTA KE-EMPAT BELAS!”


Gadis itu mengatakannya dengan kencang sembari tertawa dengan nada yang melengking. Tangannya mengenggam sebilah pisau dan mengarahkannya kepada Erwin.


“Lo tadi nanya, temen lo pada kemana ‘kan?” Tanya Sheila menatap Erwin dengan iris matanya yang berwarna merah pekat. Erwin mengangguk kecil menjawab pertanyaannya.


“Mereka udah gaada,” Jawab Sheila santai. Erwin mengepalkan tangannya, lalu berusaha memukul gadis itu.


“TERSERAH MAU LO CEWEK ATAU COWOK, LO UDAH NYENTUH TEMEN GUE, LO GA BAKAL GUE MAAFIN!” Teriak Erwin lalu berusaha merebut pisau milik Sheila.


“Erwin, tenang!” Teriak Jean menimpali teriakan Erwin dan emosinya yang meledak-ledak. Nampak Erwin tidak mendengarkan Jean dan terus berusaha memojokkan gadis itu.


“JE, LO LEBIH BAIK CARIIN GUE SENJATA!” Teriak Erwin masih berusaha memojokkan Sheila. Erwin memasuki mode marahnya, Jean tidak mampu berkata-kata lagi jika sudah begitu.


“Er, ini cukup ngga?” Tanya Jean lalu melemparkan potongan kayu itu. Erwin menangkapnya lalu mengangguk.


“Cari lagi coba, Je! Sementara ini gue pake dulu,” Jawab Erwin dibalas dengan anggukan paham dari Jean.


“Lawan lo disini! Jangan salah fokus,” Bentak Sheila sembari menghunuskan pisaunya ke arah Erwin, beruntungnya Erwin berhasil menghindari hunusan itu.


“Lo kok bisa masuk di game ini?” Tanya Erwin dalam pertarungannya.


“Sambil ngobrol? Berani juga lo.”


“Ya kenapa ngga bisa. Tinggal ngomong sama raja, beres. Jugaan pesertanya ngga lebih dari tujuh belas ‘kan?” Jawab Sheila santai.


Erwin lengah, perutnya terkena hunusan gadis itu. Sheila tersenyum puas. Ia menjilati pisaunya yang penuh dengan darah milik Erwin.


“Makanya jangan ajak ngobrol,” Lanjutnya santai.


Erwin mengerang kesakitan sembari memegangi lukanya yang penuh darah.

__ADS_1


“ER!” Teriak Jean mendengar erangan lelaki itu. Erwin mengarahkan telapak tangannya ke arah Jean, mengisyaratkan lelaki itu untuk berhenti dan tidak membantunya.


Erwin masih sanggup berdiri, menatap Sheila seolah-olah menantangnya. Gadis itu tersenyum sinis dan kembali menghujani serangan kepada Erwin. Lelaki itu memfokuskan dirinya untuk membaca serangan Sheila.


“Ketemu juga,” Batin Erwin.


Dia menebak pergerakan selanjutnya, membatalkannya, dan menggunakannya untuk menyerang balik. Akhirnya Erwin berhasil membuat sayatan besar di lengan kiri Sheila.


“Darimana gue bisa tau kalo lo bener-bener manusia?” Tanya Erwin menanyakan hal yang sempat terbesit di kepalanya.


“Bukannya Grisha udah bilang ada peserta ke-empat belas? Yaudah itu gue, Sheila Zoë! Lo kenapa tiba-tiba ngga percayaan dah?” Tanya Sheila heran.


Erwin tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia sedikit meragukan Sheila yang didepannya ini adalah Sheila yang sebenarnya. Erwin mengingat-ingat perkataan Natascha kepadanya tempo hari, namun ia sepertinya lupa bertanya cara membedakan dua hal itu. Erwin tidak memiliki petunjuk lagi. Namun yang pasti, Erwin harus mengakhiri hidup gadis itu seperti yang gadis itu lakukan kepada teman-temannya.


Erwin menajamkan lagi indranya. Lagi dan lagi lelaki itu berusaha membalikkan serangan seperti apa yang ia lakukan sesaat lalu. Akan tetapi, sepertinya Sheila telah meningkatkan variasi serangannya. Perempuan itu menyerang Erwin bertubi-tubi, dua serangannya berhasil membuat Erwin terdiam dan mengerang kesakitan.


“ERWIN!” Teriak Jean kepada Erwin yang terkapar lemah. Teriakan Jean sangatlah menyayat hati, Jean merupakan satu-satunya teman yang ia miliki saat ini. Jika saja Erwin dan kawan-kawannya tidak mengikuti permainan ini, mungkin mereka sedang menikmati liburan akhir semester mereka yang menyenangkan.


“Teman-teman...” Rintih Erwin lemah. Di pikirannya terlintas kejadian-kejadian yang telah menimpa kawannya, seperti secercah cahaya berupa cuplikan-cuplikan di ruangan yang gelap. Kekuatan kakak-beradik Aruna dan Bayu, cerianya Samuel, persahabatan Bianca dan Emma, kejeniusan Theo, Jean, dan Misaki yang telah membantunya, ketulusan hati Lily dan Adara, serta ketangguhan Idris dan Victor yang tiada tanding. Semua itu seakan terangkai di pikiran Erwin, menjadi sebuah cuplikan yang membuatnya bangun kembali. Mengingat perjuangan dan pengorbanan teman-temannya, sungguh membuat semangat Erwin berkobar.


Erwin bangun dari keterpurukannya, menatap Sheila dengan penuh amarah. Sheila menodongkan pisaunya, mengancam Erwin untuk tidak mendekatkan jaraknya dengan Sheila. Namun Erwin tidak peduli, gadis ini sudah mencabut nyawa teman-temannya. Hingga akhirnya Sheila berhasil terpojokkan, Erwin dengan sekuat tenaga merebut pisau yang digenggam Sheila.


“Tidak..” Pinta Sheila memohon kepada Erwin dengan ketakutan besar dibenaknya.


“Tidak?”


“SETELAH LO BUNUH MISAKI, IDRIS, DAN VICTOR, LO MINTA GUE BERHENTI?!”


“Mimpi."


Erwin menusukkan pisau itu tepat ke jantung Sheila. Gadis itu hendak mengatakan sesuatu, namun ia bisa merasakan denyut jantungnya yang kian melemah. Setelah menusukkannya, Erwin kembali terkapar lemah, sepertinya ia kehabisan tenaga. Jean segera membantu Erwin yang tergeletak lemas. Tiba ia merasakan sakit perut yang luar biasa, lalu ototnya yang kram, juga kesemutan di sekujur kaki dan tangannya. Erwin memberitahukan semua yang ia rasakan kepada Jean.


Jean berpikir sejenak, memikirkan kemungkinan tentang apa yang terjadi kepada Erwin. Saat hal itu terlintas di pikirannya, Jean langsung panik dan mengendus bau mulut Erwin. Sesuai dugaan, bau bawang putih, padahal mereka tidak makan bawang putih seharian ini. Jean semakin panik, ia merogoh kantong di baju Sheila. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapat sebotol kecil arsenik yang menjadi biang kerok tergelimpangnya Erwin.


“Jean, putih banget. Lo dimana..”


Air mata Jean membasahi tubuh Erwin yang sedang disentuhnya. Erwin mulai merasakan denyut-denyut terakhirnya.


“Je, gue pergi ya.”


Jean tidak tahan lagi, kejengkelan dan kesedihannya berpadu menjadi kepiluan tak berujung. Jean tidak tahu lagi, haruskah ia melampiaskan kemarahannya kepada Sheila yang telah meracuni Erwin dengan arsenik, atau mendampingi Erwin disaat-saat terakhirnya.

__ADS_1


“Selamat, Je. Lo menang.”


●●●


__ADS_2