
Hari mulai beranjak sore, syamsu kian menuju barat dan langit bersemburat jingga. Mereka tengah mempersiapkan makan malam bersama. Iya, malam ini mereka masih berkumpul bersepuluh di hotel tua yang ternyata masih layak ditempati. Besok pagi mereka akan memulai petualangan mereka bersama tim masing-masing.
"Je, gue sama Victor udah patroli. Tujuh kamar bisa dipakai. Ruang makan dan dapur juga bisa dipakai," Lapor Theo yang ditugaskan untuk memeriksa kelayakan bangunan ini. Jean mengangguk, pertanda bahwa mereka akan melanjutkan niat untuk menetap di hotel ini selama semalam.
Mereka berpencar, gadis-gadis mulai memasak makan malam di dapur hotel. Sedangkan yang lainnya mencari lilin atau bahan obor untuk memudahkan pengelihatan mereka, karena di hotel ini sepertinya tidak teraliri listrik. Juga ada beberapa yang menata piring serta perlengkapan makan di meja makan.
Cakrawala mulai menggelap, mereka berhasil membuat beberapa obor untuk menerangi ruangan yang hendak mereka tempati. Hidangan juga sudah selesai dimasak. Akhirnya mereka menikmati makan malam bersama-sama. Sebuah steak bumbu jepang dimasak sempurna oleh Misaki, dibantu oleh beberapa gadis lainnya. Setelah menikmati makan malam, mereka langsung menuju kamar dengan pembagian dua sampai tiga orang per kamar.
Perlu kusebutkan pembagiannya? Baiklah, baiklah.
Kamar pertama, ditempati oleh tiga orang remaja lelaki yaitu Jean, Erwin, dan Idris. Kamar kedua, ditempati oleh dua gadis, Bianca dan Emma. Kamar ketiga, ditempati oleh tiga lelaki sisanya, yaitu Victor, Bayu, dan Theo. Dan kamar terakhir ditempati oleh remaja perempuan yang tersisa, Misaki dan Lily. Hotel itu menjadi sangat hening ketika mereka mulai memasuki kamar mereka.
"Sebelum tidur, main ini dulu yuk! Di kamar Jean!" Sahut Victor sambil mengangkat sebuah papan permainan.
"Itu.. Bukannya permainan itu butuh mereka yang tak terlihat?" Tanya Lily memastikan. Victor mengangguk semangat.
"Mirip banget sama yang gue beli di Eropa dulu! Ayolah, jugaan ga ada hantu di pulau ini! Grisha sama Elisha bilang sendiri kan?" Jawab Victor, meyakinkan teman-temannya. Misaki menghiraukan Victor dan segera berjalan ke kamarnya diterangi cahaya obor.
"Saki! Lo ngga mau ikut?" Tanya teman sekamarnya, Lily. Misaki menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Cih, cuma orang yang cukup bodoh yang main permainan setan-setanan di dalam permainan nyawa. Maaf gue ga ikut, gue ga mau membahayakan diri gue sendiri lebih dalem lagi," Jawab Misaki dingin lalu kembali melanjutkan langkahnya. Setelah pernyataan itu, gadis-gadis seia-sekata untuk mengikuti pernyataan Misaki tadi. Kini hanya tersisa para teruna.
"Gimana? Lo semua masih ada nyali kan?"
●●●
Ponsel mereka menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka sudah berkumpul di kamar milik Jean. Enam remaja lelaki itu bermain hanya diterangi cahaya obor.
"Udah siap?" Tanya Victor. Mereka mengangguk kompak.
"Kami memanggil arwah yang berada disekitar kami untuk bermain. Kemarilah, kemarilah, kemarilah."
Seketika potongan kayu kecil yang berfungsi sebagai penunjuk itu mulai memberat, pertanda "dia" sudah datang.
"Kamu sudah datang?"
Plat itu bergerak menuju kata "Ya".
__ADS_1
"Apakah kamu berasal dari pulau ini?"
Plat itu bergerak menuju kata "Ya". Mereka terkejut, tentu saja itu berlawanan dengan pernyataan Grisha dan Elisha sebelumnya.
"Jadi, Grisha dan Elisha berbohong?"
Plat itu berpindah dengan lambat namun tegas. I don't know, eja arwah itu.
"Tunggu, apakah kamu adalah salah satu dari teman kami yang telah meninggal?"
Potongan kayu itu bergerak perlahan lalu menunjuk kata "Tidak".
"Maaf lancang, apa penyebab kematianmu?"
F-I-R-E, dari arah tunjukkannya mungkin ia berusaha mengatakan bahwa ia mati terbakar.
"Apa sebenarnya game ini?"
Plat itu belum menunjuk apapun. Namun setelah beberapa detik, ia menunjuk beberapa huruf. Life and death, tunjuknya.
"APAKAH KAMI BISA SELAMAT?"
Namun, seketika obornya meredup dan mati. Mereka panik setengah mati, sebab dalam aturannya sumber cahaya tidak boleh sampai mati. Mereka segera mencari sebatang korek api, namun benda itu tidak bisa ditemukan di tas mereka. Bayu berinisiatif mengambil obor yang terletak di dapur untuk menyalurkan api obor ke unit yang berada di kamar milik Jean. Syukurlah usaha itu berhasil.
"Baiklah, apa kamu masih disini?"
Platnya tidak bergerak, juga tidak seberat tadi.
"Udahlah, dia udah pulang. Kita juga udah harus tidur. Nih, udah jam dua belas pas," Ucap Theo sembari menunjukkan jam yang ada di ponselnya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur, sehingga Theo, Victor, dan Bayu kembali ke kamar mereka. Sementara Idris, Erwin, dan Jean bersiap-siap untuk tidur.
Victor berjalan ke kamarnya, diikuti oleh dua orang teman sekamarnya. Kamarnya terletak di pintu ketiga, diapit oleh dua kamar milik para gadis. Sebelum ia memasuki kamarnya, Victor memastikan teman-teman perempuannya itu sudah tertidur atau belum. Tidak ada suara dari balik pintu kamar, mungkin saja mereka sudah tertidur. Lantas Victor memasuki kamar bersama teman-teman sekamarnya dan bersiap untuk tidur.
●●●
Saat yang lain tengah menikmati bunga tidur mereka, Erwin tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Rupanya kantong kemihnya sudah terisi penuh, sehingga Erwin beranjak dari tempat tidurnya dan ke kamar mandi.
__ADS_1
Lelaki berambut cokelat deragem itu membuang air seninya, lalu segera kembali. Akan tetapi, kini pandangannya seakan tertutup rambut hitam pekat yang datangnya entah dari mana.
"KA-KALIAN CEROBOH SEKALI YA,"
Netra Erwin jelas kembali, namun pandangannya tertuju pada seseorang berambut hitam pekat dengan panjang selutut, mengenakan pakaian putih, tengah menunduk sehingga wajahnya tidak nampak jelas.
"KIKIKIKIKIKIKIKIKIKIKIKIKI!!!!!"
Pekikan tawanya melengking tinggi. Kini dia tertawa menghadap ke langit-langit, Erwin segera memindai wajahnya. Reflek perempuan itu sungguh cepat, ia menatap Erwin tak lama setelah pandangan Erwin tertuju padanya. Matanya merah, dengan senyum yang mengerikan dari mulut yang robek, juga darah yang mengalir dari wajahnya yang nampak terkelupas.
"OH, KAMU NGGA TAKUT YA? BOLEH JUGA NYALIMU,"
Perempuan itu mendekat ke arah Erwin, lalu memandangi fitur wajah Erwin dari dekat. Erwin memanglah ketakutan, bahkan sangat-sangat ketakutan saat ini. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah tetap tenang, karena ia tidak boleh melakukan sesuatu yang sembrono disaat-saat seperti ini.
"KALIAN... SEMESTINYA MENGUNDANG SESUATU HARUS DIPULANGKAN DENGAN BAIK!"
"Maafkan kami," Ucap Erwin yang akhirnya berani mengatakan dua patah kata walaupun ia melakukannya sembari menunduk. Rupanya, wanita ini adalah arwah yang belum sempat mereka "antar pulang" dengan sopan.
"TIDAK SEMUDAH ITU, AKU PUNYA PERINTAH YANG HARUS KAMU LAKUKAN,"
"Saya siap, tetapi saya tidak bisa mengabulkannya dalam sehari-dua hari," Jawab Erwin.
"TIDAK APA! YANG PENTING BARANG ITU SAMPAI KE TANGAN SAYA. DAN JUGA, SAYA PUNYA PERATURAN YANG TIDAK KALAH PENTINGNYA,"
"KAMU TIDAK BOLEH MEMBERITAHUKAN HAL INI KE TEMAN-TEMANMU, TIDAK SATUPUN! JIKA KAMU MELANGGAR, JANGAN HARAP KAMU BISA HIDUP!"
Erwin hanya bisa mengangguk pasrah. Wanita itu nampak senang, lalu memberitahukan keinginannya. Erwin mengiyakan perintah wanita itu dan juga peraturan yang dibuatnya.
"BAGUS, BAGUS! JIKA SUDAH KAU AMBIL, SEGERA KEMBALILAH KEMARI. KETUK PINTU KAMAR MANDI INI TIGA KALI. AKU BERJANJI AKAN MEMBERIKAN SESUATU YANG SEPADAN DENGAN BENDA YANG HARUS KAU CARI ITU,"
Erwin mengangguk paham.
"SUDAHLAH, KEMBALI TIDUR! AKU AKAN MENUNGGU KEDATANGANMU BEBERAPA HARI LAGI,"
Wanita itu membukakan pintu kamar mandi ini. Erwin langsung keluar dengan terburu-buru dan segera melanjutkan tidurnya.
●●●
__ADS_1
"Semoga gue bisa ambil apa yang dia mau."