Rajapati

Rajapati
Muktamar


__ADS_3

"Gila,"


Setelah melalui bermacam-macam rintangan, kesepuluh peserta yang tersisa memutuskan untuk bertemu di suatu titik untuk mendiskusikan hal ini. Sidang ini dilaksanakan di sebuah hotel lawas yang terletak di kota. Kini mereka tengah duduk melingkar di sebuah ruangan hotel, katakan saja sebuah ballroom namun berukuran sedikit lebih kecil.


"Waktu lo nemuin Aruna sama Samuel, disana kayak gimana?" Tanya Jean yang berusaha menganalisa kejadian dengan seksama.


"Sama sih kayak deskripsi Grisha. Aruna tergeletak di tanah. Kalo Samuel, dia kayak didudukin di salah satu kuda karosel. Badutnya udah pergi, badut yang keroyokan juga bubaran," Jawab Idris.


"Tunggu, badut?" Tanya Jean lagi. Bayu mengangguk dan mulai menjelaskan.


"Gue bangun telat, jadi gue gatau apa yang terjadi diawal-awal. Tapi, pas gue bangun itu udah rame banget. Kakak gue bareng Idris berantem sama badut. Tingginya sekitar 170cm, badannya sedikit berisi, bawa gergaji listrik. Ga cuma badut itu, kita juga dikepung sama badut lain, jumlahnya mungkin lebih dari sepuluh. Kalo lebih jelasnya, mungkin Idris tau," Jelas Bayu. Kini seluruh manik mata tertuju pada Idris.


"Waktu itu Aruna ngga tidur, dia panik banget ngebangunin gue. Badut yang tadi dibilang Bayu dateng, ribut-ribut bawa gergaji listrik. Aruna panik, dia langsung ngelawan, gue bangunin Samuel. Awalnya badut itu sendiri, tapi pas Samuel bangun, tiba-tiba langsung keroyokan. Jadinya gue bantuin Runa kan, gue tendang badutnya biar Runa ada kesempatan nusuk 'tuh badut. Ketusuk, taunya ga ngefek. Bayu langsung ngestun, berhasil. Aruna coba ngambil gergajinya kan, eh malah kakinya kepotong. Badutnya ngamuk, akhirnya kita disuruh kabur sama Runa," Sambung Idris panjang lebar. Mungkin ini pertama kalinya Idris berbicara sepanjang itu.


"Oke. Makasih Idris, Bayu. Kalo Adara gimana?" Tanya Jean, seolah dialah moderator sidang ini. Kini Jean menatap ke arah Lily dan Theo.


"Sama juga kayak yang dibilang Grisha. Gue sama Lily nemuin Adara kegantung atau mungkin bisa dibilang menempel, di pohon yang lumayan tinggi. Badannya meringkuk kaku soalnya dibalut jaring laba-laba yang lumayan tebel. Muka Adara berlubang, mulutnya berdarah, rahangnya patah seperti dipatahkan paksa. Dugaan gue dampaknya mirip sama six eyed sand spider, tapi ini di hutan kan.." Lapor Theo.


"Dipastahkan paksa? Lah, gue kira gara-gara racun laba-laba doang," Ucap Bianca santai, tiba-tiba Jean menatap Bianca tajam.


"Bianca ada benernya. Berarti pelakunya bukan laba-laba? Atau dua pelaku?" Tanya Jean menilik semua informasi yang didapatnya.


"Oh iya! Sebelum detak jantung Adara bener-bener berhenti, Adara lagi gue pangku kan, dia sempet ngomong sesuatu. Ehm, Sakumo, mofuku kimono—atau semacamnya," Sambung Lily yang membuat semua orang kaget.


"Tunggu," Celetuk Misaki.


"Misaki! Lo bukannya orang Jepang ya? Mestinya lo ngerti dong?" Ujar Emma. Misaki mengangguk.

__ADS_1


"Kasi gue waktu berpikir."


Misaki mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya, membantu dirinya sendiri untuk mengingat kosakata itu.


"Ah begitu!" Sorak Misaki sambil menjentikkan jarinya.


"Begitu apanya?" Tanya Emma.


"Masih dugaan gue sih. Sakumo, kumo artinya laba-laba. Dan mofuku kimono seinget gue kimono yang dipake buat melayat, warnanya hitam, menyimbolkan kedukaan. Kesimpulannya, dia mungkin memiliki sesuatu berkaitan dengan laba-laba, bisa saja dia itu pembunuh kuat seperti badut tadi, atau...


sebenarnya dia sudah mati," Jelas Misaki dengan nada bicara yang sedikit menggantung. Hening menyelimuti diskusi mereka. Semuanya terasa terhubung setelah Misaki menjelaskan semuanya.


"Yang bener aja..." Ujar Lily dengan intonasi yang terkesan pasrah.


"Sulit diterima, tapi semua nyambung sekarang," Tutur Victor tiba-tiba, sedaritadi ia belum mengatakan sepatah kata-pun.


"Baiklah. Terima kasih laporannya, semua. Semoga kita bisa belajar dari yang sudah terjadi," Ucap Jean seakan menutup pembicaraan itu.


"Baiklah, mari kita revisi timnya."


Setelah melakukan revisi kubu, ditetapkanlah dua kubu yang utama. Yaitu tim satu, terdiri dari penggabungan antara tim satu dengan tim dua yang lama, namun dengan sedikit perubahan. Mereka adalah Bayu, Idris, Theo, Lily, dan Misaki. Sedangkan di tim dua terdapat Jean, Erwin, Victor, Bianca, dan Emma.


"Dengan ini selesai semua. Baiklah, terima kasih semua, silahkan acara bebas. Inget, tetap berkumpul dengan tim kalian," Tutur Jean mengingatkan. Semua mengangguk, lalu meninggalkan ballroom kecil di hotel ini. Berhubung hari masih siang, mereka masih bermain-main di sekitar kota. Ada yang mengumpulkan bahan makanan dan kebutuhan hidup, ada yang mengeksplor wilayah, dan sebagainya.


Jean menuju sebuah taman dalam wilayah kota ini. Ia memetik beberapa bunga yang tumbuh liar disana. Setelah memetik bunga, Jean kembali ke sebuah tanah lapang dimana kawannya dimakamkan. Mereka dimakamkan sebelum sidang dimulai.


"Je, kemana?" Tanya Erwin yang tadinya tengah mengobrol dengan Idris.

__ADS_1


"Mau doain Samuel. Adara sama Aruna juga sih," Jawab Jean. Erwin dan Idris memutuskan untuk ikut, Samuel sudah menjadi bagian dari persahabatan mereka.


Setelah sampai di tanah lapang, nampak Bayu tengah terduduk disamping pusara milik kakaknya, Aruna. Matanya nampak kosong, sama seperti saat Idris menggendongnya, hanya terduduk lesu sembari sesekali mengusap air matanya.


Mereka membiarkan Bayu, lalu melangkah ke pusara milik Samuel. Diletakkannya beberapa tangkai bunga, lalu segera mendoakan kepergian Samuel bersama-sama. Samuel, lelaki itu sudah seperti secercah cahaya saat kegelapan menyelimuti mereka. Orang yang selalu ceria, bersemangat, lengkap dengan selera humornya yang sangat bagus. Tidak disangka, mereka akan kehilangan sosok seperti Samuel terlebih dahulu.


Setelah mendoakan Samuel, mereka melanjutkan ziarah mereka ke pusara milik Adara dan Aruna. Jean juga meletakkan beberapa tangkai bunga di pusara mereka, sama seperti Samuel.


"Oh mau doain kakak? Bentar, gue minggir dulu," Cakap Bayu menyingkirkan dirinya agar Jean, Idris, dan Erwin bisa mendoakan kakaknya. Jean tersenyum lalu segera mendoakan kepergian Aruna. Setelah selesai, mereka meninggalkan tanah lapang tersebut.


"Kalian, Tunggu!" Hadang Bayu. Langkah mereka terhenti dan berbalik.


"Setahu gue, baru kalian yang doain kakak—maksud gue Aruna, disini. Makasih, kalian udah mau doain Aruna," Lanjutnya. Idris tersenyum,


"Aruna udah jadi orang yang gue percaya. Dia bener-bener kuat, tegar, dan bijak. Gue salut sih sama dia, waktu dia luka parah-pun masih bisa ngambil keputusan," Tutur Idris disertai anggukan dari kedua temannya. Bayu turut senyum mendengar jawaban dari Idris.


"Dris, gue adik yang jahat ya? Lo bener, penyesalan selalu dateng terlambat," Tanya Bayu menghapus air matanya.


"Udah telat untuk nyesel. Yang berlalu biarlah berlalu, Bay. Inget kata-kata terakhir Runa? Lo udah jadi setengah dari Aruna. Diri Runa bakal terus hidup di lo. Bayu, lo masih punya tugas buat ngelampiasin amarah kakak lo," Jawab Idris yang berusaha menyalakan semangat Bayu yang rapuh. Bayu tersenyum yakin dan mengangguk.


"Jadi gue boleh ikut bareng kalian ke hotel?" Tanya Bayu lagi. Mereka mengangguk serempak, lalu meninggalkan tanah lapang itu.


●●●


"*Here lies,


Samuel Xavier.

__ADS_1


Adara Fransiska,


Aruna Kusuma*."


__ADS_2