
Idris terus berlari dalam hujan yang tengah membasuh mereka. Disela larinya, ia memperhatikan kondisi Bayu. Ia belum mengatakan sepatah kata-pun setelah menyaksikan badut itu menggergaji kaki kakaknya begitu saja. Mata Bayu tidak berubah sedaritadi. Sangat kosong, tidak memikirkan apapun. Seperti berkata, apakah ini mimpi? Jika iya, bangunkan aku.
"Bay, lo gaapa?" Tanya Idris menghentikan larinya sejenak lalu menurunkan Bayu dari gendongannya.
"Tega banget lo ninggalin Aruna gitu aja."
Idris tercekat mendengarkan kalimat yang dilontarkan Bayu padanya. Kini Bayu menatap Idris tajam, tatapannya sangat berbeda saat ia berada dengan Aruna.
"Kalo aja lo nurut sama kakak lo, nganggep dia seperti kakak lo sendiri, mungkin ini semua ga bakal terjadi," Sanggah Idris. Mulut Bayu senyap. Memang sedari awal Bayu sudah mengacaukan semuanya. Setelah membuat Bayu senyap, Idris memeriksa pesan darurat yang dikirimnya. Aneh, pesan itu tidak terkirim, seperti sedang error.
"Ayo kita cari yang lain," Ajak Idris lalu melanjutkan langkahnya. Sementara Bayu hanya terdiam dibelakang Idris.
"Lo tau kan kalo Aruna jadi umpan?" Tanya Bayu dengan kepala yang tertunduk.
"Udah telat buat nyesel. Ayo," Ajak Idris lagi, kali ini Bayu mematuhi Idris dan mereka segera ke hutan masih dengan hujan yang membasuhi mereka.
●●●
"Hujan, lanjut ga nih?" Tanya Theo yang berkelana bersama tim dua di hutan. Erwin yang memimpin di depan mengangguk yakin, sementara teman-teman yang dibelakangnya yang mengikuti apa yang diperintahkan.
Beralih ke tim dua, mereka menempuh jalur hutan untuk bertahan hidup. Disekeliling sangat gelap, pandangan mereka bergantung kepada senter yang mereka temukan saat mereka berkelana di hutan ini. Keadaan mereka semakin diperparah dengan turunnya hujan secara tiba-tiba.
"Tapi gue ga kuat dingin.." Ucap Adara lemah, namun teman-teman didepannya tidak mendengar apa yang dikatakannya. Kala itu angin bertiup sangat kencang. Teman-temannya berjalan sangat cepat, tanpa mereka sadari jarak Adara dengan mereka mulai menjauh. Namun Adara tetap berjalan, walaupun tubuhnya linglung dan dia hampir kehilangan kesadaran.
"Lily.."
"BRUAGGHHH"
Adara membuka matanya, rasa sakit langsung menyeruak di seluruh badannya. Seluruh badannya tertimpa tanah, kecuali kepalanya. Sejenak ia menyadari, sepertinya sudah terjadi longsor. Adara berusaha bangun, namun semua percuma. Tulang rusuknya seperti sudah pukah. Begitupula kaki dan tangannya yang mati rasa. Adara terbatuk, ia mengusap mulutnya, darah.
Samar-samar, nampak seseorang berambut putih dengan kulit yang pucat tengah berdiri di tumpukan tanah yang menindih badannya. Ia mengenakan kimono mofuku berwarna hitam yang membuat kulit pucatnya semakin mencolok. Dia tengah menatap awan kelam yang menghujani dirinya.
Seketika pandangannya teralih, kini ia menatap Adara.
"Kamu melihatku?" Tanyanya. Ah, rupanya seorang lelaki. Adara mengangguk kecil, lantaran kepalanya hampir tidak bisa digerakkan. Lelaki itu tersenyum, guratan senyum itu sangat menyejukkan layaknya cahaya rembulan.
"Ah, aku selalu lupa pulau ini memang begitu," Monolognya.
"Siapa namamu?" Tanyanya lagi.
"A—Adara.." Jawab Adara lemas. Lelaki itu hanya mengangguk. Lalu ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Adara. Ia memperhatikan detil rupa Adara, lalu tersenyum.
"Adara suka boneka?" Ia kembali bertanya. Adara menggeleng kecil. Lelaki itu mengerenyitkan dahinya, lalu tertawa.
"HAHAHAHAAA, MAAF, MAAF."
__ADS_1
Tawanya melengking. Tidak seperti lelaki pada umumnya, atau memang ia bukan lelaki pada umumnya? Yang jelas, itu membuat Adara sangat takut sekarang.
"Kamu takut ya? Maaf," Ucapnya sambil tersenyum.
"Aku tau ini aneh, tetapi boneka sangat indah di mataku. Namun tak apa,
AKU SIAP MENGUBAHMU MENJADI BONEKA YANG CANTIK, BENAR-BENAR CANTIK!"
Ia mengatakannya dengan lantang dan melengking. Adara berteriak, berusaha meminta pertolongan orang disekitarnya. Tetapi tidak ada yang datang membantunya.
"Sssh, ini eksklusif. Jadi, BERHENTI MEMANGGIL TEMANMU YANG TIDAK BERGUNA ITU!" Lengkingnya lalu mematahkan paksa rahang Adara dengan cara mendorong paksa rahang Adara ke arah bawah. Tamat sudah, kini perempuan itu takkan bisa melakukan apapun.
"BAIKLAH, MARI KITA KUMPULKAN PEKERJANYA!" Dengkingnya lalu mengarahkan tangannya ke arah Adara. Tak lama, gerombolan laba-laba kayu keluar dari sarangnya yang berada di pepohonan, lalu mulai mengerubungi Adara. Perempuan itu bisa merasakan tapak-tapak pergerakan kaki laba-laba yang mulai menjelajah mulutnya yang terbuka bebas. Laba-laba itu mulai menggerogoti kerongkongannya dan menyengat Adara berkali-kali. Adara juga bisa merasakan laba-laba yang tengah menggerogoti pipinya dan dahinya.
"Sakitkah? Maaf, tapi Adara bener-bener cantik banget!" Ujarnya dengan intonasi seperti anak kecil. Ia masih bisa tersenyum menonton Adara yang tersiksa, atau mungkin bisa dibilang dalam proses menjadi "boneka"nya. Adara mulai tak sadarkan diri, tak bisa menahan racun laba-laba yang mulai mengambil alih dirinya.
"Eh? Sudah mau pergi? Aku bahkan belum memperkenalkan diriku!
Aku Sakumo. Selamat datang, bonekaku."
●●●
"Er, capek gue nih!" Keluh Lily lalu duduk dan merebahkan dirinya di bawah pohon. Diikuti dengan Theo, lalu Erwin. Theo mengeluarkan makanan yang tadi ditemukannya lalu membaginya dengan kawan-kawannya. Karena bosan, Lily mengeluarkan ponsel pemberian Grisha dan Elisha itu.
"Wah ada fitur kamera!" Monolog Lily lalu mulai menekan tombol untuk merekam video.
"Selain Theo, disini juga ada Erwin Pandu! Er, say hi dong!" Lanjutnya. Erwin menoleh lalu tersenyum sembari melambaikan tangannya ke ponsel itu.
"Terakhir, ada Adar—Er, Adara mana?" Tanya Lily. Erwin yang semula memejamkan matanya sejenak langsung berdiri dan memandang sekitar. Kepanikan terlukis di wajahnya.
"Lo semua tunggu disini, gue cari Dara dulu!" Cakap Erwin tergesa-gesa lalu segera lari menuju lintasan belakang mencari Adara.
Setelah beberapa menit, Erwin kembali dengan nafas yang terengah-engah.
"Er! Adara dimana?" Tanya Lily panik. Erwin hanya menggeleng, lalu mereka segera mencari Adara bersama-sama.
"ADARA! LO DIMANA?"
"DARAAAAA!"
"ADARAAAAAA!"
Hasilnya nihil, mereka tidak menemukan Adara disekitar sini. Lily mulai panik, lantaran hanya Adara-lah teman perempuan Lily satu-satunya dalam tim ini.
Dari dalam semak-semak besar, Idris berlari menuju mereka bersama dengan Bayu dibelakangnya. Rupanya Idris sedaritadi mendengarkan teriakan mereka dan memutuskan untuk segera berkumpul.
__ADS_1
"Loh, Dris? Aruna mana?" Tanya Theo, melihat mereka hanya datang berdua.
"Aruna, hah-hah, sirkus, sekarat," Jawab Idris dengan napas yang tersengal-sengal.
"SEKARAT?" Sahut Erwin kaget.
"Kakinya kepotong badut psikopat," Jawab Bayu lalu terbaring karena kelelahan berlari.
"AAAAH! TADI ADARA, SEKARANG ARUNA SAMA SAM?" Teriak Lily mulai frustasi.
"Adara? Dara kenapa?" Tanya Bayu yang tadinya berbaring kini terduduk.
"Hilang," Ucap Erwin lemah.
"Oke kita bagi tugas aja. Lily sama Theo, kalian cari Adara. Gue, Idris, sama Erwin bakal bantu Aruna sama Sam," Tutur Bayu yang mulai bisa berpikir jernih. Tanpa basa-basi mereka langsung menuntaskan tugas masing-masing.
"Sam gaapa?" Tanya Erwin sambil berlari. Idris mengacungkan jempolnya. Erwin sedikit lega mengetahuinya.
"DARAAA! LO DIMANA SIH,"
"LILY, SINI!"
"Ngga mungkin,"
"RUNAAAAAAAA!!"
"Ar, lo janji lo bakal menang kan? LO PASTI MENANG KAN? ARUNA KUSUMA JAWAB GUE!!"
"Samuel, gue mohon banget lo bangun sekarang,"
"Ngga mungkin,"
"Dar? Ini beneran Adara?"
"DARAAAAA! JANGAN TINGGALIN GUE DAR!"
"ADARAAAAAAAAA!!!"
"Ngga mungkin."
Ponsel mereka berbunyi serentak. Sebuah video.
"Telah ditemukan tiga buah mayat berlokasi di sirkus dan hutan. Yang pertama, Aruna Kusuma tewas dengan kaki yang tergergaji dan leher yang tertancap pisau. Kedua, Samuel Xavier tewas dengan kapak yang menancap di dada kirinya. Dan yang terakhir, Adara Fransiska tewas dengan racun laba-laba yang menyebar ke seluruh tubuhnya, luka yang berlubang dengan diameter tiga sentimeter di kedua pipi dan satu lubangan di dahinya, juga terbalut dengan jaring laba-laba. Dengan ini, peserta berkurang sebanyak tiga orang, tersisa sepuluh orang lagi. Sekian berita dari kami, Grisha dan Elisha. Selamat malam dan selamat berjuang."
●●●
__ADS_1
"Sakumo, kimono mofuku."