
Ibu Citra dan Kania meminta maaf atas kejadian tadi pagi, mereka menangis dan tidak menyangka bahwa Kalila berkorban sejauh itu.
Setelah mendengar penjelasan detail dari Kalila barulah Ibu dan Adiknya mengerti, dan memutuskan untuk tidak peduli dan menghiraukan apa pendapat orang lain tentang keluarga mereka.
Jika bukan karena Kalila mungkin Ibunya sudah dipenjara, Ibu Citra menyesal dan tidak ingin membuat Kalila sedih lagi. Mereka memutuskan untuk menutup telinga pada orang yang tidak menyukai Kalila.
Malam harinya, Kalila pergi bekerja seperti biasa. Ia melangkah lesu, sejak bersama Anggara ia merasa hidupnya terikat pada Tuan Harun, gerak geriknya selalu diawasi, ia harus menurut bahwa Anggara akan tetap dalam tawanannya sebelum Tuan Harun sendiri yang mengakhiri kesepakatan mereka.
Sekian hari bertemu membuat Kalila tidak bisa menolak perasaan yang mulai tercipta. Siapa yang akan tahan iman jika berdekatan dengan pria tampan, kaya namun baik hati? Semakin hari Kalila merasa bersalah, Anggara sungguh tidak pantas ditipu, pria itu baik luar dalam.
Apalagi mereka telah sama-sama terjerat di atas ranjang yang kian hari semakin membuat mereka lengket.
"Kalila!" panggil sang manager Cafe.
"Saya Bu," sahut Kalila segera berjalan mendekat, kebetulan mereka bertemu saat Kalila hendak masuk pintu Cafe Carita.
"Sebaiknya kita bicara di luar!" ajak Bu Lina mendahului Kalila, gadis itu bingung namun ia tidak berani membantah karena wajah Bu Lina tampak serius sekali.
Ia mengikuti perempuan yang memakai blazer hitam itu. Mereka bicara sedikit menjauh dari Cafe.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi Bu Lina?"
Bu Lina tampak menghela napas panjang.
"Aku tahu kerjamu bagus selama ini, meski kau hanya penyanyi bukan karyawan Cafe ini, sungguh aku berterimakasih kau sudah menghibur dengan suara indahmu selama hampir dua tahun ini."
"Apa maksud Bu Lina?"
"Maafkan aku Kalila, pemilik Cafe memberhentikan mu dari pekerjaan ini, semua yang di sini sudah tahu bahwa kau berani mengusik hidup Nona Diana."
Kalila terkejut mendengar nama Diana.
"Apa?"
"Kau dipecat Kalila, Ibu Rani dan anaknya Nona Diana kemarin mengumumkan bahwa kau seorang pelakor di Cafe ini, kau merebut tunangan Nona Diana. Aku tidak tahu apa itu benar atau tidak, yang jelas perintah tetaplah perintah, aku hanya seorang manager bukan pemilik Cafe ini, tentu Ibu Rani punya kuasa penuh atas semua ini."
Kalila mulai paham, ia tidak menyangka ternyata Ibu Rani sang pemilik Cafe ini adalah orangtua Diana, gadis ini terduduk lesu di sebuah bangku. Tadi pagi soal ibunya yang didatangi Diana pada malam hari, dan malam ini pula ia dipecat karena Diana juga.
Kenapa semuanya seakan mencekik lehernya, jika dipecat ia akan bekerja dimana lagi? Hanya bernyanyi keahlian yang ia punya, ijazah SMA tidak akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup untuk menghidupi Ibunya dan Kania.
"Maafkan aku Kalila, untuk itulah aku mengajakmu bicara disini, jika kau masuk tentu karyawan lain akan bergosip saat melihatmu," ucap Bu Lina lagi.
Kalila masih diam, airmatanya menggenang.
"Aku tidak akan ikut campur urusan kau dan Nona Diana, tapi untuk sekarang pulanglah. Carilah pekerjaan lain, jangan datang kemari lagi karena itu akan memperburuk keadaan jika Nona Diana tahu, kemarin Nona Diana mengumumkan secara jelas dan lantang serta mempermalukan mu di depan semua karyawan dan teman-teman mu."
"Aku tidak bisa berlama lagi, aku akan masuk sekarang. Pulang dan cari pekerjaan lain, jika bisa hindari dulu Cafe ini karena gosip tentang mu sedang hangat. Kau akan malu."
Setelah mengatakan itu Bu Lina pergi begitu saja meninggalkan Kalila yang mulai menangis tersedu.
Keesokan harinya, Kalila mulai mencari pekerjaan lain, ia sedang berjalan menyusuri trotoar menuju halte. Pikirannya tertuju pada uang 20 juta dalam rekeningnya dari Tuan Harun tempo hari, ia sedang memutar otak uang sebanyak itu akan bertahan berapa lama, ada pula tersirat untuk dijadikan modal usaha, namun usaha apa? Kalila bingung.
Sampai pada sebuah klakson mobil SUV mewah edisi James Bond itu kembali mengikutinya. Kalila menoleh, senyum Anggara masih sama, membuat Kalila menghangat untuk beberapa saat.
"Hai." Sapa Kalila tersenyum.
Anggara turun dari mobil, ia menghampiri Kalila yang masih berdiri di bawah pohon pelindung di tepi jalan.
__ADS_1
"Kau mau kemana? Kenapa tidak menghubungi ku? Kenapa jalan kaki?" tanya Anggara setelah memberi kecupan di punggung tangan gadis itu.
Kalila hanya menjawab lewat senyuman, ia menunjukkan map cokelat di tangannya, Anggara mengernyitkan dahi.
"Kau sedang mencari pekerjaan?" Kalila mengangguk, "Aku butuh pekerjaan, aku punya Ibu dan adik yang harus makan," jawab gadis itu.
"Apa-apaan kau ini, aku tersinggung!" kata Anggara yang langsung menarik Kalila menuju mobilnya, ia paksa gadis itu masuk ke sana.
"Tuan?" lirih Kalila saat Anggara sudah masuk menyusulnya.
Cup, Anggara membungkam mulut Kalila dengan bibirnya. "Berhenti memanggilku seperti itu, aku ini kekasihmu bukan Tuan majikan mu!" kilah Anggara kesal.
"Apa? Kekasih?" gumam Kalila pelan, ia tidak menyangka Anggara akan menganggapnya kekasih.
"Tentu saja kekasih, memangnya apalagi? Akan menjadi suami jika kau bersedia menerima pertanggungjawaban dariku."
Kalila bungkam. Deg, deg, deg, perasaannya ambyar sekali.
"Aku sungguh tersinggung jika kau mencari pekerjaan, sudah ku katakan aku akan memenuhi kebutuhan mu mulai sekarang, jangan sungkan, jadi tidak perlu mencari pekerjaan lain. Kau anggap apa aku ini!" ucap Anggara sambil melajukan mobilnya.
"Aku......" ucap Kalila terbata, ia bingung.
"Apa?" Anggara membelai pipi Kalila dengan lembut.
"Aku bingung, aku bukan gadis yang baik. Aku tidak pantas untukmu," balas Kalila menunduk.
Anggara hanya tersenyum, ia tidak menjawab. Hanya fokus mengemudi membawa Kalila kembali ke griya tawang miliknya.
"Kenapa kau selalu membawaku kemari? Seharusnya kau bekerja bukan?" tanya Kalila, karena ia merasa tidak enak terus menawan Anggara meski disiang bolong hampir setiap hari.
"Karena disinilah tempat ternyaman untuk bersamamu," jawab Anggara memeluk Kalila yang berdiri di tepi jendela kaca yang menampilkan hiruk pikuk kota dari atas sana.
Kalila berbalik badan hingga Anggara puas memandangi wajah cantiknya tanpa cela.
"Apa aku boleh jatuh cinta padamu?" tanya Kalila seraya memandang manik hitam milik pria tampan di hadapannya.
Mendengar itu Anggara tersenyum geli, "Pertanyaan macam apa itu?" sahutnya langsung meraih bibir Kalila dengan penuh perasaan.
Kalila menghentikan tautan bibir mereka, ia memegangi rahang kokoh Anggara, "Aku jatuh cinta padamu Anggara, aku tahu ini terkesan tidak tahu malu telah berani jatuh cinta pada pria sempurna seperti mu, aku tidak mengharapkan apa-apa, aku hanya ingin kau tahu perasaanku itu saja, mana kala mungkin kita hanya akan menjadi kenangan saja setelah semua ini."
Anggara tersenyum lebar, menampilkan gigi yang berbaris rapi. Ia tidak menjawab melainkan kembali membawa Kalila pada ciuman panjang yang memabukkan, memancing sebuah gairah yang perlahan menjalari kedua jiwa dan tubuh yang bersahutan.
"Anggara, hentikan!" Kalila mendorong dada Anggara saat mereka telah mencapai ranjang.
Pria itu tidak mengubah posisi yang sekarang tengah menindih Kalila.
"Kenapa?"
"Apa kau tidak bosan?"
Anggara menggeleng, "Kau membuatku kecanduan Kalila, sungguh!" sahut lelaki itu seraya berbisik, ia menjatuhkan wajahnya di leher gadis itu.
"Aku bilang aku mencintaimu, bukan ingin bercinta," kilah Kalila.
"Mencintai dan bercinta apa bedanya, sama-sama ada cintanya, ayolah!"
"Aku lapar," kata Kalila memohon.
__ADS_1
Anggara menatap Kalila tidak percaya.
"Aku lapar," rengek Kalila, Anggara terkekeh, ia beranjak lalu membantu gadis ranjangnya itu berdiri.
"Mau kemana?"
"Ayo kita makan!" ajak Anggara sambil terus menggenggam tangan Kalila.
"Di luar?"
"Tidak, di sini ada banyak stok makanan. Tadi pagi Mama ku mengirim makanan dari rumah utama."
Kalila terdiam, ia bahkan lupa Anggara tentu punya keluarga. Semakin pula ia ciut mengingat siapa Anggara.
Di meja makan, Kalila makan dengan lahap karena memang belum makan sejak pagi.
"Kau lapar?"
Kalila mengangguk sambil terus mengunyah. Membuat Anggara tersenyum, ia mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibir gadis itu. Kalila menatap Anggara dengan lirikan mata cokelatnya.
"Apa kau memperhatikan ku?"
"Iya," jawab Anggara tidak berkedip.
"Kenapa? Apa karena aku cantik?"
"Iya."
"Hanya cantik?"
"Lebih dari itu."
"Apa kau menyukai ku?"
"Suka sekali," sahut Anggara tanpa ragu.
"Kita baru kenal, kau tidak tahu siapa aku sebenarnya," ucap Kalila menunduk sambil menatap nasi di piringnya.
"Akan tahu seiring waktu, aku menyukaimu Kalila."
Kalila menoleh, ia mencari pembenaran lewat sorot mata pria itu.
"Hanya suka?"
"Mungkin cinta!" Anggara menaikkan bahu.
"Secepat ini?"
"Pertanyaan yang sama untukmu, kau tadi mengatakan kau jatuh cinta padaku, apa secepat itu?"
Kalila tersenyum, "Iya, karena kau begitu tampan dan polos."
Gadis itu mengecup bibir Anggara sekilas. "Makanlah, setelah ini kita akan ke Puncak."
"Apa? Kenapa ke Puncak?"
"Aku ingin kau menemaniku berlibur akhir pekan di sana."
__ADS_1
"Aku.... Aku tidak.... " Kalila terputus saat Anggara langsung menyela. "Aku tidak menerima penolakan." Pria itu membalas kecupan dengan kecupan.