
Pertemuan antara Kalila dan Tuan Harun tidak sengaja dilihat oleh Ibu Rani dan Diana yang kebetulan juga makan siang di restoran yang sama.
Mereka saling berpandangan, Diana baru menyadari semuanya sekarang. Tuan Harun dan keluarganya tidak memiliki hubungan yang baik, terlebih dengan ayahnya.
Mereka mulai tahu perpisahan antara Anggara dan Diana mungkin saja didalangi oleh Harun yang licik dan tidak suka Diana menjadi menantu dalam keluarga Anggara.
Semua tahu tentang keserakahan Harun yang mengincar posisi CEO di Mahardika Group, menggagalkan Anggara sebagai penerus, tentu saja jika Anggara gagal menikah, Harunlah yang menduduki posisi itu sebab wasiat kakaknya yang memberi syarat putranya harus menikah lebih dulu sebelum menjabat.
"Aku mengerti sekarang," desis Diana yang terus memperhatikan Kalila dari jauh.
"Apa maksudmu?" tanya Ibunya.
"Ckkkk...... Pelakor sialan, seharusnya aku menyadari sejak awal Ma, semuanya tiba-tiba. Entah dari mana datangnya wanita itu hingga bisa masuk dalam kehidupan Anggara, sedang kita tahu selama ini Anggara tidak suka berdekatan dengan wanita manapun jika belum mengenalnya apalagi wanita miskin seperti dia. Aku rasa Paman Harun yang memberi akses untuk itu."
Ibunya terdiam, giginya gemertak menahan kesal. Putrinya menjadi korban perasaan dan hubungan hanya karena Harun yang membenci keluarganya.
"Baiklah, jika itu permainan Paman Harun aku pun terpaksa meladeninya. Jangan kira kita takut pada Harun culas itu!!! Kita tahu semua gerak geriknya dalam perusahaan, tapi Anggara tidak akan percaya begitu saja semua ini."
Diana berpandangan lagi dengan Ibunya.
"Hana harus tahu hal ini," sahut Ibu Rani menatap putrinya penuh arti. Anggara adalah anak yang patuh dengan Ibunya, Ibu Hana tentu punya pengaruh penting dalam keputusan Anggara nantinya.
Kalila bermenung seorang diri setelah kepergian Tuan Harun, ia mulai mengerti arti dari semua yang dilakukan oleh Paman suaminya itu. Tidak lain tidak bukan adalah menggagalkan Anggara menggantikan ayahnya di perusahaan.
Kenapa semuanya seolah rumit sekali dalam pikiran perempuan itu, mereka sudah menikah, buruknya dia sendiri yang menjadi boneka dari perbuatan Tuan Harun pada Anggara.
Kalila berdiri hendak pulang, namun Diana langsung menamparnya secara mendadak saat ia berbalik badan.
Plak. Kalila memalingkan wajahnya ke samping seraya memegang pipinya yang terasa perih, Kalila menatap Diana kesal.
"Ckkk, aku tahu sekarang siapa kau sebenarnya!" seru Diana tersenyum miring.
Ibunya juga menatap Kalila dengan tajam.
__ADS_1
"Tidak ku sangka, hanya seorang wanita bayaran. Wajar saja kau mau, karena kau miskin. Berapa yang Harun bayar atas jasamu menghancurkan hidup putriku?" seringai Ibu Rani sambil mencengkram pipi Kalila.
Namun segera ditepis Kalila dengan kasar.
"Aku tidak mengerti yang kalian maksud!"
"Huuh, kau tidak mau mengaku?" Diana membentak.
"Anggara akan tahu semua ini!" sambung Diana lagi.
"Dia akan percaya padaku," sanggah Kalila mulai berani.
"Kau tidak mengenalnya wanita sialan, kau hanya menang atas tubuhmu yang mampu menggoda pria ku, akan ku balas kau lebih sakit dari apapun!" kata Diana.
"Aku rasa kau mengakui tubuhku lebih menggoda Anggara dari pada kau yang bahkan sudah bertunangan lama dengannya tapi tidak bisa memilikinya!" sahut Kalila tanpa takut.
"Sialan!!!!" Diana menampar lagi Kalila dengan geram, lalu Ibunya melerai.
"Percuma meladeni perempuan rendahan ini, dia tidak tahu sekuat apa pengaruh kita pada Anggara, jangan habiskan waktu kita disini. Bibi Hana pasti akan terkejut mendengar bahwa putranya telah dijebak oleh wanita bayaran iparnya sendiri." Ibu Rani bicara sambil menggandeng tangan putrinya agar menjauh dari Kalila.
*****
"Kenapa baru memberitahu ku soal ini? Anggara mengatakan bahwa kalian berakhir baik-baik, karena memang sudah tidak saling mencintai lagi."
Ibu Hana terkejut saat mendengar dari Diana, berbeda dari apa yang Anggara sampaikan padanya terkait kandasnya hubungan pertunangan itu.
Diana menjelaskan lagi inti dari permasalahan mereka, ia menyebutkan bahwa Anggara dijebak oleh Paman Harun menggunakan wanita bayaran.
"Jadi putraku berani berbohong sekarang!" desis Ibu Hana yang merasa kesal pada Anggara yang menutupi bahwa lelaki itu sudah punya wanita lain.
Diana dan Ibunya menghasut lagi, memanasi lagi Ibunda dari Anggara itu agar segera ikut campur untuk mengambil Anggara lagi dari Kalila.
"Kau tenang saja sayang, Bibi tentu tidak akan diam soal ini. Kaulah menantu idamanku, aku akan meyakinkan Anggara agar kembali padamu, dan meneruskan rencana pernikahan kalian. Sudah seharusnya, jika tidak maka Harun akan tepuk tangan di depan wajahku!" seru Ibu Hana dengan nada menahan marah.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu Ibu Hana langsung menghubungi putranya agar makan malam bersama di rumah utama.
"Ma, sudah ku katakan sebelumnya aku dan Diana sudah berakhir," ucap Anggara disela makan malam mereka.
"Kau tidak percaya pada Mama?"
"Bukan seperti itu, Diana marah dan sakit hati padaku jadi wajar jika dia berprasangka buruk dengan orang lain. Tidak ada hubungannya dengan Paman Harun!"
Ibu Hana terdiam, ia tahu sekarang bahwa putranya benar-benar dalam pengaruh wanita yang diceritakan oleh Diana itu.
"Lalu bagaimana dengan wasiat Papa mu soal menikah?"
"Ayolah, jangan bicara konyol Ma, aku bisa menggantikan Papa tanpa harus menikahi Diana bukan?"
"Tapi Mama hanya ingin Diana yang menjadi menantuku!!" kilah Ibu Hana sambil meletakkan sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan.
Anggara menatap Ibunya.
"Aku mencintai wanita lain!"
"Ckkk, jangan sebut itu di depanku!!!"
Ibu Hana marah, Anggara menghela napas berat dibuat Ibunya yang anti wanita miskin, jika seperti ini bagaimana ia bisa mendapatkan restu untuk membawa Kalila ke rumah ini.
"Maafkan aku."
"Mama ingin kau tetap pada rencana awal menikahi Diana dan meneruskan posisi ayahmu, jangan biarkan Paman licikmu itu menguasai apa yang telah Ayahmu tinggalkan!" tegas Ibu Hana lagi.
"Tapi kenapa harus Diana? Aku bisa menikahi wanita pilihanku bukan?"
"Tidak bisa, tunanganmu adalah Diana. Publik tidak tahu kalian berpisah, jangan membuat kecewa orangtua. Ayah Diana sahabat Ayahmu, dia banyak membantu dalam pengembangan bisnis keluarga kita di Singapura. Kalian memang seharusnya menikah, jangan sakiti Mama mu ini hanya karena wanita murahan itu!!!"
"Berhenti mengatakan dia murahan!" ucap Anggara kecewa.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah merestui kau menikah selain Diana. Singkirkan Paman Harun sebelum dia berbuat lebih. Kau harus segera menggantikan Ayahmu Anggara, tidak bisa tidak."
"Jika kau tidak sayang pada Mama mu ini, silahkan berbuat semaumu!" ucap Ibu Hana dengan nada dingin seraya meninggalkan Anggara seorang diri di meja makan.