
Nyonya Hana menerima informasi bahwa Anggara masih suka pulang ke griya tawang disiang hari hanya demi Kalila meski di tengah peliknya urusan kantor saat ini. Membuat sang Ibunda muak membayangkan betapa berpengaruh Kalila terhadap anaknya saat ini.
"Kurang ajar!!!! Uangku diambil, tapi masih tidak punya muka untuk mengemis cinta Anggara, tidak kunjung keluar dari sana meski sudah diusir? Benar-benar berani!!!! seru Nyonya Hana saat bicara dengan calon menantu pilihannya Diana.
"Bibi harus tegas pada Anggara, tidak bisa menyingkirkan wanita itu setidaknya buat Anggara yang tidak bisa mengelak akan pernikahan ini," ucap Diana membujuk.
"Kau tenang saja sayang, Bibi tidak akan membiarkan pernikahan ini batal. Percaya pada Bibi."
Diana memeluk Nyonya Hana dengan rasa puas di hatinya. Wanita ini tersenyum miring saat membayangkan apa yang akan terjadi pada adik Kalila hari ini, ternyata Diana belum menyerah untuk membalas dendamnya pada keluarga Kalila, jika Kalila tidak bisa ia sakiti karena dalam lindungan Anggara maka adiknya yang harus menerima dampak dari semua yang terjadi, ia bisa membayangkan betapa hancurnya Kalila jika mendapati adiknya dinodai. Kali ini ia tidak ingin gagal.
"Aku mendengar Bibi menemui Ibu pelakor itu tempo hari?" tanya Diana memancing.
"Jangan sebut mereka di depanku, sampai kapan pun aku tidak sudi berhubungan dengan keluarga perempuan yang telah menjadi duri dalam hatiku!!!" geram Nyonya Hana terbayang wajah Ibu Citra.
Diana tersenyum miring, ia baru tahu sekarang tentang masa lalu Nyonya Hana dan Ibu Citra. Ini kesempatan baik untuknya terus memanasi Nyonya Hana agar membenci Kalila.
Diana pulang, Anggara datang.
"Mama," sapa Anggara memeluk Mamanya yang terbaring lemah.
"Mama kira kau lebih memilih pulang untuk wanita itu, silahkan saja jangan hiraukan Mama."
Anggara menghela napas, benar ia baru saja dari menjenguk Kalila namun segera pulang saat sang Ibunda diberitahu pelayan bahwa ia kembali sakit dan pingsan.
"Mama ayolah jangan seperti ini, semua akan membaik. Percaya padaku, aku bisa mengurus perusahaan dan menyelesaikan masalah Paman Harun, lagi pula semua bisa dibicarakan baik-baik, Paman Harun akan mengerti soal wasiat Papa, tidak wajib bagiku menikah dengan Diana bukan? Jadi apa masalahnya jika aku meresmikan hubungan dengan Kalila? Akan sama saja."
"Apa? Sebut sekali lagi wanita itu! Maka kau akan melihat ku mati sekarang juga!!!" teriak Nyonya Hana dengan dada kembang kempis.
"Maafkan aku, kami sudah menikah Ma mengertilah..... Tidak mungkin aku menikahi dua wanita, aku tidak bisa!"
"Menikah tanpa izin dariku, tidak Anggara tidak akan pernah ku restui jika bukan Diana. Tinggalkan perempuan sialan itu, atau Mama tidak mau operasi!"
__ADS_1
Anggara mengernyitkan dahi mendengar kata operasi.
"Operasi? Apa maksud Mama?"
"Kau tidak tahu betapa parahnya penyakit Mamamu ini, karena kau terlalu sibuk mengurusi wanita simpanan mu itu!"
"Mama aku mohon, ada apa?"
"Jika Mama yang bicara kau mungkin tidak akan percaya, bicaralah pada dokter yang menangani Mama."
Anggara tidak membantah, ia menunggu kedatangan dokter pribadi Nyonya Hana yang akan datang sebentar lagi.
Setelah bicara lama dengan sang dokter, Anggara jadi tahu bahwa Mamanya harus operasi pemasangan ring jantung untuk mengatasi penyumbatan pada pembuluh darah jantung yang diidap Mamanya selama ini.
Jika tidak dilakukan prosedur tersebut maka Nyonya Hana akan terus mengalami resiko serangan jantung bahkan bisa meninggal mendadak.
Anggara menatap Mamanya lagi, perempuan itu menangis. Pria itu mendekat, dan memberi usapan tangan yang lembut.
Anggara terdiam.
"Mama kita bisa bicara baik-baik, Mama seperti ini karena belum mengenal Kalila."
Nyonya Hana menepis tangan anaknya saat Anggara masih saja membujuk. "Tidak akan pernah Anggara, tidak akan pernah ku restui kau menikahi gadis itu! Kau tidak mengerti perasaanku, pergilah, pergi dan berbuat semaumu. Sepertinya dia lebih penting dari orangtuamu sekarang, serahkan saja perusahaan pada Harun biar hancur sekalian. Mama akan mati, biarlah Mama mati."
Nyonya Hana memelankan suaranya, menangis seolah pilu agar Anggara melunak padanya, betapa ia membenci Kalila hingga anaknya berani membantah sejauh ini.
Anggara masih bungkam, ia berat sekali untuk mengiyakan permintaan Mamanya yang ingin rencana pernikahan dengan Diana akan tetap dilangsungkan. Ia tidak bisa abai soal Kalila, mereka sudah menikah dan pernikahan diam-diam itu tidak patut ia permainkan.
Namun jika sudah menyangkut sang Mama, apalagi sedang sakit seperti ini dan harus pula melakukan tindakan operasi agar terhindar dari resiko yang mengancam jiwa. Ia sudah mendengar sendiri dokter berkata panjang lebar tentang sakit dada yang kerap dialami Mamanya akhir-akhir ini.
"Ma?" ucap Anggara sambil meraih tangan perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Oh dokter, ahhhhh..... Dadaku nyeri lagi!!!" Nyonya Hana meregang sambil memegangi dadanya kesakitan.
Anggara melihat itu menjadi panik, ia memanggil Mamanya namun tidak mendapat jawaban karena Nyonya Hana terus kesakitan lalu pingsan, beruntung dokter segera menanganinya dan menyarankan pada Anggara agar segera dibawa ke rumah sakit dan mengambil keputusan untuk operasi pemasangan ring jantung secepatnya.
Karena terlalu panik dan takut, Anggara langsung mengiyakan semua perkataan dokter.
Di rumah sakit, Anggara segera mendekati Mamanya yang mulai sadar.
"Mama, maafkan aku?" ucap pria itu menyesal.
"Mama tidak akan mau dioperasi, jangan memaksa jika kau saja tidak ingin menuruti kemauan hatiku, aku ingin kau menikah dengan Diana itu saja Anggara, dan kau akan menempati posisi Papamu seperti seharusnya, jangan biarkan Pamanmu menghancurkan semuanya," sahut Nyonya Hana menangis lagi.
Menarik napas dalam, Anggara mengangguk perlahan. Ia tidak bisa mengabaikan Mamanya jika seperti ini, operasi harus segera seperti yang dikatakan dokter tadi, jika tidak kejadian seperti tadi bisa terulang bahkan bisa meninggal mendadak.
"Apa itu artinya?"
"Apapun ku lakukan asal Mama mau operasi dan sehat lagi, aku menyayangi Mama lebih dari apapun."
"Oh sayang, Mama terharu. Mama tahu kau anak yang patuh."
Anggara memeluk Mamanya dengan perasaan menyesal telah menentang diawal.
Senyum miring tercipta dibalik wajah cantik yang pucat itu. Tidak lama datang Diana beserta Ibunya ke sana.
"Diana, sayang kemarilah kau datang."
"Bibi, jangan membuatku cemas!!!" kata Diana sebelum memeluk Nyonya Hana seolah panik dan cemas.
Anggara hanya bisa tersenyum paksa menyambut kedatangan Diana yang tampak tulus memeluk dan mengkhawatirkan Mamanya.
Anggara menatap Diana, hatinya berat namun ia mengingat lagi bukankah ia dulu menginginkan Diana untuk dinikahi sebelum bertemu Kalila, akan mudah mengatur perasaan itu lagi nantinya pikir Anggara, namun wajah Kalila kembali terngiang, wajah cantik dan manja memeluk dan menatapnya penuh cinta saat hendak tidur dan saat bangun di pagi harinya.
__ADS_1
Alangkah rumit jika menyangkut urusan harta dan kemauan orangtua pikir Anggara, lalu bagaimana pula ia akan menghadapi Kalila, menyakiti perempuan itu? Dilema.