
"Semuanya baik Bu, tenang saja. Aku bisa menjaga diri, aku merindukan Ibu, aku tutup dulu nanti kita bicara lagi, oke?" ucap Kalila pada sang Ibunda di layar ponsel.
Segera ia mematikan panggilan video setelah menyadari pintu kamarnya terbuka menampilkan wajah dingin seorang perempuan paruh baya yang disebutnya sebagai Mama mertua.
"Oh, Mama rupanya. Apa aku melakukan kesalahan hingga Mama kemari menyusulku?"
Kalila mendekat arah pintu, Nyonya Hana masuk tanpa takut, ia menatap Kalila dengan senyum remeh.
"Jangan mengira kau sudah menang Kalila! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Kau lupa siapa nyonya di rumah ini? Akulah yang berkuasa. Aku tidak takut padamu!"
Kalila terkekeh. "Apa aku terlalu mendominasi hingga semua orang di rumah ini begitu terancam karena kehadiranku?" sindir Kalila masih dengan senyum yang tak kalah tajam.
Nyonya Hana berdecih.
"Ketahuilah, kau dan Anggara tidak punya alasan untuk bersama, apapun alasannya! Jangan kira aku mau dipanggil Mama mertua, aku tidak akan sudi berhubungan dengan keturunan Citra. Kau dan Ibumu sama saja! Suka merebut kebahagiaan orang lain."
Senyum Kalila memudar saat mendengar nama ibunya ikut disebut.
"Jangan bawa Ibuku dalam hal ini. Anda salah besar nyonya Hana." Geram Kalila.
"Heh, terserah padamu! Turunlah, ini sudah sore. Banyak pekerjaan di dapur, jangan hanya menumpang hidup di rumahku, tentu kau harus membantu semua pekerjaan. Bukankah kau tidak lebih baik dari seorang pembantu?"
Kalila menggeram, tangannya mengepal dan tatapan tajamnya belum beralih dari wajah sang mertua yang sedang merendahkannya saat ini.
Nyonya Hana keluar kamar setelah tersenyum miring seolah mengejek. Kalila kesal bukan main, ia mengira Nyonya Hana tidak akan sejahat itu ternyata mertuanya itu tidak kurang berbahaya dari Diana.
Kalila berada di dapur. Semua pelayan semula tidak takut apalagi menghormatinya namun berubah ciut saat Kalila mengancam dengan nama suaminya, hingga pekerjaan di dapur ia selesaikan dengan bantuan dua pelayan yang ia tunjuk membantunya.
Pada saat makan malam.
"Apa kau yang memasak? Apa Mama memaksamu?"
__ADS_1
"Kau meragukanku?"
"Tentu saja tidak," jawab Anggara tersenyum pada Kalila yang melayaninya di meja makan.
"Sebagai menantu yang baik, tentu aku harus pandai memasak untuk suami dan Mama mertuaku, aku suka berada di dapur sayang. Jadi tenang saja, tidak ada yang memaksaku, semua ku lakukan dengan ikhlas."
"Sejak kapan di meja makan begitu banyak drama seperti ini?" ketus Nyonya Hana yang gerah melihat aksi manja Kalila dan Anggara.
"Maafkan aku, ayo kita makan!" ajak Anggara.
"Sayang, apa kau yakin makanan ini tidak beracun? Kalau tidak salah wanita ini datang dengan dendam." Diana yang muak sejak tadi pun ikut bicara, ia mencegah Anggara untuk memasukkan makanan ke mulut.
"Oh, ada yang takut mati rupanya!" Kalila terkekeh geli.
"Meski aku ingin sekali meracuni seseorang di rumah ini, namun percayalah aku tidak akan melakukannya secepat ini juga."
Kata-kata tersebut membuat semua orang menjadi hening, semua mata menatap Kalila termasuk Anggara. Hingga sebuah tawa renyah dari mulut istrinya itu membuyarkan semua lamunan.
"Aku tidak berselera makan!" Diana pergi begitu saja meninggalkan meja makan dengan raut kesal, karena Anggara hanya memberi perhatian pada Kalila saja sejak tadi.
Nyonya Hana hanya bisa menghembus napas kasar, ia meneruskan makan malam sampai selesai.
"Mama perlu bicara padamu Anggara! Ayo ikut Mama!" perintah nyonya Hana pada putranya dengan nada tajam.
Anggara mengangguk, dan mengikuti langkah sang Mama saat mereka meninggalkan meja makan. Kalila tersenyum puas dengan ekor mata menatap punggung mertuanya yang kian menjauh.
"Semua dokumen sudah di tanganku, Paman mungkin tidak bisa mengelak lagi setelah ini, semua ada buktinya, sekarang aman bersama ku sampai saatnya nanti."
Anggara bicara sambil berdiri menghadap jendela, ia dan Ibunya sedang bicara di ruang kerjanya.
"Sudah ku duga, Harun benar-benar ingin menghancurkan apa yang ayahmu bangun selama ini. Dasar serakah! Singkirkan dia, tidak peduli dia pamanmu atau bukan, dia telah berbuat curang pada ayahmu, aku memang tidak pernah suka padanya sejak dulu."
__ADS_1
Nyonya Hana mengepalkan tangannya diatas meja, ia begitu marah saat tahu apa yang telah Harun iparnya lakukan selama ini terhadap perusahaan, korupsi dengan gila lalu ingin memiliki pula perusahaan suaminya dengan menyingkirkan Anggara sebagai pewaris dan penerus.
"Mama tidak perlu ikut campur urusan ini, aku akan mengatasinya," ucap Anggara lagi.
"Mama percaya padamu, sekarang sudah jelas sepak terjang pamanmu seperti apa, Mama ingin kau menyingkirkan Harun beserta kaki tangannya, termasuk wanita tidak tahu malu yang kau sebut istri itu!"
Anggara menatap sang Mama dengan raut tidak suka.
"Sudah ku katakan, Kalila tidak ada hubungannya dengan Paman. Mama mengertilah," sanggah Anggara.
"Ck, kau benar-benat buta dibuat wanita itu. Dia bersekongkol dengan Harun, kau masih saja tidak percaya."
"Kalila istriku, aku mengenalnya sebagai perempuan yang polos. Dia bukan seperti yang Mama tuduhkan."
"Oh, aku tidak percaya ini," kesal nyonya Hana.
"Sekarang, Mama sudah tahu perasaanku. Aku sama sekali belum menyentuh Diana, aku berniat membatalkan pernikahan agar status Diana bisa jelas, aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya, dia tidak seharusnya ikut dalam perebutan posisi ini, semua hanya demi Mama."
"Apa? Apa kau ingin Mama mati? Katakan sekali lagi? Dianalah menantu pilihan ku, aku tidak akan merestui kau bersama wanita itu, tidak akan Anggara!"
Anggara menarik napas dalam.
"Mama, aku---"
"Cukup! Yang perlu kau lepaskan itu adalah Kalila, wanita licik itu bukan Diana. Kau dan dia tidak punya alasan apapun untuk bersama," Nyonya Hana menekankan setiap kata-katanya.
"Mama."
"Tidak Anggara, aku tidak bisa menerima keturunan dari wanita yang ku benci di masa lalu. Aku tidak ingin berhubungan apapun dari Citra maupun keturunannya!"
"Lepaskan dia secepatnya!"
__ADS_1
Nyonya Hana bicara dengan nada rendah seraya berlalu, meninggalkan sebuah tanya dari putranya, darimana Ibunya tahu bahwa nama Ibu dari istrinya adalah Citra.