Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Cemburu


__ADS_3

Tiga hari Anggara tidak pulang ke griya tawang, alasan Ibunya yang sakit membuat Kalila harus mengerti posisinya.


Selama itu pula Anggara hanya menyuruh Don untuk membantu Kalila yang sendiri di unit mewah Penthouse itu, membantu membelikan makanan yang sengaja Anggara suruh, membantu membelikan kebutuhan yang habis mendadak jika malam hari.


Di sanalah mulai Kalila mengenal seorang lelaki baik lagi selain Anggara di belakang sosok suaminya, Don mempunyai kesan yang sangat baik lagi rupawan.


Mereka jadi sering bertemu dan mengobrol, berkat Don, Kalila jadi tahu semua aktivitas dan kebiasaan Anggara selama ini. Tidak heran ia semakin merasa rendah diri oleh cerita Don, bahwa suaminya benar-benar bukan pria sembarangan apalagi playboy.


Kalila meminum hingga habis air soda yang ia pegang sejak tadi, Don tersenyum tidak berkedip melihat istri simpanan bosnya itu dari dekat seperti ini.


Siapa yang akan menolak pesona gadis yang cantik dan polos seperti itu, gadis yang bergaya sederhana namun sungguh memikat hati, termasuk hatinya. Don merutuk dalam benaknya atas apa yang telah ia pikirkan.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Kalila heran.


"Kau cantik Kalila, kenapa mau dijadikan simpanan?"


Kalila terdiam. Wajahnya menjadi canggung.


"Aku mencintai suamiku," jawab Kalila ambigu.


"Dari sekian wanita yang mendekati Bosku, hampir semuanya mempunyai motif."


"Apa kau curiga padaku?"


Don terkekeh, "Kau tidak tahu sudah berhadapan dengan siapa Kalila, aku hanya merasa kasihan padamu. Nyonya Hana tentu pemilih dalam hal kehidupan pribadi putranya, termasuk urusan jodoh, Bos Anggara dan Nona Diana sudah berhubungan lama, mereka direstui semua keluarga, tapi malah jadi seperti ini. Kau hebat!" kata Don yang membuat wajah Kalila menjadi pias.


"Kau menyindir? Atau memperjelas nasibku yang tentu tidak akan direstui begitu?" Don terkekeh lagi, ia tidak menjawab melainkan langsung berdiri lalu pamit.


"Aku akan siap jika kau membutuhkan bantuan ku, jangan sungkan anggap kita berteman mulai sekarang," ucap Don sebelum pergi.


Kalila mengangguk. "Terimakasih banyak, aku senang ada pria baik selain Anggara dalam lingkaran ini," jawab Kalila tersenyum.


Hingga hari-hari berikutnya, Don selalu datang menjenguk atas perintah Anggara. Mereka semakin akrab karena sikap yang terbuka, Kalila seperti punya teman curhat disela kejenuhan berada dalam kemewahan seorang diri sudah satu minggu.


Anggara membuka pintu menggunakan kartu akses, ia masuk dengan perasaan merindu yang membuncah, betapa tidak satu minggu ia tidak boleh jauh dari Ibunya yang sakit. Ia sudah merindukan Kalila yang ia larang untuk keluar gedung vertikal itu selama ia tidak pulang.


Langkahnya terhenti saat mendengar suara gelak tawa dari dua orang yang sangat ia kenal. Matanya tertuju pada Kalila yang sedang terpingkal karena ulah Don yang sedang memperagakan sesuatu.


"Ehem," Anggara berdehem kuat, hingga Kalila dan Don terkejut dibuatnya.

__ADS_1


Melihat Anggara perempuan itu tersenyum lebar, tanpa menghiraukan Don ia langsung berjalan menuju suaminya itu berdiri, memeluk Anggara dengan kerinduan. Pun Anggara menyambut Kalila tak kalah erat, Don melihat mereka berpelukan menjadi terdiam di tempat.


"Aku menyuruhmu kemari bukan untuk mengobrol dengan istriku, apalagi sampai bercanda. Yang benar saja kau berani pada istri Bosmu sendiri!" ucap Anggara setelah melihat wajah Don yang tersenyum getir.


"Maafkan aku Bos."


Kalila mendongak, "Apa kau cemburu?"


"Kenapa kalian bisa akrab seperti itu?" tatap tajam Anggara pada perempuan yang masih tersenyum padanya.


"Kau tidak pulang, Don banyak membantu selama aku kau kurung di sini. Tenanglah jangan marah-marah, kami hanya berteman," cetus Kalila.


"Berteman? Siapa yang mengizinkan mu berteman dengan lelaki seperti dia?"


"Bos?" Don hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.


"Memangnya dia seperti apa?" goda Kalila, "Dia lelaki.... Lelaki...." Anggara menggantung sambil berpikir. "Seperti apa?" desak Kalila lagi, "Dia gemulai."


"Eh Bos, itu fitnah. Enak saja. Aku pria sejati!!!" teriak Don kesal.


"Jika kau pria sejati, jangan coba-coba kau suka pada istri Bosmu sendiri!! Pulang sana, apa kau mau terus mengganggu?"


Kalila terkekeh melihat mereka berdebat, Don benar Anggara dan dirinya sudah seperti sahabat bukan antara Bos dan sekretaris.


"Bagus jika kau mengerti!"


Perempuan itu mengangguk sambil mengusap dada suaminya, Anggara tidak melepas istrinya itu walau seinci membuat Don kesal sendiri.


Setelah Don pergi, Anggara menatap Kalila setajam mata elang.


"Kau marah aku bicara pada Don?"


"Aku cemburu!"


"Maafkan aku, aku merindukan mu sungguh!!!" kata Kalila sambil memeluk suaminya lagi.


"Sayangnya aku tidak bisa marah padamu, tapi berjanjilah kau tidak akan tertawa lepas seperti tadi jika bukan denganku!"


"Iya, baiklah. Kau tidak rindu padaku?"

__ADS_1


"Oh jangan ditanya," sahut Anggara yang langsung menyambar bibir madu yang ia rindukan satu minggu ini.


******


Kania memeluk Ibunya, mereka menangis bersama.


Baru beberapa minggu hidup mereka tenang karena telah pindah dari kontrakan. Hidup serba berkecukupan dari uang Kalila yang dinafkahi Anggara.


Kini mereka kembali terusik saat Diana dan Ibunya masih juga menemukan mereka padahal sudah tidak memberitahu pada siapapun saat pindah. Ibu Citra memilih diam tidak mengadu pada putrinya, Kania pun demikian meski ia terus terganggu dengan gosip yang mulai menyebar ke sekolahnya bahwa ia adalah adik dari seorang wanita yang merebut tunangan wanita lain.


Mereka memendam semua perasaan sakit demi kebahagiaan Kalila meski Ibu Citra tahu seperti apa akan akhir dari nasib anaknya yang tentu tidak akan baik jika terus bersama Anggara.


"Ibu?" Kania melepaskan pelukannya, mereka saling bertatapan saat suara pintu diketuk dari luar.


"Mungkin itu kakakmu," sahut Ibu Citra menghapus airmatanya.


"Biar aku yang buka pintu!"


Ibu Citra mengangguk, Kania berjalan sambil tersenyum ia sudah merindukan Kalila yang belum bisa pulang menjenguk mereka.


Namun saat dibuka, Kania tercengang.


"Maaf, Nyonya ini siapa?" tanya Kania bingung pada perempuan yang ternyata bukan kakaknya yang bertamu.


"Mana Ibumu?" sahut perempuan paruh baya itu dengan nada dingin.


Ibu Citra mendekat, "Kania siapa yang datang? Kakakmu bukan?" ucapnya sambil mendekati Kania yang berdiri di ambang pintu.


Ibu Citra dan Ibu Hana saling menoleh, sama-sama terkejut hingga mundur satu langkah masing-masing.


"Kau!!!" ucap Ibu Hana hampir berteriak.


"Hana?" Ibu Citra menelan ludah, Kania menjadi lebih bingung melihat ekspresi wajah mereka berdua.


"Ibu kenal Nyonya ini?" Ibu Citra masih mematung.


"Jadi wanita rendahan itu adalah putri mu?" ucap Ibu Hana lagi, kali ini bahkan lebih tajam dari belati.


"Cih, aku tidak percaya ini!!!!!" sambung Ibu Hana yang terheran sendiri.

__ADS_1


#####


Maafkan otor yang jarang up, ternyata otornya garis 2 lagi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ mabok sikit sama suka malas-malasan, maafkan ya ๐Ÿ˜˜ doain semangat lagi nulisnya๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2