Ranjang Pelakor 1 Milyar

Ranjang Pelakor 1 Milyar
Bercinta di kamar mandi


__ADS_3

Kalila menaruh lagi ponsel yang ia gunakan mengirim foto kemesraannya dengan Anggara pada Tuan Harun. Ia kembali berbaring miring, matanya sibuk memandangi wajah pria yang sudah dua kali menidurinya itu.


Wajah tampan yang polos, tidak ada cela sama sekali. Rahangnya yang kokoh dengan jambang tipis, dan bibirnya yang tebal membuat Kalila tersenyum tanpa ia sadari.


Bibir lelaki itu yang telah memberi kenikmatan duniawi, menjamah tubuhnya dalam keadaan sadar semalam. Tanpa obat perangsang, Anggara tetap perkasa membelah jiwanya.


Menyesal dalam hati, namun Kalila merasa inilah godaan menjadi perusak hubungan orang lain, ia yang berniat menggoda hanya untuk uang namun kini ia malah terjebak dalam pesona targetnya sendiri seperti sekarang.


Bahkan ia tidak menolak sama sekali tawaran bercinta dari lelaki yang baru putus dari tunangannya itu untuk kedua kalinya. Kalila merasa telah menjadi pelakor yang sesungguhnya.


Ia adalah wanita yang merebut Anggara dari Diana, mengikatnya di ranjang hangat milik pria itu hingga ia yakin Diana akan benar-benar marah dan meradang jika melihat foto pagi ini, dan kesempatan berbaikan dan kembali mungkin saja akan tertutup karena Anggara benar-benar telah mengkhianatinya dengan meniduri wanita lain.


Anggara membuka mata perlahan, senyum manis seorang perempuan cantik menyambut paginya kali ini. Senyum dari bibir wanita yang ia jamah semalam, bercinta hingga puas dan lelah.


"Hai," sapa Kalila masih tersenyum.


Anggara mengangkat tangannya lalu membelai pipi Kalila dengan lembut.


"Kau sudah bangun?"


Gadis itu mengangguk, "Maaf aku mengganggu tidurmu." Kalila menjawab tanpa merubah posisi.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam 7, apa kau akan bekerja?"


Anggara terkejut, ia tidak menyangka bahwa ia tertidur hingga jam 7 pagi. Padahal ia tidak pernah bangun sesiang ini.


"Aku tidak pernah tidur selelap ini hingga tidak sadar bahwa ini sudah pagi," balas Anggara dengan suara serak khas bangun tidur.


"Maaf aku tidak berani membangunkan mu Tuan." Anggara tersenyum, ia masih betah membelai pipi gadis itu hingga mereka saling menatap satu sama lain dalam perasaan masing-masing.


"Aku merasa kita sudah tidak asing, padahal baru bertemu beberapa kali."

__ADS_1


"Mungkin karena kita sudah menyatu di ranjang seperti ini, kita melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya Tuan."


"Sungguh kau membuatku menjadi pria jahat Kalila, maafkan aku. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini, meski aku berani menodaimu, percayalah aku bukan pria yang telah meniduri banyak wanita. Aku hanya melakukan ini padamu saja."


Kalila terdiam, matanya menjadi panas ingin menangis. Sungguh Anggara bukan pria sembarangan, dia bukan playboy seperti yang dikatakan Tuan Harun, meski baru kenal tapi ia tahu pria ini tidak berbohong.


"Aku akan bertanggung jawab, aku bukan pria yang suka mempermainkan wanita, apalagi sudah berbuat sejauh ini, percaya padaku Kalila," ucap Anggara serius.


"Tuan, kau ini bicara apa. Aku ini hanyalah gadis murahan, kau tidak perlu bertanggung jawab, lagi pula kita tidak saling mengenal, aku akan pergi setelah ini jangan khawatir aku tidak akan menuntut mu. Anggap saja ini hanya sebuah permainan, kita bisa mengakhirinya sekarang."


Kalila tidak berani untuk terlibat terlalu jauh dengan sosok Anggara, ia tahu latar belakang pria ini, sungguh ia ciut bahkan takut. Takut akan banyak hal, Anggara tentu bisa melakukan apa saja jika ia ketahuan sengaja menjadi perusak hubungan pertunangan dengan Diana.


Ia ingin segera mengakhiri kesepakatan dengan Tuan Harun dan terbebas dari pria menakutkan itu. Siapapun Tuan Harun, entah apa hubungannya dengan Anggara, Kalila tidak peduli, ia ingin bebas dan melunasi hutang 1 Milyar dengan putusnya Anggara dan Diana seperti rencana, itu saja.


Karena ia telah terjebak ranjang Anggara hingga dua kali, anggap saja itu bonus agar Diana tidak berniat kembali lagi pada Anggara seperti yang dicegah Tuan Harun.


Anggara mendengar itu menjadi tidak suka, lagi-lagi gadis itu menolak itikad baiknya untuk bertanggung jawab.


"Kau sudah bertunangan Tuan."


"Aku rasa kau mendengar dan melihat sendiri kami putus bukan?"


Kalila terdiam. Anggara bangkit, disusul Kalila yang ikut mendudukkan diri.


"Lupakan, aku rasa kau masih malu karena kita belum lama kenal. Kita bisa menjalin hubungan dengan perlahan, bisa saling mengenal hingga kau siap. Aku akan menikahi mu."


"Semuanya tidak sesederhana yang Tuan pikirkan, aku tidak berani padamu Tuan Anggara. Aku hanya gadis tidak tahu diri, maafkan aku telah mengganggu hubungan mu dengan tunanganmu."


Kalila beranjak dari ranjang, ia memungut pakaiannya yang berserak di lantai lalu mulai mengenakannya tanpa menunggu tanggapan Anggara.


Namun belum juga selesai, ia merasa tubuhnya melayang ke udara, Anggara menggendongnya tanpa permisi.


"Tuan?"

__ADS_1


"Aku bukan majikanmu, panggil aku Anggara saja!" balas Anggara sambil berlalu ke kamar mandi.


"Kau mau apa?" tanya Kalila seraya mengalungkan tangannya ke leher pria gagah itu takut terjatuh.


"Aku ingin kita bercinta di kamar mandi."


"Apa?"


****


Hari demi hari berlalu, Kalila tidak mampu menolak pesona seorang Anggara, betapa ia ingin menghindar namun ia tetap terjerat di ranjang pria itu juga untuk kesekian kalinya.


Mereka menjalani hubungan ranjang hingga dua minggu terakhir, pun Anggara ia benar-benar masuk dalam perangkap ranjang pelakor mahal yang disewa khusus untuk menghancurkannya tanpa ia sadari.


Anggara selalu menjemputnya jika ia membutuhkan kehangatan ranjang pelakor cantik itu. Meski diselingi dengan Diana yang terus meminta kembali namun Anggara malah semakin meniduri Kalila bahkan berkali-kali hingga tidak terhitung.


Ibu Citra mulai bertanya pada Kalila kenapa selalu pulang pagi dua minggu terakhir. Padahal bekerja hanya beberapa jam saja pada malam hari, selama ini tidak pernah pulang pagi karena Cafe tidak buka 24 jam.


Alasan tidur di rumah teman sudah seringkali ia gunakan untuk mengelabui ibu dan adiknya, namun kali ini Ibu Citra merasa aneh.


"Sebenarnya, aku bekerja paruh waktu di tempat lain Bu. Sebuah apotek yang buka 24 jam."


"Kalila, yang benar saja! Kenapa baru katakan sekarang?" bentak ibunya marah.


"Maafkan aku Bu, kebutuhan kita meningkat. Gajiku cukup untuk membayar cicilan 1 Milyar itu, aku mencari pekerjaan lain untuk kita makan."


Ibunya terdiam, lalu ia menangis memeluk sang putri yang telah berkorban sejauh ini demi menyelamatkannya dari jerat rentenir kejam itu.


"Maafkan aku Bu!"


"Tidak, Ibulah yang bersalah. Kau bekerja sekeras ini, tentu saja karena hutang 1 Milyar yang merenggut kebebasan mu."


Kalila hanya diam tanpa menjawab, ia hanya bisa menangis di pelukan Ibunya, biarlah semua ia simpan dalam hati, menjadi rahasia terbesar sampai ia terbebas dari Tuan Harun nanti.

__ADS_1


__ADS_2