
"Bukankah, kita memang sudah berakhir? Kau sendiri yang mengakhirinya, tidak ingat?" kata Anggara saat Diana keukeh meminta maaf dan ingin kembali.
Diana menjadi kesal, ia menahan emosi agar tidak memancing pertengkaran lagi dengan Anggara.
"Kita sudah bertunangan, seharusnya kau mengerti aku kalap waktu itu. Aku benar-benar emosi, aku tidak mau kita berakhir Anggara, ayolah bukankah kita sering bertengkar dan berbaikan?"
Anggara diam, ia menatap Diana dengan perasaannya. Hampa, entahlah kenapa ia merasa Diana tidak seperti dulu lagi, ataukah Anggara yang merasa perasaannya sudah tidak sama lagi saat menatap wajah gadis yang menjadi kekasihnya bertahun-tahun itu.
"Maafkan aku, tapi semuanya sudah berakhir Diana. Kita sudah berakhir, aku mengkhianati mu. Aku tidak bisa menyakitimu lebih lagi, maafkan aku," sesal Anggara, meski hatinya masih menyimpan perasaan pada Diana, namun saat teringat wajah polos Kalila yang ia rusak masa depannya menjadikan Anggara untuk tetap tegas melepas Diana karena merasa bertanggung jawab pada Kalila yang telah ia nodai.
"Apa hebatnya wanita pelakor itu? Kenapa kau berubah secepat ini?" Diana menangis tersedu.
"Karena aku telah menodainya kau tahu itu Diana, tentu aku harus bertanggung jawab atas Kalila. Aku bukan pria yang suka mempermainkan wanita apalagi sudah ku nodai pula."
"Cih, jangan sebut nama itu di depanku!" Diana benar-benar ingin marah sekarang, secara tidak langsung Anggara telah mengakui perbuatannya di hotel waktu itu.
Dadanya seperti diremas-remas oleh kenyataan pahit tunangannya memang telah berselingkuh dengan pelakor rendahan yang rela ditiduri.
Diana mengingat wajah Kalila, ada api yang membakar perasaannya saat ini, Kalila, tentu semua karena wanita pelakor itu.
"Aku menyayangimu Diana, aku tidak ingin menyakiti mu, mungkin kita memang tidak berjodoh, aku harap kau mengerti!"
Anggara memeluk Diana untuk menenangkan tangis gadis itu. Diana diam, tapi hatinya terus bertanya-tanya siapa itu Kalila, kenapa Anggara bisa berubah seperti ini hanya karena gadis murahan itu.
"Aku ingin lihat, seberapa hebatnya kau pelakor sialan!!!! Aku akan mencarimu Kalila, jangan kira aku akan mengalah semudah ini!" gumam Diana dalam hati. Ia membalas pelukan Anggara tak kalah erat, ia tahu Anggara bukan pria yang mudah jatuh cinta apalagi mudah terperdaya oleh wanita.
Beberapa wanita mendekatinya, namun semua berakhir pada Diana juga, karena memang lelaki ini terbukti setia padanya sejak mereka menjalin hubungan, namun beda dengan Kalila, gadis itu berhasil merebut Anggara darinya hanya dengan satu kali tidur bersama.
"Apa kau bersamanya semalam?" tanya Diana penasaran, ia mendapat foto lagi pagi tadi.
Anggara diam sejenak, lalu ia mengangguk. Tangis Diana pecah lagi, ia memukul dada Anggara namun pria itu tetap memeluknya untuk salam perpisahan mereka.
"Kau benar-benar jahat Anggara, aku tidak terima ini!!!!"
"Maafkan aku, untuk itulah jangan berharap padaku lagi. Aku akan bertanggung jawab pada gadis itu."
Mendengar itu, Diana benar-benar merasa dendam pada Kalila, ia bersumpah dalam hati bahwa tidak akan melepaskan Kalila begitu saja setelah semua yang terjadi. Ia tidak ingin kehilangan Anggara, Tuan Muda calon pewaris perusahaan besar yang mungkin tidak akan habis tujuh turunan.
Setelah bertemu Diana, Anggara segera keluar dari dari kantor berniat bertemu dengan Kalila dengan janji berkencan hari ini.
Semua gerak gerik Anggara tidak luput dari pantauan pamannya Harun. Pria setengah baya itu tertawa puas, ia puas sekali melihat Anggara mulai sering keluar dari kantor, mengabaikan banyak pertemuan penting hanya karena seorang pelakor bayaran itu.
"Kalila Kalila, apa yang telah kau berikan pada keponakan ku yang polos itu? Hingga dia bisa berubah secepat ini."
Dina ikut tertawa di sampingnya, "Aku sudah mentransfer uang bonus untuk gadis itu, aku rasa dia semakin berhutang dengan mu!" kata Dina sambil menggoda Tuan Harun dengan tangannya yang berani meraba-raba tubuh selingkuhannya itu.
"Semua berkat kau sayang, Kalila tidak boleh lepas. Ibunya tidak akan menerima wanita sampah seperti Kalila untuk dijadikan menantu, tentu Anggara tidak bisa menikahi wanita lain, meski Diana telah tersingkir sekalipun."
__ADS_1
"As you wish," sahut Dina dengan suara mesra, mereka berciuman lagi sebelum kembali pada pekerjaan.
Kalila semula menolak bertemu dengan Anggara, namun Tuan Harun memaksa.
Gadis itu menunggu di pinggir jalan setelah pamit pada ibunya berbohong akan masuk bekerja di Apotek padahal janji bertemu Anggara.
"Hai," sapa Anggara tersenyum saat mensejajarkan tubuhnya dengan Kalila yang duduk di halte menunggunya.
Gadis itu menoleh, "Maaf aku melamun, ayo!" ajak Kalila lesu.
"Kau tidak suka bertemu denganku?" tanya Anggara setelah menyusul langkah Kalila menuju mobilnya.
"Aku hanya sedang tidak enak badan."
"Kau sakit?"
Kalila mengangguk, ia sebenarnya berpura agar Anggara tidak jadi mengajaknya pergi.
"Baiklah, aku rasa kau butuh istirahat. Kita bisa jalan lain waktu saja."
Kalila tersenyum, ia pikir mungkin hari ini akan terbebas dari pria itu. Namun diluar dugaan Anggara tetap membuka pintu mobil untuknya.
"Bukankah aku butuh istirahat? Aku akan pulang saja, kau bisa lanjutkan pekerjaan mu." Kalila menahan diri untuk tidak masuk ke mobil.
"Kau akan beristirahat di tempatku!" Anggara mendorong Kalila masuk ke mobil, membuat gadis itu menghela napas panjang, dia yang berperan sebagai pelakor penggoda tapi malah Anggara yang agresif sekarang.
Kalila mengangguk tanpa membantah. Namun ia mencegah saat Anggara hendak pergi, "Kau mau kemana?" tanya gadis itu canggung.
"Aku ingin berganti pakaian."
"Kau tidak ke kantor lagi?"
"Tidak, aku akan menemanimu disini," jawab Anggara pelan, Kalila mengeluh dalam hati, bagaimana bisa Anggara sebaik ini padanya, lelaki itu selalu memperlakukannya dengan baik, meski hanya sebatas hubungan ranjang namun Anggara menghargainya layak perempuan baik-baik bahkan terus mengatakan akan bertanggung jawab dengan menikahinya namun Kalila selalu menolak itu karena ia hanya seorang pelakor yang berhasil menjerat Anggara dalam tempo waktu yang ditentukan oleh Tuan Harun.
"Terimakasih."
"Bagaimana dengan pekerjaan mu? Kau bilang cuti satu minggu, tapi ini sudah dua minggu kau selalu bersama ku? Aku baru menyadarinya," ucap Anggara teringat tentang ucapan Kalila minggu lalu.
Kalila tersedak liurnya sendiri, ia saja baru mengingat tentang kebohongan pekerjaan sebagai asisten pribadi dari Ibu Mely.
"Sebenarnya aku, aku sudah berhenti bekerja," jawab Kalila tanpa berpikir panjang.
"Kenapa?"
"Aku, aku dipecat karena Ibu Mely tidak suka kerjaku yang berdampak pada pertengkaran kau dengan Nona Diana waktu itu."
Anggara mengingat kejadian itu. Secepat itukah informasi sampai pada rekan kerjanya.
__ADS_1
"Maafkan aku," sesal Anggara.
"Lupakan."
Anggara tersenyum, "Kau bisa meminta uang padaku mulai sekarang, apapun kebutuhan mu." Ia kecup bibir Kalila sebelum pergi. Gadis itu termangu, bingung dengan perasaannya sendiri.
"Huh, untung dia percaya saja. Apa dia memang polos hingga tidak sadar telah ditipu?" gumam Kalila setelah Anggara menjauh.
Kalila teringat nominal uang yang ditransfer oleh Dina kemarin, 20 juta sebagai bonus karena bisa membuat Anggara kembali jatuh pada jeratnya. Ia merasa benar-benar telah menjual diri.
Dilain waktu, Diana akhirnya menemukan fakta tentang Kalila, perempuan yang telah merebut tunangannya tanpa mau berbaikan lagi. Dengan senyum iblis, ia memberitahu Ibunya tentang keluarga Kalila yang akan menerima dampak karena berani mengambil miliknya.
Diana dan Ibunya Rani, mendatangi rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Kalila dan keluarga kecilnya.
Tok tok tok, bunyi ketukan pintu dari arah luar. Siapa yang bertamu malam-malam pikir Ibu Citra, sebab Kalila baru saja menghubunginya bahwa tidak pulang malam ini karena lembur hingga pagi.
Perempuan paruh baya itu membuka pintu seraya merapikan rambutnya.
"Maaf, mau cari siapa?" tanya Ibu Citra langsung tanpa berbasa basi.
Diana menyunggingkan senyuman, "Apa kau Ibunya Kalila?"
Ibu Citra mengangguk, "Benar, ada apa dengan Kalila? Siapa Nona dan Nyonya ini?"
"Cih, tidak heran putrimu menjadi seorang pelakor. Ternyata seperti ini kehidupannya?" sindir Ibu Rani seraya menerobos masuk tanpa permisi, bahkan Ibu Citra terhuyung ke belakang saat Ibu dari Diana itu menyenggol bahunya dengan sengaja.
"Apa maksud anda?"
"Kau tidak tahu? Oh kasihan sekali, biar ku jelaskan! Putrimu telah merebut tunanganku Anggara, Anggara Mahardika. Pria yang dia ajak tidur setiap malam."
Suara Diana menggema, ia bicara dengan nada tinggi meski masih terlihat tenang.
"Ada apa ini?" tanya Kania yang baru keluar dari kamar.
Diana dan Ibunya tidak menghiraukan Kania.
"Tidak mungkin, maaf mungkin kalian salah kira. Mana tahu yang kalian maksud adalah Kalila lain," ucap Ibu Citra mulai cemas.
Semua kata kasar, umpatan demi umpatan Diana ucapkan pada Ibu Citra dan Kania, tanpa berpikir bahwa suara mereka mendominasi ruang dan waktu, hingga tetangga dekat kontrakan itu menjadi keluar karena merasa terganggu.
Itu pula yang dijadikan Diana dan Ibu Rani kesempatan untuk bersuara lantang bahwa Kalila adalah seorang pelakor.
"Kami tidak kenal kalian, kenapa kalian sejahat ini?" Ibu Citra telah menangis dalam pelukan Kania yang terkejut bukan main oleh kenyataan yang ditampar oleh foto kakaknya yang sedang bermesraan dengan lelaki dari ponsel Diana.
"Itu karena kau tidak becus mendidik anakmu, kau biarkan dia menjadi pelakor, merebut tunangan putriku tanpa malu, padahal mereka akan menikah tapi karena putrimu semuanya gagal, mungkin karena kalian miskin hingga putrimu menggoda pria kaya untuk dijadikan uang."
Ibu Kalila menggeleng seolah menolak pernyataan itu.
__ADS_1
"Berani sekali putrimu masuk dalam kehidupan Anggara Mahardika, itu pula yang menyebabkan kita berurusan malam ini. Jangan harap hidup kalian akan tenang setelah ini, aku bersumpah akan membuat putrimu bersujud memohon ampun di kakiku, karena telah berani mengambil yang sudah menjadi milik ku, aku bersumpah. Dasar keluarga sampah, pelakor gila, murahan!!!! Cuihhhh!!!" Teriak Diana yang telah berapi-api.