
"Aku harap Ibu dan Kania bisa nyaman tinggal di sini, jangan sungkan jika butuh sesuatu segera hubungi aku! Maaf untuk sekarang, belum bisa terbuka pada keluarga ku, percayalah akan segera ku urus masalah ini."
Kalimat demi kalimat Anggara ucapkan pada Ibu Citra yang kini telah menjadi mertuanya secara mendadak. Ibu Citra dan Kania telah ia boyong ke sebuah rumah yang cukup besar pada lingkungan perumahan yang lingkungannya kondusif dengan penjagaan 24 jam.
"Baik Tuan, terimakasih banyak," sahut Ibu Citra menunduk, ia tidak berani menatap menantunya itu setelah mengetahui siapa Anggara sebenarnya tepat beberapa saat sebelum pernikahan itu berlangsung.
"Ibu kenapa memanggil ku begitu? Panggil aku Anggara, jangan pakai Tuan, aku menantu mu bukan majikanmu!" tegas Anggara sekali lagi pada Ibu Citra yang tidak berani memanggil namanya.
Kania pun demikian, ia hanya diam dan menunduk takut. Ia terus menempel pada Ibunya sejak tadi, pikirannya melayang akan nasib kakaknya yang terpaksa menjadi istri simpanan.
Kalila menatap Ibunya antara sedih dan bahagia, rumah tinggal Ibunya dan Kalila jauh lebih layak bahkan bagus untuk mereka yang telah dikucilkan oleh para tetangga yang memandang mereka rendah sejak kedatangan Diana waktu itu.
Setelah lama mengobrol, akhirnya Anggara pamit membawa istrinya itu pulang ke griya tawang miliknya yang nanti disanalah mereka akan merajut kasih selama pernikahan itu disembunyikan.
Ibu Citra memandang kepergian Anggara dan Kalila dari teras rumah baru itu. Matanya berkaca-kaca, ia sama sekali tidak menyangka putrinya akan dinikahi oleh putra dari seorang lelaki yang pernah terpaut di masa lalunya. Henry Mahardika.
Khawatir itu mulai muncul ketika membayangkan wajah perempuan yang menjadi Ibunda dari Anggara. Perempuan yang membencinya lahir dan batin. Bagaimana Kalila bisa bertahan jika sudah ada campur tangan dari Ibu Anggara itu nantinya?
*****
"Hei." Kalila melingkarkan kedua tangan memeluk tubuh suaminya itu dari arah belakang. Anggara yang sedang minum menjadi tersedak, membuat Kalila terkekeh.
"Apa kau terkejut?"
"Iya, kau selalu membuat jantungku terkejut," jawab Anggara berbalik badan lalu mencium bibir Kalila setelah menaruh kembali gelas di atas meja.
"Maaf," sahut Kalila tersenyum manja.
__ADS_1
Ia tahu mereka menikah karena rasa tanggung jawab dari Anggara, namun satu hal hatinya masih mengganjal, ia tidak sabar ingin bertemu Tuan Harun membahas kesepakatan mereka. Kini ia telah menikah, tidak masalah hanya simpanan, namun satu hal yang ia takutkan yaitu Anggara tahu kebenarannya dari Tuan Harun, yang masih saling berhubungan.
Biar bagaimanapun Kalila tidak ingin suaminya terluka jika tahu ia hanyalah pesuruh oleh Tuan Harun yang sengaja memasuki kehidupannya untuk memisahkan Anggara dari Diana agar tidak ada pernikahan.
Anggara menyeringai mesum, Kalila tentu tidak akan menolak. Anggara mengangkat Kalila hingga duduk di meja makan, berciuman dengan mesra, saling menyesap sesekali menggigit bibir Anggara seraya menggoda.
Pria itu mulai bergumul pada leher, meninggalkan banyak kissmark di sana, lenguhan Kalila membuat gairah Anggara mencuat ke permukaan, istrinya mendesis manja terdengar seksi pada pendengarannya saat ini.
Mengangkat dress pendek Kalila hingga terlepas, bekas percintaan kemarin saja masih belum hilang diantara gundukan sintal milik Kalila, kini Anggara menyesapkan lagi tanda baru di sana, bahkan lebih banyak.
"Sabar sayang," bisik Anggara pada telinga Kalila yang masih terpejam menahan nikmat.
"Oh kau benar-benar gila," lirih Kalila seraya menatap dadanya yang masih berharap Anggara kembali bermain di sana.
Ia melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, menciumi Anggara seolah membalas dengan kenikmatan yang sama, hingga suaminya itu berhasil bertelanjang dada.
Saling menindih di ranjang panas itu, keduanya larut dalam gairah yang tidak pernah padam, Anggara menatap Kalila dengan senyum nakalnya.
"Ini malam pengantin kita."
"Iya, pengantin baru ranjang lama. Maaf aku tidak perawan lagi malam ini!"
Anggara terkekeh, ia tidak menjawab melainkan kembali menyusuri setiap inci tubuh yang semakin polos ia buat.
"Oh, sayang bisakah kau sedikit lebih cepat. Jangan menyiksaku seperti ini," lenguh Kalila memohon, sebab sejak tadi Anggara menggodanya dengan gerakan yang lembut dan berirama, membuat Kalila mendesah tidak habis-habisnya sejak pergulatan itu terjadi.
Anggara tersenyum, ia suka melihat wajah cantik Kalila yang tersiksa seperti itu. Ia mainkan dengan pelan gerakan yang menguntungkan baginya agar tidak segera keluar.
__ADS_1
"Sayang ayolah, aku sudah tidak tahan," rengek Kalila lagi setelah melepas tautan bibir mereka.
"Kau benar-benar nikmat Kalila, sempit sekali. Aku mencintaimu sayang, aku akan sampai sebentar lagi," sahut Anggara sesekali memejamkan matanya karena gelora nikmat yang luar biasa tercipta dari gesekan demi gesekan itu.
Anggara mulai mendominasi, hentakan demi hentakan kejantanannya yang menembus inti tubuh Kalila, ******* yang semakin kuat meracau nikmat dari bibir keduanya sampai pada lenguhan panjang ketika mereka sama-sama mencapai puncak dari permainan sah itu malam ini.
Berpacu dengan peluh, napas mulai tersengal-sengal Anggara mencabut senjatanya yang telah menembakkan jutaaan sel kehidupan dalam rahim Kalila, menjatuhkan diri di samping istrinya yang telah lemas.
Mereka memutuskan untuk tidur, Anggara memeluk perempuan sahnya itu setelah membersihkan diri. "Aku mencintaimu Kalila," ucap pria itu sebelum menjemput mimpi.
"Aku juga mencintaimu, aku harap aku tidak mengecewakan mu dimasa yang akan datang," sahut Kalila sambil mengeratkan pelukan.
******
Di Restoran Robinson.
Kalila menatap wajah pria hampir tengah baya itu tertawa puas namun sesekali terdengar seperti mengejek.
"Aku tidak melewati satu momen pun tentang kalian, aku tahu kalian menikah!" kata Tuan Harun pada Kalila.
Kalila sudah mengira hal ini, apa yang tidak diketahui oleh Tuan Harun tentangnya sekarang.
"Aku mohon, jangan katakan apapun tentang kita pada Anggara," ucap Kalila memohon.
"Kau tenang saja, inilah yang aku inginkan. Anggara lupa pada keluarganya dan lupa pada posisinya, teruslah genggam lelaki itu jangan sampai lepas, hingga hari itu tiba. Kau boleh bebas!!!!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu, asal kau terus menggenggam Anggara, rahasiamu aman. Aku hanya ingin pria itu melupakan tentang pernikahan resmi. Dan posisi itu jatuh ke tanganku!"