
Kalila pulang, mendapati ibunya menangis sesenggukan.
"Bu? Ada apa?" tanya Kalila mendekati Ibunya.
Plak, sebuah tamparan melayang di wajahnya.
"Kau masih bertanya ada apa? Kau membohongi Ibumu Kalila! Kau benar-benar membuat Ibu malu!"
Ibu Citra marah, matanya merah, tangannya bergetar habis menampar putri sulungnya yang baru pulang. Kalila bingung, "Bu? Kania?" lirihnya melirik adiknya yang hanya diam menatapnya marah, Kalila meraba pipinya yang terasa perih.
"Kakak berbohong kan? Kakak bilang bekerja dari kafe menyambung shift ke Apotek hingga pagi, tapi rupanya bekerja di atas ranjang, dan kami bodoh percaya begitu saja," sahut Kania dingin.
Deg, jantung Kalila serasa mau berhenti mendengar kata ranjang dari mulut adiknya.
"Apa maksudmu Kania?"
"Kakak pelakor kan? Kakak sudah merebut tunangan wanita lain kan? Dan parahnya kakak sudah menjual diri di ranjang pria itu!! Kami sudah tahu semuanya!" teriak Kania geram, ia maju mendekati kakaknya lalu mendorong tubuh Kalila dengan kasar.
"Apa?" Kalila terkejut, ia merasa ingin mati berdiri sekarang. Darimana adik dan Ibunya tahu?
__ADS_1
"Apa? Kakak tidak bisa menyangkal bukan? Semua tetangga jadi tahu, Ibu malu kak. Ibu malu karena semua tetangga sedang bergosip sekarang." Kania masih bicara dengan nada tinggi.
"Karena itu pula, aku tidak sekolah sekarang, aku takut Ibu kenapa-kenapa di rumah sendirian!"
"Kenapa kakak tega melakukan ini? Apa tidak ada pria lain selain tunangan orang? Kenapa kakak tega menjadi pelakor dari hubungan wanita lain? Orang kaya pula, lihat semua orang memandang rendah keluarga kita karena hal ini."
"Kania, cukup!!!" teriak Ibu Citra yang tampak bernapas tersengal-sengal karena tangis yang tidak kunjung reda.
Kalila menghapus airmatanya yang jatuh sejak tadi. "Apa Diana kemari menemui Ibu?" tebak Kalila.
"Kalila, apa itu artinya kau mengakuinya sekarang? Iya, Nona Diana dan Ibunya kemari marah-marah, dia berbicara kasar dan mengumbar berita ini pada tetangga-tetangga yang kebetulan melihat dan mendengar pertengkaran di rumah ini semalam. Ibu kecewa padamu!"
Kalila berdecak, ia sudah mengira akan seperti ini. Ia tahu bahwa Diana tidak akan melepaskannya begitu saja terlebih orang kaya itu punya uang dan kekuasaan untuk menindas keluarga lemah seperti mereka.
Kalila terdiam, ia menjatuhkan lagi air matanya.
"Aku melakukannya karena aku sayang pada Ibu."
"Apa maksud Kakak?" sahut Kania berjalan mendekat lagi.
__ADS_1
"Aku melakukan ini semua demi uang 1 Milyar yang telah menyelamatkan Ibu dari ancaman penjara," jawab Kalila menunduk.
"Apa?" Ibu Citra menatap Kalila serius.
"Iya, kalian tidak salah dengar. Aku menjadi perusak hubungan antara Tuan Anggara dengan Nona Diana karena diupah uang 1 Milyar yang semula aku berbohong pinjaman dari Bosku."
"Apa Ibu kira uang 1 Milyar itu mudah didapat hanya dengan meminjam pada Bosku di kafe sedang aku hanya seorang penyanyi freelance? Aku bukan karyawan yang terikat kontrak dengan perusahaan kafe itu, tidak bisa meminjam uang apalagi sebanyak itu. Tentu tidak masuk akal."
"Bagaimana pun caranya aku tetap akan menyelamatkan Ibu dari ancaman penjara, karena aku anak sulung aku merasa bertanggung jawab atas kalian berdua, aku tulang punggung keluarga. Aku tidak bisa membiarkan Ibuku dipenjara, kontrakan yang menagih minta dibayar diakhir bulan, belum lagi biaya Kania yang akan lulus sekolah."
Ibu Citra dan Kania terdiam, mereka terpaku di tempatnya berdiri saat mendengar penjelasan dari Kalila.
"Aku memang pelakor bagi Diana, aku melakukan semua ini demi Ibu, aku wanita yang dibayar senilai 1 Milyar guna memisahkan Diana dari Anggara. 1 Milyar yang telah menyelamatkan Ibu dari rentenir gila itu. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap pengorbanan."
"Dan harga diriku telah jatuh pada uang 1 Milyar itu, jadi jika kalian tetap ingin marah terserah. Hanya itu yang mampu aku lakukan demi Ibu terbebas dari ancaman penjara. Selebihnya aku tidak peduli, pelakor atau bukan yang pasti uang 1 Milyar harus lunas dengan sebuah hal."
"Hal yang membuat Anggara dan Diana berpisah, setelah itu aku bebas."
Kalila berjalan meninggalkan Ibu dan adiknya tanpa menunggu tanggapan mereka. Ia masuk ke kamar, melanjutkan tangis yang ingin ia habisi sendiri.
__ADS_1
Kania dan Ibunya saling memandang, tangis mereka kembali pecah setelah menyadari apa yang telah Kalila lakukan selama ini, semua demi melunasi hutang dari rentenir dan menyelamatkan Ibunya.
Tapi mereka malah memberi tuduhan-tuduhan yang pasti menyakiti hati perempuan sulung itu.